I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 85 | Kebenaran Masa Lalu (2)


__ADS_3

“Lala mohon, demi calon keponakan Kakak, jangan bunuh tuan muda. Sebagai gantinya...” Aqilla terdiam, bingung ingin mengatakan apa.


“Sebagai gantinya?” ulang Kenzie ingin tahu.


Aqilla menghirup napas dalam-dalam. “Sebagai gantinya, Lala akan hapus semua kenangan Lala sama tuan muda. Lala nggak akan dekat-dekat lagi, Lala nggak akan berurusan lagi sama dia.”


Aqilla menatap wajah Kenzie memelas. “Lala mohon, Kak, biarkan saja. Lala senang bisa hamil, Lala punya anak-anak yang nggak akan buat hidup Lala kesepian. Lala punya keluarga kayak Kakak. Please... jangan, ya.”


Kenzie terdiam. Otaknya mencerna baik-baik maksud kalimat Aqilla. Selepas terdiam selama 4 menit, lelaki itu mengulas senyum miring. “Kamu janji, La?” tanya Kenzie memastikan.


Aqilla mengangguk yakin. Matanya berbinar, harapan di hatinya berangsur membesar. “Iya, Kak Ken. Lala janji.”


Kenzie menghela napas panjang. “Okay. Kakak pegang kata-kata kamu.”


Aqilla tersenyum senang. Ia lega karena tuan muda selamat dari amukan kakaknya.


Kenzie mengatur agar pasukan yang dia bawa kembali ke rumah masing-masing. Lantas dirinya pun masuk ke dalam mobil, bersiap untuk meninggalkan kawasan tersebut. Namun, pandangan lelaki itu terpaku pada adiknya yang terdiam di posisi.


Aqilla memandangi mansion keluarga Refalino dengan sendu. Maaf, Tuan Muda. Sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Maaf, saya harus memisahkan Anda dengan anak Anda nanti.


Saya harap, Anda dan sekeluarga mendapat limpahan kebahagiaan dari Allah.. amiinn...


“Lala! Ayo pulang!” teriak Kenzie.


Aqilla menoleh cepat dan mengangguk. “Iya, Kak.” Ia berjalan dan turut masuk ke dalam mobil. Untuk terakhir kalinya, wanita itu menatap bangunan megah di belakangnya karena mobil mulai melaju.


Wanita berbadan dua itu menghela napas berat. Tangannya bergerak mengusap perut perlahan. Maafkan Mommy, ya, udah misahin kalian sama daddy.


...Flashback off....


Masa kini...

__ADS_1


Robert, Rayhan, Jessie, Alvin, Jovan, dan Jovin memaku di tempat mendengar cerita Ely. Malahan Reva sudah menangis sesenggukan di pelukan Robert.


Demi menyelamatkan mereka, Aqilla mengucapkan janji yang dilihat dari sudut mana pun sulit untuk ditepati. Menutupi kebenaran adalah sesuatu yang mustahil. Allah selalu mengatur agar setiap rahasia di dunia akan terbongkar dengan cara yang berbeda-beda.


Sama seperti Aqilla yang bertekad menyembunyikan si kembar dari mereka. Namun, pada akhirnya, Aqilla sendiri yang memutuskan untuk mempertemukan mereka.


“Tujuh tahun ini, Aqilla hidup dalam kubangan rasa bersalah. Setiap salatnya, saya selalu mendengarnya tengah meminta maaf karena telah memisahkan anak dari ayahnya dan cucu dari nenek-kakeknya.” Ely menghela napas berat. Menceritakan masa lalu Aqilla selalu membuat dadanya sesak. Sahabatnya itu menderita sekali semenjak kejadian malam itu.


“Diam-diam, Aqilla selalu mencari tahu mengenai Anda, Tuan Muda. Rasa bersalahnya semakin besar ketika tahu Anda didiagnosis sulit memiliki anak dan berita itu sudah menyebar sehingga Anda belum menikah hingga detik ini, sementara anak kandung Anda tengah bersama Aqilla saat itu. Waktu si kembar berusia 3 tahun, Aqilla mulai goyah,” cerita Ely.


“Aqilla bimbang, apakah dirinya ingin menepati janjinya atau melanggar janjinya. Keraguan itu membuat hidup Aqilla menderita selama bertahun-tahun. Sampai...” Ely menatap ke arah Jovan dan Jovin yang bergeming di posisi. “Sampai si kembar menanyakan soal Anda, daddy kandungnya.”


“Aqilla baru tahu kalau si kembar mendapat perlakuan kurang mengenakkan di sekolah. Rasa bersalahnya semakin bertambah. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena telah menjanjikan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Tiba di satu titik, Aqilla tiba-tiba merubah tekadnya.” Ely terkekeh mengingat wajah Aqilla hari itu. “Aqilla memutuskan untuk mempertemukan Anda dengan si kembar.”


“Aqilla memilih untuk menanggung semuanya sendiri. Aqilla memilih untuk melanggar janjinya demi si kembar karena ia tidak ingin kedua anaknya bernasib sama seperti dirinya, hidup tanpa orang tua.” Ely menghirup napas sejenak. “Sehari sebelum berangkat ke Indonesia, Aqilla memanipulasi semua data agar keberangkatan kami tidak diketahui oleh Kak Ken. Aqilla memastikan posisi Kak Ken, bahkan membuat rencana cadangan jika seandainya semuanya terbongkar.”


“Dari awal, Aqilla sudah tahu kalau Kak Kenzie pasti akan datang. Bagaimanapun, Kak Ken adalah keluarga Aqilla satu-satunya. Ia tahu persis perangai Kak Ken. Itulah mengapa, Aqilla sering pergi. Ia memantau Kak Ken dan terus memperkuat data tipuannya agar Kak Ken tidak datang kemari lebih cepat. Tujuan Aqilla melakukan itu hanya satu.”


“Aqilla ingin memberikan lebih banyak waktu untuk Anda sekeluarga bersama si kembar sebelum hari ini tiba,” sambung Ely.


Rayhan merasakan dadanya sesak bak ditimpa batu. Kenyataan ini terlalu menyakitkan untuk didengar. Wanita yang dikenalnya itu benar-benar kuat bisa menahan segala rasa sakitnya sendirian.


“Menurut penyelidikan Aqilla, Kak Kenzie akan datang untuk membawa Aqilla dan si kembar pergi. Maka dari itu, Aqilla sudah memerintahkan saya untuk membawa Jovan dan Jovin lari jika ada kesempatan agar mereka tetap berada di sini,” kata Ely melanjutkan ceritanya.


“Aqilla berpesan agar...” Ely terdiam. Ia ragu ingin menyampaikan hal menyakitkan tersebut kepada semua orang.


“Agar apa, Aunty?” tanya Jovin membuka suaranya pelan.


Ely menatap Jovan dan Jovin sendu. “Mommy kalian ingin kalian tetap di sini sampai mommy kalian bisa membujuk Uncle Kenzie.”


Sontak si kembar menatap Ely tak percaya. Apa barusan keduanya diminta untuk menanti hingga bertahun-tahun? Membujuk Uncle Kenzie adalah sesuatu yang sulit jika disimpulkan dari cerita Ely. Mau sampai kapan mereka akan berpisah dengan sang mommy?

__ADS_1


“No, Aunty! Kami mau mommy secepatnya!” seru Jovan tak terima.


“Kalau kalian ke sana, kalian pisah sama daddy kalian, Twins,” ucap Ely menjelaskan titik tersulitnya.


Entah mengapa, situasi sekarang seolah meminta si kembar memilih. Jika bersama Aqilla, maka mereka akan berpisah dari Rayhan. Tapi, jika memilih Rayhan, kemungkinan keduanya akan sulit bertemu dengan Aqilla lagi.


Jovin menangis sambil menggeleng. Ia menghampiri Rayhan. “Daddy, hiks.. ayo jemput mommy.. Jovin mau mommy..” rengeknya.


Rayhan menggendong putrinya cepat, menepuk-nepuk punggung gadis kecilnya agar Jovin tenang. “Iya, Sayang. Kita jemput mommy besok, ya.”


Posisi mereka saat ini berada di dalam mansion, di ruang tamu, tengah duduk di sofa yang ada. Terus berada di luar akan membuat si kembar sakit karena udara malam tidak baik untuk anak-anak.


“Jadi, Aqilla datang kemari tanpa memberitahu kakaknya?” tanya Robert memastikan.


Ely mengangguk. “Benar, Tuan Besar.”


Reva menghela napas berat. “Ya Allah, kenapa dia menanggung semuanya sendiri?” lirihnya.


“Aqilla melakukannya karena dirinya masih larut dalam rasa bersalah, Nyonya. Aqilla merasa, karena janji yang dibuat, ada banyak pihak yang menderita. Dan, untuk menebus semuanya, ia harus mengorbankan dirinya dan membuat banyak pihak bahagia,” sahut Ely tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.


Reva beralih menatap putranya dengan sorot tegas. “Ray, Aqilla udah banyak berkorban buat kita. Sekarang waktunya kita buat perjuangin dia. Kita jemput dia baik-baik besok dan minta restu sama kakaknya,” saran Reva.


Robert mengangguk setuju. “Jalan kekerasan nggak akan berakhir baik. Lebih baik kita melamar Aqilla langsung di hadapan kakaknya.”


Rayhan mengangguk sambil terus menepuk punggung Jovin yang sepertinya mulai terlelap karena lelah menangis. Ditambah lagi gadis kecil itu pasti syok dengan semua kebenaran yang didengar. “Iya, Pi. Ray akan perjuangkan Aqilla.”


Ely menatap wajah Rayhan ragu. “Saya kurang yakin, Tuan Muda. Masalahnya...”


“Ada apa, Nak?” tanya Reva melihat kecemasan di wajah Ely.


Ely menghela napas kasar. “Masalahnya, Kenzie adalah pemilik sekaligus pendiri AK Tech.”

__ADS_1


Robert, Rayhan, dan Alvin melotot. “APA?!!” teriak ketiganya.


^^^To be continue...^^^


__ADS_2