
Sebelum kedatangan Aqilla...
“Duh, Mbak, tolongin saya bawa ini ke depan dong,” pinta Ely yang kesulitan membawa nampan. Salah satu pelayan yang kebetulan lewat pun membantu Ely. “Makasih, ya, Mbak.”
“Sama-sama, Nona.”
Di acara kejutan ulang tahun Aqilla kali ini, Ely bertugas mengkoordinir kegiatan dari balik layar. Ia bahkan membantu memasak hidangan favorit sahabatnya, menata makanan, juga memasang dekorasi. Pokoknya, Ely memiliki banyak tanggung jawab di acara ini.
Ini atas inisiatif Ely sendiri, kok, tidak ada pemaksaan. Gadis itu yang menawarkan diri untuk membantu.
“Nona, apa sudah selesai?” tanya Alvin yang baru saja tiba di dapur mansion.
Ely berbalik. “Udah, Al. Tinggal dibawa ke depan aja. Apa Aqilla udah dateng?”
“Sudah, Nona,” jawab Alvin.
Ely berdecak. “Udah aku bilang berapa kali, sih, Al, nggak usah formal-formal amat sama aku. Santai aja, oke?” ucap Ely mengulang inti kalimat yang sama.
Bukannya ingin menolak, namun Alvin merasa bahwa permintaan Ely akan membuatnya tidak nyaman. Alvin sudah terbiasa formal dan santun kepada siapa pun sejak lama. Jadi, jika diberi permohonan semacam ini memang agak sulit direalisasikan.
“Saya usahakan pelan-pelan, Nona,” balas Alvin.
“Panggil Ely saja, Al!” tekan Ely.
“Iya, Ely.”
Ely tersenyum manis, senang karena permintaannya dituruti. Alvin yang melihat senyum itu mendadak salah tingkah. Lelaki itu tampak mengulum bibir, menahan lengkungan yang ingin terbit. Pandangan kedua insan itu bersirobok selama beberapa detik.
Ddoorr!
Alvin dan Ely terjingkat. Keduanya bergegas keluar mansion. Namun, tiba di ambang pintu, tubuh Ely membeku. Tentu saja Alvin turut berhenti melangkah.
“El, kenapa?” tanya Alvin bingung karena sahabat nyonya mudanya terdiam.
“Itu... Kenzie...” lirih Ely tak percaya seraya menunjuk seseorang. “Al, jangan kasih tau Kenzie kalo aku di sini, ya,” pinta Ely panik dengan sedikit memaksa.
“Tapi, kenapa, El—”
“Aku mohon,” ucap Ely memelas.
Karena terlampau khawatir dengan kondisi majikannya, Alvin mengiyakan dengan cepat. Lantas dirinya menghampiri keluarga Refalino yang kelihatan bingung dengan suasana.
“Tuan, apa yang terjadi? Kenapa saya mendengar suara pistol?” tanya Alvin cemas.
Robert menggeleng. “Kami tidak tahu, Al.”
__ADS_1
Robert, Reva, Jessie, Alvin, Jovan, dan Jovin menatap sosok di depannya dengan bingung. Ada pribadi berpakaian serba hitam dengan topeng yang menutupi seluruh wajahnya. Dia nampak gagah di antara barisan pasukan lainnya.
“Itu siapa, Daddy?” tanya Jovin berbisik. Rayhan menggeleng pelan, pertanda bahwa dirinya pun tak tahu.
“Lama, ya, nggak ketemu, Lala,” kata sosok yang disebut Kenzie itu.
Kedua tangan Aqilla mengepal di samping tubuh. Tanpa menunggu lagi, wanita itu bangkit dan berdiri di depan seluruh keluarga Refalino. Kejadian ini sudah berada di dalam prediksi. Namun, tetap, hati Aqilla benar-benar risau membayangkan dampak yang akan terjadi.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Aqilla menahan diri.
Kenzie tersenyum dibalik topengnya. “Lala, kamu nggak sopan sekali, sih. Aku ini—”
“Kalau ingin bicara, ayo bicara berdua. Jangan libatkan mereka,” potong Aqilla mulai merasa terintimidasi.
Kenzie menghela napas kasar. Tangannya tergerak ke atas, lanjut melepas paksa topeng yang dirinya kenakan.
Praak!
Topeng itu dilempar asal. Paras asli Kenzie pun terekspos ke setiap pasang netra.
Melihat wajah sosok lelaki di depan sana, semua orang yang hadir terperangah. Beberapa sampai syok hingga menutup mulut yang menganga. Ini sangat di luar ekspektasi. Pikir mereka, lelaki itu adalah musuh Aqilla atau semacamnya. Namun, kenapa paras lelaki itu...
MIRIP DENGAN AQILLA?!!
“Halo, Twins, apa kalian mengenalku?” tanya Kenzie ramah.
Jovan dan Jovin memasang sikap kuda-kuda walaupun masih dilanda kebingungan. Kenapa uncle ini mirip sama mommy?
“Aku Bryan Kenzie Jonesa, kakak sekaligus saudara kembar Alzena Aqilla Jonesa.”
Jduaaarr!
Aqilla sontak memejamkan mata. Terbongkar sudah! Semua rahasia yang disimpan baik-baik selama bertahun-tahun telah diumumkan dengan lantang.
Yang paling terkejut di sini adalah si kembar. Keduanya tidak menyangka jika mommy mereka memiliki saudara kembar pula. Pasalnya, selama ini, Aqilla sama sekali tidak pernah menceritakan sosok Kenzie.
“Benar, kan, Lala?” tanya Kenzie sengaja ingin memancing kalimat pamungkas dari bibir adiknya.
Aqilla menghembuskan napas panjang. “Iya, Kak, benar.”
Makin syok saja mereka. Tidak ada yang tahu mengenai pribadi kakak Aqilla karena memang Aqilla tidak pernah menyinggung apa pun mengenai saudaranya itu. Lalu, kenapa situasinya mencekam begini jika keduanya memiliki hubungan darah?
“Uncle, ya?” panggil Jovin dengan polosnya. Ia hendak melangkah maju, namun tiba-tiba Aqilla merentangkan sebelah tangannya, menghalangi jalan Jovin.
“Tetap di situ, Girl,” kata Aqilla tegas.
__ADS_1
“Tapi, Mom—”
“Tetap di situ, Jovinka! Tetap di samping daddy-mu!” sentak Aqilla lebih tegas.
Tubuh Jovin bergetar. Ia buru-buru berbalik dan memeluk kaki Rayhan erat. Raut mommy-nya berubah, itu artinya Aqilla sedang emosi sekarang. Mommy-nya kehilangan kendali!
Rayhan dengan sigap merengkuh tubuh putrinya yang masih bergetar. Sementara Jovan didekap oleh Robert. Walaupun tahu sosok di depan mereka adalah saudara kembar Aqilla, namun mereka bisa membaca situasi kalau hubungan antara kedua bersaudara itu kurang baik.
“Ayo kita bicara baik-baik, Kak,” kata Aqilla yang tidak ingin ada keributan.
Binar di mata Kenzie mendadak kelam. Kini giliran lelaki itu yang mengepalkan tangan. “Bicara baik-baik kamu bilang? SETELAH YANG KAMU LAKUIN, KAMU MAU BICARA BAIK-BAIK, LA?!!” teriak Kenzie yang kehabisan sabar.
Aqilla memejamkan mata, menahan dirinya agar tidak goyah. Ini keputusanku. Aku bisa demi anak-anakku.
“Kak! Cukup! Aku lakuin semua ini demi anak-anakku, demi Jovan dan Jovin! Mereka butuh sosok ayah, Kak!” balas Aqilla tak mau kalah.
“Kamu mengingkari janjimu, Lala,” desis Kenzie tidak suka.
“Ini demi—”
“Sekali lagi kamu bilang demi anak-anak, Kakak hancurin semua yang ada di sini, Dek!” seru Kenzie dengan wajah memerah. “Kalau cuma mempertemukan, mungkin Kakak bisa kasih toleransi! Tapi, yang kamu lakuin lebih dari itu!”
Deg!
Aqilla melangkah mundur tanpa sadar.
“Kamu melakukannya demi bajingan itu, kan? IYA, KAN, AQILLA?!!” sentak Kenzie dengan suara baik beberapa oktaf. “BUKAN CUMA OTAK KAMU YANG BERENCANA, TAPI HATI KAMU IKUT TERJUN!! IYA, KAN, DEK?!!”
Aqilla menggeram. “IYA, KAK! AKU MENCINTAINYA! KARENA AKU MENYUKAINYA! APA KAKAK PUAS SEKARANG?!!”
Seketika sorot mata Rayhan teralih pada Aqilla. Apa barusan yang Aqilla maksud adalah dirinya? Jika iya, hati Rayhan benar-benar berbunga-bunga sekarang.
“Kamu membuat kesalahan besar, Adikku,” desis Kenzie dengan sorot menggelap.
^^^To be continue...^^^
...👑👑👑...
Yap! Terjawab sudah kalau Kenzie adalah SAUDARA KEMBAR Aqilla! Mereka punya hubungan darah, ya.
Lalu, kenapa Kenzie marah banget? Ada cerita apa, sih, di antara mereka? Tetep setia tunggu kelanjutan novel ini, ya. Ay selalu usaha update minimal sehari sekali. Soalnya, jadwal Ay padat, guys.
Biasa, anak sekolahan, wkwkwk...
See you di chapter selanjutnya:)
__ADS_1