I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 92 | Kebenaran (3)


__ADS_3

“Selama ini, bukan cuma kamu yang merasa bersalah, La. Mas Kenzie juga. Dia selalu mengawasi kamu sama anak-anak kamu. Diam-diam tanpa sepengetahuan kamu, Mas Kenzie sewa bodyguard buat jaga anak-anak kamu kalau kamu pergi. Itu sebagai bentuk usahanya untuk menghilangkan rasa bersalahnya, Sayang.”


“Mas Kenzie seorang ayah, dia tahu persis bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua karena memang dirinya mengalami secara langsung. Mas Kenzie memperhatikan semua yang kamu lakuin. Termasuk rencana kamu untuk datang ke Indonesia, La.”


Deg!


Aqilla menatap Alysa tak percaya. “Kak Kenzie tau kalo aku mau ke Indonesia, Kak?”


Alysa mengangguk tegas. “Iya, dia tau dari awal, La.”


Fakta yang satu ini betul-betul mengejutkan setiap insan. Terutama Aqilla, si pelaku utama sekaligus sang pembuat rencana.


Jika kakaknya sudah tahu niatnya yang ingin mempertemukan si kembar dengan Rayhan, lalu kenapa Kenzie tidak bertindak? Kenapa jalan Aqilla tetap mulus-mulus saja?


Aqilla menggeleng berulang kali, berusaha menampik kenyataan itu. “Nggak, Kak. Itu nggak mungkin. Kalo iya Kak Ken tau, kenapa dia diem aja? Kenapa dia nggak cegah Lala? Kakak Ipar pasti bohong, kan?” cerca Aqilla mulai resah.


Menyadari kegelisahan adik iparnya, Alysa mengusap kepala Aqilla lembut. “Iya, dia tau dari awal, Lala. Mas Kenzie sengaja ngebiarin kamu ke sini, ke Indonesia.”


Lidah Aqilla mendadak kelu. Wanita itu tidak mampu berkomentar lagi. Kepalanya menunduk perlahan. Jemarinya saling meremat di atas pangkuan. Ada apa dengan kakaknya? Kenapa semua ini membingungkan sekali?


“Mas Kenzie merasa bersalah sama kamu juga anak-anak, Sayang,” ucap Alysa melanjutkan ceritanya. “Dia merasa kalau dirinya adalah pihak paling jahat di dunia karena udah ngerampas kasih sayang yang seharusnya diterima sama anak-anak kamu. Setiap melihat si kembar, Mas Kenzie merasa miris melihat anak kamu tetap tersenyum di depan kamu, padahal mereka sebenarnya mau punya daddy.”


“Karena itu, Mas Kenzie ngebiarin kamu ke Indonesia. Mas Kenzie ikut bahagia waktu lihat keponakannya bahagia karena dengan begitu rasa bersalahnya sedikit berkurang, Sayang,” sambung Alysa.


Aqilla menghela napas berat. Kenapa realita ini sangat menyakiti hatinya?


“Dan, di situlah porsi kesalahan kamu, La.”


Dengan gerakan secepat kilat, Aqilla menolehkan kepalanya ke arah Alysa. “Kesalahanku? Di mana?”


“Kamu tau jawabannya, Sayang. Easy, sangat.” Alysa tersenyum penuh arti. “Seandainya kamu ada di posisi Mas Kenzie, apa yang akan kamu rasain waktu tau adik yang paling kamu sayang dilecehin sama orang?”

__ADS_1


Deg!


Tubuh Aqilla lemas seketika. Satu pertanyaan yang Alysa lontarkan sukses membuka mata hati Aqilla. Ya, jika dirinya berada di posisi Kenzie sudah pasti Aqilla akan sama murkanya. Tidak ada kakak yang mau adiknya mendapat perlakuan sangat tidak menyenangkan tersebut.


Aku salah.. harusnya aku berusaha ngertiin perasaan Kak Ken, bukannya terus-terusan nyalahin dia..


Raut penuh sesal terpasang dengan kentara. Alysa tersenyum tipis mengetahui wejangannya berhasil merasuk ke hati adik iparnya. Walaupun Kenzie dan Aqilla keras kepala, keduanya akan tunduk jika otak dan hati telah bersinergi.


Keputusan terbaik yang dibuat adalah ketika otak dan hati setuju untuk memberi ketetapan. Jika berat sebelah, maka pilihan itu masih perlu pertimbangan.


“Makan malam kita pesan aja, ya. Kakak nggak sempet masak, nih,” keluh Alysa pura-pura cemberut.


Aqilla bergeming. Wanita itu hanya diam. Dan, di detik itu Alysa paham, Aqilla butuh ruang untuknya memahami setiap kondisi.


...👑👑👑...


“Kalian mau di sini atau ikut Daddy?” tanya Rayhan ketika mereka hendak pulang. Malam bertambah larut. Keluarga Refalino harus segera kembali ke mansion mereka sendiri. Tidak enak jika terus bertamu.


“Tapi, Jovin juga mau sama daddy,” sambung Jovin dengan tampang memelas.


Alysa yang berada di luar untuk mengantar keluarga Refalino berjongkok di depan si kembar. “Lebih baik kalian ikut daddy kalian pulang,” sarannya.


“Kenapa, Aunty?” tanya si kembar bersamaan.


“Karena sekarang.. daddy kalian jauh lebih butuh teman bicara daripada mommy,” bisik Alysa serius.


Kedua bocah genius itu menganggap perkataan Alysa benar. Alhasil, Jovan dan Jovin kompak mengiyakan untuk pulang bersama Rayhan ke mansion Refalino.


“Kami pulang dulu, ya, Sayang,” pamit Reva mengusap pipi Alysa.


Sejenak Alysa merasakan jantungnya berdebar keras. Sentuhan hangat beraroma kasih sayang itu sudah lama ia rindukan. Tak jauh berbeda dengan Kenzie dan Aqilla, Alysa pun merupakan anak yatim piatu. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan ketika ia masih SMP.

__ADS_1


Reva terkejut mendapati Alysa meneteskan air mata. Ketika ditanya, Alysa menjawab, “Sasa rindu bunda. Tapi, bunda udah bahagia sama ayah di Rumah Allah.”


Jawaban itu penuh akan makna. Reva mengulas senyum lembut. Ia mengusap kepala Alysa yang tertutup pashmina. “Kamu boleh anggap Mami bunda kamu, Sayang.”


Robert yang sedari tadi mendengarkan turut mengangguk. “Terima kasih sudah menyambut kami dengan tangan terbuka,” katanya tulus.


Alysa mengangguk dengan manik berkaca-kaca. Seandainya kamu lihat ini, Mas. Keluarga mereka sangat baik, Lala pasti bahagia kalo menikah sama adik ipar.


“Hati-hati, ya, semuanya. Untuk ke depannya, beri waktu Mas Kenzie biar bisa berpikir jernih,” ucap Alysa sebelum perpisahan benar-benar terjadi.


Jovin berseru dengan antusias, “Kalo masih kurang jernih, siram aja pake air, Aunty. Jovin biasanya begitu, kok!”


Dua kalimat bernada lugu itu sukses mengundang gelak tawa. Bagi otak polos Jovin, menjernihkan pikiran hanyalah semacam benda yang kotor dan perlu dibersihkan. Padahal, kan, bukan seperti itu maksudnya.


Jovin celingukan dengan raut bingung. “Lho, Jovin salah apa?” protesnya karena merasa bahwa dirinya ditertawakan.


Rayhan menggeleng-geleng. “Nggak, Sayang. Ayo pamitan dulu habis itu pulang.”


Dengan penuh semangat, Jovin menyalami Alysa. Ia juga bertos ria dengan Arven dan Kia yang turut mengantar mereka. “Nanti kita main lagi, ya, Kia. Nanti Kakak bawakan mainan Kakak juga.”


“Oke, Kak!” sahut Kia girang.


Untuk Arven dan Jovan jangan ditanya lagi. Kedua bocah lelaki itu benar-benar satu frekuensi. Jovan yang ahli dalam merakit alat-alat canggih dipadu dengan Arven yang juga menuruni kemampuan papanya itu sudah sepakat untuk bekerja sama ke depannya. Mereka ingin meningkatkan kecerdasan bersama-sama.


“Dadahh...” seru Jovin seraya melambaikan tangan.


Kia balas melambai dengan ceria. “DADAAHHH, KAK JOVIN!”


Sementara itu, di lantai atas, Kenzie memperhatikan semuanya dari jendela kaca kamarnya. Lelaki itu memandang mobil Rayhan dengan sorot tak terartikan.


Entah apa yang lelaki itu pikirkan, hanya author dan Kenzie yang tahu.

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2