
“Begitulah garis besar ceritanya.” Kenzie mengakhiri cerita. Ia lelah juga mengeluarkan suara selama itu. “AK Tech aku bangun waktu umurku 15 tahun. Butuh waktu satu tahun perusahaan itu bisa naik dan masuk ke jajaran perusahaan berpengaruh di Indonesia.”
“Jadi, AK Tech dibangun pertama kali di Indonesia, Kak?” tanya Rayhan takjub.
Kenzie mengangguk. “Ya iyalah. Emangnya di mana lagi?”
“Satu tahun, AK Tech masuk ke kancah nasional. Terus naik ke ke wilayah Asia, habis itu internasional, terakhir sampai detik ini AK Tech ada di posisi pertama perusahaan IT terbesar dan paling berpengaruh,” tambah Aqilla menggebu-gebu. Prestasi kakaknya yang satu ini memang sangat membanggakan, ia suka sekali mengumbar-umbar. Kesannya jadi pamer gitu nggak, sih?
Tanpa mereka sadari, dari lantai atas sosok Jovan mengintai dengan sepasang telinga dan mata ungu terpasang. Lelaki kecil itu tertegun mendengar kisah masa kecil mommy-nya yang jauh dari kata nyaman. Dari penuturan Kenzie, Jovan bisa menyimpulkan kesenjangan yang begitu kentara antara hidupnya dengan Aqilla.
Jovan mengulas senyum tipis. Lantas, dirinya kembali ke kamar tanpa melanjutkan niatnya mencari Aqilla. Mommy...
...👑👑👑...
Ini hari Senin, sama seperti sebelumnya. Hanya saja, suasana pagi ini jauh berbeda dari biasanya. Aura kekeluargaan sangat terasa dari berbagai sudut. Tawa anak-anak kecil menggema. Jovan, Jovin, Arven, dan Kia memang tengah bermain bersama.
Robert, Reva, Rayhan, Jessie, Aqilla, Kenzie, Alysa, Alvin, Ely, dan anak-anak selesai sarapan bersama. Ya, atas permintaan Reva ditambah kondisi yang mendukung, Kenzie dan Alysa menginap di mansion Refalino semalam.
Pasalnya, Arven dan Kia sudah terlelap di s
kamar tamu. Akan sulit rasanya membawa mereka pulang tanpa membangunkan sama sekali.
Jovin menunjukkan mainan-mainan miliknya kepada Kia. Putri Rayhan dan Aqilla itu dengan senang hati membagi mainannya jika seandainya Kia suka. Mommy selalu mengatakan, “Berbagi itu indah. Barang yang kita kasih nggak akan berkurang, tapi malah bertambah. Karena yang kita kasih, pasti akan diganti oleh Allah dengan barang yang lebih baik.”
Kalimat itu sukses merasuk ke relung hati Jovin maupun Jovan. Makanya, si kembar yang satu ini suka sekali berbagi.
Sementara kegiatan Jovan dan Arven agak ekstrim kalau diperhatikan. Kedua bocah lelaki itu tengah memainkan alat-alat ciptaan Jovan. Mungkin.. kata ‘memainkan’ kurang cocok. Soalnya, Arven turut membantu merakit.
“Karena semuanya ada di sini, kenapa nggak sekalian bicarain soal pernikahan Aqilla sama adik ipar?” usul Alysa antusias.
Reva yang mendengar ikut bersemangat. Wanita paruh baya itu mengiyakan dengan cepat. Sepertinya kepribadian Reva dan Alysa benar-benar cocok disatukan, ya.
Rayhan dan Aqilla saling melempar senyum malu-malu. Keduanya sudah sama-sama saling tahu isi hati satu sama lain. Jadi, untuk apa ditunda-tunda bukan? Semakin cepat, lebih baik. Takutnya, Rayhan khilaf lagi—eh?
__ADS_1
Robert melirik ke arah Kenzie. Pria itu tahu, masih ada keraguan di mata Kenzie. Bagaimanapun ia tidak bisa menyalahkan Kenzie untuk merasa demikian. Mendengar kisah hidup Aqilla dan Kenzie telah membuka mata hati Robert. Pria itu mengerti jika Kenzie marah dan emosi karena rasa sayangnya yang besar, bukan karena benci atau semacamnya.
“Kenapa, Kak?” tanya Aqilla menyadari raut tak beres dari sang kakak. Ia takut jika restu yang sebelumnya diberi akan ditarik kembali.
Kenzie menghela napas berat. Ia menyorot Rayhan tajam. “Kamu bener-bener serius mau nikahin Lala bukan cuma buat tanggung jawab, kan?” tanyanya memastikan sekali lagi.
Rayhan mengangguk mantap. “Iya, Kak.”
“Kamu terima semua kekurangan dan kelebihan Lala, kan?”
“Pasti, Kak!”
“Termasuk semua beban hidup dan masalah Lala, kamu siap tanggung sama-sama, kan?”
Lagi-lagi Rayhan mengangguk tanpa ragu. “Iya, Kak. Ray terima semua yang ada sama Qilla.”
Aih, Aqilla tersipu mendengarnya. Kenapa terdengar manly sekali, ya? Kalau pria lain yang berkata hal yang sama, apa reaksi Aqilla juga akan seperti ini?
Kenzie mengangguk. Keraguan di hatinya berangsur luntur. Memang butuh waktu, tapi Kenzie mengusahakan agar semuanya berjalan lebih cepat. “Kalau begitu, masih ada satu masalah lagi yang harus kami selesaikan sebelum kalian menikah,” kata Kenzie tidak jelas.
KenIs berdecak. “Ya kita-lah, La! Kamu sama Kakak! Siapa lagi emang?” sinisnya.
Aqilla mengerucutkan bibirnya. “Ya mana tau. Orang Kakak yang nggak jelas. Di sini, kan, ada banyak manusia, bukan cuma kita,” belanya tak ingin kalah.
Kakak-beradik itu saling beradu sorot sinis. Sampai Alysa menarik telinga Aqilla dan Kenzie bersamaan barulah saudara kembar itu berhenti.
Sambil mengusap telinganya yang panas, Kenzie menjelaskan, “Kita harus siapin wali nikah buat kamu, kan. Jadi—”
“Lah? Ngapain?” heran Aqilla. “Wali nikah, kan, keluarga laki-laki dari pihak perempuan. Lala nggak punya ayah, tapi punya Kakak, kan?” Seketika memandang Kenzie curiga. “Jangan-jangan Kakak bukan saudara kandung Lala, ya?” tuduhnya tanpa diduga.
Mereka semua melongo. Astaga, dari mana Aqilla mendapatkan persepsi seperti itu? Dilihat dari segi mana pun, Aqilla dan Kenzie memiliki persentase kemiripan yang tinggi. Kok bisa Aqilla berpikir begitu?
“La,” panggil Kenzie mendadak serius.
__ADS_1
Aqilla ikut-ikutan serius. “Iya, Kak?” Pikirnya, Kenzie ingin mengonfirmasi dugaannya.
“Kamu ke rumah sakit sana,” suruh Kenzie.
Aqilla mengernyit heran. “Buat apa?”
“Operasi mata!” sentak Kenzie ketus. “Udah tau mirip gini dibilang bukan kandung. Lama-lama Kakak gampar, lho, mata kamu pake jari.”
Aqilla cengengesan. Wanita itu mengatupkan tangan, memohon maaf atas kelakuannya.
“Bukan Kakak yang akan jadi wali nikah kamu,” ucap Kenzie kembali ke topik utama. “Tapi, ayah.”
“Ayah? Tapi, kan—”
“Kita punya ayah dan dia masih hidup.”
Deg!
Apa?
...👑👑👑...
Seoul, Korea Selatan...
Seorang pria duduk manis di bangku taman belakang dengan secangkir teh di tangan. Pemandangan asri kebun bunga bercampur kolam renang yang jernih memanjakan mata. Di depan sana, sang istri tengah sibuk menyirami tanaman seraya bersenandung lirih.
“Ayah,” panggil wanita itu. Ia mematikan keran air, lantas mendekati suaminya yang menatapnya lekat. “Apa masalah di kantor udah selesai?”
Pria yang dipanggil ayah itu menghela napas pendek. “Belum, Bunda. Ayah pusing mikirinnya,” keluhnya.
Si bunda ikut mengukir raut prihatin. Suaminya tak lagi muda, tidak mampu beraktivitas penuh layaknya masa lampau. Sayangnya, kondisi mereka mengharuskan pria itu tetap bekerja. Sepasang suami-istri itu tidak memiliki penerus hingga usia tua.
“Gimana kalau.. kita minta Vivi yang urus, Yah?” usul bunda sedikit tak rela.
__ADS_1
Ayah menatap bunda dengan sorot penuh arti. “Bunda, Ayah....”
^^^To be continue...^^^