
Tidak ada yang berubah. Situasi ruangan masih sama mencekam. Bahkan, jauh lebih memanas dari sebelumnya.
“Itu nggak mungkin!” bantah Fathur tak terima. “Aqilla milikku! Hanya milikku!”
Rayhan membelalakkan mata. Enak saja lelaki ini mengaku-ngaku. Dia saja yang berjuang berbulan-bulan masih belum berani mengklaim Aqilla sebagai miliknya, tapi lelaki ini malah dengan sesuka hati menyebut kepemilikan Aqilla. “Apa Anda kurang percaya dengan pengakuan kami, Tuan? Jika iya, saya bisa buktikan!” seru Rayhan tidak mau kalah.
Fathur tersenyum sinis. “Kalau begitu, buktikan!”
Rayhan membalikkan tubuh Aqilla hingga keduanya berhadapan. Tanpa meminta izin atau melayangkan kode, lelaki itu mencium bibir Aqilla tepat di hadapan semua orang. Bukan cuma Fathur yang kaget, Aqilla pun sama terkejutnya. Wanita itu membeku, tubuhnya bagaikan tersengat listrik, jantungnya berdebar kencang.
Ray menciumku?!!
Tidak ada balasan dari pihak satunya, Rayhan malah semakin menjadi-jadi. Lelaki itu meraih pinggang Aqilla dan menempelkan tubuh mereka. Lu*atan bibirnya kian meliar. Rayhan seolah lupa dengan posisi mereka saat ini bahwa ada ratusan orang yang menyaksikan adegan.
Tautan terlepas.
Napas Rayhan dan Aqilla menderu, saling bersahutan satu sama lain. Netra keduanya bersirobok, sama-sama menyelami binar masing-masing. Dan, sialnya, Aqilla bisa melihat kilatan gairah di mata Rayhan.
“Menjauh dari Aqilla-ku!” teriak Fathur murka. Sepasang kakinya mengayun cepat, mendekati Aqilla yang ditarik paksa untuk berdiri di belakang Rayhan.
“Berhenti, Fathur!”
Tubuh Fathur terhenti secara otomatis. Lelaki itu menoleh ke arah ambang pintu. Senyumnya merekah memirsa Ely yang ikut hadir di antara mereka. “Ely,” panggilnya sumringah.
Ely bergegas maju lebih dekat hingga berdiri di dekat Rayhan dan Aqilla. “Cukup, Fathur! Hentikan kegilaanmu ini!” pekik Ely tak senang. Ia tidak menyangka jika obsesi sahabatnya itu kian berkembang. Sekarang Ely yakin seyakin-yakinnya kalau otak Fathur memang kurang waras!
“Kenapa kamu bilang gitu, Sayang? Aku nggak gila, kok,” tutur Fathur lembut.
Rayhan yang melihat segalanya melongo. Ia masih belum mengetahui sifat asli dari seorang Fathur Avie Holle. Pikirnya, Fathur menyukai Aqilla hingga rela menculik wanita itu dan memaksakan sebuah ikatan. Lalu, ada apa sekarang?
Kenapa dia manggil sahabat Qilla ‘sayang’?
Mengerti arti raut wajah Rayhan, Aqilla pun menjelaskan dengan berbisik, “Fathur suka sama aku dan Ely di waktu yang bersamaan, Ray.”
“Hah?!” kaget Rayhan dengan tampang bodohnya. “Emang ada yang begituan, Qill? Suka sama dua cewek sekaligus?”
Aqilla mengangguk yakin. “Iya, tuh buktinya.” Menunjuk ke arah Fathur yang berusaha menarik perhatian Ely.
Sayangnya, sebelum Fathur berhasil meraih Ely, gadis itu sudah lebih dulu merangkul lengan Alvin yang baru saja tiba. Lelaki yang menjabat sebagai asisten Rayhan itu sampai tidak bisa berkata-kata karena terlampau tidak menyangka.
__ADS_1
“Aku udah punya pacar, Fathur. Dan, sebentar lagi kami menikah. Tolong jangan ganggu aku lagi,” ucap Ely tegas seraya merangkul lengan Alvin erat-erat.
Jujur saja, Aqilla maupun Ely masih belum mengetahui alasan dibalik sikap Fathur selama ini. Awalnya, Fathur merupakan sosok penyayang. Lalu, tiba-tiba ia berubah total semenjak meraih kesuksesan. Entah apa yang terjadi dengan otak pemikiran Fathur.
Pokoknya, semua terlalu mendadak dan mengejutkan. Jadi, Aqilla ataupun Ely tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaan yang hinggap di kepala mereka. Hanya mampu menduga-duga saja selama ini.
Alvin hanya diam ketika Ely mengakui dirinya sebagai kekasih gadis itu. Jantung lelaki itu berdebar, merasakan respon tubuhnya terhadap sentuhan pertamanya dengan seorang wanita. Ya, ini kali perdana Alvin dipegang semacam ini oleh perempuan.
Bahkan, Jessie dan Reva pun sama sekali tidak pernah menyentuh tubuhnya.
Fathur menatap Aqilla dan Ely bergantian. “Kalian kenapa kayak gini?!! Kalian khianatin aku! Salahku apa sama kalian, Qill, El?” seru Fathur sendu. Ia menangis tanpa suara dengan sorot pedih. Hatinya tidak rela mengetahui jika kedua wanita yang menjadi penghuni hatinya sudah dimiliki lelaki lain.
“Fathur, dari awal, kita ini sahabat. Selamanya kita nggak bisa lebih dari itu,” papar Aqilla membujuk. Berharap dengan begitu Fathur bisa kembali ke jalan yang benar, tindakan lelaki itu sangat di luar nalar.
Fathur menggeleng pelan. “Aku suka sama kalian...” balasnya pelan.
“Fathur, itu bukan suka ataupun cinta. Itu obsesi dan ketakutan kamu,” kata Aqilla lagi usai menganalisis kondisi. “Sejak dulu, kita bareng-bareng. Kamu selalu bilang, kalo kamu cuma punya aku sama Ely. Perasaan itu yang ngebuat kamu terobsesi. Kamu nggak mau kehilangan kami karena dari awal kita bareng-bareng. Kamu nggak mau kehilangan kebersamaan kita.”
“Fathur, lepasin perasaan itu. Kita masih bisa sama-sama sebagai sahabat, bukan suami-istri. Kita bakalan terus ada buat kamu, sama kayak dulu. Jadi, lepasin ketakutan kamu. Jangan buat itu jadi beban. Percaya sama kami, apa pun yang terjadi, sekalipun kami menikah, kami akan selalu ingat kalau kamu sahabat kami,” sambung Aqilla menenangkan.
Fathur menundukkan kepala. Setiap kata yang Aqilla ucapkan menampar relung hatinya dengan keras, seolah mengisyaratkan kalau semua itu benar adanya.
Fathur takut kehilangan Aqilla dan Ely. Kedua wanita itulah yang menemaninya dari awal. Ia tidak ingin kehilangan momen-momen di mana mereka tertawa, bahkan berkeliling bersama. Jika sampai Aqilla dan Ely menikah dengan lelaki lain, sudah pasti mereka pasti melupakannya.
Dan, Fathur tidak mau itu terjadi.
Maka dari itu, Fathur menganggap perasaan takut kehilangan ini sebagai sebuah daya tarik. Ia ingin mengikat kedua wanita itu bersamanya. Tanpa peduli jika keputusan yang telah diambil begitu egois apabila dilihat dari sudut pandang orang lain.
Aqilla mendekat dan menepuk bahu Fathur, menguatkan lelaki itu. “Aku tau, kamu bisa. Jangan menyerah, Fathur. Ingat selalu, kita ini sahabat dan selamanya akan seperti itu.”
“Kita sahabat dan selamanya akan seperti itu,” tambah Ely dengan senyum manisnya.
...👑👑👑...
Jakarta, Indonesia...
Si kembar duduk tak berdaya di depan meja. Kedua tangan masing-masing menopang kepala dengan sorot lurus ke arah ponsel dan tablet, menanti panggilan dari daddy atau mommy mereka. Bahkan, ponsel Robert dan Reva pun diletakkan di meja.
Jovan dan Jovin mau mereka-lah orang pertama yang ditelepon.
__ADS_1
“Huh, lama banget, sih,” gerutu Jovin sebal. Saking tidak sabaran, gadis kecil itu mengetuk-ngetuk meja. Robert dan Reva yang memperhatikan cuma bisa geleng-geleng. Kedua cucunya memang sedikit keras kepala. Jovan dan Jovin bersikukuh tidak ingin bermain sampai mendapat panggilan dari seberang.
“Sudah, Sayang, nanti daddy kalian telepon, kok,” bujuk Reva mengusap kepala si kembar. “Gimana kalo kita jalan-jalan keluar? Ke mall, mau?”
Jovan menggeleng. “Nggak, Grandma. Jovan mau tunggu bentar lagi.” Jovin pun bergeming di posisi, tidak bergerak sama sekali.
Drrtt.. drrtt...
Yang ditunggu tiba. Senyum si kembar merekah begitu lebar. Tanpa menanti lagi, Jovan menyambar ponsel Reva dan mengangkat sambungan termasuk menyalakan speaker agar semua orang bisa mendengar.
“Da—”
“Aahh.. Ray! Berhenti! Aahh..”
“Diam, Qill! Aku janji pelan!”
“Aku lagi telpon mamimu! Minggir, sshh.. aaah.. Ray..!”
“Dikit lagi, Qill.”
Reva dan Robert mematung. Suara-suara yang terdengar dari seberang sungguh ambigu. Otak mereka otomatis berpikiran ke sana, pergumulan di atas ranjang yang khusus diperuntukkan orang dewasa.
Buru-buru Robert merampas ponsel tersebut dari tangan Jovan yang nampak linglung. “HEI! KETERLALUAN SEKALI, SIH, KALIAN!!” teriak Robert tak senang.
“KALO MAU BUAT ADONAN, NGGAK USAH PAKE TELPON SEGALA KALI!!!”
“MAU PAMER, IYA?!!!”
^^^To be continue...^^^
...👑👑👑...
Hai, semua. Ay comeback, nih.
Ay minta maaf karena nggak update kemarin. Soalnya, Ay bener-bener nggak ada mood buat ngetik chapter baru. Yang ada kalo dipaksa, tulisannya jelek. Ay nggak mau dong.
So, Ay memutuskan untuk istirahat sebentar. Maaf buat kalian yang jadi nungguin Ay. Ay kemarin bener-bener total balikin mood buat berimajinasi dan menulis lagi, kok, di antara Ay mengerjakan tugas sekolah.
Semoga kalian mengerti, ya.
__ADS_1
Jangan mau dimengerti aja, tapi berusahalah mengerti orang lain. See you:)