I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 36 | Rencana Berhasil!


__ADS_3

“APA?!!” pekik Aqilla terkejut. Matanya membulat. “JOVIN KECELAKAAN?!!”


Mendengar pekikan tersebut, seluruh anggota keluarga Refalino ikut merasa cemas. Mereka menatap Aqilla iba yang tampak panik dengan situasi.


“Gimana kamu jagain adik kamu, sih, Boy? Haishh.. Mommy ke sekolah kalian sekarang!”


“Tap—”


Tut.


Aqilla mematikan sambungan. Ia buru-buru merapikan barang-barangnya yang sempat dikeluarkan ke dalam tas selempang. “Maaf, Tuan, Nyonya, saya pamit pergi dulu,” pintanya tergesa-gesa.


“Iya, Nak. Pergilah, putrimu membutuhkanmu,” kata Reva mengusap lengan Aqilla.


“Tunggu sebentar!” Rayhan meraih sesuatu di meja yang berada di dekat dinding. Ia menyerahkan sebuah benda tipis berlapis plastik pada Aqilla. “Ini undangan ke—”


“Undangan, Tuan? Iya-iya, nanti saya datang.” Aqilla berlari keluar sembari berteriak, “Assalamualaikum, Tuan, Nyonya! Saya permisi dulu.”


“Wa‘alaikumsalam,” jawab Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie kompak.


Selepas kepergian Aqilla, Reva menepuk kuat lengan putranya kesal. “Kamu apa-apaan, sih, Ray?! Aqilla lagi panik gitu malah kamu kasih undangan. Nggak tepat banget,” cibir Reva.


Rayhan menghela napas panjang. “Belum tentu ada kesempatan lagi buat ketemu Aqilla ke depannya, Mi.” Lagian Ray juga belum sempet ngobrol berdua sama Aqilla, huh.


Walaupun hati kecilnya membenarkan, logika Reva tetap berjalan lancar. Aksi pemberhentian Rayhan barusan sangat tidak sopan. Aqilla pasti sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Eh, malah dicegat sama Rayhan. Untungnya, sih, wanita itu sedang tergesa-gesa, jadi tidak terlalu mempermasalahkan untuk saat ini.


“Semoga anak Aqilla baik-baik aja, deh,” gumam Reva penuh harap.


Rayhan terdiam dengan sorot mengarah pada pintu mansion. Putri Aqilla gadis kecil yang udah buat aku bergetar itu, kan? Apa dia baik-baik aja sekarang..?


...👑👑👑...


Hanya dalam 8 menit, Aqilla sampai di sekolah kedua anaknya. Ia melirik sekitar, tidak ada tanda-tanda orang kecelakaan. Malahan suasana sekolah sangat sepi, tidak wajar sekali.


“Jovin di mana, Ya Allah..” gumam Aqilla khawatir.


Air muka yang Aqilla tunjukkan sekarang berbanding terbalik dengan yang biasanya. Lazimnya, kan, Aqilla berwajah tengil dengan seringaian jail. Namun, sekarang lihat kepanikan yang melanda wanita itu. Sangat kentara.


Bagaimanapun juga Aqilla tetap seorang ibu. Dia punya sisi lembut juga. Mengetahui putri yang pernah ia perjuangkan hidup dan mati untuk melahirkannya ke dunia tentu mengobrak-abrik perasaan Aqilla.


“Mommy!”


Aqilla berbalik. Hembusan napas lega ia keluarkan kala melihat putrinya berjalan mendekat dengan kaki pincang. Tergopoh-gopoh Aqilla menghampiri sang anak yang dipapah. Lantas dirinya memeluk Jovin kencang dengan batin yang plong.


“Kamu nggak pa pa, Sayang?” tanya Aqilla cemas. Ia memeriksa sekujur tubuh Jovin dan menemukan luka di lutut gadis kecil itu. “Ini kenapa, hm?”

__ADS_1


“Jovin jatuh, Mom, waktu lagi main. Makanya, luka,” jawab Jovin jujur. Sesekali bibir mungil yang terbiasa tertawa ceria itu meringis. Sukses sekali membuat hati Aqilla trenyuh.


“Sakit, Girl? Mau ke rumah sakit aja?”


“Nggak pa pa, kok, Mom. Ini nggak sakit.” Jovin melengkungkan bibirnya ke atas, menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja pada sang mommy.


Aqilla beralih menatap Jovan. “Katanya Jovin kecelakaan, gimana, sih, Boy?” kesalnya. Jika tahu hanya begini, Aqilla tidak akan sampai melanggar lalu lintas tadi. Untung tidak ada polisi yang menilang.


“Lho? Bukan salah Jovan dong. Jovan, kan, mau jelasin kalo adek dapet kecelakaan kecil di sekolah. Eh, Mommy malah teriak. Ya, Jovan kaget, lah!” bela Jovan pada dirinya sendiri.


Aqilla mendengkus, tak urung membenarkan perkataan putranya dalam hati. Memang benar ini salahnya juga. Seharusnya ia mendengar seluruh kalimat Jovan, bukannya malah memotong.


“Ya udah, kita pulang, ya. Mommy minta izin dulu ke guru kalian.”


...👑👑👑...


Dengan alasan kaki Jovin yang sakit, akhirnya si kembar bisa pulang lebih awal. Mereka sekarang sudah tiba di rumah, bahkan selesai berganti pakaian.


“Sshh..” ringis Jovin yang kesakitan ketika mencoba berjalan keluar dari kamar.


Jovan berdecak. “Makanya, kalo main tuh nggak usah pake lari-lari. Jatoh, kan?” sindirnya sinis. Sayangnya, kata-kata Jovan tidak sebanding dengan sikapnya. Lelaki kecil itu membungkuk di depan sang adik, kode agar Jovin naik ke punggungnya. Tanpa ragu pun Jovin langsung naik ke punggung kakaknya.


Interaksi yang sangat manis, kan?


“Undangan dari daddy kalian.” Aqilla melempar undangan itu ke meja.


Jovan mendekat masih dengan Jovin yang berada di punggungnya. Secetak senyum puas terpasang. Ketiganya tersenyum dengan kelegaan super di hati.


“Rencana.. berhasil,” ucap ketiganya bersamaan.


...Flashback on....


“Setelah sampai di Indonesia, kita nggak bisa langsung ketemu sama daddy.”


“Kenapa gitu?”


Bukan si kembar yang bertanya, tapi Ely. Gadis itu juga bingung dengan maksud sahabatnya ini.


“Dari cerita Mommy, kita bisa simpulin kalo daddy kalian...” Aqilla sengaja menggantung kalimatnya.


“Nggak tau kalo kami ada,” sambung Jovan yang seperti terkoneksi dengan pemikiran Aqilla. Ia melihat sang mommy mengangguk, membenarkan ucapannya yang langsung membuat tubuhnya membeku.


“Jadi.. daddy nggak pernah tau kalo kami ada, Mom?” lirih Jovin sendu.


Aqilla menggeleng. Raut wajah di kembar langsung berubah total. Mereka tidak menyangka bahwa selama ini bukan hanya keduanya yang tidak tahu mengenai sang daddy, namun juga daddy mereka tidak tahu mengenai keberadaan mereka.

__ADS_1


Jovan menghela napas berat. “Terus apa yang harus kita lakuin setelah sampe di sana, Mom?”


“Kita harus susun rencana biar kalian bisa ketemu sama Daddy Ray, tapi dengan alur yang natural. Seolah-olah kalian bertemu karena kebetulan, bukan direncanakan,” jawab Aqilla mantap.


“Kenapa harus kayak gitu?” tanya Ely.


Aqilla terkekeh pelan. “Aku nggak mau mereka ngecap aku sebagai wanita matre, El. Kalo tiba-tiba aku bawa si kembar ke hadapan mereka dan ngakuin kalo mereka ini anak tuan muda, takutnya mereka mikir aku dateng buat nguras harta mereka dengan memperalat si kembar. Padahal, kan, duitku juga banyak.”


Aqilla tersenyum misterius. “Jadi, aku punya rencana biar si kembar bisa ketemu sama daddy mereka, tapi cap wanita matre juga lepas dari aku.”


“Apa rencananya?” tanya Jovan, Jovin, dan Ely kompak.


“Begini, Mommy udah cari tau banyak soal daddy kalian. Salah satunya tentang tempat kerja daddy kalian, Twins.” Aqilla menarik napas singkat sebelum melanjutkan. “Daddy kalian selalu ngadain pesta ulang tahun perusahaan setiap satu tahun sekali. Di situlah tempat kita bermain nanti.”


“Kamu gila, Qill? Acaranya pasti ramai banget. Masa iya kita buka jati diri langsung di depan banyak orang?” protes Ely yang kurang yakin dengan rencana Aqilla.


“Ckckck, dengerin dulu elahh..” kesal Aqilla. “Intinya, kita harus main akting. Cuma di acara itu kita punya peluang paling besar.”


“Kenapa gitu?” heran Jovin.


“Merancang drama pertemuan nggak disengaja terus topeng yang kelepas tiba-tiba itu terlalu klise, Girl. Mommy yakin, di acara itu akan ada banyak peluang buat kita karena Mommy udah bisa nebak apa yang akan terjadi di sana.”


“Emang apa?” tanya Jovan.


“Satu hal yang pasti. Daddy kalian pasti akan nerima hujatan tentang situasinya yang belum punya istri dan anak. Padahal, umur daddy kalian udah hampir 30 tahun. Kalian bisa nunjukin diri saat itu. Kita tunjukin kalau asumsi orang-orang salah.”


“Mommy bukan cuma mau nunjukin kalian ke daddy. Tapi, Mommy juga mau bungkam semua orang yang udah ngehina daddy kalian,” sambung Aqilla dengan seringaian liciknya. Dia masih tidak terima mengenai artikel yang mengatakan kalau Rayhan mandul.


Anggap saja ini cara Aqilla membalas dendam.


...Flashback off....


“Gimana Mommy bisa dapetin undangannya?” tanya Jovan penasaran.


“Grandpa sama grandma kalian terus-terusan ngejar Mommy buat dinikahin sama daddy kalian, Boy. Mommy, kan, nggak terima,” sungut Aqilla kesal. “Tapi, Mommy manfaatin aja situasinya. Eh, dapet beneran.“


Jovin memekik girang. “Itu artinya sebentar lagi Jovin bisa peluk daddy!” soraknya.


Jovan terkekeh. “Kakak juga,” sahutnya tak mau kalah.


Aqilla tersenyum melihat keantusiasan kedua anaknya. Apa pun yang menyangkut Rayhan, si kembar memang selalu bersemangat.


Aku senang keputusanku nggak salah..


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2