I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 86 | Tekad Rayhan


__ADS_3

AK Tech.


Perusahaan yang bergerak di bidang IT dan segala macam produksi alat-alat canggih. Perusahaan yang berpusat di London itu merupakan perusahaan IT terbesar nomor 1 di dunia. Alat-alat produksi mereka selalu laris dalam sekejap. Bahkan, hasil aplikasi pemrograman perusahaan itu telah diakui oleh banyak negara.


Namun, hingga berjaya sekalipun, pemilik asli AK Tech itu tidak pernah menampakkan diri. Seandainya keluar, orang tersebut akan mengenakan topeng yang menutupi seluruh figur wajahnya. Alhasil, identitas pemilik AK Tech sering menjadi perbincangan di news hot.


Yang orang-orang tahu, pemilik AK Tech adalah seorang lelaki muda yang genius. Hanya sekadar itu saja.


Sayangnya, hari ini keluarga Refalino seakan tertampar kenyataan. Fakta bahwa kakak Aqilla, Bryan Kenzie Jonesa, merupakan pemilik AK Tech membuat mereka tak percaya. Ternyata di balik sosok Aqilla yang mendunia, ada sosok lain yang tak kalah hebat.


Dua kakak beradik yang hebat.


“AK Tech adalah perusahaan yang Kak Ken dirikan sewaktu Kak Ken berusia 15 tahun. AK itu singkatan dari Aqilla dan Kenzie. Kak Ken mendirikannya untuk Aqilla karena.. waktu itu Kak Ken ingin mengubah nasib mereka berdua,” jelas Ely.


Rayhan syok, beneran, deh. Kenapa dirinya jadi agak insecure, ya? Padahal, kan, RH Group tidak kalah kondang dari AK Tech.


Ya ampun, kenapa kakak iparku hebat sekali, sih? Aku jadi bingung harus gimana..


Ely menghela napas panjang. Sebenarnya menceritakan kejadian sebenarnya di luar rencana Aqilla. Wanita itu hanya meminta Ely agar menjaga si kembar supaya tidak dibawa oleh Kenzie. Lalu, mengurus beberapa hal hingga Aqilla kembali.


Jika Aqilla bisa membuat keputusan besar, kenapa Ely tidak?


Menurutnya, Rayhan dan yang lainnya berhak tahu. Bagaimanapun juga yang Aqilla lakukan ada sangkut pautnya dengan keluarga Refalino. Mereka punya hak untuk ikut andil dalam rencana ini.


Ely mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu di sana. “Saya masih punya tugas lain, Tuan Muda. Aqilla mengamanahkan saya beberapa hal sebelumnya. Yang bisa saya lakukan hanya ini.” Ia menyodorkan kertas tadi. “Ini alamat mansion Kenzie di Indonesia. Saya tidak tahu apakah Aqilla dibawa ke sana atau tidak, tapi hanya tempat ini yang saya tahu.”


Rayhan menerima kertas itu. “Terima kasih, El. Ini udah lebih dari cukup. Sisanya, aku yang akan urus.”


Ely bangkit dan membungkukkan badannya. “Saya pamit undur diri, Tuan Muda, Tuan Besar, Nyonya Besar, Nona Muda, Twins, Al. Ada yang harus saya urus.”


“Aunty mau ke mana?” tanya Jovan.


Ely tersenyum. “Aunty mau pergi sebentar. Tenang aja, Aunty pulang secepatnya, kok.”


Jovan mengangguk lesu walaupun sedikit tidak rela.

__ADS_1


Ely pun pergi meninggalkan mansion Refalino dengan segudang tugas di bahunya. Alvin yang melihat gadis itu pergi merasa sedikit aneh. Ada sesuatu yang terjadi pada dirinya, tapi entah apa itu.


“Besok kita ke sini, Mi, kita jemput Aqilla,” ucap Rayhan yakin menatap secarik kertas di tangannya.


Reva mengangguk setuju. “Iya, Ray. Mami ikut.”


“Papi juga ikut,” sahut Robert.


“Jovan juga ikut, Dad. Jovan mau bantu bujuk uncle,” cetus Jovan yang juga ingin ikut membantu.


“Apa saya harus ikut, Tuan?” tanya Alvin.


“Nggak, Al. Kamu di sini aja, kamu urus pekerjaan di kantor selama aku berhalangan,” balas Rayhan seraya berdiri dari duduknya. “Ray tidurin Jovin ke kamarnya dulu, ya.”


Sepeninggalan Rayhan, Reva menghampiri cucu tampannya yang tampak lesu. “Jovan tidur juga, ya. Ini udah malam,” pinta Reva lembut sembari mengusap punggung Jovan.


Jovan menatap paras Reva sendu. “Mommy nggak apa-apa, kan, Grandma?”


Reva tersenyum. Ia paham betul dengan perasaan Jovan. Lelaki kecil itu pasti sangat mengkhawatirkan kondisi mommy-nya yang kini berada jauh dari jangkauan. “Jovan pernah nggak marah sama Jovin?” tanya Reva melenceng dari topik utama.


“Kalau Jovan marah, apa Jovan pernah pukul Jovin?” tanya Reva sekali lagi.


Jovan menggeleng. “Nggak, Grandma. Mommy bilang, nggak boleh pakai kekerasan kalau masih bisa pakai cara baik-baik. Lagian Jovin itu adik Jovan, Jovan nggak tega buat mukulnya.”


Reva tersenyum. Tangannya bergerak mengusap kepala cucunya pelan. “Nah, sama kayak Jovan, Uncle Kenzie juga seperti itu. Uncle itu kakaknya mommy, dia nggak mungkin nyakitin mommy, Sayang. Semarah apa pun Uncle Kenzie, dia nggak akan tega pukul mommy.”


Merasa paham dengan penjelasan grandma-nya, Jovan mengangguk pelan. Benar juga. Kenzie adalah kakak Aqilla, bahkan saudara kembarnya. Tidak mungkin, kan, antar saudara saling menyakiti?


“Sekarang Jovan tidur, ya.” Reva kembali meminta dengan lembut. Dilihat dari sisi mana pun, cucunya itu sedang sensitif.


Jovan tidak menjawab. Kepalanya malah menunduk ke bawah. Sedetik kemudian, lelaki kecil itu terisak. Dengan sigap, Reva dan Robert mendekat untuk menenangkan.


“Jovan, hiks.. mau mommy, Grandma, Grandpa,” kata Jovan di sela tangisannya.


Rayhan yang baru turun dari lantai bawah ikut merasa sedih. Putranya menangis sesenggukan di pelukan kedua orang tuanya. Jujur, lelaki itu pun tak kalah cemas dengan kondisi Aqilla di sana. Namun, ia berusaha menguatkan diri agar kedua anaknya tidak semakin panik.

__ADS_1


Setelah mengusap air matanya yang sempat jatuh, Rayhan menghampiri Jovan. Diusapnya kepala putranya dengan posisi berjongkok. “Hei, Son.”


Jovan mendongak, menatap Rayhan. “Daddy.. hiks.. mommy gimana?”


Tanpa basa-basi, Rayhan memeluk Jovan. Putranya meraung di pelukan sang daddy, menyebut nama mommy-nya berulang-ulang. Walaupun perkataan Reva sedikit menenangkan, namun rasa khawatir yang Jovan punya tetap berkobar. Ia melihat langsung bagaimana tubuh Aqilla jatuh ke tanah, lalu dibawa pergi secara paksa.


“Semua akan baik-baik aja, Son. Besok kita jemput mommy, ya. Jangan nangis, cup cup..” ucap Rayhan menepuk-nepuk punggung Jovan. Ia melirik ke arah mami dan papinya. “Ray antar Jovan ke kamarnya, ya, Mi, Pi,” bisiknya.


Reva dan Robert mengangguk.


Tiba di kamar Jovan, Rayhan membaringkan Jovan di ranjangnya. Ia menyelimuti putranya dan mengusap kepala Jovan penuh sayang. “Kita jemput mommy besok. Jovan berdoa sama Allah biar mommy nggak kenapa-napa. Nangis boleh, tapi jangan lama-lama. Jovan, kan, laki-laki. Harus kuat. Cuma diam dan menangis nggak akan ngerubah apa pun, Son.”


Jovan mengangguk paham. “Iya, Daddy.”


“Baca doa, habis itu tidur, ya. Daddy keluar dulu.” Rayhan hendak bangkit. Namun, jemarinya ditahan oleh tangan mungil Jovan. Lelaki itu menatap sang putra dengan alis terangkat sebelah.


“Di sini aja, Daddy. Jovan takut daddy pergi juga,” lirih Jovan dengan bibir mengerucut.


Rayhan terkekeh pelan. Ia pun ikut berbaring di sebelah Jovan dan mengusap punggung putranya yang berbaring menyamping. Ini pertama kalinya, lho, Jovan bertingkah manja pada Rayhan. Biasanya, lelaki kecil itu akan bersikap sok dewasa.


Melihat paras sayu Jovan membuat hati Rayhan tercubit. Apalagi mata sembab Jovan begitu kentara.


Kamu udah berkorban begitu banyak, Qill..


Rayhan memandangi Jovan sembari terus mengusap punggung lelaki kecil itu. Tiba di satu kejadian, Rayhan mendadak berhenti bergerak. “Apa kakakmu juga yang menjadi alasanmu menolak tawaran pernikahan dariku dulu?” gumam Rayhan baru menyadari hal tersebut.


Bahu Rayhan melemas seketika. Ia paham sekarang mengapa Aqilla selalu menolak ajakan menikah darinya. Wanita itu takut untuk bertindak lebih sementara dirinya masih terikat janji dengan kakaknya, Kenzie.


Seberapa besar penderitaanmu selama ini, Qill? Kenapa kamu nggak cerita dari awal? Kenapa kamu nggak bagi semuanya ke aku?


Sorot mata Rayhan berubah tajam. “Itu artinya, sekarang giliranku,” gumamnya.


Sekarang giliranku untuk berjuang. Sekarang giliranku untuk membuktikan kalo aku juga bisa berbuat sesuatu untuk hubungan kita, untuk anak-anak kita, Qilla..


Aku pasti dapetin restu kakak iparku dan menikahimu secara resmi. Pasti itu!

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2