
Sekalipun manusia berharap dengan memanjatkan doa ribuan kali, waktu tidak akan pernah berhenti. Detik-detik itu akan terus berjalan meskipun masalah menerpa tiap insan hingga membuat mereka mengeluh.
Sama seperti itu pula, masalah antara Kenzie dan Aqilla masih memanas. Keduanya saling mendiamkan, tidak mau memulai topik percakapan lebih dulu. Intinya, sih, kakak-beradik itu merasa canggung, kikuk, dan sesal tiada henti.
Pikiran Aqilla kalut. Ini sudah seminggu semenjak kedatangan Rayhan ke mansion Jonesa. Namun, tidak ada tanda-tanda kalau Kenzie akan merestui dengan sepenuh hati. Yang ada, lelaki itu malah menjauh dan hubungan persaudaraan mereka merenggang.
“Mau minta maaf, tapi gengsi, ih,” gumam Aqilla yang kesal dengan dirinya sendiri.
Ya, begitulah sifat keduanya. Sama-sama mempunyai rasa gengsi yang besar. Dijamin, deh, kalau tidak ada yang memancing, saudara kembar yang satu ini akan tetap berselisih paham.
Malam ini, langit terlihat lebih terang dari biasanya. Tidak ada awan mendung yang menutupi. Hanya bulan dan bintang yang berkelap-kelip di bentangan permadani biru gelap itu. Dan, Aqilla adalah salah satu persona yang menikmati keindahan itu malam ini.
Wanita yang tengah dilanda kerinduan terhadap kedua anaknya itu duduk di tepi kolam renang sendirian. Sepasang kaki jenjangnya dicelupkan ke dalam air, tidak menghiraukan rasa dingin yang perlahan menusuk. Aqilla sudah terbiasa dengan hawa dingin, kok.
Aqilla sadar, ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Menurut instingnya, orang itu adalah Kenzie, kakaknya. Namun, Aqilla memilih berpura-pura tak tahu, membiarkan Kenzie melakukan apa pun yang diinginkan.
Hening mendera hingga beberapa menit ke depan. Kebisuan itu pecah kala suara derap langkah kaki yang mendekat terdengar di rungu Aqilla. Wanita itu tetap rileks di posisi.
“Kakak tau, kamu tau kalo Kakak berdiri di situ,” ucap Kenzie setibanya di samping Aqilla.
Aqilla menengadah, ia tersenyum kepada Kenzie. “Lala aja bisa denger suara detak jantung Kakak.”
Kenzie menarik sebelah sudut bibirnya. Lelaki itu tahu kalau pendengaran Aqilla benar-benar tajam. Ia turut bergabung duduk di sebelah adiknya, tatapannya menerawang ke langit-langit malam. “Gimana kabar anak-anak kamu?”
“Baik, Kak. Yaahh.. kadang ngeluh kangen aja,” jawab Aqilla diakhiri kekehannya. Mau tak mau, Kenzie ikut tertawa pelan. Bisa dibayangkan seberapa lucunya wajah kedua anak itu ketika tengah mengeluh rindu. Terutama Jovan yang Kenzie tahu adalah sosok anak kecil yang ingin sekali terlihat keren.
Hening kembali. Keduanya sama-sama bingung untuk mengutarakan isi hati masing-masing. Entah Kenzie ataupun Aqilla, mereka berdua memiliki sifat sulit mengungkapkan perasaan.
“Maaf, La.”
Aqilla menoleh cepat. Ia terkejut mendengar kalimat itu keluar dari bibir sang kakak. Sangat tidak disangka. Apa mata hati Kenzie sudah terbuka sejak pertengkaran hari itu? Apa itu artinya... akan ada kabar baik?
__ADS_1
“Kenapa, Kak?” tanya Aqilla dengan raut serius.
Kenzie menghembuskan napas berat. Sorot maniknya masih terpaku pada langit malam. Ia tidak berniat bersitatap dengan adiknya. “Kakak tau, Kakak salah. Makanya, Kakak minta maaf.”
Aqilla tertawa sinis. “Ho.. baru sadar kalo salahnya banyak?” ledeknya.
Kata-kata bernada sindiran itu sukses memecahkan gelak tawa Kenzie. Lelaki itu menatap paras adiknya yang tersenyum manis—seperti dahulu-dahulu, selalu menenangkan hati Kenzie. Senyum itu yang selalu Kenzie perjuangkan agar tetap mengembang di bibir Aqilla, adik kesayangannya.
“Maafin Lala juga, Kak. Sorry, Lala belum bisa mahamin perasaan Kakak,” ucap Aqilla tulus.
Kenzie merangkul bahu Aqilla, menepuk lengan wanita itu dua kali. Sementara sebelah tangannya yang lain menyodorkan jari kelingking, meminta perdamaian dengan teknik yang sama seperti masa kecil keduanya. “Baikan?”
Aqilla menautkan jari kelingkingnya. “Baikan!”
...👑👑👑...
Hari berganti dengan cepat. Besok adalah ulang tahun si kembar.
Alasannya jelas. Tidak ada mommy si kembar, Aqilla.
“Kok murung gini, sih, Sayang? Senyum dong.” Reva menarik kedua sudut bibir Jovin agar cucunya mau melengkungkan bibir. Tapi, nihil. Bocah yang sebentar lagi akan berusia 7 tahun itu tetap menekuk wajahnya.
“Mommy kapan pulang, Grandma? Jovin kangen,” rengek Jovin.
Itu merupakan pertanyaan yang sangat sering Jovin maupun Jovan tanyakan. Namun, yang bisa keluarga Refalino berikan hanyalah pelukan dan kata penenang. Senyatanya pun mereka sama sekali tidak tahu kapan pastinya Aqilla akan kembali dari mansion Jonesa, tempat tinggal Kenzie.
Rayhan yang saat ini sedang bersandar di sofa sambil memangku Jovan nampak melirik ke arah putrinya. Ia paham, Jovin merindukan Aqilla. Dari awal, kan, mereka jarang berpisah seperti ini. Jika memang ada pekerjaan yang mengharuskan Aqilla pergi, komunikasi ketiganya tetap terjalin.
Tapi, kalau sekarang, mereka lost contact. Tidak ada kabar sama sekali dari seberang sana. Padahal, si kembar sangat mengharapkan itu terjadi.
“Daddy janji, besok sebelum acara dimulai, mommy kalian udah ada di sini,” ucap Rayhan yakin.
__ADS_1
Manik Jovin dan Jovan seketika berbinar. “Beneran, Dad?” pekik keduanya girang.
Rayhan mengangguk mantap. “Iya, Twins.”
Jovan dan Jovin bersorak senang. Jovin sampai loncat-loncat di atas sofa karena terlalu bahagia. Sedangkan Jovan menaik-turunkan tangannya ke atas-bawah.
Reva memandang putranya ragu. Bagaimana bisa Rayhan menjanjikan sesuatu yang tidak pasti? Bagaimana jika harapan yang diinginkan tidak sesuai realita? Pasti kedua cucunya akan kecewa.
“Kakak!” pekik Jovin tiba-tiba. Kedua tangannya berkacak pinggang.
Jovan terjingkat singkat. Ia menatap adiknya keheranan, suasana hati Jovin terlampau cepat berubah. “Kenapa, Dek?” tanya Jovan bingung.
“Kenapa Kakak duduk di pangkuan Daddy, sih?” geram Jovin yang tidak terima daddy-nya dibagi-bagi.
Jovan menatap posisi duduknya, lanjut memandang Rayhan yang tersenyum padanya. “Emang salah? Kan, Kakak anak daddy juga. Lagian nggak setiap hari juga, kok. Malu, lah, Kakak kalo begini terus. Mumpung nggak ada mommy, hehe.”
Jovin mendesis. “Ish! Nggak boleh!” Jovin turun dari sofa menghampiri Rayhan dan Jovan. “Minggir nggak?” Jovin menarik-narik pakaian Jovan dari belakang.
Demi menyelamatkan posisinya, Jovan memeluk lengan Rayhan. Ia sudah nyaman dengan kondisinya, jadi masih belum mau jika disuruh pindah. “Apaan, sih, Dek? Kakak mau di sini!”
Jovin tidak mau kalah. Ia duduk di paha Rayhan dan memeluk lengan daddy-nya yang lain. “Daddy punya Jovin!” pekiknya tidak mau diganggu gugat.
“Heh! Daddy juga punya Kakak! Enak aja diklaim sendiri!” ketus Jovan.
Keduanya yang memperebutkan Rayhan malah membuat seisi mansion tertawa melihat tingkah menggemaskan mereka. Apalagi Rayhan yang merasakan dadanya begitu hangat.
Seandainya Aqilla nggak ada, mungkin... sampai sekarang aku nggak akan punya anak.
Rayhan memeluk tubuh kedua anaknya. Lanjut mengecup kepala mereka bergantian. Daddy sayang kalian...
^^^To be continue...^^^
__ADS_1