I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 43 | Pesta: Daddy!


__ADS_3

“N–Nak, kenapa wajah si kembar sama seperti.. putra Mami?” tanya Reva lirih.


“Karena mereka memang cucu Anda, Nyonya.”


Deg!


“Apaa..?”


Hening.


Sulit bagi mereka untuk percaya bahwa pengakuan Aqilla barusan adalah sebuah realita. Pasalnya, rumor yang tersebar di sosial media mengatakan sebaliknya. Bagaimana bisa Tuan Muda Rayhan bisa memiliki anak jika ia dinyatakan mandul?


Semenjak topeng itu terlepas, Rayhan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari si kembar. Wajah mereka sangat mirip dengannya, seperti duplikat Rayhan versi mini. Itu lebih dari cukup bagi Rayhan untuk menebak segala kebenarannya.


Hanya saja...


“Mereka bukan anak kamu sama suami kamu dulu, Qill?” tanya Rayhan menatap Aqilla lekat.


Lagi-lagi Aqilla mengernyitkan dahi. Kenapa, sih, semua orang menganggapnya janda? Dia saja nggak pernah dekat sama laki-laki, lho.


“Saya tidak pernah menikah, Tuan Muda,” jawab Aqilla sabar. Entah kenapa, pertanyaan ini sedikit mencubit harga dirinya. Umur wanita itu, kan, sudah 28 tahun, tapi belum menikah. Agak gimana gitu, ya.


“Tapi, waktu itu Kak Qilla bilang suami Kak Qilla udah meninggal, kan?” sahut Jessie mengutarakan rasa penasarannya.


Aqilla mencoba untuk tetap tersenyum. Ini lama-lama stok kesabarannya habis, lho. “Saya ingatkan, Nona, waktu itu saya menjawab ‘saya tidak punya suami’ yang artinya saya tidak pernah menikah, Nona. Beda jika saya mengatakan ‘suami saya tidak ada’, itu artinya suami saya sudah meninggal.”


Jessie bungkam. Ia baru menyadarinya. Dulu, sewaktu pertemuan pertama mereka setelah 7 tahun berpisah, Jessie terlalu antusias ingin segera menjodohkan Aqilla dengan kakaknya, Rayhan.


“Jadi.. mereka benar-benar cucu kami?” tanya Robert sekali lagi. Mata pria itu sudah berkaca-kaca, tak percaya bahwa selama 7 tahun ini ada dua makhluk kecil yang begitu ia dambakan telah hadir ke dunia.


Untuk Robert, ia tidak memerlukan tes DNA atau semacamnya. Melihat paras si kembar yang begitu mirip dengan sang putra sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya.


Aqilla menggangguk. “Benar, Tuan.”


“Lalu, kenapa kamu tidak memberitahu kami, Nak?” tanya Reva sendu. Wanita itu berjalan mendekat dan meraih wajah Jovan yang masih terus menatap Nando tajam.


Hah, pertanyaan yang Aqilla tunggu-tunggu muncul juga.


Mengalirlah cerita 7 tahun lalu, mengenai kondisi janin Aqilla yang lemah hingga dilarang bepergian menggunakan pesawat, masalah dalam batas minimal umur penerbangan, lalu ketakutan Aqilla untuk membawa si kembar kemari. Semua orang mendengarkan dengan saksama, termasuk para tamu yang juga begitu penasaran dengan kehidupan kedua anak Rayhan selama ini.

__ADS_1


Tangis Reva pecah. Ia langsung memeluk Jovan erat sampai lelaki kecil itu sadar bahwa situasi sudah tidak mencekam seperti sebelumnya. Ia mendongak, menatap grandma-nya yang menangis sesenggukan. “Grandma kenapa?” bisik Jovan yang kian menambah deraian air mata Reva.


Reva menggeleng. Hatinya begitu menghangat mendengar panggilan yang sejak lama ia idamkan. “Nggak pa pa, Sayang,” balas Reva berbisik.


Robert pun tak kalah senang. Ia memeluk Jovin yang langsung protes karena dirinya sesak napas. Robert terlalu antusias sampai rengkuhannya terlalu kencang.


“Astagfirullah.. Grandpa, jangan kencang-kencang. Jovin sesek,” gerutu Jovin.


Robert terkekeh dengan tetesan air yang menjatuhi pipinya. Ia mengangguk, lalu mengecup puncak kepala Jovin.


Dari awal, Robert bisa merasakan ikatan tak kasat mata antara dirinya dan si kembar. Setelah pengakuan ini, tentu saja ia langsung percaya tanpa harus membawa bukti. Ini ikatan antar keluarga, antara cucu dan kakeknya.


Rayhan menatap Aqilla dengan sorot penuh arti. Lantas ia mendekat dan memeluk sosok wanita yang ternyata merupakan ibu dari anak-anaknya. “Terima kasih, hiks..”


Merasakan bahunya basah, Aqilla cuma bisa tersenyum maklum. Ia menepuk-nepuk punggung tuan muda, memberi ketenangan untuk lelaki itu. “Ingat, Tuan, Anda tidak mandul. Anda hanya sulit memiliki anak dan sulit bukan berarti mustahil,” bisik Aqilla menguatkan.


“Allah begitu sayang pada Anda. Dia menguji Anda selama bertahun-tahun agar Anda menjadi pribadi yang sabar dan kuat mental. Sekarang.. ujian Anda sudah selesai. Maka, Allah memberikan hadiah atas keberhasilan Anda. Jangan menganggap remeh diri sendiri, Tuan Muda,” tambah Aqilla yang sukses membuat Rayhan terenyuh.


Ini jawaban atas penderitaannya selama ini. Perasaan hangat ketika mendengar suara Jovin, degupan khawatir sewaktu mengetahui si kecil kecelakaan, lalu pertemuan yang sukses membuat jantungnya berdebar. Ini jawabannya.


Semua orang yang melihat ikut meneteskan air mata. Entah kenapa, pemandangan di depan begitu mengharukan. Pertemuan kakek, nenek, dan ayah dengan seorang anak setelah 7 tahun berpisah.


Jovan melonggarkan pelukan. Tangan kecilnya mengusap wajah Reva yang basah. “Jovan nggak suka perempuan kesayangan Jovan nangis,” tutur Jovan serius.


Jovin pun sama. Gadis kecil itu menoleh ke arah daddy-nya. Bibirnya mengerucut karena ternyata orang pertama yang mendapat pelukan bukan dirinya, melainkan mommy mereka sendiri. Hish.. rakus banget, sih, mommy.


Nando melangkah mundur hendak kabur. Sayangnya, anggota The Refyls telah mengepung pria itu lebih dulu. Tentu saja Alvin harus bertindak setelah mengusap air mata harunya. Pertemuan dan penjelasan Aqilla benar-benar menyentuh hati.


“Jangan kabur, Tuan Nando,” ucap Alvin menyadarkan kondisi.


Rayhan merangkul pinggang Aqilla dan menatap Nando tajam. Sekarang ia punya alasan untuk membalas. Sayangnya, lelaki itu sedang tidak ingin berdebat hingga mengeluarkan keringat dan mengacaukan suasana haru ini. “Putuskan semua kerja sama RH Group dengan perusahaannya, Alvin,” seru Rayhan tak main-main.


Nando melotot. Jika itu benar terjadi, perusahaannya bisa mengalami kerugian besar. “Tuan Muda, Anda sangat tidak profesional. Bagaimana bisa Anda mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan?” protes Nando berani.


Jovan berdecih sinis. “SoS signal!”


Untuk keduakalinya, alat-alat Jovan bermunculan dari jam tangannya. Aqilla yang paham segera mengangkat tangan. Tak lama, Ely datang membawa tablet ukuran sedang. Ia pun menyerahkannya pada Jovan.


Jemari kecil Jovan bergerak lincah di layar tablet. Alat-alat kecil yang semula mengeluarkan moncong pistol berubah menjadi pisau kecil yang seketika mengelilingi Nando.

__ADS_1


“Anak kecil yang barusan Kakek hina bukan anak biasa yang bisa Kakek remehkan,” sinis Jovan. “Sekali saja Jovan tekan, Kakek keluar dari sini hanya tinggal nama.”


Nando membeku melihat pisau-pisau kecil itu mengelilingi sekujur badannya. Salah bergerak sedikit saja, ia pasti akan terluka. Pisau itu memang kecil, tapi sanggup menyayat karena begitu lancip.


“He, Kakak, jangan dibunuh dulu. Adek mau main-main, boleh?” pinta Jovin seraya mengibaskan rambutnya ke belakang.


Jovan berdecak. Namun, tak urung menonaktifkan alatnya hingga berterbangan mundur. Beralih pada Jovin, gadis kecil itu menekan sebuah tombol di sepatunya. Kaki Nando lemas tak bertulang melihat Jovin bisa melangkah di udara, melawan arus gravitasi.


“Liat, ya, Kak. Adek punya gerakan baru.” Jovin berdiri dengan senyum manisnya. “Paman, minggir sedikit,” suruhnya pada anggota The Refyls yang berjaga di belakang Nando.


Jalan terbuka. Tanpa basa-basi lagi, Jovin mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk membalas kata-kata Nando yang telah menyakiti daddy-nya.


Bughh! Braaakk..


“Akh!”


Semua orang melotot. Gadis kecil yang terlihat anggun itu mendadak berubah menjadi iblis kecil dengan tampang imutnya. Baru saja Jovin menonjok wajah Nando hingga tubuh pria itu terlempar beberapa meter dan menghantam meja.


Bukan cuma para tamu yang melongo, Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie pun sama tak menyangkanya. Apalagi anggota The Refyls yang mematung ditambah Alvin yang membeku. Kekuatan Jovin sangat tidak bisa diremehkan.


“Yaahh.. pemanasan yang menyenangkan.” Jovin turun ke lantai, kemudian berlari ke arah daddy-nya. “Daddy..” panggil Jovin menariki celana lelaki itu. Tanpa ragu, Jovin merentangkan tangannya, kode ingin dipeluk.


Rayhan pun menghilangkan keterkejutannya dan memeluk Jovin yang seketika menghangatkan hatinya. “Putri Daddy..” lirih Rayhan.


“Jovin udah lama banget mau ketemu Daddy,” balas Jovin lirih.


Jovan yang melihat berdecak iri. Ia turun dengan cepat, meninggalkan tabletnya di atas meja yang sukses menarik perhatian Robert. Lelaki kecil itu berlari menghampiri daddy-nya dan menepuk kesal punggung Rayhan. “Anak Daddy ada dua! Kenapa yang dipeluk cuma satu?!!” protes Jovan.


Rayhan tergelak singkat. Lantas ia menarik Jovan masuk ke dalam pelukannya.


“Wah, jadi gini rasanya kalo dipeluk daddy,” celetuk Jovan dengan seringaian manisnya. Posisi mereka masih tetap berpelukan.


“Beda, ya, Kak, kalo dipeluk mommy,” timpal Jovin.


“Emang kenapa kalo Mommy yang peluk?” tanya Aqilla bingung.


“Kalo sama mommy rasanya empuk,” balas si kembar dengan tampang polosnya.


Aqilla melotot. Ia tahu persis apa maksud dari kata ‘empuk’ itu. “Astagfirullah... kalian perlu diruqyah!” seru Aqilla kesal.

__ADS_1


Dikata dadaku bantal apa sampe empuk segala??


^^^To be continue...^^^


__ADS_2