
Acara hampir dimulai. Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 malam. Para tamu telah berdatangan. Bahkan, Robert selesai mengenalkan kedua cucunya kepada kolega bisnisnya yang menyempatkan untuk hadir.
Namun, saat ini, ketegangan dirasa oleh Robert, Reva, Jessie, dan Ely. Hingga detik ini, Rayhan masih belum kembali bersama Aqilla. Jovin sampai menangis mengira daddy dan mommy-nya tidak akan hadir. Sementara Jovan memasang raut tidak bersemangat, lesu sekali.
“Grandpa, daddy sama mommy kapan dateng? Kok lama banget,” sungut Jovin merengek pada Robert yang juga nampak resah.
Robert berusaha memberi kata-kata penenang sekalipun itu sama sekali tidak berguna. Cucu cantiknya yang telah siap dengan gaun princess purple itu masih tetap murung. Termasuk Jovan yang diberikan setelan pangeran berdominasi warna ungu, senada dengan pakaian Jovin.
Sebenarnya, setelan keduanya merupakan request dari Jovin jauh-jauh hari. Jovan mah pasrah-pasrah saja, tidak membantah maupun menolak. Ia tidak keberatan memakai pakaian apa pun asalkan cocok dengan wibawanya sebagai lelaki.
“Tamunya udah dateng semua, Papi. Kita harus mulai acaranya sekarang,” sahut Jessie yang menjabat sebagai MC malam ini. Ia bertugas mengoordinasi setiap kegiatan yang sudah dirancang supaya sesuai dengan ekspektasi.
“Tapi, Aunty, mommy sama daddy belum dateng. Kita tunggu sebentar lagi, ya,” pinta Jovan memelas. Pikirnya, impian untuk bisa merayakan ulang tahun bersama keluarga lengkap akan terwujud tahun ini. Namun, semua harapan itu perlahan buyar dari kepala Jovan. Tergantikan bayang-bayang perpisahan yang menghantui.
“Kasihan orang-orang yang udah nunggu, Sayang. Kita mulai aja, ya,” bujuk Jessie.
Walaupun sangat tidak rela, Jovan dan Jovin setuju untuk memulai acara tanpa Aqilla dan Rayhan. Bagaimanapun ada banyak orang yang telah menanti begitu lama di tempat. Jika menunggu Aqilla dan Rayhan tiba, kasihan mereka yang sudah datang lebih awal.
“Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang.. juga. Sekarang.. juga,” nyanyi anak-anak yang berkerumun di depan si kembar.
Baru saja, Jovan dan Jovin hendak menghembuskan napas guna mematikan api, suara yang familiar menginterupsi kegiatan.
“Make a wish udah apa belum, Twins?”
Sontak seluruh pasang mata beralih menatap ke sumber suara. Sosok wanita dengan dress ungu yang senada dengan bola matanya hadir di tengah-tengah acara. Senyum wanita itu mengembang melihat dekorasi pesta yang meriah. Tak lama, sosok lelaki lain muncul dari belakang. Kemeja ungu muda yang dipadukan dengan jas ungu gelap membuat pasangan itu nampak serasi.
Manik si kembar berbinar seketika. “MOMMY! DADDY!”
Mengabaikan lilin yang hampir habis ditelan api, kedua bocah itu berlari menerjang orang tua mereka. Bagaikan pertemuan penuh kerinduan usai puluhan tahun, keempatnya nampak tertawa bersama. Jovan memeluk Aqilla, dan Jovin memeluk Rayhan.
__ADS_1
Robert dan Reva sampai terharu dengan adegan tersebut. Termasuk seluruh insan yang menyaksikan.
“Mommy dateng ke sini? Udah selesai masalahnya sama uncle?” tanya Jovan antusias.
“Udah dong. Kapan, sih, Mommy kalah dalam berdebat, Boy?” balas Aqilla berlagak sombong. Sedetik kemudian, keduanya tergelak bersama.
Rayhan dan Aqilla digiring ke panggung utama. Jessie meminta seluruh undangan untuk mengulang lagu. Selesai bernyanyi, kedua anak yang berulang tahun itu berseru dengan keras sembari memejamkan mata,
“SEMOGA KAKAK, ADEK, MOMMY, SAMA DADDY, TERUS SAMA-SAMA! AMINN!!!”
Fiuhhh...
Prokk prok prokk...
Jovan dan Jovin memotong kue bersama, lanjut membagi dua. Jovan mengambil sesuap dan menyodorkannya pada Aqilla. Sementara Jovin turut melakukan hal yang sama dan diberikan kepada Rayhan. Tepuk tangan meriah kembali menggema.
Pelukan kegembiraan terjalin, di mana Rayhan merasakan emosi baru dalam hatinya. Lelaki itu sedikit tidak menyangka akan menghadapi situasi yang sehebat ini. Memiliki keluarga kecil yang lengkap—dengan istri dan anak-anak—adalah keinginan terbesar Rayhan sejak umurnya belasan tahun.
Acara dilanjutkan. Para orang tua bergerombol, berbincang mengenai bisnis sembari memperhatikan anak-anak mereka yang bermain dengan senang hati. Ya, para kolega Robert yang telah berkeluarga membawa anak masing-masing. Alhasil, pekarangan mansion Refalino yang luas itu dipenuhi oleh anak-anak kecil.
“Gimana sama kakak kamu, Sayang? Masalah kalian udah selesai, kan?” tanya Reva kala menemukan Aqilla tengah duduk bersama Rayhan sembari memperhatikan Jovan dan Jovin yang bermain bersama anak-anak lain.
Aqilla tersenyum kepada Reva, lanjut beralih pada Rayhan. Orang tua si kembar itu terkekeh pelan, menimbulkan banyak tanda tanya di kepala Reva pun Robert yang ikut menguping.
“Tadi pagi—”
“Mom.” Jovan datang melangkah dengan raut memelas. Di dahinya terhiasi beberapa bulir keringat, padahal ini malam hari, cuacanya agak dingin. “Gerah, Mom. Lepasin ikat pinggangnya dong.”
Tanpa banyak bicara, Aqilla melepas beberapa pernak-pernik yang menempel di pakaian Jovan. Pantas saja lelaki kecil itu mengeluh panas, orang aksesorisnya aja sebanyak ini.
__ADS_1
“Udah mendingan sekarang?” tanya Aqilla.
“Udah, Mom,” jawab Jovan melepas satu kancing teratas.
“Tumben kamu mau pake baju beginian, Boy. Biasanya nggak mau, kan? Katanya malu,” heran Aqilla meneliti lebih saksama penampilan putranya malam ini. Sangat tidak biasa walaupun terlihat tampan sekali.
Jovan mengedikkan bahu. “Adek yang minta. Kan, Mommy nggak ada,” balasnya enteng.
Jika Aqilla mengangguk paham, Rayhan dan yang lainnya mengerutkan dahi bingung. Aqilla pamit karena Jovin memanggil. Wanita itu melangkah menuju arena permainan yang khusus disediakan untuk anak-anak yang hadir.
“Apa hubungannya kamu pake baju ini sama Mommy Qilla, Son? Daddy nggak paham,” tutur Rayhan mengungkapkan rasa penasarannya.
Jovan tersenyum saja. Tatapannya menyorot ke depan, di mana mommy-nya tengah ikut-ikutan main bersama adiknya—juga anak-anak lain. “Kan, urutannya emang begitu, Daddy,” jawabnya enteng.
“Urutan?” beo Rayhan.
“Iya. Jovin paling kecil. Tugas Jovan sebagai kakak melindungi dan membahagiakan adik. Lalu, tugas mommy melindungi dan membahagiakan kami.” Jovan mengembangkan senyum lebarnya. Ia berkata dengan bangga. Setiap ajaran Aqilla selalu ia praktikkan dengan sepenuh hati.
“Mommy bilang begitu, Sayang?” tanya Reva tersenyum lembut kepada cucu laki-lakinya itu.
Jovan mengiyakan. “Emangnya salah, ya, Grandma? Menurut Jovan, bener, kok.”
Robert menggeleng. “No, Jovan. Itu benar. Selalu terapkan setiap hari, mengerti?” Pria paruh baya itu jelas mengulas senyum bangga. Kedua cucunya mendapat didikan terbaik dari wanita terbaik. Begini saja sudah hebat rasanya.
“Mengerti, Grandpa.”
Jovan meminta izin untuk kembali bersama teman-temannya. Belum sempat kaki kecilnya mencapai arena bermain, tubuh Jovan menegang di tempat. Tepat di depan sana—di dekat gerbang mansion—Kenzie berdiri dengan sorot datar.
“Uncle?” lirih Jovan.
__ADS_1
^^^To be continue...^^^