I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 99 | Kisah Aqilla-Kenzie (3)


__ADS_3

“Ada apa ini?”


Seluruh karyawan segera berdiri dan membungkuk, menyambut atasan mereka yang mendadak hadir di tengah keributan. Dialah CEO di perusahaan IT tersebut, Iqbal namanya. Masih muda, kok, 33 tahun.


Kenzie mendekat dengan senyum lebarnya. “Paman, saya ingin bertemu Paman dari tadi,” katanya.


Iqbal mengerutkan dahi. Seingatnya, ia tidak memiliki anak ataupun keponakan semacam Kenzie. Lalu, dari manakah asal bocah ini?


“Siapa namamu, Nak?” tanya Iqbal bersimpati.


“Saya Kenzie, Paman.”


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Kenzie menggeleng dengan polosnya. “Tidak, Paman.”


Iqbal menghela napas berat. Entah kenapa ia merasa dipermainkan. Untuk apa anak sekecil Kenzie mencarinya? Tidak mungkin, kan, untuk mengajak bermain. Kenal saja tidak, kok.


“Kenapa kamu ingin bertemu dengan saya?” tanya Iqbal sekali lagi.


Kenzie membuka tas punggungnya dan mengeluarkan secarik amplop. “Guru Kenzie yang suruh, Paman.”


Iqbal menerimanya, mengeluarkan isi, dan membacanya dengan saksama. Perlahan namun pasti, air muka lelaki itu nampak berubah. Sesekali bola matanya melirik ke arah Kenzie lewat sudut mata. Anak kecil bermata ungu ini dikata sangat genius? Benarkah?


“Ayo ikut saya ke dalam,” ajak Iqbal pada akhirnya. Kenzie mengekor dengan patuh. Sesekali anak itu berdecak kagum, terpukau dengan interior perusahaan yang terbilang lumayan berjaya ini.


Kenzie akan bangun perusahaan seperti ini untuk Lala!


“Jadi, apa yang mau kamu tunjukkan?” tanya Iqbal ketika mereka tiba di ruang kerjanya.


Kenzie mengeluarkan alat ciptaannya. Dengan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, bocah berusia 7 tahun itu menerangkan fungsi dan kelebihan alat ciptaannya yang masih belum diberi nama itu. Iqbal dan sekretarisnya yang juga ada di sana sedikit tidak percaya jika Kenzie-lah yang merakit benda itu.


Menurut hasil simpulan yang ia dapat, penemuan Kenzie terbilang hebat. Menggabungkan beberapa fungsi ke dalam satu alat memang menguntungkan beberapa pihak. Apalagi ada satu program yang Iqbal sendiri baru tahu jika itu ada.

__ADS_1


“Kamu sendiri yang buat?” tanya Iqbal agak sangsi.


Kenzie mengangguk antusias. “Apa Paman tidak percaya?”


Iqbal menggeleng, jujur dengan perasaannya. Bagaimanapun sulit baginya memercayai kenyataan jika anak sekecil Kenzie bisa menciptakan sesuatu. Jika hasilnya berupa mainan mungkin masih bisa masuk ke dalam nalar. Tapi, ini konteksnya beda, lho.


“Kenzie bisa lakuin apa aja biar Paman percaya,” ucap Kenzie yakin.


Karena memang sangat meragukan, Iqbal menyuruh Kenzie meretas sesuatu. Karena tidak tahu objeknya apa, Kenzie meretas data perusahaan milik Iqbal. Baru beberapa menit, alarm tanda peringatan di seluruh perusahaan berbunyi, menandakan jika ada pihak asing yang mencoba menerobos sistem keamanan.


Iqbal menatap Kenzie terperangah. Jika sudah begini, ia tidak mungkin tidak percaya. Ia semakin kagum dengan anak itu usai melihat formulir hasil ujian tes IQ. Sangat genius.


“Jadi, kamu mau berapa? Saya akan beli alat ini.” Iqbal mengangkat alat ciptaan Kenzie di tangan.


Kenzie menggeleng. “Kenzie ingin bekerja, Paman. Apa boleh?”


“Kerja?” pekik Iqbal tak percaya. “Tapi, kamu masih kecil. Harusnya kamu masih sekolah, bukan kerja.”


Melihat kesungguhan di mata Kenzie, Iqbal sukses dibuat bangga dan sedikit iba. Anak sekecil ini sangat mengerti arti tanggung jawab. Iqbal yakin, kelak Kenzie akan menjadi sosok yang jauh lebih hebat dibandingkan dirinya.


“Baiklah, Paman akan memberimu pekerjaan,” kata Iqbal mantap. “Belajar yang baik, nanti Paman akan jelaskan detailnya.”


Kenzie tersenyum lebar. “Baik, Paman!”


...Flashback off....


“Aah.. aku ingat! Waktu itu, Kakak langsung pulang nyari Lala buat ngasih tau.” Aqilla tersenyum mengingat momen-momen bersejarah itu. “Pagi sampe siang, Kakak sekolah sama Lala. Terus siang sampe sore, Kakak kerja di perusahaan. Heran, Kakak kuat banget, deh.”


Kenzie mengangguk, membenarkan. “Yaah.. gimana lagi, lho. Kalo nggak gitu, gimana caranya Kakak bisa buat kamu seneng?”


Kenzie dan Aqilla tertawa bersama. Keduanya tidak sadar jika cerita mereka berhasil membuat orang-orang di sekitar terenyuh.


Sebesar itu cinta Kenzie untuk Aqilla hingga lelaki itu rela berkorban banyak waktu demi membahagiakan Aqilla. Semua yang Kenzie lakukan semata-mata hanya untuk adiknya, Aqilla. Sekolah dan bekerja di saat yang sama pasti sangatlah berat untuk anak usia 7 tahun seperti Kenzie.

__ADS_1


“Terus, apa yang terjadi?” tanya Rayhan setelah berhasil meredakan emosi di hatinya. Ia hampir saja meneteskan air mata haru.


Kenzie tersenyum. Ia kembali menerawang, berusaha mengais ingatan lanjutan. “Setelah itu, ya.. aku sekolah sama kerja. Terus kayak gitu sampe umur aku 15 tahun.”


Aqilla mengangguk antusias. “Tujuh tahun yang berat, ya, Kak. Tapi, selama tujuh tahun itu, hidup kita mulai berubah. Kak Kenzie mulai berpenghasilan. Kadang, uangnya dikasih ke ibu panti atau kita belikan mainan terus dibagiin ke anak-anak yang lain,” tambah Aqilla.


“Umur 15 tahun, aku udah lulus kuliah tiga kali. Jurusan ilmu komputer, mesin, sampe manajemen bisnis Kakak lahap habis waktu itu.” Kenzie terkekeh mengingatnya. “Di umur 15 tahun ini juga, AK Tech aku bangun.”


...Flashback on....


“Kamu yakin, Kenzie?” tanya Iqbal memastikan. Baru saja ia dibuat terkejut dengan surat pengunduran diri dari karyawan kebanggaannya ini. Kenzie tiba-tiba ingin keluar dari perusahaan.


Kenzie mengangguk mantap. “Iya, Paman. Kenzie akan bangun perusahaan Kenzie sendiri,” balasnya yakin.


Jujur, melepaskan sosok seperti Kenzie adalah hal yang berat. Selama tujuh tahun bekerja di perusahaan, ada banyak perubahan yang berhasil Kenzie buat. Lelaki kecil yang kini bertranformasi menjadi remaja itu membuat banyak program baru yang sukses menaikkan keuntungan perusahaan. Tentu saja Iqbal jadi sangat suka dengan pribadi Kenzie ini.


Namun, menghalangi impian Kenzie juga bukanlah hal yang benar. Iqbal paham sekali jiwa menggebu-gebu dan tekad besar Kenzie. Lelaki itu ingin membahagiakan adiknya, Aqilla. Iqbal sering bertemu dengan saudari kembar Kenzie tersebut, pribadi yang ceria dan cantik.


“Baiklah, kamu boleh pergi. Paman tidak bisa banyak membantu, tapi.. Paman harap perusahaan kita kelak akan terus bekerja sama,” pinta Iqbal penuh harap.


Kenzie menjabat tangan Iqbal dengan senyum terukir di bibirnya. “Kenzie nggak akan pernah lupain kebaikan Paman selama ini.”


Kenzie resmi keluar dari perusahaan milik Iqbal. Dengan tabungannya yang sudah menumpuk, ia membeli sebuah bangunan kecil untuk memulai usaha. Ia melengkapi ruang miliknya dengan berbagai macam alat canggih ciptaannya. Kemudian, dengan tekun ia mengerjakan berbagai proyek yang sudah ia siapkan sebagai pembuka perusahaan.


Kenzie harus bisa membuat inovasi baru yang bisa membuat nama perusahaan dikenal banyak pengusaha. Ah, tunggu. Kenzie lupa menyiapkan nama perusahaannya.


“Gimana kalo AK Tech?” usul Kenzie ketika ia sedang berdiskusi dengan Aqilla, Ely, dan Alysa.


“AK? Apa artinya, Kak?” tanya Aqilla penasaran.


Kenzie tersenyum lebar. “AK.. Aqilla Kenzie.”


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2