
Rayhan, Jovan, dan Alvin sibuk mengotak-atik komputer, mencari tahu siapa sosok yang berusaha meretas data Aqilla. Untungnya, sih, seluruh data keluarga sudah Jovan amankan dengan sistem khusus miliknya. Jadi, data Aqilla aman, deh.
“Ketemu, Dad?” tanya Jovin yang sedari tadi memperhatikan sambil memakan snack.
Rayhan menggeleng. “Belum, Sayang.”
“Ish! Ini pertama kalinya Jovan nggak bisa retas akun orang!” kesal Jovan. Kayaknya aku harus latihan lagi, cih!
Rayhan mengusap kepala putranya lembut. “Tenang aja, Son. Daddy akan suruh tim IT perusahaan Daddy buat bantu. Kamu jangan terlalu diforsir tenaganya, nanti sakit,” tutur Rayhan yang khawatir dengan kondisi sang anak. Segenius apa pun kedua bocah itu, tubuh mereka masih kecil, masih dalam tahap pertumbuhan.
Memaksakan diri untuk melakukan sesuatu itu bisa membahayakan diri mereka sendiri.
“Tapi, Dad, gimana kalo orang ini punya niat jahat sama mommy? Jovan—”
“Hei, Son.” Rayhan memotong kalimat putranya. Ia paham, Jovan mencemaskan Aqilla, lelaki kecil itu takut sang mommy dalam bahaya. “Daddy ada di sini. Daddy akan lindungi mommy, Jovan, sama Jovin. Itu tugas Daddy sekarang. Jovan tenang aja, ya. Jovan sama Jovin itu kekuatan Daddy, kalau kalian sakit, Daddy malah sedih dan jadi lemah.”
“Daddy janji akan berusaha cari orang ini. Jovan tenang aja, ya,” sambung Rayhan menenangkan putranya.
Kata-kata Rayhan sukses merasuk ke relung hati Jovan. Lambat laun, si kecil genius itu berangsur tenang. Ia percaya bahwa daddy-nya ini bisa diandalkan.
“Daddy janji, kan?” Jovan menyodorkan jemari kelingking kecilnya.
Rayhan menautkan jarinya ke jari sang anak. “Daddy janji akan berusaha, Son.”
...👑👑👑...
Rayhan, Jovan, dan Jovin sepakat untuk menyembunyikan perihal masalah ini dari Aqilla. Ketiganya tahu kalau wanita itu kesehatannya sedikit terganggu akhir-akhir ini. Paras mommy si kembar yang biasanya ceria lebih sering terlihat pucat.
“Mommy?” panggil Jovan sewaktu melihat Aqilla tengah duduk menanti mereka di ruang tamu mansion Refalino. Saat ini, si kembar baru saja pulang dari kantor daddy mereka ketika hari menjelang sore.
Aqilla tersenyum. Ia melambaikan tangan, kode agar anaknya mendekat. Jovan dan Jovin menurut. Keduanya berjalan mendekati Aqilla.
“Mommy mau ngomong sesuatu,” kata Aqilla to the point. Ia tidak suka basa-basi.
__ADS_1
“Ngomong apa, Mom?” tanya Jovin keheranan. Air muka Aqilla serius sekali, lho.
Sebelum Aqilla mengeluarkan suara, Rayhan, Robert, Jessie, dan Reva datang. Mereka turut bergabung di ruang tamu.
Hm, bagus, deh. Aku jadi nggak perlu ngomong tiga kali.
“Mommy dapet misi dari pusat, Twins,” ucap Aqilla langsung.
Jovan dan Jovin was-was seketika. Firasat kedua bocah itu langsung tidak enak. Apa pun yang menyangkut misi IAF, sudah pasti nyawa taruhannya.
“Misi apa, Mom?” tanya Jovan memberanikan diri.
“Misi ke Paraguay, Boy,” jawab Aqilla yang kesulitan menjelaskan. Jika diterangkan secara gamblang, ia yakin dengan segenap hati kalau kedua bocah itu tidak akan mengizinkan.
“Misi tingkat apa?” Sekarang giliran Jovin yang bertanya.
Aqilla tersenyum kikuk. Bohong aja kali, ya? Tapi, kalo bohong, itu sama aja aku ngajarin yang nggak-nggak dong sama anak aku sendiri?
“Misi tingkat super S,” jawab Aqilla jujur sekaligus pasrah.
Misi tingkat super S?!! Mau cari mati, iya?!!
“No, Mom! Jovan nggak ijinin!” seru Jovan tak ingin dibantah.
“Jovin nggak akan biarin Mommy pergi ikut misi!” sahut Jovin yang juga tidak ingin Aqilla pergi menjalankan tugas.
Mendengar kalimat kedua buah hatinya, Aqilla menghembuskan napas panjang. Sudah ia duga, meraih kata ‘setuju’ saat ini adalah hal yang mustahil. Jovan dan Jovin tidak akan memberi izin sekalipun Aqilla sampai mengemis.
Tingkat keposesifan si kembar memang melampaui segalanya.
“Twins, ini itu tugas Mommy, tugas Mommy sebagai agen pengaman dunia. Ijinin Mommy, ya,” pinta Aqilla memelas. Pasalnya, ia juga tidak bisa membiarkan rekan-rekannya menangani misi sesulit ini tanpa dirinya.
Masa iya dirinya berleha-leha di rumah, sementara mereka berjuang hidup dan mati di sana? Tidak solidaritas sekali itu namanya!
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu, Jovan memeluk Aqilla dan menangis kencang. Tubuh wanita itu menegang seketika, ini pertama kalinya ia mendengar isak tangis sang putra setelah bertahun-tahun lamanya. “Hei, Boy..” Aqilla mengusap kepala Jovan penuh sayang.
“Nggak boleh pergi! Hiks.. Jovan nggak mau Mommy kayak dulu, masuk rumah sakit, koma berhari-hari. Mommy tidur terus di rumah sakit, hiks.. Jovan nggak mau, Mom...” rengek Jovan sesenggukan.
Jovin yang mendengar kakaknya menangis ikut berkaca-kaca. Kenangan dua tahun silam kembali terungkit di benak mereka.
Hari itu, Aqilla pamit untuk mengikuti misi tingkat S. Pulang dari sana setelah dua minggu berlalu, mommy mereka dinyatakan kritis karena luka yang dialami sangat parah. Hampir satu bulan Aqilla koma, si kembar hanya duduk termenung di samping tubuh mommy mereka itu.
Ely sampai kewalahan mengurus keponakannya karena si kembar tidak mau makan apa pun. Mandi pun sulit, diajak keluar tidak mau.
Mengingat kejadian hari itu, Jovin ikut menangis. Gadis kecil itu merangkul leher Aqilla erat.
Tangisan si kembar membuat seluruh insan di mansion tersayat hatinya, bahkan para pelayan sekalipun. Terlihat sekali kekhawatiran di binar mata kedua bocah itu. Kecemasan yang sangat wajar dialami oleh anak kepada ibunya.
Rayhan turut mendekat dan mengusap kepala Jovan. Mata dan hidung putranya berubah merah. Menyesakkan sekali untuk dilihat. “Tetaplah di sini, Qill,” kata Rayhan berusaha membujuk pula.
“Tapi, Ray, masalah di sana itu serius. Aku nggak mungkin ngebiarin rekan-rekanku berjuang sendirian. Kami satu tim, harusnya kami terus sama-sama,” papar Aqilla yang masih sulit untuk merelakan misi ini. Ditambah lagi, wanita itu tidak tahu harus memberi alasan apa jika seandainya dirinya tidak bisa ikut serta.
“Qill, apa pekerjaan ini lebih penting daripada anak kamu sendiri?” tanya Rayhan yang menohok hati Aqilla seketika. Wanita itu terdiam seribu bahasa. Namun, tangannya tetap bergerak mengusap kepala kedua anaknya.
“Qill, kalo kamu pergi, anak kita bakalan nggak tenang di sini. Mereka cemas sama mommy mereka yang lagi nantang bahaya di sana. Dan, pada akhirnya, si kembar jatuh sakit. Kamu mau kayak gitu?” tutur Rayhan memberi pengertian.
Aqilla menghela napas berat. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak ingin menatap langsung paras Rayhan yang entah mengapa tengah menunjukkan aura kedewasaan yang kentara.
“Lagian, bukan cuma si kembar yang khawatir. Aku juga nggak mau kamu kenapa-napa,” lanjut Rayhan tulus. “Kamu itu sama berartinya buat aku.”
Blushh..
Aqilla merasakan pipinya memanas. Jantungnya berdegup kencang. Kalimat Rayhan sukses menggetarkan hatinya. Ah, aku ini kenapa?!
“Hiks.. Mommy,” panggil Jovan yang mulai reda tangisannya. Ia mendongak, menatap wajah Aqilla. “Jantung Mommy kenapa? Kok, dag dig dug kenceng banget?”
Ah, sial! Aku malu, woi!!
__ADS_1
^^^To be continue...^^^