
Dua minggu terlewati dengan tenang, aman, dan damai di mansion Refalino. Hari-hari para penghuninya dipenuhi dengan celotehan menggemaskan dari si kembar lengkap dengan tawanya pula. Pokoknya, suasana yang dirasa begitu hangat.
Dan, ketenangan itu akan berakhir hari ini. Pagi-pagi sekali di akhir pekan, Chelsea datang bertamu bersama putrinya ke mansion. Entah apa tujuan wanita itu hadir, Reva terpaksa menerima kedatangan Chelsea karena putri Chelsea, Angel, berteman baik dengan Jovin.
“Untuk apa kamu ke sini?” tanya Reva dengan nada tak suka.
Chelsea tersenyum kecil. “Tante, Chelsea ingin bertemu Rayhan. Apa dia ada?”
Sorot mata Reva bertambah dingin. Ia benar-benar membenci wanita di hadapannya ini. Chelsea adalah satu-satunya wanita yang menolak ketulusan cinta putranya dengan cara yang memuakkan. Memaafkan kesalahan Chelsea adalah hal yang mustahil bagi Reva maupun Robert.
“Dia sibuk,” ketus Reva.
Chelsea menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “Chelsea mohon, Tante,” pintanya memelas.
Tidak lama, suara tawa menggelegar di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga itu. Itu suara Rayhan, semua orang tahu. Lelaki itu tengah terbahak bersama sang putra, Jovan. Entah apa yang dibicarakan, tetapi sepertinya menyenangkan.
Tawa Rayhan terhenti kala netranya menangkap kehadiran sosok dari masa lalunya. Jovan yang berada di gendongan lelaki itu pun terlihat tidak menyukai situasi di ruang tamu.
Chelsea segera bangkit dari duduknya, ia tersenyum kepada Rayhan. “Ray, aku—”
“Aunty sedang apa di sini?” tanya Jovan dingin. “Kalau tidak penting, jangan ganggu daddy-ku.”
Chelsea terdiam mendengar perkataan putra Rayhan. Ia melirik ke arah mantan kekasihnya itu, berusaha mencari celah. Namun, yang dilihatnya, Rayhan nampak tersenyum bangga dengan kalimat Jovan. “Aunty cuma mau ngobrol sama daddy kamu, Nak.”
“Hanya mengobrol?” ulang Jovan mengintimidasi.
“Iya, hanya mengobrol.” Chelsea tersenyum meyakinkan.
Jovan manggut-manggut. “Daddy, ada yang cari Daddy tuh.”
Rayhan menghela napas berat. Pikirnya, sang putra akan membantunya mengusir Chelsea dari mansion. Namun, yang terjadi malah kebalikannya.
“Tapi, seingat Jovan, hari ini mommy pulang, lho,” tambah Jovan tak terduga. “Gimana, ya, reaksi mommy kalo liat mantan kekasih Daddy ada di sini? Langsung ditembak mati kali, ya, kan, mommy polisi.”
Chelsea membelalakkan mata. Ia tahu betul jika mommy si kembar merupakan anggota IAF yang paling berpengaruh di dunia, Nona Qaill namanya. Jika wanita itu akan kembali sebentar lagi, bisa gawat dirinya. Ada kemungkinan nyawanya tidak akan bertahan lebih dari 24 jam.
“Em.. Ray, mungkin kita ngobrolnya lain kali aja. Aku pamit dulu, Ray, Tante.” Chelsea buru-buru menghampiri Angel yang tampak bermain dengan Jovin. Lanjut bergegas pergi dari bangunan mewah tersebut dengan tergesa-gesa.
Selepas kepergian Chelsea, Jovan terbahak. “Hahaha.. dia percaya, Dad. Dia takut sama mommy,” ucap Jovan meledek Chelsea yang bergegas pergi seolah akan ditangkap sebagai tersangka.
Mau tak mau, Rayhan dan Reva turut tertawa. Tubuh Jovan memang kecil, ia masih berumur 6 tahun. Tetapi, jangan remehkan otak lelaki kecil itu. Jovan sanggup mengalahkan kepintaran orang dewasa jika ia mau.
“Hm.. Jovan jadi kangen mommy,” gumam Jovan mendadak merindukan Aqilla.
Dua minggu ini, Aqilla pergi melaksanakan misi. Wanita itu memang sering mengirim pesan di sela kesibukannya. Bahkan, Aqilla sering mengajak sang anak video call. Namun, itu tidak menyurutkan kerinduan yang si kembar rasakan kepada Aqilla.
__ADS_1
Dua minggu ini, tidak ada ejekan, pelukan, masakan, usapan, dan lagu tidur khas milik mommy mereka. Biasanya, kalau ada waktu luang, ketiganya akan bernyanyi bersama, menari, atau bahkan jalan-jalan di luar.
Rayhan tersenyum maklum. “Mau telepon mommy?” tawarnya.
Senyum Jovan merekah. “Boleh, Dad!” Ia beralih ke arah sang adik. “Dek, ayo telpon mommy!” serunya antusias.
Jovin seketika berlari terbirit-birit. Gadis kecil itu sama tidak sabarnya dengan sang kakak. “Ayo, ayo, Adek mau telepon mommy!”
Rayhan menurunkan Jovan, lalu menuntun mereka ke sofa. Ia pun menghubungi Aqilla melalui ponselnya. Dering ketiga, wanita itu mengangkat.
“Assalamualaikum, Mommy!” seru si kembar semangat sembari melambaikan tangan di depan kamera. Yap, mereka tengah video call sekarang.
Aqilla balas melambai. “Wa‘alaikumsalam, Twins.”
“Mommy di mana?” tanya Jovin penasaran.
“Di Berlin, Jerman, Girl,” jawab Aqilla sembari merapikan rambutnya yang berantakan.
“Ih, Jovin mau ikut ke situ. Mau main...” rengek Jovin yang iri dengan lokasi sang mommy. Pemandangan di kota itu sangat mengagumkan sewaktu ia menjelajah di internet.
Aqilla terkekeh. “Kapan-kapan kita liburan ke sini, Girl. Satu keluarga.”
“Satu keluarga? Siapa aja, nih?” goda Jovan dengan alis naik-turun.
Rayhan yang mendengar tersenyum dengan pipi bersemu. Ah, hatinya berdebar mendengar kalimat Aqilla. Secara tidak langsung, wanita itu sudah mengakui keberadaannya sebagai bagian dari keluarga kecil mereka.
Si kembar dan Reva yang melihat Rayhan malu-malu terkikik pelan. Namun, yang menjadi objek tawa mereka tetap tidak sadar. Masih pasang senyum malu-malu.
“Mommy kapan pulang?” tanya Jovan ingin tahu.
“Hm, kapan, ya?” gumam Aqilla tampak berpikir keras. Sedetik kemudian, ia tersenyum cerah. “Mommy pulang lusa, yeayy..”
Si kembar langsung berdiri di sofa. “Beneran, Mom, lusa pulang?”
Aqilla mengangguk semangat. “Misi Mommy udah selesai, Twins. Besok tinggal lapor ke markas habis itu boleh pulang,” jelas Aqilla.
Sontak Jovan dan Jovin bersorak heboh sambil menggoyangkan tubuh mereka. Tawa Rayhan, Reva, Aqilla, juga para pelayan yang melihat pecah. Tingkah si kembar memang kadang di luar nalar, jail bukan main, tetapi bisa menggemaskan tingkat dewa.
Sering, lho, para pelayan di sana menjadi objek kenakalan si kembar karena Aqilla tidak ada di rumah.
“Haha.. udah, Twins, Mommy capek ketawa.” Aqilla memegangi perutnya yang nyeri karena terlalu lama tertawa. Detik berikutnya, wanita itu meringis hingga suaranya menghentikan sorakan si kembar.
“Mommy, Mommy kenapa?” Jovin panik.
“Mommy terluka?” tanya Jovan khawatir.
__ADS_1
Aqilla tersenyum. Ia baru saja ingin mengucapkan sesuatu, namun ponsel wanita itu direbut.
“Udah teleponnya, kasian mommy kalian!”
“Aunty Ely!” sorak si kembar senang.
“Mommy kalian lagi dirawat di rumah sakit, jadi biarin istirahat,” kata Ely memberitahu.
Si kembar cemas. Mereka menghujani Ely dengan banyak pertanyaan. Kenapa mommy bisa dirawat? Apa mommy terluka parah? Kenapa mommy bisa begitu?
Dan, masih pertanyaan lain. Ely sampai pusing mendengar semua rentetan kalimat si kembar. “Stop! Dengerin Aunty. Mommy kalian tertembak di bahu tiga hari lalu. Sekarang.. dia lagi dirawat dan udah sehat. Besok mommy kalian bisa keluar. Udah, kan?”
Aqilla merampas balik ponselnya. “Tenang, Twins, Mommy udah sehat, kok.”
Mata Jovin berkaca-kaca. “Mommy kenapa nggak cerita? Jovin mau ke sana.”
“Jovan ke situ, ya, Mom. Jovan rawat Mommy,” kata Jovan dengan air mata berjatuhan.
Aqilla menghela napas kasar. Ia melirik sahabatnya sinis yang sudah membocorkan masalah dirinya yang masuk ke dalam rumah sakit. “Dengerin, Twins. Mommy udah sehat, besok udah boleh pulang. Mommy langsung ke Indonesia habis lapor. Kalian nggak usah ke sini, ada Aunty Ely di sini. Tetep di sana, ya,” papar Aqilla tidak ingin putra-putrinya hadir dan melihat keadaannya.
“Tapi, Mom—”
“Jovan,” tegur Aqilla tegas. “Mommy bilang nggak, ya, nggak!”
Jovan melemas. Ia mengangguk pelan, menuruti perkataan Aqilla. “Iya, tapi cepat pulang, ya.”
“Pasti, Boy. Mommy pulang secepatnya.”
...👑👑👑...
Malam tiba...
Si kembar mengajak Rayhan, Robert, Reva, dan Jessie bicara serius setelah makan malam.
“Kenapa, Sayang? Kok semuanya dikumpulin?” tanya Reva keheranan.
Jovin cengengesan. “Ada yang mau dibicarain, Grandma.”
“Kenapa, Sayang?” tanya Rayhan penasaran.
“Empat hari lagi, mommy ulang tahun, Daddy,” kata Jovan yang sukses membungkam semua insan. “Jovan mau kasih kejutan. Tapi, apa, ya?”
Kejutan ulang tahun Aqilla?
^^^To be continue...^^^
__ADS_1