I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 79 | Bertemu Chelsea


__ADS_3

Hari ini, hari ulang tahun Aqilla. Namun, tidak ada satu pun insan yang mengudarakan kalimat selamat kepada wanita itu. Semuanya bertingkah seolah tidak tahu dan tidak ingat.


Hebatnya juga, Aqilla pun sama-sama tidak ingat jika hari ini adalah peringatan hari lahirnya yang ke-29.


“Mom, pulang sekolah Mommy yang jemput, ya,” pinta Jovan memelas.


Aqilla mengerutkan dahi, bingung dengan permintaan sang anak. “Tumben, Boy. Biasanya, kan, kamu minta daddy atau grandma grandpa yang jemput,” heran Aqilla.


Jovan cengengesan. “Kan, masih kangen,” balas lelaki kecil itu malu-malu.


Aqilla berdecak keras, tak menyangka dengan tuturan super menggemaskan dari putranya itu. Jantung Aqilla sampai berdebar, lho, ini. “Ya udah, nanti Mommy yang jemput,” kata Aqilla menuruti keinginan Jovan.


Jovan tersenyum lebar. Ia memeluk kaki wanita itu karena posisi Aqilla memang tengah berdiri. Tubuh kecilnya mana sampai menggapai leher sang mommy. “Thank you, Mom,” ucap Jovan dengan kepala mendongak.


“You’re welcome, Boy.”


Jovan tersenyum kecil diam-diam. Merasa Aqilla tidak memperhatikan, ia membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya ke arah Reva, Robert, Jovin, dan Rayhan—kode bahwa rencana awal mereka berjalan lancar.


Aqilla tiba-tiba beralih menatap putrinya. “Jovin masih sakit? Mau Mommy pijat nanti?”


Jovin menggeleng lemah. “No, Mom. Jovin mau bobo’ aja habis ini,” jawabnya lesu.


Aqilla mengangguk saja tanpa curiga.


Yap, hari ini hanya Jovan yang masuk sekolah. Jovin tengah mengalami sakit mendadak, ia sering mengeluh pusing dan sedikit terlihat pucat walaupun suhu tubuhnya normal-normal saja. Maka dari itu, Aqilla membiarkan sang putri untuk izin sekolah supaya fokus beristirahat.


Padahal, itu hanya akal-akalan Jovin saja agar tetap di rumah. Ia punya tugas besar sepeninggalan mommy-nya nanti.


“Ya udah, ayo berangkat, Mom.” Jovan meraih tangan Aqilla usai memasang sepatu, mengajaknya berangkat cepat.


“Berangkatnya sama Mommy juga, Boy? Nggak bareng daddy?” tanya Aqilla agak kaget. Soalnya, ini mendadak sekali, tidak ada pemberitahuan sebelumnya.


“Maaf, Qill. Aku ada kerjaan di tempat lain, jadi nggak bisa bareng sama Jovan. Maaf baru ngasih tau sekarang,” ucap Rayhan penuh sesal. Selama ini, si kembar memang berangkat bersamanya karena arah sekolah dan kantor ada di jalan yang sama atau searah.


“Mami mau antar, Sayang. Tapi, kasian Jovin sendiri di mansion,” sahut Reva mengutarakan alasannya.


Mendengar alasan setiap orang, Aqilla mengangguk saja. Masuk akal, sih. Kasian kalo Jovin sendirian di sini..


“Ya udah. Girl, Mommy anter kakakmu dulu, ya,” pamit Aqilla yang berdiri dari duduknya di sofa.


Jovin tersenyum tipis. “Iya, Mommy. Hati-hati, ya.”

__ADS_1


Aqilla menggandeng tangan Jovan keluar mansion. Hal terakhir yang wanita itu lihat adalah Jovin yang digendong oleh Rayhan menuju kamar gadis kecil itu. Sepertinya, Jovin meminta sang daddy untuk mengantarnya ke kamar.


Semoga kami bisa terus seperti ini ke depannya...


...👑👑👑...


Di sekolah si kembar...


“Hah? Temenin?” Aqilla tercengang mendengar permintaan tak terduga yang keluar dari bibir Jovan. Putranya itu ingin dirinya menemani Jovan di sekolah. Tentu saja itu sangat tidak biasa.


Jovan melirik ke arah teman-temannya. Aqilla pun mengalihkan pandangan. Ia tertegun melihat beberapa anak yang ditemani oleh mama mereka. Terutama anak yang berada di bawah umur 8 tahun. Mereka tengah berbincang santai atau bahkan tertawa bersama.


Aqilla menghela napas. Kenapa Jovan mendadak jadi bocil, sih? Apa gara-gara aku tinggal kemarin, kepalanya jadi agak bermasalah?


“Iya, Mommy tungguin,” kata Aqilla pasrah.


Senyum Jovan mengembang begitu lebar—Aqilla sampai kesilauan sendiri. “Makasih, Mommy! Ayo masuk!”


“Masuk duluan, Boy. Mommy cari tempat parkir bentar.”


Jovan menggeleng. “Jovan tungguin Mommy kalo gitu.”


Aqilla menaikkan sebelah alisnya. Hei! Yang di depanku ini beneran anakku, kan? Nggak ketuker, kan?


...👑👑👑...


Kalo dilihat gini, Jovan makin mirip sama Ray, ya?


Paras Jovan benar-benar serius dan fokus ke satu titik. Persis seperti Rayhan ketika lelaki itu berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Tampannya tumpah ruah.


“Wah, Mbak ibunya Jovan, ya?”


Aqilla menoleh. Ia tersenyum ramah dan mengangguk. “Iya, Bu,” jawabnya canggung. Pasalnya, perempuan di depannya ini tidak ia kenali.


“Saya ibunya Kelly, Mbak.” Ibu itu mengajak Aqilla bersalaman.


Hah? Kelly yang mana, woi?!!


Aqilla tersenyum saja. Pasalnya, ia bingung ingin membalas seperti apa.


Tiba-tiba ibu itu duduk tepat di sebelah Aqilla dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan, lengan keduanya cenderung bersentuhan. “Mbak, saya mau tanya dong,” bisik Ibu Kelly.

__ADS_1


“Iya?” sahut Aqilla pelan.


“Anak Mbak, kok, bisa pinter banget, sih? Buatnya pake gaya apa?”


Aqilla menganga. Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Aqilla. Gaya apa? Gaya apa? Gaya? GAYA?!!


Tentu saja otak Aqilla memutar kenangan tujuh tahun silam secara otomatis. Bagaimana dirinya dan Rayhan yang begitu agresif ketika bercu*bu, lalu Aqilla yang berinisiatif memimpin, dan suara de*ahan laknat itu.


Sial! Setiap mengingat itu, Aqilla selalu memanas. Tubuhnya meremang tanpa diminta.


Kejadian tujuh tahun yang lalu terjadi karena sama-sama ingin. Aqilla dan Rayhan melakukan dalam kondisi sepenuhnya sadar. Jadi, setiap momen yang terjadi terekam jelas di memori masing-masing.


Aqilla tersenyum kikuk. “Ya biasa aja, Bu, caranya sama dan nggak ada yang spesial,” jawabnya.


“Ah, masa, sih, Mbak? Kok, bisa genius banget kayak gitu? Saya juga mau punya anak pinter kayak anak Mbak,” kata Ibu Kelly.


Aqilla tertawa canggung, bingung ingin merespon seperti apa. Untungnya, mendadak Kelly datang dan ingin diantar ke toilet. Alhasil, ibu dan anak itu pergi membuat Aqilla menghembuskan napas lega. Akhirnya pergi juga.


“Permisi, Mommy-nya Jovan, kan?”


Aqilla menegang. Ia kembali dibuat kesal karena kehadiran ibu-ibu ini. Jujur, ini bukan pertama kalinya Aqilla ditanyai hal semacam ini. Biasanya, ibu-ibu itu bertanya soal rahasia kepintaran putra-putrinya.


Cuma... baru satu ibu tadi aja yang tanya buatnya pake gaya apa. Anjir banget nggak, sih? Ya pake gaya kuda-kudaan di ranjang, ya, kan? Ya kali Aqilla harus jelasin sedetail mungkin.


Sebisa mungkin Aqilla memasang senyum ramah, lalu membalikkan badan untuk menyapa wanita yang memanggilnya. Namun, mengetahui siapa yang menyebut dirinya, Aqilla terdiam seribu bahasa. Ia masih ingat betul siapa sosok di hadapannya ini.


“Chelsea?” kata Aqilla memastikan.


Wanita itu tersenyum dan mengangguk. “Iya, aku Chelsea. Lama nggak ketemu, ya?”


Aqilla mengerutkan dahi. Sejak kapan kita seakrab ini?


“Nama kamu...”


“Aqilla, aku Aqilla,” balas Aqilla yang tahu dirinya belum sempat memperkenalkan diri dengan jelas.


Chelsea mengangguk pelan. “Aqilla, bisa kita bicara sebentar?”


“Soal?” tanya Aqilla agak curiga.


Chelsea tampak gundah ingin berkata jujur. Pandangannya tidak fokus, jemarinya saling meremas di depan paha. “Rayhan,” jawabnya lirih.

__ADS_1


“Ray?”


^^^To be continue...^^^


__ADS_2