I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 78 | Melepas Rindu


__ADS_3

Rayhan, Jovan, dan Jovin sudah siap menyambut kepulangan Aqilla. Ketiga anak manusia itu tengah mengedarkan pandangan di segala penjuru bandara, mencari sosok mommy si kembar yang seharusnya baru saja turun dari pesawat. Alvin yang juga diajak turut membantu mencari calon nyonya mudanya di antara ribuan manusia di sekitar.


“Itu mommy!” tunjuk Jovan antusias. Rayhan, Jovin, pun Alvin mengalihkan pandangan ke arah yang Jovan tunjuk.


Di depan sana, Aqilla melambaikan tangan dengan riang. Sembari menarik kopernya, wanita itu bergegas menghampiri mereka. Si kembar sudah lompat-lompat sendiri karena terlalu bahagia.


“Mommy!” seru Jovan dan Jovin bersamaan. Keduanya menghambur ke pelukan Aqilla yang telah berjongkok untuk menyambut mereka.


“Huaaa.. Jovin kangen Mommy,” kata Jovin.


Aqilla terkekeh. “Mommy juga kangen, Girl.”


Jovan melonggarkan rengkuhan. “Mana yang sakit, Mom? Udah sembuh beneran, kan? Kalo masih, kita ke rumah sakit, ya,” tanya lelaki kecil itu yang masih diliputi rasa cemas semenjak kondisi Aqilla terdengar oleh telinganya.


Aqilla mengangguk. “Udah sembuh, Boy. Kalo belum, mana boleh Mommy keluar rumah sakit.”


Dirasa perkataan Aqilla begitu masuk akal, Jovan manggut-manggut. Akhirnya, ia bisa menghembuskan napas lega, sirna sudah rasa khawatirnya karena ternyata sang mommy sudah membaik.


“Qill,” panggil Rayhan yang turut mendekat. Ia membawa tubuh semampai Aqilla ke dalam pelukan. “Syukurlah kamu nggak pa pa.”


Aqilla mengulum bibir, menahan senyumnya yang ingin mengembang. Wanita itu sangat menikmati debaran jantungnya yang bersahutan dengan jantung Rayhan. Mereka berdua sama-sama sedang gugup dan bahagia.


Tak lama, Ely menampakkan diri. Gadis itu juga disambut dengan pelukan dari si kembar. Mereka melepas rindu, membiarkan mommy dan daddy mereka berbincang sebentar. Hanya Alvin yang diam saja di sana karena tidak tahu harus mengatakan apa dan melakukan apa.


“Udah, kita pulang, yuk. Biar mommy kalian bisa langsung istirahat,” saran Ely yang tidak mau sahabatnya itu kembali drop.


Rayhan dan kedua anaknya mengangguk setuju. Lantas mereka berenam pergi meninggalkan bandara yang ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang.


Aqilla tersenyum cerah mendengar celotehan sang anak yang begitu dirindukannya selama dua minggu ini. Namun, tiba-tiba wanita itu melirik ke satu arah dengan tajam. Instingnya aktif dalam waktu singkat. Aqilla bisa merasakan ada seseorang yang mengawasi mereka saat ini.


Siapa di sana?


...👑👑👑...


Sementara itu, di suatu perusahaan...

__ADS_1


“Tuan Muda,” panggil Arjun sopan. “Nona Aqilla sudah kembali. Saat ini, nona berada di mansion keluarga Refalino bersama kedua anaknya.”


Kenzie tersenyum miring. Akhirnya, hari yang lelaki itu tunggu tiba juga. Aqilla telah kembali, itu artinya sudah waktunya permainan yang dia rancang dimulai.


“Hm, terima kasih. Pergilah, aku ingin sendiri,” kata Kenzie mengusir asistennya keluar dari ruang kerjanya.


Arjun membungkuk kecil sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut. Ia tahu, tuan mudanya butuh waktu untuk berpikir ulang atau sekadar menikmati ketenangan yang tercipta sebelum masalah yang mereka ciptakan terkuak.


Di dalam ruangan, Kenzie memutar kursi kebesarannya hingga menghadap jendela kaca besar yang menampakkan langit sekaligus pemandangan Jakarta. Bibirnya kembali membentuk garis lurus, sorot matanya berubah tajam. Entah apa yang Kenzie pikirkan, lelaki itu tampak menahan amarah.


Kamu harus dihukum, Qilla. Secepatnya.


Tok tok tokkk..


“Siapa?” tanya Kenzie tak bersemangat. Ia sedang malas menerima tamu di masa semacam ini.


“Ini aku, Mas.”


Senyum Kenzie terbit seketika. “Masuk, Sayang!”


...👑👑👑...


Aqilla pasrah menerima perlakuan Reva juga Robert. Sepasang suami-istri paruh baya itu menyambut kedatangannya dengan jejeran anggota medis di pekarangan mansion. Orang-orang itu dipanggil khusus untuk memeriksa Aqilla secara menyeluruh.


Walaupun sangat-sangat ingin menolak, Aqilla memilih bungkam. Wanita itu tidak ingin menolak kebaikan calon mertuanya.


Iya, calon mertua.


Kok, kedengarannya agak menggelikan, ya, di telinga wanita beranak dua itu? Aqilla sering menahan senyum sendiri, lho, setiap mengingat kalau Robert dan Reva telah berubah status di matanya. Jadi calon mertua, hehe.


“Kondisi nona baik-baik saja, Tuan Besar, Nyonya Besar. Lukanya sudah mulai mengering dan sudah mendapat penanganan terbaik. Nona hanya perlu rutin mengonsumsi obat agar kondisinya lebih cepat pulih saja dan nona tidak boleh bekerja terlalu keras,” kata dokter yang memeriksa Aqilla memberitahu hasil pemeriksaannya.


Robert, Reva, dan Jessie tersenyum senang. Ternyata calon keluarga baru mereka baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


“Terima kasih, Dok,” ucap Reva. “Alvin, antar Dokter Yan keluar.”

__ADS_1


Alvin mengangguk sekilas. “Baik, Nyonya. Mari, Dok.” Alvin menggiring dokter pribadi keluarga Refalino keluar mansion.


Sepeninggalan keduanya, Aqilla lagi-lagi dibuat tak berkutik mendengar Reva berceramah. Wanita paruh baya itu mengomeli Aqilla yang tidak bisa menjaga diri, lalu memberi wejangan untuk calon menantunya agar tidak sampai lupa meminum obat dan menjaga kondisi—termasuk pola makan dan aktivitas istirahatnya.


Rayhan yang melihat paras calon istrinya yang diam dengan muka pasrah benar-benar sulit menahan tawa. Ekspresi yang dikeluarkan Aqilla sangat lucu menurutnya.


“Iya, Mi, iya, Qilla jaga diri. Udah dong ceramahnya,” keluh Aqilla memberanikan diri.


Reva malah berkacak pinggang, siap untuk melontarkan topik ceramah lainnya. Aqilla mengerucutkan bibirnya mendengar Reva kembali berceloteh. Robert yang berada di samping istrinya tampak mengulum bibir, menahan gelakannya.


Rayhan yang tak kuasa menahan tawa segera menghampiri Reva. “Mi, udah. Biarin Aqilla istirahat, ya.”


Reva menghela napas berat. Mau tak mau, otaknya membenarkan perkataan putranya. Aqilla butuh banyak istirahat sekarang untuk memulihkan diri. “Cepat sembuh, ya, Sayang.”


“Iya, Mi.”


Pada akhirnya, di kamar Aqilla hanya tersisa Rayhan dan Aqilla. Lelaki itu beralasan ingin mengatakan beberapa hal penting kepada Aqilla.


Namun, yang dilakukan Rayhan berbanding terbalik dengan apa yang diucapkannya.


Lelaki itu mengunci pintu dan mulai bergerak mendekati Aqilla. Wanita itu mulai was-was. Ingatan mengenai kejadian hari itu membuat pipinya memerah entah mengapa. Ia tidak mau jika sampai terulang lagi hari ini.


Jadi penasaran, emangnya apa yang terjadi sebenarnya, sih?


“Ray, jangan macam-macam, ya,” ancam Aqilla tak main-main.


Rayhan menyeringai. “Nggak macam-macam, Sayang. Satu macam aja cukup, kok.”


Detik itu juga, Rayhan mengubah posisi mereka. Aqilla berada di bawah kungkungan Rayhan, ini adalah posisi favorit Rayhan.


Cup!


Rayhan menjatuhkan diri hingga bibir keduanya bertabrakan. “Aku merindukanmu, Sayang..” bisik Rayhan sensual. Ia berucap dengan bibir mereka yang masih bersinggungan.


Glek!

__ADS_1


Demi apa pun itu, Aqilla merasakan sekujur tubuhnya berdesir hebat. Seperti terhipnotis, ia menurut saja ketika Rayhan mulai mengecap bibirnya. Cara terbaru dari lelaki itu untuk melepas rindu yang membuncah.


^^^To be continue...^^^


__ADS_2