
Di ruang tamu mansion Qian, suasana berubah drastis. Tidak ada kehangatan yang terasa, hanya hawa dingin yang menyelimuti setiap sudut ruangan. Tatapan dari ketiga anggota keluarga Refalino itu terus mengarah pada sosok gadis yang merupakan tuan rumah. Di benak mereka, rasa ingin mencincang Keyla begitu besar.
Seandainya Rayhan tidak ingat jika Uncle Christian adalah sahabat papinya, mungkin lelaki itu tidak akan menahan diri untuk menyiksa gadis yang berada di sebelah uncle-nya itu.
Sementara sang objek sorot tajam itu tengah duduk dengan tubuh gemetar. Keyla benar-benar ketakutan sekarang. Ia yakin sekali jika keluarga Refalino telah mengetahui perbuatannya. Makanya, mereka datang kemari malam-malam begini.
“Robert, tolong jelaskan, sebenarnya ada apa? Aku nggak ngerti, kenapa kalian dateng malem-malem sambil marah gini?” tanya Christian yang memang tidak mengetahui tindak-tanduk putrinya di luar sana.
Rayhan menarik sebelah sudut bibirnya secara spontan, tersenyum sinis. Ia merasa kasihan kepada Uncle Christian karena telah dibohongi oleh putrinya sendiri. “Uncle bisa tanya sama putri Uncle, apa yang udah dia perbuat sama kami.”
Kalimat itu sukses membuat tubuh Keyla menggigil. Gadis itu meremat jemarinya di atas pangkuan, pertanda bahwa dirinya tengah gugup.
“Keyla, kamu ngelakuin apa? Apa kamu udah nyinggung mereka?” tanya Christian tegas. Ia ingin putrinya mengaku dengan jujur.
“P–Papa.. a–aku c–cuma ngela—”
BRAAKK!!
“CUMA KAMU BILANG?!!” teriak Robert murka. Pria itu benar-benar telah kehabisan stok kesabaran. Bisa-bisanya Keyla mengutarakan perbuatan kejinya dengan kata ‘cuma’. Apa gadis itu tidak berpikir jika kelakuannya itu bisa mengancam nyawa?
Dan, itu nyawa cucunya! Cucu yang ia dambakan selama bertahun-tahun lamanya.
“Aunty nggak nyangka kamu bisa berbuat kayak gini, Keyla.” Reva menggeleng-geleng, tidak bisa lagi mengomentari perlakuan putri sahabatnya yang kelewat batas ini.
“Asal kamu tahu, Nona Keyla Florecita Qiano, anak-anak yang kamu culik itu adalah anak kandungku!” seru Rayhan tersulut emosi. Wajah lelaki itu merah padam, ia mulai kesulitan mengontrol emosinya yang mencuat keluar.
Sepasang mata Christian membulat, terkejut dengan pengakuan yang Rayhan buat. “Apa?! Kamu culik anak-anaknya Rayhan?” pekiknya tak percaya.
“Lebih tepatnya, putrimu menyewa orang untuk menculik cucuku,” sinis Robert.
Christian menganga. Ia beralih menatap Keyla tajam. “Jawab Papa! Apa itu benar?” katanya penuh penekanan.
Tubuh Keyla bergetar hebat. Gadis itu sangat takut dengan situasinya sekarang. “I–iya, Pa,” cicitnya.
__ADS_1
Dalam sekejap, tubuh Christian lunglai ke sandaran sofa. Pria paruh baya itu tidak menyangka jika putri yang ia beri didikan dengan sepenuh hati telah melakukan perbuatan sekeji ini. Tangan pria itu terangkat untuk memijat kepalanya yang mendadak berdenyut.
Bagaimana bisa putrinya itu sangat tega menculik anak kecil?!
“Kenapa.. kenapa kamu ngelakuin itu, Key? KENAPA?!” seru Christian murka.
Keyla terjingkat mendengar suara papanya yang menggelegar. Air matanya berjatuhan dari pelupuk, bibirnya mengeluarkan suara sesenggukan. “Maaf, Pa,” cicitnya lagi.
“Minta maaf sama mereka, Keyla! Bukan Papa!” bentak Christian lagi.
Pada binar mata Robert, Reva, maupun Rayhan sama sekali tidak terpancar sorot iba. Mereka malah merasa apa yang gadis itu rasakan kurang. Keyla harus diberi hukuman yang setimpal.
“Karena aku masih menganggapmu sahabat, aku memberimu dua pilihan, Chris. Kamu ingin kami yang menghukum putrimu atau kamu yang menghukumnya?” tanya Robert dengan raut datar.
Christian menatap sahabatnya dengan penuh penyesalan. “Atas nama putriku, aku minta maaf, Robert. Aku sama sekali nggak tahu kalau Keyla udah berbuat kayak gitu sama cucumu. Aku janji, aku akan menghukumnya sampai ia jera.”
Manik Keyla membelalak, namun kepalanya tetap dalam posisi menunduk. Ia tahu persis makna kata-kata papanya itu. Christian memang sangat tegas sejak dulu. Bahkan, pria itu sering memarahinya setiap Keyla berbuat salah. Namun, pria itu tak pernah main tangan. Christian masih ingat jika yang dia didik saat ini adalah putrinya sendiri.
“Pa, maafin Keyla. Jangan hukum Keyla,” lirih Keyla memohon.
Ditanya seperti itu, Keyla bungkam. Gadis itu tidak bisa menjawab. Memilih antara dua pilihan pun hasilnya tetap sama, dirinya akan dijatuhi hukuman yang entah apa itu.
“Untuk sementara, kami akan mengawasi putrimu, Chris. Jika dia melakukan sesuatu yang buruk kepada cucuku lagi, aku tidak akan segan-segan menembak kepalanya dengan pistol baruku,” ancam Robert sungguh-sungguh.
Glek!
“Kami pamit dulu. Aku percayakan putrimu padamu,” kata Robert sebelum pergi.
“Pasti, Robert. Aku akan menghukumnya setelah ini supaya dia tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.”
...👑👑👑...
Bagi keluarga Refalino, si kembar adalah cahaya kebahagiaan untuk mereka. Bertahun-tahun hidup tanpa warna membuat mereka sempat terpuruk. Namun, semua itu berubah ketika Aqilla membawa Jovan dan Jovin ke hadapan mereka.
__ADS_1
Jovan yang selalu bersikap tenang dalam segala situasi, tapi memiliki kejailan tingkat tinggi di otaknya. Lalu Jovin dengan keceriaannya sukses menebarkan senyum di setiap insan. Kedua anak itu kombinasi yang sempurna untuk mencerahkan suasana mansion.
Aura suram yang menyelimuti sirna seketika jika si kembar hadir. Tawa keduanya seolah bisa menular sampai-sampai pihak lain yang mendengar akan ikut tertawa.
Pokoknya, Jovan dan Jovin itu seperti krayon di hidup keluarga Refalino.
Akan tetapi, tiba-tiba Aqilla ingin memisahkan mereka. Tentu saja keluarga Refalino tidak terima.
Itulah mengapa, usai mengunjungi mansion Qian untuk menyelesaikan masalah, Robert, Rayhan, dan Reva langsung meluncur ke rumah Aqilla. Ketiganya tidak sabar ingin bertemu dengan sosok malaikat kecil menggemaskan itu—yang kadang bisa berubah menjadi iblis kalau sedang marah.
Lalu, Jessie? Gadis itu sibuk dengan dunia perkuliahannya. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah temannya karena sepakat hendak mengerjakan skripsi bersama.
Ting tong..
Reva menekan bel rumah Aqilla dengan tidak sabaran. Di tangan wanita itu ada beberapa paper bag berisikan makanan kesukaan kedua cucunya juga calon menantunya. Sedangkan Rayhan dan Robert berdiri di belakang sang mami dengan setia.
Ting tong..
Karena tidak ada jawaban, Reva menekan bel sekali lagi.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki mendekat. Pintu itu terbuka. Namun, bukan Aqilla, Jovan, ataupun Jovin yang melakukan, melainkan Ely.
“Lho? Nyonya? Tuan? Anda di sini?” kaget Ely.
Reva tersenyum cerah. “Mami ingin bertemu si kembar, Nak. Di mana mereka?”
Ely mengerutkan dahi. “Si kembar? Tapi, mereka tidak ada di sini, Nyonya.”
Deg!
Jantung Reva seolah berhenti berdetak. Pikiran-pikiran buruk mulai merasuki kepalanya.
“Malahan.. Aqilla juga nggak pulang dari pagi tadi,” tambah Ely.
__ADS_1
^^^To be continue...^^^