I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Bonus Chapter 1


__ADS_3

1,5 tahun kemudian...


Waktu berjalan begitu cepat. Pernikahan Aqilla dan Rayhan telah mencapai angka 1 tahun lebih. Selama itu pula, hanya ada kebahagiaan yang menyertai keluarga Refalino dan Jonesa.


Sebulan setelah pernikahan, Aqilla datang ke markas pusat IAF di Calgary bersama sang suami. Wanita itu menyatakan pengunduran dirinya secara tegas di depan banyak perwira. Hari itu, seluruh anggota IAF melepas sosok paling hebat mereka dengan air mata. Rasa haru bercampur bangga menguasai hati setiap pribadi.


Mereka terharu karena sang perwira terhebat telah menemukan belahan jiwanya. Sekaligus bangga karena pernah merasai momen bersama seorang Qaill.


Ingin mencegah, namun apa daya. Dahulu, ketika Aqilla menandatangani kontrak kerja, wanita itu menambahkan poin terakhir sebagai persyaratan. Isinya, “Saya berhak mengundurkan diri dari posisi saya di IAF apabila saya sudah menikah.”


Bukan tanpa alasan Aqilla melakukan itu. Setelah menikah, Aqilla memang ingin mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga—mengurus keluarga, suami, dan anak-anak. Seandainya bekerja pun Aqilla akan melakukan atas izin sang suami. Kebetulan juga, Rayhan, Jovan, dan Jovin dengan kompak meminta Aqilla keluar dari keanggotaan. So, tidak ada jalan lain, kan?


Walaupun tidak memiliki jabatan penting lagi, nama Aqilla ditulis dalam buku sejarah. Wanita itu tetap memiliki keistimewaan yang pernah didapat selama menjadi anggota IAF. Intinya, lencana khusus milik Qaill tetap bermanfaat di mana pun dan kapan pun jua.


Bicara soal pemeran lain, satu setengah tahun yang lalu, Alysa dinyatakan hamil. Istri Kenzie itu telah melahirkan sepasang bayi kembar bergender laki-laki dan perempuan. Alhasil, pasangan yang satu ini memiliki 4 anak. Namanya Nathan dan Nala.


Richard dan Kalina juga secara permanen pindah ke Indonesia. Mereka ingin lebih dekat dengan anak dan cucu. Rumah minimalis berdesain elegan dibangun sebagai tempat tinggal kedua orang tersebut.


Kembali ke masa kini. Seperti biasa, pagi ini, Aqilla mengantar suaminya bekerja hingga ke ambang pintu. Dengan senyum mengembang, Aqilla mencium punggung tangan Rayhan. “Hati-hati, Sayang,” katanya menggoda.


Rayhan terkekeh. Aqilla selalu punya cara untuk membuatnya tertawa. Karena tingkah Aqilla pula rumah tangga mereka lebih berwarna. Istrinya ini benar-benar gudangnya kejailan.


“Daddy!” seru Jovin dari dalam mansion. Gadis kecil itu berlari keluar, menghampiri Rayhan yang berlutut. “Pulangnya jangan malam-malam, ya.”


“Kenapa emangnya?” tanya Rayhan bingung.


“Mommy janji mau masak makanan spesial malam ini,” pinta Jovin yang kini berusia 8 tahun.


Oh, ya. Satu fakta mengenai si kembar. Kedua bocah itu hiatus sekolah atas pengaturan Aqilla. Bukan karena Aqilla ingin melarang anak-anaknya menempuh ilmu lebih tinggi. Ia hanya khawatir karena di umur mereka yang ke-7 dulu, si kembar sudah lulus sekolah dasar. Bisa-bisa Jovan dan Jovin jadi bahan penelitian lagi.


“Iya, Daddy janji.” Rayhan tersenyum dan mengecup pipi putrinya yang bertambah tinggi. “Kakakmu mana, Girl?”

__ADS_1


“Kakak lagi merakit alat di kamar, Dad,” jawab Jovin.


Rayhan manggut-manggut, mengerti betul dengan kesukaan ajaib sang putra yang melegenda. Saking hebatnya, fasilitas keamanan mansion dipasang ulang oleh Jovan. Bocah itu menambah sistem scan otomatis dan senjata darurat di berbagai sudut. Benar-benar, deh, si Jovan. Mentang-mentang lagi libur, kebiasaan merakitnya jadi semakin menggebu-gebu.


“Aku berangkat dulu, Sayang,” pamit Rayhan pada sang istri.


“Iya, Suamiku. Pulang cepat, ya, nanti.”


...👑👑👑...


Pukul 6 sore, Rayhan kembali dari RH Group. Sesuai janji, lelaki itu pulang lebih awal dari jam-jam seharusnya.


Berharap mendapat sambutan manis, Rayhan malah bingung dengan kondisi mansion yang gelap gulita. “Kok gelap banget, sih?” gumam Rayhan keheranan. Ia menepuk tangan dua kali, mengaktifkan sensor suara yang Jovan pasang untuk menyalakan lampu.


Rayhan memejamkan mata sejenak, membiasakan retina dengan silaunya cahaya. Perlahan, ia membuka mata...


“HAPPY BIRTHDAY, DADDY RAY!”


Confetti ditembakkan ke udara. Gemuruh tepuk tangan menggema di segala mansion.


Rayhan tersenyum lebar membaca tulisan selamat ulang tahun yang terpasang di spanduk. Kue raksasa dengan angka 32 terpasang di puncak. Di meja ruang tamu, bertumpuk-tumpuk kado tertata rapi.


Aqilla mendekat dan memeluk Rayhan dari belakang. “Happy birthday, My Husband,” bisiknya.


Rayhan menolehkan kepala dan mengecup pipi Aqilla gemas. “Thank you.”


Layaknya perayaan anak kecil, Rayhan dinyanyikan lagu ‘selamat ulang tahun’ oleh si kembar. Sementara yang lain mengiringi dengan tepuk tangan. Ada Robert, Reva, Jessie, Jovan, Jovin, Richard, Kalina, Kenzie, Alysa, Arven, Kia, Nathan, Nala, Alvin, dan Ely. Para pelayan mansion turut hadir sekadar memanjatkan doa.


Kue dipotong. Suapan pertama untuk Reva, dilanjut dengan Robert. Kemudian Aqilla. Bersamaan dengan berjalannya waktu, pasangan yang satu ini semakin mesra saja, ya.


“Daddy suka tidak kejutannya?” tanya Jovin duduk di pangkuan Rayhan.

__ADS_1


“Vin, kamu itu berat, ya, sekarang. Jangan duduk di situ,” peringat Aqilla berkacak pinggang.


Jovin mendelik. Ia malah kian menempel seraya memeluk leher Rayhan. “Biarin dong. Ini, kan, Daddy-nya Jovin.”


Aqilla geleng-geleng pasrah. Mau diberi nasihat seperti apa pun, Jovin akan tetap bersikukuh duduk di pangkuan Rayhan. Tambah tua, kok, tambah manja.


“Oh, ya, aku punya hadiah spesial buat kamu, Sayang.” Aqilla berucap tiba-tiba. Wanita itu berbalik, mengambil sebuah kotak kado kecil. Lantas memberikannya kepada Rayhan.


“Kecil amat, Mom,” ledek Jovan.


Aqilla memutar bola mata jengah. “Jangan pernah melihat sesuatu dari luarnya, Boy. Mommy jamin, Daddy kalian akan sangat senang lihat isi kado Mommy,” katanya bangga.


“Ayo buka, Dad.” Jovin melirik kado mommy-nya.


Rayhan merobek bungkus kado hingga menampakkan kotak cokelat. Ketika dibuka, lelaki itu menemukan secarik amplop putih di dalam. Dengan rasa penasaran tinggi, Rayhan membuka dan membaca saksama surat yang terselip.


Seketika tubuh Rayhan membeku. Lelaki itu menatap sang istri tak percaya. “S–sayang, i–ini.. ka–kamu...”


Lengkungan di bibir Aqilla mengembang. “Selamat, Sayang. Sebentar lagi kamu jadi daddy lagi.”


Bukan Rayhan saja yang syok. Keluarga lain pun sama. Bahkan, Reva membekap mulut saking tertegunnya.


“K–kamu hamil, Qill?” lirih Rayhan tidak percaya dengan berita ini. Bagaimanapun, ia masih dihantui diagnosis dokter bertahun-tahun silam. Pikir Rayhan, memiliki Jovan dan Jovin sudah lebih dari cukup. Namun, fakta apa lagi ini? Istrinya mengandung?


Aqilla mengangguk semangat seraya mengusap perut ratanya. “Ada baby kita di sini, Sayang.”


Tangis Rayhan pecah. Lelaki itu memeluk sang istri kelewat erat, menyalurkan rasa kecamuk di dadanya. Ia bahagia, tidak percaya, dan tidak menyangka. Intinya, semua bercampur menjadi satu.


“Kamu suka hadiahku, Sayang?” tanya Aqilla membalas pelukan Rayhan.


Kepala Rayhan mengangguk berulang-ulang. “Sangat. Aku sangat suka, Qill. Sangat suka.”

__ADS_1


^^^– Bonus Chapter 1 Finish –^^^


__ADS_2