
“Kejadian ini... ada dalam bagian rencana Aqilla.”
“Rencana?” beo Rayhan bingung.
Ely terdiam sejenak. Dua detik kemudian, gadis itu nampak menghembuskan napas kasar. Jika sudah seperti ini, pilihan apa lagi yang Ely punya selain berterus terang?
Bantuan dari Rayhan pasti akan sangat menolong Aqilla di masa depan.
“Iya, Tuan. Ini.. rencana Aqilla.”
...Flashback on....
Tujuh tahun lalu, di Calgary, Kanada...
Aqilla dan Ely berkemas-kemas untuk keberangkatan mereka ke Indonesia. Aqilla baru saja dikejutkan mengenai berita bahwa dirinya tengah berbadan dua. Dan, anak di rahimnya adalah hasil hubungan singkat dengan Rayhan.
Maka dari itu, wanita itu memutuskan untuk segera ke Indonesia untuk memberitahu mengenai keberadaan anak ini. Aqilla tidak mau jika anaknya nanti lahir tanpa kasih sayang orang tua.
“Udah siap?” tanya Ely.
Aqilla mengiyakan.
“Ayo kalo gitu.”
Keduanya berjalan beriringan keluar rumah. Pintu rumah utama terbuka lebar dan sosok lelaki dengan sorot mata tajam berdiri di depan rumah mereka. Tatapannya begitu mengintimidasi atmosfer.
Deg!
Aqilla meneguk salivanya susah payah. Kepalanya menunduk perlahan, tak sanggup menatap lebih lama sorot tajam itu.
“Aku tidak menyangka akan disambut dengan cara seperti ini olehmu, Lala...” ucap Kenzie dingin. “Kalian ingin ke mana?”
Aqilla melirik ke arah Ely yang juga nampak bergetar ketakutan. Alhasil, dirinya memilih untuk maju mendekati sang kakak. “Kak Ken, Lala mau ke Indonesia.”
“Untuk?”
“Untuk...” Aqilla menggigit bibir bawahnya ragu. Ia takut jika Kenzie marah.
__ADS_1
“Kamu hamil anak laki-laki itu?” ucap Kenzie datar.
Aqilla menatap Kenzie dalam. Kepalanya mengangguk perlahan, mengiyakan tanpa suara. “Maaf..” Hanya itu yang berani Aqilla utarakan. Ia yakin 100% kalau saat ini saudara kembarnya itu tengah menahan emosi.
Kenzie mendesis, kedua tangannya mengepal erat, sorot matanya menajam. “Kakak akan membunuh pria itu!” desisnya.
Aqilla membelalakkan matanya. “Apa? Nggak, Kak! Kakak nggak boleh bunuh Tuan Rayhan! Dia nggak salah!”
“Kalau dia nggak salah, lalu ini apa, Lala? Kamu hamil anaknya!”
Aqilla memejamkan mata kuat-kuat. Sepertinya dirinya memang harus menjelaskan dengan rinci. “Kak, dengerin Lala. Malam itu, Lala sama Tuan Rayhan ngelakuin ‘itu’ dalam keadaan sama-sama sadar.”
“Sadar?” beo Kenzie tak percaya. “Kamu mencintainya, La?”
“Nggak, Kak, bukan itu. Waktu itu, Lala habis diselingkuhi dan dia juga. Intinya, itu cuma sebagai pelampiasan rasa sakit. Kami berdua sama-sama ingin, berarti yang salah itu Lala sama Tuan Rayhan.” Aqilla menatap Kenzie penuh keyakinan. “Kalo Kakak mau hukum, maka hukum kami berdua. Lala juga salah, Kak.”
Kenzie tidak mengucapkan satu patah kata pun. Lelaki itu hanya diam dengan tatapan lekat ke arah adiknya itu.
Aqilla pikir, Kenzie mengerti dengan apa yang dikatakannya. Namun, dirinya salah. Sorot mata Kenzie kembali menggelap. Aura membunuh terkuar dari tubuh lelaki itu.
Deg!
Aqilla membeku di tempat. Ia dibuat panik ketika sang kakak melenggang pergi memasuki mobil. Aqilla yakin kalau saat ini tujuan utama Kenzie adalah Indonesia, tepatnya mansion keluarga Refalino.
Tanpa menunggu lagi, Aqilla bergegas masuk ke dalam rumah. Ia mengambil lencana dan jubah khusus miliknya, lalu menghubungi seseorang lewat telepon. “Siapkan jet khusus yang tidak terpakai! Saya ingin menggunakannya saat ini juga!”
...👑👑👑...
Malam itu, Kenzie melesat ke Indonesia menggunakan pesawat pribadinya. Sementara Aqilla menyusul dengan jet khusus milik IAF. Salah memang karena wanita itu telah menyalahgunakan kekuasaan. Namun, jika tidak begitu, ada nyawa yang menjadi taruhan.
Setibanya di Indonesia, Kenzie menyuruh Arjun menyiapkan seluruh pasukan untuk berkumpul di satu tempat. Tidak butuh waktu lama, pasukan Kenzie yang berjumlah kurang lebih 1560 orang itu berhasil disatukan dalam suatu lokasi. Benar-benar menakjubkan dunia pernovelan ini, ya.
“Dengar kalian semua!” ucap Kenzie melalui microphone agar semua bawahannya mendengar. Suara berat nan dingin Kenzie mengudara di segala sudut ruangan melalui speaker. “Aku ingin kalian menyerang mansion Ref—”
“KAKAK!!”
Seluruh atensi tiap insan beralih ke arah seorang wanita yang masuk secara tiba-tiba. Itu adalah Aqilla yang berusaha menyusul Kenzie sekuat tenaga. Napasnya tersengal-sengal, namun itu tak membuat dirinya lemah.
__ADS_1
Aqilla berjalan di antara bawahan Kenzie yang berjejer rapi. Dengan sigap mereka menunduk hormat ke arah majikan mereka yang lain. Aqilla merupakan saudari kembar Kenzie, tentu secara otomatis Aqilla juga majikan mereka bukan?
“Kak, jangan lakuin ini,” pinta Aqilla tiba di dekat Kenzie sembari menggenggam lengan lelaki itu.
Kenzie menepis tangan sang adik. “La! Kakak nggak akan maafin bajingan itu! Dia udah nyentuh kamu!” seru lelaki itu yang terpancing emosinya.
Aqilla menggeleng tegas. “Kami yang salah, Kak. Lala nggak masalah kalo Kakak mau hukum dia, tapi hukum Lala juga.”
“Cukup, La! Berhenti membela laki-laki bangsad itu!” teriak Kenzie dengan muka memerah. Emosinya benar-benar dipermainkan di sini.
Mengetahui kenyataan bahwa Aqilla hamil, itu membuat Kenzie syok berat dibandingkan si pemilik rahim itu sendiri. Kenzie benar-benar sudah lengah dalam mengawasi adik yang sering membangkang ini. Namun, ini sungguh-sungguh pertama kalinya bagi Aqilla melakukan kesalahan besar.
Sebelumnya wanita itu tidak berani!
“Kakak nggak akan biarin laki-laki itu hidup, La! Dia harus mati di tangan Kakak!” geram Kenzie setiap mengingat sosok tuan muda dari keluarga Refalino itu.
Tanpa menghiraukan teriakan dari Aqilla, Kenzie memimpin pasukannya secara langsung menuju kediaman Refalino. Aqilla mengejar walaupun sudah ditahan oleh beberapa orang. Namun, wanita itu tetap ingat jika saat ini ada nyawa lain yang tumbuh di perutnya. Jadi, dia harus hati-hati.
Hanya butuh waktu kisaran menitan, Kenzie tiba kawasan sekitar mansion Refalino. Netranya menghunus tajam ke arah bangunan megah itu. Baru saja dirinya hendak melangkah, Aqilla tiba-tiba bersimpuh di hadapannya dengan kedua tangan menangkup.
“Kak.. Lala mohon, jangan lakuin apa pun sama tuan muda,” lirih Aqilla memelas. “Bukan cuma dia yang salah, Lala juga. Kalo Kakak mau hukum dia, hukum Lala juga.”
Kenzie menggeram. “Dek! Perempuan nggak akan berserah diri kalo pihak laki-laki nggak memulai! Perempuan nggak akan terangsang kalo bukan pihak laki-laki yang mengawali! Dia salah, Lala! SALAH BESAR!” teriak Kenzie murka.
“Jangan, Kak, Lala mohon. Dia ayah dari anak Lala, kasian anak Lala kalo harus jadi yatim sebelum dia lahir.” Aqilla memohon dengan air mata yang merembes keluar.
Kenzie tertegun mendengarnya. Tubuhnya menegang.
“Kakak, kita cuma hidup berdua sejak kecil, kita yatim piatu, kita nggak punya orang tua. Lala terima semua itu. Lala cuma berharap, anak Lala punya kehidupan yang jauh lebih baik dari Lala karena Lala tau gimana susahnya hidup sendiri tanpa bimbingan orang tua,” ucap Aqilla sendu.
“Lala mohon, demi calon keponakan Kakak, jangan bunuh tuan muda. Sebagai gantinya...” Aqilla terdiam, bingung ingin mengatakan apa.
“Sebagai gantinya?” ulang Kenzie ingin tahu.
Aqilla menghirup napas dalam-dalam. “Sebagai gantinya, Lala akan....”
^^^To be continue...^^^
__ADS_1