
“Kamu membuat kesalahan besar, Adikku,” desis Kenzie dengan sorot menggelap.
Menggunakan bahasa isyarat tangan, Kenzie memanggil seluruh pasukan yang telah ia siapkan. Orang-orang berbadan kekar nampak berdatangan dari gerbang mansion yang terbuka lebar. Masing-masing dari mereka membawa senjata, sudah siap untuk melakukan penyerangan jika diperintahkan.
Aqilla memasang sikap kuda-kuda. “Ray,” ucapnya.
“Iya, Qill? Kamu tenang aja, anggotaku dalam perjalanan ke sin—”
“Jangan, Ray,” potong Aqilla cepat. “Tolong jangan ikut campur. Cukup jaga anak kita.”
Rayhan membelalak. Apa Aqilla berusaha melawan ratusan orang itu sendirian? Tentu saja sebagai lelaki dirinya tidak akan membiarkan. Jika benar lelaki di depan sana adalah saudara Aqilla, seharusnya saat ini Rayhan tengah meminta restu secara baik-baik. Bukan seperti ini situasinya!
“Qilla, mereka banyak banget. Biar aku bantu kamu,” pinta Rayhan ingin mendekat.
Aqilla melirik tajam. Kepalanya menggeleng tegas. Dilihat dari sorot matanya saja, Rayhan bisa menyimpulkan cukup-diam-saja-jangan-ikut-campur!
Kenzie memberi kode untuk maju. Pasukan bagian depan berlari menerjang Aqilla yang masih tampak tenang. Diam-diam Kenzie menarik sebelah sudut bibirnya. Kamu masih sama, La, selalu tenang dan tidak pernah takut apa pun.
Aqilla mengelak ketika salah satu pria melayangkan tinjunya. Wanita itu merunduk, lalu menendang tubuh pria tadi hingga terlempar.
Pria-pria tadi menyerang bergantian kadang bersamaan. Namun, Aqilla masih tampak tenang dan tidak terpengaruh.
Sementara itu, di belakang Aqilla, Robert, Reva, Rayhan, Jessie, Alvin, Jovan, dan Jovin tampak mencemaskan kondisi Aqilla. Ingin membantu, tetapi sudah diberi ultimatum agar tidak ikut campur. Lalu, mereka harus bagaimana?
Ini juga urusan keluarga Aqilla. Wanita itu pasti ingin menyelesaikannya sendiri.
Dari arah belakang, Ely berlari kencang mendekati si kembar. Karena pergelutan yang terjadi, tidak ada siapa pun yang mengetahui pergerakan gadis itu. Tiba di dekat si kembar, Ely menarik tangan Jovan dan Jovin.
“Aunty?” kaget Jovin.
Ely menggeleng dengan linangan air mata. “Ayo pergi, Twins,” lirihnya.
“Pergi? Pergi ke mana, Aunty? Mommy di sana butuh bantuan!” seru Jovan tidak ingin meninggalkan sang mommy sendirian. Lelaki kecil itu berniat membantu Aqilla dengan alat-alat buatannya.
Ely kembali menggeleng. Semua orang terkejut melihat sahabat Aqilla itu menangis terisak. “Ayo ikut Aunty, jangan di sini. Kita masuk ke mansion, di sini bahaya.”
“Tapi, Aunty—” Kalimat Jovan terpotong.
“Ini perintah Mommy Qilla, Jovan. Aunty mohon, ayo kita masuk. Kita tunggu di dalam,” ucap Ely dengan nada sendu.
Karena tidak tega, si kembar terpaksa ikut. Ely membawa si kembar masuk ke dalam mansion, bersembunyi sesuai instruksi dari Aqilla dahulu. Air mata Ely kembali mengalir tanpa diminta.
Ia masih ingat betul percakapannya dengan Aqilla malam itu.
“Qill, kamu yakin?” tanya Ely yang takut sahabatnya terkena masalah.
__ADS_1
Aqilla mengangguk yakin. “Aku yakin, El. Demi si kembar!”
“Terus kalo Kenzie nekat nyerang gimana? Kayak dulu, Qill.” Ely menyampaikan keresahannya.
“Aku yang akan lawan dia dan pasukannya, El. Seandainya ada sesuatu yang terjadi, aku yang akan tanggung, El. Tugasmu cuma satu, bawa anak-anak menjauh dari sana, paham?”
“Aqilla! Itu bahaya! Kenapa harus bawa si kembar pergi? Mereka bisa bantu, kan?”
“Pada akhirnya aku tau, El, aku nggak mungkin bisa kalahin Kak Ken. Dia pasti nangkap aku dan si kembar. Makanya, kamu harus bisa cari kesempatan buat bawa anak-anak menjauh.”
“Qill, aku—”
“Cukup, Ely!! Aku nggak mau denger apa pun lagi!”
Ely memejamkan matanya perlahan. Ia tahu, Aqilla akan mengorbankan diri di sana. Tugasnya hanya satu, menjaga si kembar agar tidak dibawa pergi.
Tiga puluh menit berlalu...
Aqilla masih bertahan melawan pasukan Kenzie. Beberapa anggota sudah tepar di tanah karena tidak sanggup melanjutkan. Sayangnya, kondisi berbalik ketika Aqilla merasakan sesuatu menancap di lengannya.
Sett! Jleb!
Aqilla menoleh cepat. Ia melihat lengannya yang tertancap jarum suntik—yang ia yakini berisi suatu cairan. Pasukan Kenzie mundur perlahan, mengelilingi Aqilla di tengah-tengah.
“AQILLA!!” teriak Rayhan khawatir sewaktu netranya memirsa bagaimana tubuh Aqilla merosot ke tanah.
“Apa masih sanggup, Adikku Sayang?” tanya Kenzie dengan senyum penuh makna. Dialah pelaku dari jarum tadi.
Aqilla mendesis. “Kakak curang,” lirihnya.
Brukk!!
Tubuh Aqilla jatuh ke tanah. Cairan berupa bius di jarum itu sukses mempengaruhi sekujur sel tubuhnya.
“Mo—”
Jovan dan Jovin yang ingin menyusul segera ditahan oleh Ely. Gadis itu bahkan membekap mulut si kembar yang ingin berteriak memanggil mommy mereka.
Rayhan dan Robert maju untuk membantu Aqilla yang sudah digotong oleh pasukan Kenzie. Sedangkan Alvin diminta untuk menjaga Jessie dan Reva. Kedua lelaki berbeda generasi itu memilih diam sejak awal karena tidak ingin mencampuri urusan Aqilla dengan kakaknya.
Tapi, jika situasinya begini, sudah tentu mereka harus terlibat.
“Lepaskan dia, Tuan Kenzie!” seru Rayhan dengan emosi meledak-ledak.
Kenzie tersenyum sinis. “Siapa kamu berani memerintahku? Kamu tidak ada hak, Tuan Muda Refalino.”
__ADS_1
“Aku calon suami Aqilla,” tekan Rayhan dengan tangan mengepal.
“Apa kamu pikir semudah itu? Aku kakaknya, aku jauh lebih berhak atas Aqilla. Dia adikku, adik kandungku!”
Karena terlampau geram, Rayhan maju ingin menghajar Kenzie. Namun, Arjun dengan sigap menghadang Rayhan.
Perkelahian tak dapat terelakkan lagi. Robert sibuk melawan pasukan Kenzie, sementara Rayhan menyerang Arjun, asisten Kenzie.
Kenzie melirik ke sana ke sini, mencari sosok anak-anak Aqilla yang sebelumnya berada di sini. Nihil. Atensi kedua bocah itu tidak terlihat. Ke mana keponakanku itu?
Kenzie melirik Jessie dan Reva tajam. Apa mereka menyembunyikan mereka?
Sial! Aku telat!
Kenzie menghembuskan napas kasar. Ia pun memerintahkan anak buahnya untuk memasukkan Aqilla ke dalam mobil.
“AQILLA!! LEPASKAN CALON ISTRIKU, TUAN KENZIE!!!” teriak Rayhan yang ditahan oleh bawahan Arjun.
Rayhan menjerit ketika mobil yang ditumpangi Aqilla dan Kenzie meninggalkan area mansion. Tubuh Rayhan baru dilepas setelah bawahan Kenzie mendapat perintah melalui earphone yang terpasang di telinga mereka.
Detika itu juga, si kembar berlarian keluar mansion. Mereka histeris, memaksa ingin menyusul mommy mereka. Namun, Ely menahan Jovan dan Jovin yang meraung-raung.
“No! Kalian nggak boleh ke sana sekarang!” ucap Ely yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Aunty, mommy dibawa pergi sama uncle! Kami mau ke sana, hiks..” Jovin menangis kencang. Gadis kecil itu terisak.
“Besok saja, Twins. Kita ke sana sama-sama, ya, jangan sekarang,” bujuk Ely.
“Tapi, gimana kalo uncle lukain mommy? Nanti mommy kenapa-napa, Aunty,” balas Jovan tidak terima. Untuk apa menanti satu hari untuk menyelamatkan Aqilla? Malam ini mereka juga bisa, kok.
Rayhan bangkit dan berteriak, “ALVIN! SIAPKAN ANGGOTA THE REFYLS SEKARANG JUGA! KITA JEMPUT AQILLA!”
“Baik, Tu—”
“Tidak, Tuan Muda. Anda tidak boleh menyusul sekarang,” cegah Ely cepat. Jika itu terjadi, susunan rencana Aqilla bisa berantakan.
Rayhan menatap Ely tajam. “Jangan menghalangiku,” katanya dingin.
Glek!
Ely merinding menerima tatapan semacam itu. Namun, ia berusaha tegar. “Ini permintaan Aqilla, Tuan.”
“Aqilla?”
“Benar. Kejadian ini... ada dalam bagian rencana Aqilla.”
__ADS_1
“Rencana?” beo Rayhan bingung.
^^^To be continue...^^^