
Hari telah berganti. Langit kian terang karena hari kini menjelang siang. Bahkan, cenderung ke sore hari malah.
Seluruh keluarga Refalino dibuat sibuk sejak pagi. Mereka sedang menyiapkan diri agar nampak pantas di hadapan Kenzie, kakak Aqilla, satu-satunya keluarga Aqilla yang ada. Tidak lupa juga beberapa properti untuk acara lamaran yang berkesan.
Ya, Rayhan berniat melamar Aqilla dengan cara yang semestinya hari ini. Lelaki itu pergi tanpa merancang rencana dan tidak memprediksi apa pun. Hanya Robert, Reva, Jessie, dan si kembar saja yang turut. Tidak ada Alvin maupun pasukan lainnya.
Ini merupakan acara lamaran, pinangan dari seorang lelaki itu wanita dicintainya. Bukan acara baku hantam sampai harus membawa pasukan segala.
Sekalipun Rayhan akan dipukul nanti, lelaki itu siap lahir batin. Bagaimanapun, kejadian tujuh tahun lalu juga merupakan kesalahannya. Ia akan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang Kenzie putuskan nanti.
Asalkan jangan dipisahkan dari Aqilla saja, Rayhan pasti menurut, kok.
Hari ini, Rayhan akan menyelesaikan semua masalah yang terjadi dengan cara baik-baik dimulai dari memberantas akar permulaan. Lagian lawannya itu calon kakak iparnya. Mana mungkin Rayhan menerjang dengan cara keji seperti biasanya, kan?
“Udah siap, Ray?” tanya Reva ketika dirinya memasuki kamar putranya.
Rayhan berbalik dan menganggukkan kepalanya. “Udah, Mi.” Lelaki itu terlihat rapi dengan setelan jas hitam berpadu kemeja putih. Jam tangan limited edition melingkar di pergelangan tangan. Sepatu pantofel kelas tinggi siap dikenakan.
Reva mengacungkan jempolnya. “Keren, Ray.”
“Anak-anak udah siap, Mi?” tanya Rayhan.
Reva mengangguk. “Udah dong. Kan, Mami sendiri yang nyiapin.” Wanita paruh baya itu mengulas senyum bangga.
Rayhan sampai geleng-geleng melihat sikap kekanakan maminya itu. Memang, sih, Reva kadang berpolah absurd di beberapa situasi. Untung papinya cinta. Kalau tidak?
Haishh.. tidak usah dipikir.
Sepasang anak dan ibu itu melangkah turun bersamaan. Suara tapakan sepatu Rayhan menggema ke penjuru mansion kala dirinya menginjak anak tangga. Para pelayan yang melihat majikannya malam ini terpana. Wibawa Rayhan benar-benar terasa hebat, apalagi parasnya yang tampan itu.
Wanita mana yang berani menolak pesona Tuan Muda Refalino, sih?
“Daddy!”
Tiba di lantai bawah, Rayhan disambut dengan pekikan Jovin. Gadis kecil itu sudah siap dengan balutan dress cantik, namun tetap nyaman untuk bergerak lincah. Dress berwarna ungu itu sangat menakjubkan, terpadu sempurna dengan bola mata ungu Jovin.
__ADS_1
Tidak mau kalah, Jovan juga siap dengan setelan jas yang mirip dengan sang daddy. Mendadak lelaki kecil itu menjelma menjadi bos cilik yang suka memerintah. Padahal, kenyataannya, Jovan selalu sungkan untuk meminta tolong pada orang lain.
Lelaki kecil itu selalu berkata, “Kaki sama tangan Jovan masih berfungsi, kok. Jadi, Jovan bisa lakuin sendiri. Makasih.”
Lihat, kan? Betapa mengagumkannya sosok Jovanka Revalino Jonesa itu. Siapa pun yakin (termasuk Ay sendiri) kalau di masa depan Jovan akan menjadi pribadi yang berhati mulia.
Yaahh.. walaupun kadang suka jail, sih.
Rayhan mengecup pipi Jovin gemas. “Cantik banget, sih, Tuan Putri.”
“Iya dong. Sebagai anak Daddy Ray harus cantik jelita,” balas Jovin membanggakan diri.
Mendengar itu, Jovan berdecak malas. Namun, dirinya memilih untuk tidak berkomentar. Takutnya malah ribut dan keberangkatan mereka tertunda.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Robert yang juga sudah siap.
“Iya, ayo, Pi.” Dengan sigap, Rayhan menggandeng kedua tangan mungil Jovan dan Jovin. Kedua bocah itu juga tampak senang-senang saja diperlakukan semacam itu.
“Ayo kita jemput mommy!” seru Jovin semangat.
...👑👑👑...
Butuh waktu untuk tiba di mansion milik Kenzie. Mungkin sekitar 35 menitan, lah. Itu saja belum dihitung ketika mobil mereka berhenti sejenak di masjid untuk menunaikan salat Maghrib. Jadi, mungkin hampir satu jam.
Bangunan yang tak kalah megah berdiri kokoh di depan sana. Rayhan berdecak kagum dalam hati. Melihat eksterior mansion yang begitu elegan sudah membuat lelaki itu bisa menyimpulkan seberapa kaya sosok kakak Aqilla itu. Pokoknya tidak jauh beda dengan keluarganya.
Walaupun begitu, Rayhan tetap merasa sedikit insecure.
Dari keseluruhan cerita Ely, semua kekayaan yang Kenzie dapatkan adalah hasil kerja lelaki itu sendiri. Sementara Rayhan, kan, hanya meneruskan perusahaan keluarga. Jadi, ya... begitulah. Ada rasa gimana-gimana gitu.
“Maaf, Nyonya sama Tuan siapa, ya?” tanya satpam yang berjaga.
Rayhan mendekati petugas keamanan itu. “Saya Rayhan Albar Refalino, Pak. Benar ini kediaman Tuan Bryan Kenzie?”
“Benar, Tuan.”
__ADS_1
“Tolong katakan padanya, saya ingin bertemu.”
“Baik, Tuan. Tunggu sebentar.” Satpam itu kembali ke pos. Dilihat dari luar kaca, sepertinya pria bertubuh kekar itu tengah berbicara serius dengan seseorang di seberang telepon. Tidak lama, satpam itu menghampiri ulang. “Silakan masuk, Tuan.”
Selepas gerbang dibuka, Rayhan memasukkan mobilnya ke pekarangan mansion. Lantas dirinya beserta keluarga turun dan melangkah bersama menuju pintu utama.
Sebelum berhasil mencapai pintu utama, bingkai besar itu terbuka lebih dulu. Bukan dengan cara bukaan yang mengharuskan ditarik atau didorong. Melainkan desain pintu yang bergeser ke samping hingga memberi celah yang lebar. Canggih sekali.
“Selamat datang,” sambut seorang wanita cantik yang barusan membukakan pintu. Tubuhnya dibalut gamis model terkini dengan pashmina yang menutupi kepalanya. “Rayhan, kan?” tanyanya langsung tanpa basa-basi.
Rayhan tersenyum kikuk. Namun, tak urung, kepalanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan wanita di depannya.
Wanita itu menangkupkan kedua tangannya. “Saya Alysa, istrinya Mas Kenzie.”
Rayhan tersenyum lebih ramah. Ternyata di depannya ini adalah kakak ipar Aqilla. Otomatis dirinya juga harus menghargai bukan?
“Assalamualaikum, Aunty,” sapa si kembar serentak.
Alysa menurunkan pandangan. Ia berlutut dan tersenyum gemas melihat paras si kembar yang lucu. Mirip, seperti identik, padahal beda jenis kelamin. “Wa‘alaikumsalam, Sayang. Kalian lucu banget, sih,” ucap Alysa. “Panggilnya Aunty Sasa aja, ya.”
“Oke, Aunty Sasa,” sahut Jovin.
Alysa kembali menegakkan tubuhnya. “Mari masuk. Tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri.”
Robert, Reva, Rayhan, Jessie dituntun menuju ruang tamu mansion. Diam-diam Rayhan memperhatikan sosok istri Kenzie. Dilihat dari tingkah wanita itu, seperti Alysa berpihak padanya, kan? Nyatanya, wanita itu biasa-biasa aja, malah menerima mereka dengan baik.
Alysa kembali ke ruang tamu dengan nampan berisikan minuman. “Ini, saya ambilkan minum. Silakan.”
“Maaf, Nak, jadi merepotkan kamu,” balas Reva agak sungkan. Istrinya baik dan manis sekali.
Alysa tersenyum. “Menjamu tamu itu adalah suatu keharusan. Ada pahalanya tersendiri, lho.”
“Aunty, mommy di mana?” tanya Jovan seraya celingukan, mencari atensi Aqilla. Namun, tidak terlihat siapa pun di rumah ini selain Alysa. Bahkan, Jovan tidak menemukan pelayan satu pun di mansion sebesar ini.
Alysa tersenyum kecil. “Mommy kamu....”
__ADS_1
^^^*To be continu**e*...^^^