I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 62 | Gadis Itu


__ADS_3

“Sebenarnya, saya itu—”


“Rayhan? Ini kamu, kan?”


Robert, Reva, Rayhan, Jessie, dan Aqilla menoleh ke sumber suara bersamaan. Seorang gadis berpakaian glamor berdiri di hadapan mereka dengan senyum merekah, menantikan sapaan balik dari keluarga paling kondang tersebut.


“Kamu siapa?” tanya Rayhan dengan alis mengerut. Dirinya bingung, kenapa gadis ini bertingkah sok kenal padanya? Padahal, kan, lelaki itu sama sekali tidak mengetahui kalau sosok di depannya ini telah hadir ke dunia.


Hm, sadis sekali, ya.


Sementara itu, sang gadis merasakan malu bukan main hingga bulu kuduknya berdendang tak masuk akal. Sudah bersikap sok akrab, tetapi tidak dianggap atensinya. Huh, untung aja pengunjung food court ini kebanyakan tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitar. Soalnya, mereka memilih fokus dengan kegiatan masing-masing, tidak mau merecoki orang lain.


Berbeda dengan Rayhan dan Aqilla yang kebingungan, Robert, Reva, dan Jessie sudah panas-dingin di kursi mereka. Ketiganya tahu betul siapa gadis yang tengah menampilkan raut syok ini.


“Aku Keyla, kamu nggak tau?” balas gadis itu—Keyla—dengan sisa keberaniannya. Kalau sampai Rayhan tidak tahu lagi, muka Keyla benar-benar akan tercoreng karena terlampau malu.


“Hah? Keyla? Keyla siapa?” Alis Rayhan menyatu sempurna, otaknya berpikir keras, mengais memori mengenai Keyla di antara semua kerumitan yang hinggap.


Tapi, nihil! Tidak ada hasil!


Paras ceria Keyla mendadak murung. Bibirnya yang terbalut lipstik merah mengerucut ke depan. Tatapan Keyla beralih pada Reva. “Tante, Tante ingat, kan, sama Keyla?” tuntutnya menggebu-gebu, mengupayakan penyelamatan terakhir dari insiden memalukan ini.


Reva mengangguk. “Tante ingat, Nak,” jawab Reva jujur.


Lagi-lagi senyum itu melengkung. Aqilla yang melihat malah ingin muntah. Lipstiknya itu, lho, tebalnya nggak kira-kira. Udah kayak merah darah.


“Tuh, kan! Tante aja ingat, kok, masa kamu nggak, sih? Ini aku, Ray, calon istri kamu!”


Bukan cuma Aqilla yang terkejut, tetapi Rayhan pula. Lelaki itu membelalakkan mata, menyorot tak percaya pada sosok gadis bernuansa kemewahan ini. “Apa?! Calon istri?!” pekik Rayhan dengan nada meninggi. “Maaf, sepertinya kamu salah ingat. Kamu bukan calon istri saya.” Kenal aja nggak, gimana mau nikah? Aneh banget..


“Tapi, mami kamu mau jodohin kita berdua, Ray,” bela Keyla tidak mau kalah.

__ADS_1


“Hah? Apa?” pekik Rayhan tidak mau percaya begitu saja. Beralih menatap Reva yang nampak gugup. “Beneran, Mi?” tanya Rayhan sedikit memaksa.


Sumpah, sih, Reva sebenarnya ragu ingin mengatakan realita. Ia takut putranya akan marah atas segala keputusan sepihak yang dilakukan di masa lampau. Namun, Reva tahu kalau semua ini adalah kesalahannya. Sudah pasti ia harus bertanggung jawab.


Yaitu menjelaskan yang sejujurnya kepada sang putra bagaimanapun reaksi lelaki itu nantinya.


“Iya, Ray. Dulu Mami khawatir karena kamu nggak nikah-nikah. Makanya, Mami sepakat buat bantu dan cariin kamu calon istri yang baik buat kamu. Dan.. Keyla salah satu kandidatnya,” jawab Reva lirih.


Rayhan menghela napas kasar, tangannya bergerak mengusap wajah frustrasi. Jika seperti ini, bisa-bisa rencana Rayhan—yang sudah diatur sedemikian rupa—agar bisa segera menikah dengan Aqilla tertunda dengan paksa—bahkan terancam batal!


“Jadi, dia ini calon istri kamu, Ray?” tanya Aqilla dingin menunjuk Keyla dengan lirikan matanya. Dari binar mata yang terpancar dari wanita itu, Rayhan bisa menangkap ketidaksukaan yang kentara.


Duh, pasti Aqilla makin ragu buat nerima aku!


Rayhan menggoyangkan kedua tangannya cepat-cepat. “Bukan, Qill! Aku aja nggak kenal sama dia.”


Keyla membulatkan matanya. “Rayhan! Aku Keyla, calon istri kamu!” serunya tidak mau dibantah. Jika gadis itu menginginkan Rayhan, maka lelaki itu harus menjadi miliknya—bagaimanapun caranya.


Perbincangan mereka terhenti sejenak kala seorang pelayan food court tiba membawakan dua cup es krim. Alhasil, Aqilla pergi dari sana tanpa berkata apa pun, melangkah mendekati arena permainan untuk memanggil kedua buah hatinya.


“Calon istri,” jawab Rayhan malas.


Sepasang manik Keyla melebar. Gadis itu mengerjap tak percaya, jawaban Rayhan terlampau mengejutkan hati. “I–istri kamu?” cicit Keyla geram. “Tapi, kan, aku—”


“Daddy!” panggil Jovin ceria. Gadis kecil itu berlari kecil hingga tiba di sebelah Rayhan, meninggalkan sang kakak yang berjalan berdampingan dengan Aqilla. “Jovin capek banget, Daddy. Tapi, seru,” adu Jovin antusias.


Rayhan tergelak singkat sebelum mengangkat tubuh gembul putrinya dan diletakkan di pangkuan, mengabaikan raut kaget dari Keyla yang terus mengarah pada princess cantiknya ini. “Makan ini dulu, Sayang.” Rayhan meraih cup es krim vanilla, lalu didekatkan pada Jovin.


Jovin bertepuk tangan heboh sebelum menyantap menu penutup kali ini. Sesekali ia menyuapi daddy-nya sedikit walau sedikit tidak ikhlas.


“Dia siapa, Dad?” tanya Jovan melirik ke arah Keyla yang menempati kursi mommy-nya. Lantas kalimat itu turut mengundang atensi Jovin. Putri Aqilla dan Rayhan itu menoleh ke samping, mengamati wajah aneh di sebelahnya dengan alis mengerut.

__ADS_1


“Dia itu calon istri Daddy kalian,” sahut Aqilla menyindir.


Apabila Jovan menggeram tak terima, Jovin malah berkaca-kaca matanya. “Apa Daddy selingkuh dari Mommy?” cicitnya sedih.


Rayhan gelagapan. Buru-buru ia menggeleng kuat. “Nggak, Girl. Tante ini bukan calon istri Daddy. Calon istri Daddy cuma Mommy kalian, kok,” belanya.


“Daddy nggak bohong, kan?” tuntut Jovan dengan sorot menghunus. Jika sampai mommy-nya dikhianati, Jovan pastikan ia tidak akan mau menemui Rayhan lagi hingga 50 tahun ke depan.


“Nggak, Son! Beneran, deh!”


Jovan menatap mommy-nya dengan bibir maju beberapa senti. “Nggak, kok, Mom. Tante ini bukan siapa-siapanya Daddy.”


“Kamu percaya gitu aja, Boy?” kata Aqilla tak percaya.


Jovan mengangguk dengan polosnya. “Mommy, kan, pernah bilang, sesama keluarga harus saling percaya biar tetap harmonis. Jovan nggak salah, kan, Mom?”


“Nggak, sih,” gumam Aqilla membenarkan. Kepala wanita itu manggut-manggut beberapa kali membuat Rayhan mengulas senyum kelegaan di bibirnya.


“Tapi, Daddy,” Jovin tiba-tiba berucap. “Kenapa Tante ini mirip kayak temen ondel-ondel di jalan, ya? Jovin kemarin liat, lho, di deket lampu merah.”


Sontak Aqilla, Rayhan, dan Jessie membekap mulut masing-masing dengan tangan, menahan tawa yang ingin tersembur. Perkataan polos nan lugu Jovin sukses mengoyak ulu hati, ingin tertawa terpingkal-pingkal, deh, rasanya.


Keyla menggeram emosi. “Heh, bocah! Berani banget kamu ngatain-ngatain aku! Apa kamu nggak tau aku siapa?”


“Tau, kok, Tante. Tante temennya ondel-ondel, kan?” jawab Jovin lugu. Mulutnya yang belepotan es krim cengengesan, menunjukkan bahwa gadis itu sebenarnya sengaja berkata demikian. Hanya saja, cuma Aqilla dan Jovan yang mengerti arti senyuman itu.


“Kamu—” Keyla mengangkat sebelah tangannya ke udara, pergerakan hendak memukul Jovin.


Sayangnya, sebelum tangan itu berhasil menyentuh seinci kulit Jovin, Rayhan sudah lebih dulu menahan. “Sekali saja kamu sentuh putriku, mati kamu di tanganku,” ancam lelaki itu tak main-main.


Deg!

__ADS_1


Anak?


^^^To be continue...^^^


__ADS_2