I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 45 | Pulang ke Mansion (2)


__ADS_3

“Ibu ayam dikejar musang~”


“Anak ayam cari induknya~”


“Ibu ayam berlari, terus lari, dan ditangkap musang~”


“Anak ayam mencari, terus cari, ibunya yang hilang~”


Jovin bernyanyi riang sepanjang perjalanan pulang. Berbagai macam lagu anak-anak disuarakan. Robert yang memangku Jovin sampai gemas sendiri mendengar suara merdu cucunya. Sementara Jovan yang memejamkan mata merasa terganggu dengan suara emas adiknya.


“Stop, Dek!” seru Jovan kesal. “Kakak mau tidur!”


Jovin memutar bola matanya jengah. “Kenapa, sih, Kakak suka banget tidur?”


“Ya biarin, lah. Anak-anak, kan, butuh istirahat yang cukup biar bisa tumbuh baik,” alibi Jovan yang kembali menyandarkan tubuhnya pada Reva yang dengan setia mengusap-usap kepalanya. Hawa-hawanya jadi makin ngantuk.


Jovin berdecak. Ia menggoyang-goyangkan tubuh sang kakak hingga lelaki kecil itu berteriak kesal. “Adek, udaaaaahhh... Kakak mau bobo’. Kakak capek habis dari pesta!”


“Hilih, emang Kakak di sana ngapain? Cuma duduk sama makan, kan?” cibir Jovin mencebikkan bibirnya.


“Duduk sama makan itu juga perlu tenaga, ya,” bela Jovan. Ia kembali meringsek ke pelukan Reva, kemudian memejamkan matanya seraya mencari posisi ternyaman.


“Ish! Masih kecil, kok, hobinya tidur,” gerutu Jovin. “Tapi....” Jovin berpikir sejenak. “Jovin capek juga, sih. Ikut tidur, ah.”


Tawa Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie hampir saja pecah jika tidak mengingat kalau si kembar sudah melayang ke dunia alam bawah sadar. Apalagi mendengar dengkuran Jovin yang sedikit lebih keras dari Jovan membuat keempatnya benar-benar tidak sanggup menahan tawa. Berlagak tidak ingin tidur, eh malah tidur sendiri.


“Hish.. keponakanku bikin gemes aja bisanya,” ucap Jessie menoleh ke belakang. Posisi duduknya memang ada di depan bersama Rayhan yang fokus mengemudi.


Robert tersenyum saja, namun hatinya membenarkan perkataan putrinya. Kedua cucunya tumbuh dengan baik dan menjadi pribadi yang genius juga menggemaskan. Tingkah keduanya memang kadang di luar nalar, tetapi selalu sukses mengundang perhatian.


“Mami masih ngerasa ini mimpi,” celetuk Reva tiba-tiba. Ia tersenyum tipis seraya memandangi Jovan yang kini tidur di pangkuannya. Lelaki kecil itu tampak nyaman sekali ketika diusap kepalanya. “Mami punya cucu, dua pula.”


Mau tak mau, pihak yang mendengar ikut mengulas senyum. Mengingat apa saja yang sudah mereka lalui, kejadian hari ini sangat sulit dipercaya. Jovan dan Jovin merupakan bagian dari mereka, keturunan Rayhan yang mereka inginkan sejak lama.


“Mami,” panggil Jessie.

__ADS_1


“Hm?”


“Mami nggak marah sama Kak Qilla karena baru ngasih tau sekarang?” tanya Jessie penasaran. Pasalnya, ia tahu betul seberapa inginnya maminya itu memiliki menantu dan cucu. Namun, tidak pernah terwujudkan.


Lalu, sekarang Aqilla datang dan memberitahu bahwa si kembar adalah anaknya bersama Rayhan setelah 7 tahun terlewati. Pikir Jessie, Reva akan marah pada Aqilla yang telah tega memisahkan mereka. Sayangnya, reaksi Reva berbeda jauh dengan asumsi Jessie.


“Jujur, Mami ngerasa sedikit marah sama Aqilla,” ucap Reva menjawab pertanyaan putrinya. “Tapi, denger alasan Aqilla yang milih untuk misahin si kembar sama kita ngebuat Mami nggak bisa marah.”


“Awal kehamilan, kandungan Aqilla lemah. Mami malah marah kalo dia maksa buat ke sini dulu. Terus masalah si kembar yang nggak diijinin naik pesawat karena belum cukup umur itu di luar kekuasaan Aqilla. Lalu.. ketakutan Aqilla.. itu nggak salah, Jess,” tambah Reva


“Dia benar. Keluarga kita selalu diikuti bahaya. Ke mana-mana kita harus bawa pengawal. Setiap hari kita selalu waspada. Aqilla tentu nggak mau anak-anaknya ngerasain masa kecil yang tertekan. Makanya, dia mutusin untuk nggak ngasih tau kita,” sambung Reva.


“Apalagi.. dulu kondisi keluarga kita bener-bener kacau, kan? Ada banyak teror di kehidupan kita. Seandainya Aqilla dateng terus musuh kita tau kalo si kembar bagian dari kita, pasti mereka langsung nargetin si kembar. Hidup si kembar pasti nggak akan damai.” Reva menatap kedua cucunya yang terlelap dengan sendu. “Ngelihat si kembar tumbuh dengan baik dan selalu tertawa begini, Mami ngerasa bersyukur. Aqilla berhasil didik mereka dan jaga mereka sampai sebesar ini. Mami juga yakin, Aqilla pasti udah persiapin si kembar untuk hadapi bahaya di keluarga kita. Makanya, Jovan sama Jovin jadi segenius sekarang.”


Penjelasan Reva membuat Robert, Rayhan, dan Jessie tertegun. Sejujurnya, ketiga insan itu menyimpan sedikit rasa kesal di hati mengetahui perbuatan Aqilla yang telah memisahkan mereka selama 7 tahun. Namun, mendengar tuturan Reva membuat hati ketiganya tergugah.


Reva benar. Ketakutan Aqilla ada karena memiliki alasan. Wanita itu tidak ingin masa kecil anaknya menjadi kelam karena dikelilingi kewaspadaan. Sayangnya, dengan bodohnya, Rayhan sempat menyalahkan Aqilla dalam hati. Sekarang ia mengerti dan berusaha mengikhlaskan.


Toh, mereka juga mendengar kalau Aqilla hidup dalam kubangan rasa bersalah selama 7 tahun ini. Itu pasti sangat menyiksa batinnya.


...👑👑👑...


Mobil berhenti di pekarangan mansion. Robert turun dengan Jovin di gendongan. Sementara Jovan ada di gendongan Rayhan. Reva mengeluh tidak kuat karena bobot Jovan juga lumayan untuk tubuhnya yang mulai menua.


“Eungh..” Jovin melenguh. Gadis kecil itu perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan lokasi sekitar yang asing di otaknya. “Lho!! Jovin di mana?!” pekik Jovin panik.


Bayangan dirinya diculik udah bermunculan.


Suara Jovin yang keras mengganggu tidur Jovan. Lelaki kecil itu ikut terbangun. Sama seperti sang adik, Jovan kaget melihat dirinya berada di tempat asing dan berada di gendongan lelaki.


“Adek, kita diculik, ya?” seru Jovan panik.


“Ya ampun, kasian banget yang nyulik kita, Kak.”


“Iya, kasian.”

__ADS_1


“Pasti mereka repot urusin kita yang makannya banyak,” cetus Jovin dengan polosnya. Udah gitu Jovan turut mengangguk setuju pula.


Tawa Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie langsung pecah. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa tingkah si kembar selepas bangun tidur jauh lebih lucu dibandingkan biasanya. Jovan dan Jovin langsung menoleh. Keduanya cengengesan kala sadar bahwa saat ini tengah bersama dengan daddy, grandma, dan grandpa-nya. Jangan lupa aunty juga.


“Aduuuhh.. udah, udah, kalian itu bisanya bikin Grandma sakit perut aja,” papar Reva usai meredakan tawanya.


Si kembar membelalak. “Grandma! Kami manusia, bukan zat aditif yang bikin keracunan terus sakit perut! Kami nggak terima, ya,” protes si kembar kompak. Kalimat panjang begitu bisa bersamaan, lho. Kayaknya mereka bisa telepati, deh.


Lagi-lagi tawa mereka menggema. Peningkatan kegemasan si kembar terlalu drastis. Bahaya untuk ulu hati mereka.


Jovin kesal melihat daddy, grandma, grandpa, dan aunty-nya tertawa. Namun, kekesalan gadis kecil itu mendadak hilang ketika melihat bangunan megah di hadapan. “Waahhh... besar banget,” kagum Jovin.


Jovan menganga melihat betapa megahnya mansion Refalino. “Wow, keren. Apa ini rumah Daddy?”


Rayhan mengangguk. “Iya, ini rumah Daddy yang artinya rumah kalian juga.”


Senyum Jovan dan Jovin mengembang. Keduanya bertepuk tangan heboh, lanjut meminta turun dari gendongan. Tanpa menanti yang lain, si kembar berlarian masuk ke dalam dengan tawa khasnya.


“Selamat datang di mansion, Tuan Kecil, Nona Kecil,” seru seluruh pelayan mansion berjejer untuk menyambut kedatangan pewaris keluarga Refalino.


Si kembar membeku di posisi. Berbeda dengan Jovan yang canggung, Jovin malah berkaca-kaca.


“Huaaaa...” Jovin meraung kencang. Jovan sampai bingung dengan perubahan adiknya yang bisa dihitung dengan jari.


Rayhan panik melihat putrinya menangis. Pipi si kecil udah basah karena air mata. Buru-buru ia menghampiri Jovin dan memeluknya erat. “Jovin kenapa, hm?” tanyanya lembut.


“Mereka jahat, Daddy!” Jovin menunjuk para pelayan yang seketika gelagapan.


“Mereka kenapa, hm?”


“Masa iya Jovin dipanggil ‘nona kecil’, sih? Jovin nggak suka disebut kecil! Kesannya Jovin jadi kayak anak kecil beneran!” protes Jovin mengeluarkan unek-uneknya.


“Hadehh...” Jovan menepuk jidatnya, frustrasi dengan sikap adiknya. Robert dan Reva cuma bisa cekikikan.


Dasar anak kecil yang nggak sadar diri!—gerutu Jovan dalam hati.

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2