I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 55 | Hilang


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Jovan dan Jovin dibuat panik bukan kepalang mengetahui sang mommy hilang tanpa jejak. Aqilla bahkan tidak memberi kabar sama sekali. Anak buah Rayhan yang bertugas mengawasi Aqilla pun menghilang.


Ini sangat aneh bukan? Kenapa semuanya menghilang begitu saja?


Ely pun tidak bisa dihubungi. Padahal, banyak stasiun televisi yang menayangkan berita mengenai markas IAF yang diserang oleh pihak asing.


“Daddy.. mommy mana?” rengek Jovin dengan mata mengembun. Satu kedipan saja, air mata yang terkumpul di pelupuk mata Jovin akan berjatuhan.


Memirsa putri cantiknya menangis membuat hati Rayhan ngilu. Lelaki itu merengkuh Jovin erat, memberi ketenangan lewat tepukan dan usapan. Ia juga mengucapkan sedikit kata penenang kalau semua akan baik-baik saja agar putrinya tidak terlalu cemas.


Padahal, ya, Rayhan sendiri khawatir bukan main sejak kemarin.


Sementara Jovan, lelaki kecil itu sibuk mengotak-atik tabletnya. Ia berniat melacak keberadaan sang mommy melalui kalung yang menggantung di leher Aqilla. Dalam liontin utama, ada alat pelacak yang sengaja Aqilla tanam agar sewaktu-waktu jika ada masalah, dirinya bisa ditemukan.


Aqilla itu orangnya perhitungan. Apa saja keputusan yang dia ambil, pasti sudah dipertimbangkan dengan matang. Makanya, wanita itu dikenal sebagai pembuat strategi terhandal di IAF.


Hampir dua jam Jovan berkutat dengan tabletnya, tidak menghiraukan Robert dan Rayhan yang sibuk menelepon dengan tubuh mondar-mandir bagaikan setrikaan. Mereka tengah menyiapkan beberapa pasukan khusus untuk mencari ke Calgary secara langsung. Sedangkan Reva fokus menenangkan cucu perempuannya yang sesenggukan.


“Ketemu! Mommy ketemu!” seru Jovan heboh. Seulas senyum terbit di bibirnya, harapan Aqilla pulang semakin besar.


Buru-buru Robert, Reva, Rayhan, dan Jovin mendekat. Mereka melirik ke arah tablet Jovan yang menunjukkan sebuah peta dengan tanda merah yang berkelap-kelip.


“Ini lokasi mommy, Dad.” Jovan menyerahkan tabletnya pada Rayhan. Ia kurang mengerti dalam membaca peta begitu. Hanya penuh warna hijau, biru, kuning, dan hitam, tidak ada yang menarik.


Emangnya yang kamu harapin dari peta apa, sih, Van? Gambar pemandangan pantai gitu?😒


Rayhan memperbesar bentukan peta, mencari titik akurat dari keberadaan alat pelacak yang terpasang di kalung Aqilla. “Ini di.. pulau terpencil?” lirih Rayhan keheranan.


Bukannya Aqilla pergi ke Calgary untuk membantu markas IAF yang mendapat serangan? Lalu kenapa titik lokasi Aqilla berada di luar Kanada? Aqilla berada di pulau terpencil yang lokasinya lumayan jauh dari Calgary.


Ada apa ini? Apa jangan-jangan..

__ADS_1


Rayhan menghela napas kasar. Spekulasi buruk mulai bermunculan di otaknya. “Jovan, kirim lokasinya ke e-mail Daddy. Daddy akan langsung ke sana, cari mommy.”


Jovan mengangguk patuh. Ia segera melaksanakan perintah Rayhan agar proses pencarian bisa dilangsungkan secepatnya.


Jovin menyentuh lengan Rayhan dengan sorot penuh harap. “Jovin ikut, ya, Dad?”


Rayhan menggeleng tegas, tidak mengizinkan Jovin maupun Jovan ikut bersamanya. Keberadaan mereka bisa menjadi sumber kekuatan juga kelemahan nantinya. Rayhan tentu akan lebih bersemangat jika sang anak ikut bersama. Namun, ia takut kalau pihak musuh malah menjadikan si kembar target.


Itu akan lebih sulit lagi.


“Di mansion sama grandma dan grandpa aja, ya? Daddy janji, Daddy akan pulang sama mommy.”


Jovin melihat keyakinan besar di binar mata Rayhan. Alhasil, gadis kecil itu menurut. Yang penting, Aqilla segera pulang dalam keadaan baik-baik saja, itu yang diinginkannya. “Nanti hubungi Jovin, ya, Daddy.”


“Hati-hati, ya, Daddy,” pesan Jovan khawatir. Kala mommy-nya pergi, firasat Jovan sudah tidak nyaman. Dan, saat ini, lagi-lagi Jovan merasakan hal yang sama terhadap sang daddy.


Jovan takut, kedua orang tuanya kenapa-napa di luar sana.


Bertahun-tahun terpisah, Jovan sangat tidak ingin jika harus kehilangan. Ia masih mau merasakan bagaimana keluarga utuh begitu.


“Jovin akan selalu doain Daddy sama mommy biar cepat pulang dengan selamat,” ucap Jovin berjanji.


Rayhan tersenyum. Usai menitipkan si kembar kepada Robert dan Reva, Rayhan pergi bersama Alvin juga ratusan anak buahnya untuk berjaga-jaga. Feeling-nya, ini bukan masalah biasa.


Pasti terjadi sesuatu dengan Aqilla.


Aku datang, Qill. Aku pasti bawa kamu pulang dengan selamat..


...👑👑👑...


Di suatu tempat...


Aqilla mengumpat pelan mengingat apa yang terjadi. Markas pusat diserang, dirinya membantu mempertahankan markas. Sayangnya, entah bagaimana, satu jarum berisikan obat bius mengarah tepat ke tengkuk belakang Aqilla. Wanita itu pingsan setelah obat bius dosis tinggi itu bereaksi.

__ADS_1


Sial, aku lengah!


Aqilla menghela napas panjang. “Itu artinya, penyerangan markas disengaja karena mereka mencariku. Aku incaran mereka, bukan markas,” simpul Aqilla pelan.


“Gimana, ya, sama markas? Apa yang lain baik-baik aja?” gumam Aqilla yang khawatir dengan teman-teman IAF-nya. Mata wanita itu beredar, menatapi ruangan tempat ia disekap. Sedetik kemudian, Aqilla terbelalak. “Berapa lama aku di sini?! Anak-anak gimana?!”


Aqilla yang sudah resah, semakin dibuat gundah.


“Sialan! Jovan sama Jovin pasti khawatir.” Aqilla tak kalah cemas. Ia takut, si kembar akan melacak keberadaannya, kemudian nekat datang kemari. Itu akan sangat berbahaya. Walaupun sebenarnya Aqilla yakin kalau Rayhan pasti mencegah, namun ia tetap gelisah.


Aku harus kabur.


Aqilla menggeleng. Salah! Aku harus ngebuat orang yang ngelakuin ini jera!


Aqilla memperhatikan tubuhnya yang diikat kencang menggunakan tali tambang. Sisi baiknya, kedua tangan Aqilla terikat ke depan. Ini bukan hal yang sulit baginya melepaskan diri.


Bermodalkan gigi, Aqilla berusaha merenggangkan simpul yang dibuat. Ia menarik-narik tali itu tanpa lelah. Memang lumayan lama, tapi membuahkan hasil. Berhasil lepas, Aqilla mencari jalan keluar. Tidak ada jendela, hanya pintu dan ventilasi kaca di atas ruangan yang ukurannya terlampau kecil untuk tubuh Aqilla.


Satu-satunya jalan adalah pintu tersebut.


Tanpa basa-basi, Aqilla berancang-ancang. Yakin, deh, di depan sana ada banyak orang yang berjaga. Dan, itu artinya, Aqilla harus siap melawan orang-orang itu sendirian, tidak peduli jumlahnya.


Cih, kalian ngremehin Qaill, kan? Jadi, jangan salahin aku kalo kalian liat kekuatan Qaill yang sebenarnya.


Aqilla berlari kencang dan melompat!


BRAAKK!!


Pintu kayu itu terbelah karena tendangan kaki. Aqilla keluar dengan cetakan senyum puas. Para pria yang berjaga di depan sampai syok melihat pintu hancur dan tahanan berhasil keluar.


Aqilla menepuk celananya, menghilangkan debu yang menempel. “Kalian mencari masalah dengan orang yang salah,” katanya mengintimidasi. Satu per satu dari mereka ditatapi.


“Qaill bukan orang yang cocok dijadikan musuh, Bodoh!”

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2