I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 27 | Dad vs Son


__ADS_3

Mendapat peringatan, tentu harus segera diperiksa. Jovan mengecek seluruh data keluarganya, takut ada kecolongan walaupun sebenarnya perlindungan yang ia berikan sudah sangat kuat. Tapi, apa salahnya kita selalu waspada, kan?


“Hm, kayaknya aman, deh,” gumam Jovan yang puas dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Huh, Jovan emang sehebat ini. Harusnya mommy bangga punya anak kayak Jovan, bisa diandelin.


Harusnya tuh mommy kasih Jovan hadiah, bukannya surprise kejailan kayak gini.


Sepertinya anak yang satu ini masih agak dendam. Lihat ekspresi penuh ketidakterimaan itu. Jovan masih punya niat untuk membalas perlakuan mommy-nya pagi tadi.


Pikir nanti aja, deh. Jovan harus kasih tau soal ini ke mommy.


Ia mengangguk yakin. Kaki kecilnya berayun cepat menghampiri mommy-nya yang tengah berkutat dengan alat masak di dapur. “Mom!” panggil Jovan.


Aqilla menghentikan aktivitasnya sejenak untuk melirik ke arah putranya yang berdiri di dekat bar dapur. “Kenapa, Boy?” tanyanya.


“Ada orang yang retas data kita, Mom,” kata Jovan memberitahu.


Aqilla terdiam. Tangan yang semula tengah memotong sosis itu mendadak terhenti. Wanita itu membalikkan badan dan menatap ke arah Jovan. “Siapa?”


Memirsa paras sang mommy yang berubah serius, Jovan jadi ikut bersungguh-sungguh. “Nggak tau, Mom. Jovan cuma dapat peringatan kalo ada yang mau retas data kita.”


“Tapi, data kita aman, kan?”


“Aman, Mom.”


Aqilla menghela napas lega. “Ya udah, nanti biar Mommy periksa.”


“Mau Jovan periksakan?”


“Kalo kamu nggak sibuk, boleh. Masakannya juga belum jadi.” Setelah mengatakannya, Aqilla kembali sibuk dengan alat tempurnya.


Sementara Jovan sudah sumringah di posisi. Apa pun yang berhubungan dengan komputer dan dunia IT, lelaki kecil itu pasti bersemangat. Untuk urusan retas-meretas begini, kemampuan Jovan jangan sampai diremehkan.


Jovan, kan, belajar dari ahlinya. Siapa lagi kalau bukan mommy-nya sendiri?


“Ada apa ini?”


Jovan berbalik. Ia melihat adiknya yang berjalan mendekat. “Ada orang yang retas data kita, Dek.”

__ADS_1


“Eh, serius?” pekik Jovin tidak percaya. “Kita, kan, belum lama di Indonesia, kok, udah ada musuh aja, sih?”


Jovan mengedikkan bahunya. “Kakak juga nggak tau.” Ia menggandeng tangan sang adik. “Temani Kakak, yuk. Nanti sekalian kita cari data daddy, gimana?”


Manik Jovin berbinar seketika. “Boleh! Ayo!”


Aqilla yang mendengar semuanya cuma bisa tersenyum diam-diam. Asalkan masih dalam batas wajar, Aqilla akan mengizinkan mereka melakukan apa pun yang dimau.


...👑👑👑...


“Gimana, Kak?” tanya Jovin penasaran. Sudah lima menit lebih kakaknya memeriksa, tapi Jovan hanya diam.


Hei, itu baru lima menit😒—batin Ay.


“Kakak nggak kenal siapa orangnya, Dek. Tapi, lokasi sinyal komputernya dari perusahaan RH Group,” papar Jovan seadanya. Sepasang mata bulatnya mengamati dengan jeli setiap kode maupun tatanan huruf juga angka yang tertera di layar komputernya.


Jovin mengerjapkan matanya berulang kali. “RH Group? Itu perusahaan mana?”


“Mana Kakak tau.”


Jovin bergumam tidak jelas selama beberapa detik. “Ya udah, deh. Biarin aja, biar mommy yang urus. Sekarang.. kita cari tau soal daddy!” pekiknya antusias.


Bergaya ala peretas profesional, Jovan merenggangkan kedua tangan mungilnya sebelum memulai. Ia siap bermain dengan sang daddy sekarang. Menurut penuturan Aqilla dahulu, kemampuan Jovan ini merupakan turunan dari Rayhan. Jadi, Jovan tidak akan meremehkan keahlian daddy-nya sebelum mencobanya sendiri.


“Mari kita mulai,” gumam Jovan dengan seringaiannya.


Jemari kecil Jovan bergerak cepat. Kegesitannya dalam menekan tombol keyboard tidak perlu diragukan lagi. Saking cergasnya, Jovin sampai sulit melihat bayangan tangan kakaknya. Memang, sih, keterampilan Jovan dalam dunia IT tidak bisa diremehkan.


Sementara itu, di perusahaan RH Group, Rayhan yang sedang fokus dengan tumpukan berkasnya dikejutkan dengan peringatan yang mendadak tampil di layar komputernya. Ada pihak asing yang mencoba untuk meretas data pribadinya.


“Sial! Siapa yang berani meretas dataku kayak gini?!” seru Rayhan kesal.


Buru-buru Rayhan memasang perlindungan lebih ketat. Sistem keamanan yang dibuat di perusahaan sudah dibobol setengahnya. Padahal, keamanan yang dipasang memiliki beberapa lapisan dengan kerumitan yang berbeda-beda. Tapi, orang ini berhasil meretasnya separuh.


“Hebat juga orang ini.” Merasa pihak asing semakin berpeluang sukses, Rayhan memilih untuk menyerang. Ia mengirim virus yang dia buat ke komputer lawan. Nggak ada orang yang pernah ngalahin aku. Aku pasti menang dalam pertarungan ini..


Mendadak Rayhan ikut bersemangat. Belum pernah ada lawan seberani ini sebelumnya.

__ADS_1


Di kamarnya, Jovan terkejut ketika peringatan baru muncul. Ada virus penghancur yang masuk ke komputernya. Namun, tak berselang lama, senyum Jovan mengembang.


Wah, udah lama Jovan nggak main beginian.


Jovan tidak mau kalah. Ia memusnahkan virus yang ada di komputernya dan mengirim virus ciptaannya ke komputer lawan. Entah siapa yang menjadi lawannya saat ini, tapi Jovan yakin kalau sosok di seberang sana adalah daddy-nya sendiri.


Jovan pasti menang, Daddy.


Rayhan terdesak. Setiap virus yang dia kirim sepertinya tidak berpengaruh. Malahan ia dibuat kewalahan dengan virus-virus yang masuk ke dalam komputernya. Keringat dingin bermunculan, Rayhan panik!


Semakin lama, keduanya yang sama-sama tidak mau kalah saling mengirim virus dengan berbagai model dan tipe penyerangan. Udah kayak pertarungan yang menentukan hidup dan mati kalau diperhatikan.


Tapi, kalau melihat dari sisi Rayhan, sosok lelaki itu terlihat sangat menawan dengan keringat yang bercucuran. Berbeda kalau dilihat dari sisi Jovan. Orang-orang akan tercengang dan pingsan melihat bagaimana sepasang tangan kecilnya bergerak lincah di atas keyboard. Apalagi sorot mata Jovan yang seriusnya bukan main, namun jatuhnya lucu dan menggemaskan.


Bola mata ungu Jovan berbinar-binar. Sumpah, gemes parah.


Jovin di samping sang kakak terus berteriak heboh, menyemangati Jovan agar tidak mau kalah. Sampai-sampai Aqilla yang sedang memasak dibuat penasaran dan ikut melihat ke dalam kamar anaknya.


Wanita itu tersenyum melihat keseriusan sang putra, sementara sang putri terus bersorak layaknya cheerleader saja.


“Ayo, Kakak! Semangat! Jangan mau kalah sama daddy!” Kurang lebih begitulah sorakan Jovin.


Aqilla terkikik pelan. He.. siapa yang menang hari ini? Ayah? Atau anak? Kayaknya seru, nih, kalo aku bisa liat muka tuan muda secara live.


Dua puluh menit berlalu, Jovan mulai berkeringat dingin. Sedangkan Rayhan sudah hampir menyerah. Untung saja Alvin datang tepat waktu untuk membantu. Hingga pada akhirnya, pertarungan usai.


“Aaarrggh!”


^^^To be continue...^^^


...👑👑👑...


Siapa yang teriak, nih? Siapa yang menang? Dad or son?


Gila, Ay sebenarnya nggak bisa bayangin yang beginian. Tapi, seru aja gitu.


Btw, Ay udah kasih tau belum kenapa Ay bikin cerita ini?

__ADS_1


Ay tuh sering baca cerita tentang anak genius, tapi alurnya kayak kurang sreg gitu di hati. Jadi, daripada kasih komenan nggak jelas di lapak orang lain, mending Ay buat cerita sendiri yang sesuai dengan hati Ay. Jadilah, seperti ini.. jeng jeng jeng..!


See you di chapter selanjutnya, ya:)


__ADS_2