
“Aqilla!”
Merasa dipanggil, Aqilla membalikkan badan. Maniknya membulat, tak percaya akan bertemu lelaki yang sudah ia lupakan bertahun-tahun lamanya.
Sial! Kenapa, sih, harus ketemu dia di sini?!!
“Aqilla, ini kamu, kan?” tutur lelaki itu tak percaya. Bibirnya melengkung lebar, menunjukkan bahwa dirinya begitu bahagia bisa berjumpa semula dengan Aqilla.
Beda sekali dengan reaksi Aqilla. Wanita itu memutar bola matanya jengah, malas berinteraksi dengan makhluk seperti lelaki ini. Ingin tahu siapa dia?
Lelaki tak tahu malu ini adalah Stevan Jonas, mantan kekasih Aqilla.
“Qilla, aku—”
“Anda di sini, Tuan?” Aqilla menatap dingin. “Saya tidak menyangka sosok menyebalkan seperti Anda bisa hadir di acara sepenting ini.”
Refleks Jovan dan Jovin membekap mulut masing-masing dengan tangan kecil mereka, menahan tawa yang ingin tersembur. Kalimat sarkasme dari sang mommy sangat mengena, menusuk, dan menyurutkan keberanian om itu. Lihatlah, Stevan benar-benar terkejut dengan balasan Aqilla yang jauh dari ekspektasi.
Rayhan pun sama puasnya. Ia ingat betul siapa Stevan. Pribadi yang menjadi salah satu penghuni daftar orang-orang yang dibencinya.
Stevan memasang raut sendu. “Qill, aku tau aku salah. Aku—”
“Syukur Anda tahu diri jika Anda bersalah. Lalu, kenapa masih bisa menampakkan muka? Anda tidak punya malu, ya?” potong Aqilla dengan kalimat pedasnya.
Tangan Stevan terkepal di samping tubuh. Perkataan Aqilla sungguh mengoyak harga diri pun egonya. Apalagi melihat senyum mengejek dari Rayhan membuat lelaki itu kian geram. “Qill, aku ngomong baik-baik sama kamu. Kenapa kamu jadi kayak gini sama aku? Dulu kita—”
Aqilla tiba-tiba berdecak. “Wah, Anda sudah tahu rupanya. Kata ‘kita’ hanya untuk saya dan Anda DULU! BUKAN SEKARANG, Tuan Stevan. Jadi, untuk apa diungkit-ungkit lagi? Sangat membuang waktu.” Aqilla tersenyum miring, meledek Stevan yang sepertinya sudah kebakaran jenggot. “Saya permisi,” pamit Aqilla sopan. Ia beralih menatap Rayhan. “Ayo Tuan.”
Sebelum benar-benar pergi, Rayhan melirik penuh makna ke arah sang asisten. Paham artinya, Alvin mengangguk patuh. Bertahun-tahun bekerja dengan Rayhan, tentu saja Alvin selalu tahu apa yang majikannya itu inginkan. Ini bukan terjadi sekali dua kali. Tapi, berkali-kali.
Rayhan menggandeng tangan si kembar menuju meja khusus keluarganya, tidak memedulikan raut penasaran dari keluarga besar Refalino yang lain. Sementara Aqilla melangkah beriringan di samping Jovan. Dilirik sekilas saja, mereka berempat sudah seperti keluarga bahagia.
Reva, Robert, dan Jessie yang melihat keempatnya berjalan bersama tersenyum tipis. Ketiganya kompak mendoakan dalam hati agar keluarga kecil di hadapan mereka sungguh-sungguh akan bersatu di masa depan. Reva begitu bahagia melihat raut wajah putranya yang tampak senang bersama kedua anak Aqilla yang menggemaskan tingkat dewa.
“Nak, kamu udah datang.” Reva berdiri dan memeluk Aqilla erat. Yang dipeluk, sih, cuma bisa senyum-senyum nggak jelas.
Robert mengusap kepala Aqilla sayang, lanjut menghampiri Jovin yang sudah mengukir senyum manis hingga mata ungunya menyipit. Robert berlutut dan mengusap pipi princess kecil itu. “Jovin cantik banget, sih,” pujinya.
Makin lebar saja senyum Jovin. “Iya dong, Opa. Jovin, kan, emang selalu cantik.”
Robert tergelak singkat. Dan, tawa itu menular ke setiap oknum yang mendengar. Kecuali sang kakak yang menyunggingkan senyum miring.
“Cih, narsis,” ejek Jovan.
Jovin melotot. “Kakak! Nggak boleh gitu sama gadis cantik! Bahaya!”
__ADS_1
Jovan memutar bola matanya malas. “Bahaya dari mananya?”
“Nanti kena karma!”
“Dih, teori dari mana itu?” balas Jovan sengit.
“Teori yang Adek buat 5 detik yang lalu,” jawab Jovin bangga.
Jika Jovan kesal, yang lain malah tertawa gemas. Perdebatan itu benar-benar lucu melihat umur mereka yang masih menginjak angka 6.
“Udah, Twins, jangan berantem di sini,” lerai Aqilla usai meredakan tawanya.
Jovan dan Jovin menoleh bersamaan. Alis keduanya pun naik sebelah dengan kompak. “Berantem? Kami nggak berantem, Mommy,” bantah keduanya.
Aqilla mengerutkan dahi. “Lho? Kalo bukan berantem, apa dong?”
“Adu argumen, Mommy,” sahut si kembar dengan alis naik-turun.
Aqilla melotot. Kedua anaknya sengaja menggodanya. Sial, aku kalah debat lagi. Cih!
Reva, Robert, Rayhan, dan Jessie tertawa. Mereka sangat gemas dengan tingkah si kembar yang seolah menantang mommy mereka sendiri berdebat dalam kata-kata. Tanpa basa-basi, Robert menggendong Jovin dan mengecup pipinya sekali.
Jovin mengerjapkan matanya beberapa kali, agak terkejut dengan tindakan grandpa-nya yang tidak diduga. “Lho, lho, lho, ayo reka ulang, Opa! Jovin belum siap dicium!” protes Jovin.
Robert tergelak lagi. Ia memutar tubuh seraya mengeratkan pelukan. Jovin memekik senang. Puas berpusing-pusing ria, Robert mengajak Jovin mencari kue untuk camilan.
Aqilla yang mendengar jadi bingung. “Kenapa gitu, Boy?”
“Iyalah! Jovan sama Jovin, kan, kembar. Harusnya disetarakan! Bukannya dibedakan! Diskriminasi dong!” jelas Jovan menggebu-gebu. “Jovan ngambek pokoknya!” Karena kesal, ia duduk di bangku sendiri dengan bibir mengerucut. Grandpa-nya pilih kasih, itu yang ada di benak Jovan.
Aqilla dan Rayhan saling melempar tatapan, keduanya tertawa tanpa suara. Rasanya tuh ingin nguyel-nguyel Jovan, tapi tidak tega. Paras tampan si kecil bisa dalam situasi siaga nanti.
“Kakak! Adek bawa cheesecake buat Kakak!” seru Jovin riang seraya membawa sepotong kue berasakan keju itu untuk sang kakak.
Rasa dan makanan favorit Jovan yang paling nomor satu adalah keju. Entah bagaimana, bocah tampan itu begitu menyukai rasa keju yang asin. Jovin saja cuma mau makan keju yang telah diolah menjadi masakan. Tapi, kakaknya sanggup menyantap keju utuh untuk dijadikan camilan.
Aneh emang.
Senyum Jovan terbit lagi. “Wah, adek Kakak baik banget, sih.”
Aqilla terkekeh. Tadi katanya ngambek. Liat keju langsung sumringah gitu.
Sementara Jovan menghabiskan cheesecake-nya, Jovin tengah menyantap kue cokelat. Gadis kecil itu memang penyuka rasa cokelat. Manis katanya, kayak Jovin, wkwkwk..
“Nona Qaill?”
__ADS_1
Merasa disebut, Aqilla menoleh. Seorang pria yang dikira merupakan salah satu pengusaha di acara ini tengah tersenyum ramah. “Iya, saya?”
“Tidak, Nona. Saya hanya ingin menyapa. Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan orang hebat seperti Anda,” kata pria itu seraya mengulurkan tangan.
Aqilla balas menjabat uluran tersebut. Keduanya terlibat perbincangan ringan, sedikit berbasa-basi untuk menambah relasi. Rayhan yang melihat hanya bisa menghela napas berat.
Mau ngobrol berdua aja adaaa.. gangguannya.
...👑👑👑...
“Mommy,” panggil Jovan menarik-narik dress Aqilla.
Aqilla menundukkan kepala, menatap putranya yang terlihat gelisah. “Kenapa, Boy?”
“Anterin ke toilet,” rengek lelaki itu tak tahan. Kedua kakinya dihentak-hentak ke lantai bergantian, menahan panggilan alam yang ingin segera dijawab.
Aqilla terkikik. Ia berpamitan pada para pengusaha tadi, lanjut mengantar putranya ke toilet.
Eits, Aqilla nggak masuk ke dalam, kok. Dia cuma nganter hingga ke depan pintu.
“Aqilla,” panggil Stevan mendekati Aqilla yang berdiri di depan toilet pria.
Aqilla mendengkus sebal. “Apaan, sih, Stev?” kesalnya. Pasalnya, ia sudah sangat menduga apa maksud Stevan mendekatinya lagi semacam ini.
“Aku minta maaf,” kata Stevan penuh sesal. “Dulu aku khilaf, maafin aku. Aku janji nggak akan lakuin hal yang sama.”
“Aku udah punya anak.” Sengaja. Aqilla memang berniat membuat Stevan ilfeel padanya.
“Aku nggak peduli. Aku bisa, kok, terima anak kamu.” Tersenyum lembut dengan sorot teduh. Ia maju selangkah, hendak meraih tangan Aqilla.
Bugh!
“Akh!” pekik Stevan memegangi tangannya yang baru saja ditendang kasar.
“Jangan ganggu mommy-ku!” ucap Jovan dengan raut dingin.
Glek!
Stevan merinding. Aura yang putra Aqilla keluarkan benar-benar membangkitkan bulu kuduknya. “Nak, Om cuma—”
“SoS signal!” pekik Jovan tanpa diduga.
Jam tangan di pergelangan Jovan berkedip merah. Bagian kaca atas terbelah dan membuka celah. Alat super kecil keluar dari sana, berterbangan mengelilingi Jovan.
Stevan melangkah mundur secara bertahap. Alat-alat tadi mengeluarkan moncong pistol dengan lampu merah yang berkedip, siap menembakkan isi amunisi yang di dalamnya.
__ADS_1
“Menjauh dari mommy-ku, atau Om keluar dari sini hanya tinggal nama,” dingin Jovan dengan mata ungunya yang menggelap dibalik topeng.
^^^To be continue...^^^