
Sepanjang perjalanan menuju sekolah si kembar, Rayhan hanya diam, tidak bersuara sama sekali. Jovan dan Jovin sampai keheranan dengan tingkah daddy mereka itu.
Daddy kenapa?—tanya Jovan dalam hati.
Entah, Adek nggak tau, Kak—balas Jovin dalam hati pula.
Apa ini ada hubungannya sama mommy, ya?
Mungkin aja, Kak. Habis ngobrol sama mommy, daddy langsung jadi pendiem.
Ditanyain nggak, nih?
Tanyain, lah! Tapi, Kakak aja, ya. Adek bantu aja.
Jovan mengangguk setuju. Keduanya menoleh bersamaan ke arah Rayhan yang duduk termenung menatap keluar jendela. Sesuai kesepakatan telepati, mereka berdua harus bertanya lebih lanjut mengenai alasan keterdiaman sang daddy.
“Daddy,” panggil Jovan menusuk-nusuk lengan Rayhan dengan jemari mungilnya.
Rayhan sedikit tersentak. Ia segera menoleh ke arah putra-putrinya yang menatap dirinya penuh tanda tanya. “Kenapa, Son?”
“Daddy kenapa? Kok, diam aja?” tanya Jovan penasaran.
“Hm?”
“Daddy, kok, keliatan murung, sih. Apa gara-gara mommy?” timpal Jovin membantu sang kakak.
Rayhan terdiam sejenak. Posisi mereka saat ini memang berada di jok tengah mobil. Sosok dibalik kemudi adalah Alvin. Alhasil, lelaki yang menjabat sebagai asisten sekaligus tangan kanan Rayhan itu diam-diam menyimak pembicaraan di belakang.
“Haaahh.. Daddy cuma bingung, Twins,” ucap Rayhan putus asa usai menghela napas berat.
“Bingung kenapa, Dad?” tanya Jovin.
“Mommy kalian kayaknya nggak suka sama Daddy,” cicit Rayhan. “Memangnya Daddy kurang apa?”
“Apa yang terjadi, Dad?” tanya Jovan.
Rayhan menghela napas panjang, bersiap untuk menceritakan kejadian di luar mansion kala dirinya dan Aqilla tengah berbicara berdua.
...Flashback on....
“Ayo kita menikah, Qill.”
“He?” Aqilla cengo. “Ulang, Ray, ulang lagi.”
“Ayo. kita. menikah, Aqilla..” gemas Rayhan. “Wedding, marry, nikah, kawin.”
“What?! Menikah? Sama kamu?!!”
__ADS_1
Hening sesaat. Aqilla masih berusaha mencerna dengan baik otak dan hatinya, sedangkan Rayhan menanti dengan sabar. Sayangnya, yang ditunggu malah terbahak kencang, entah alasannya apa.
“Hahaha... jangan bercanda, Ray. Menikah? Hahaha...” Tawa Aqilla menggema.
Raut wajah Rayhan berubah datar seketika. Ia tersinggung karena Aqilla mengira ia hanya main-main. Padahal, pernyataan ini karena memang benar diinginkannya. “Aku serius, Qill. Aku mau ngajak kamu nikah.”
Tawa Aqilla terhenti tiba-tiba. Wanita itu menatap mata Rayhan lekat-lekat. Ada kesungguhan yang terpancar di binar lelaki itu. Aqilla memalingkan wajah ke samping, tidak mau memandang Rayhan lagi. “Apa ini karena anak-anak?”
“Itu salah satunya. Tapi, aku secara pribadi emang suka sama kamu. Bahkan, mungkin sekarang udah berubah jadi cinta,” jelas Rayhan meyakinkan Aqilla. Ia meraih kedua tangan Aqilla dan menggenggamnya. “Aku nggak akan paksa kamu buat balas perasaanku secepatnya, Qill. Perasaan nggak bisa dipaksa, aku tau itu. Tapi, aku mau kita mulai hubungan ini dengan menikah, terus saling membuka diri, dan bangun keluarga kecil.”
Aqilla menghela napas berat. Ia menarik tangannya dari genggaman Rayhan perlahan. Entah apa yang ada di otak Aqilla saat ini, Rayhan tidak mengerti. Namun, yang pasti, ada keraguan besar di binar wanita itu. Ada sesuatu yang disembunyikan.
Semacam rahasia besar yang dipendam.
“Maaf, Ray, aku nggak bisa,” jawab Aqilla lesu.
“Kenapa nggak bisa? Seenggaknya kita coba mulai hubungan demi anak-anak, kan?” Rayhan tidak menyerah. Ia akan terus berusaha meyakinkan Aqilla. Bagaimanapun, wanita ini sudah ia cap sebagai miliknya. Rayhan tidak akan terima jika sampai Aqilla memilik bersama lelaki lain.
“Aku...” Aqilla mengedarkan bola matanya, menghindari sorot kecewa yang Rayhan tunjukkan. “Aku nggak bisa, maaf.” Kakinya mundur selangkah. “Anak-anak nunggu di dalam, ayo masuk.”
Rayhan menatap nanar punggung Aqilla yang masuk ke dalam mansion, meninggalkan dirinya seorang selepas mengatakan kalimat penolakan. Kenapa kamu nggak bisa terima aku, Qill?
...Flashback off....
Jovan dan Jovin manggut-manggut mendengar kronologi cerita dari Rayhan. Entah mengapa, mereka merasakan sesuatu dari sang mommy. Ada semacam hal yang mengganggu benak Aqilla jika dilihat dari penolakan wanita itu.
Aqilla menolak langsung tanpa memberikan alasan yang logis. Padahal, selama ini, Aqilla adalah tipe wanita yang mengedepankan logika jika menghadapi suatu masalah.
“Nanti kami bantu, Dad, buat cari tau kenapa mommy nolak Daddy,” kata Jovin menenangkan daddy-nya yang masih nampak murung. “Daddy jangan menyerah, ya. Kami mau punya keluarga lengkap.”
Penuturan Jovin membuat Rayhan tersenyum tipis. Ya, itu yang ingin dia perjuangkan. Keluarga lengkap untuk kedua anaknya. “Daddy akan berusaha, Girl.”
“Tuan Muda, kita sudah sampai di sekolah,” kata Alvin menginterupsi percakapan di belakang.
Rayhan menoleh keluar. Benar saja, mobil telah berhenti di depan gerbang sekolah si kembar. Tak ingin membuat terlambat, Rayhan segera turun dan membantu Jovan juga Jovin keluar dari mobil.
Para orang tua yang mengantar anak-anaknya ke sekolah terkesima melihat sosok lelaki tampan dengan pesona hot-nya tengah menggandeng dua anak kecil. Beberapa orang yang melihat terkejut melihat paras si kembar tanpa topeng. Sangat mirip dengan sosok tuan muda dari keluarga Refalino.
“I–itu Jovan sama Jovin, kan?”
“Iya! Itu mereka!”
“Jadi, wajah mereka yang asli begitu?”
“Bener-bener mirip sama Tuan Muda Rayhan.”
“Jadi, berita kalau Tuan Muda Rayhan punya anak itu beneran? Bukan bohongan?”
__ADS_1
“Wah, gila! Wajahnya kayak pinang dibelah dua!”
Yap, si kembar tidak memakai topeng mereka lagi. Aqilla mengizinkan mereka melepas penyamaran dengan syarat selalu membawa ponsel ke mana-mana. Seandainya ada bahaya atau sesuatu yang mencurigakan, Aqilla menyuruh si kembar untuk langsung menghubungi pihak keluarga.
Untuk berjaga-jaga, Robert memerintahkan tiga anggota The Refyls untuk menjaga kedua cucunya ke mana pun perginya. Hanya saja, mereka mengawal dari jarak jauh, semacam bodyguard bayangan.
“Sudah sampai, Daddy,” seru Jovin senang ketika mereka bertiga tiba di depan kelas si kembar. “Ini kelas kami.”
Rayhan berjongkok dan mengusap kepala anak-anaknya. “Belajar yang benar, oke? Pulang nanti, grandma sama grandpa yang jemput, nggak pa pa, kan?”
“Nggak pa pa dong. Siapa aja yang jemput, kami seneng, kok, Dad,” sahut Jovan dengan senyum manisnya.
Rayhan turut tersenyum gemas. Ia mengecup puncak kepala Jovan dan Jovin sebelum pergi dari sana.
“HATI-HATI DI JALAN, DADDY! JANGAN NGINJEK SEMUT, YA!” teriak Jovin dengan tangan melambai-lambai.
...👑👑👑...
“Alvin.”
“Saya, Tuan.”
“Kamu mendengar ceritaku di mobil, kan?” tanya Rayhan memutar kursi kebesarannya menghadap ke arah sang asisten yang berdiri di belakangnya. Saat ini, mereka sudah tiba di RH Group, di ruang Presdir milik Rayhan.
“Maaf sudah lancang mendengarkan.”
Rayhan mengibaskan tangannya. “Aku membutuhkanmu sebagai sahabat sekarang, bukan asisten.” Menghela napas sejenak. “Apa menurutmu alasan Aqilla menolakku?”
Bekerja bersama bertahun-tahun lamanya membuat hubungan mereka lebih dari atasan dan bawahan. Bagi Rayhan, Alvin bagaikan sahabat sekaligus saudara laki-lakinya. Alvin selalu ada di setiap kehidupannya, entah itu suka maupun duka. Alvin adalah definisi orang setia di dalam hidup Rayhan.
Bagi Alvin sendiri, Rayhan merupakan penyelamatnya. Dahulu, dirinya hanyalah anak yatim piatu yang terbuang di jalanan. Namun, Rayhan kecil membantunya dan membiayai pendidikannya. Karena itu, Alvin berjanji untuk mengabdikan diri kepada penyelamatnya ini.
“Saya kurang tahu, Tuan. Saya tidak pernah berdekatan dengan wanita dan tidak bisa memahami perasaan mereka,” jawab Alvin jujur.
Rayhan mendengkus. “Aku lupa kalau kamu tidak pernah berpacaran, Al.”
Bertanya pada Alvin mengenai cinta, tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan. Lelaki itu sama seperti Rayhan, jomblo keren sejak lahir. Hanya saja, Rayhan pernah berpacaran sekali, sih, dengan Chelsea dulu.
“Mungkin.. Tuan harus mencari tahu tipe lelaki idaman Nona Aqilla, Tuan. Dengan begitu, Tuan bisa menyesuai diri dengan Nona Aqilla. Anda bisa menghindari apa yang dibenci oleh Nona Aqilla, dan memberikan sesuatu yang Nona Aqilla suka,” tutur Alvin memberi saran.
Rayhan menaikkan kedua alisnya. Itu saran yang bagus. Ia sama sekali tidak tahu apa yang wanita itu suka dan hanya bermodalkan nekat untuk melamarnya.
“Jadi.. aku harus mendekatinya pelan-pelan, Al?” tanya Rayhan memastikan pemikirannya.
Alvin mengangguk. “Benar, Tuan. Anda dekati Nona Aqilla terlebih dahulu. Lakukan sesuatu yang Nona Aqilla suka sampai Nona Aqilla tertarik pada Anda, seperti yang Anda rasakan dahulu.”
Rayhan tersenyum cerah. Ini ide terbaik untuk menaklukkan Aqilla. “Baiklah, aku akan mendekatinya perlahan-lahan...”
__ADS_1
Bersiap-siaplah, Aqilla. Akan kutunjukkan pesona seorang Rayhan yang sebenarnya padamu.
^^^To be continue...^^^