I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 37 | Grandpa, Grandma


__ADS_3

Akhir pekan, weekend, hari Sabtu, itu sama saja. Sama-sama dinantikan oleh para pekerja juga para pelajar. Hari libur yang ditunggu agar bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.


Family time.


“Siap, Twins?” tanya Ely yang saat ini bertugas sebagai supir.


“Siap, Aunty!” balas si kembar kompak dengan suara menggelegar. Keduanya bersemangat sekali di jok tengah. Sementara Aqilla dan Ely yang duduk di depan tertawa gemas.


Hari ini, keempatnya berencana pergi jalan-jalan ke villa tepi pantai milik Aqilla. Karena si kembar libur, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin dong. Namun, sebelum benar-benar memulai perjalanan, mereka pergi ke mall terlebih dahulu.


Niatnya, sih, ingin membeli beberapa bahan makanan sebagai persiapan di villa. Soalnya, mereka menginap satu malam di sana. Sekalian ingin beli dress baru untuk Jovin juga tuxedo untuk Jovan demi meraih penampilan yang pas di pesta perayaan ulang tahun perusahaan RH Group nanti.


Lebih tepatnya besok. Acaranya hari Minggu malam.


“Kita sampai,” seru Ely mematikan mesin mobil di pelataran mall.


Si kembar langsung turun dengan semangat 45. Bayang-bayang mainan seru dan rentetan makanan enak mulai berkeliaran di benak keduanya. Ingat, ya, segenius apa pun mereka, Jovan dan Jovin tetaplah anak kecil berusia 6 tahun.


“Kita beli dress sama tuxedo mini dulu, ya,” kata Aqilla seraya menggandeng tangan kecil Jovan. Sedangkan Jovin menggenggam tangan Ely.


“Aunty juga mau beli dress baru, ah,” celetuk Ely tiba-tiba. Aqilla, sih, terkekeh saja. Asalkan Ely membeli dengan uangnya sendiri, Aqilla bodo amat.


Tiba di bagian toko pakaian, Aqilla membawa kedua anaknya menuju penjual pakaian dengan merek ternama. Aqilla nggak mau dong anak-anaknya diejek karena pakai baju murahan yang abal-abalan. No, no, no, Aqilla nggak semiskin itu.


“Selamat datang di toko kami, Nona, Tuan Kecil, Nona Kecil. Ada yang bisa saya bantu?” sambut salah pekerja ramah. Senyum secerah mentari terpasang di paras wanita itu.


“Saya ingin membeli dress sama tuxedo untuk anak saya, Mbak,” sahut Aqilla.


“Apa dress untuk ke pesta, Nona?”


“Benar.”


“Baik, mari ikuti saya.” Pekerja itu tersenyum kecil melihat anak Aqilla yang menggemaskan dengan topeng mereka.


Aqilla, Ely, Jovan, dan Jovin digiring menuju bagian lain. Pekerja tadi membawakan deretan dress juga tuxedo ukuran mini untuk kedua bocah menggemaskan itu.


“Kakak Cantik, Jovin mau dress-nya senada sama tuxedo kakak, ya,” pinta Jovin melihat pekerja itu tengah memilah dress untuknya.


“Baik, Nona Kecil,” jawab pekerja itu gemas. Suara Jovin itu, lho, bikin hati menderu karena gereget.


Bersama Aqilla, Jovan ikut memilah tuxedo yang dimau. Sementara Jovin lebih suka dengan Ely karena aunty-nya itu lebih tahu mengenai fashion wanita. Kalau Aqilla, sih, hm.. jangan ditanya, deh. Nanti dia tersinggung.

__ADS_1


“Mommy, Kakak, gimana penampilan Jovin?”


Aqilla dan Jovan menoleh bersamaan. Senyuman puas tercetak melihat dress yang Jovin pakai. Sangat pas. Warna biru muda yang gadis kecil itu kenakan membuat aksen menggemaskan Jovin bertambah kuat.


“Bagus banget, Sayang. Mommy suka,” puji Aqilla.


Jovin tersenyum lebar. “Kakak Cantik, Jovin mau yang ini saja.”


“Berarti Kakak beli tuxedo biru, nih?” tanya Jovan.


Jovin mengangguk antusias. “Iya, iya. Kakak beli yang biru, ya,” pintanya memelas.


Jovan pura-pura kesal. “Tapi, Kakak mau tuxedo hitam,” sungutnya tak terima.


Raut wajah Jovin berubah murung. Aura mendung langsung terasa. Bibir gadis kecil itu mengerucut ke depan, lucu sekali. Kedua sudut bibir Jovan sampai berkedut karena menahan tawa. Dia sengaja menggoda adiknya saja. Jovan, sih, tidak masalah, kok, pakai apa pun.


“Kakak..” rengek Jovin seraya menggoyang-goyangkan lengan Jovan. “Pake biru aja, ya.”


Jovan terkekeh. Ia mengusap kepala adiknya lembut. “Iya, iya, Kakak cuma bercanda, kok.”


Senyum Jovin terbit. Bocah cilik itu kembali bersemangat. Ia berlari kecil ke posisi pekerja tadi untuk melepas gaunnya.


Satu jam kemudian, Aqilla, Ely, Jovan, dan Jovin keluar dari toko dengan rasa puas menyelimuti. Begitu juga para pekerja di toko tersebut. Walaupun sempat tercengang melihat gold card milik Aqilla, namun mereka berhasil mempertahankan image ramah.


“Nona tadi sangat kaya rupanya.”


“He‘em! Dia punya gold card!”


“Gila! Suaminya siapa, ya?”


“Aku penasaran, kenapa anaknya pake topeng, sih?”


“Aku juga. Tapi, mereka lucu, kan?”


“Iya, gemesss..”


“Semoga nanti Nona itu datang lagi.”


“Aminn..!” jawab semua pekerja sepenuh hati.


...👑👑👑...

__ADS_1


“Boneka!!” pekik Jovin girang ketika Aqilla bukan membawanya menuju supermarket mall, namun ke toko boneka.


“Mommy, kan, janji sama Jovin buat beli boneka. Sekarang.. Jovin pilih boneka mana, Mommy tunggu,” kata Aqilla mengusap kepala putrinya.


Jovin langsung berlari ke dalam sembari menarik tangan kakaknya. Jovan memberontak, tidak mau masuk ke dalam ruangan berisikan produk anak perempuan. Sayangnya, melihat tatapan antusias Jovin membuat lelaki kecil itu pasrah—dia tidak mau menghancurkan kesenangan adiknya itu.


“Qill, aku ke situ, ya,” ucap Ely menunjuk ke satu arah.


Aqilla menaikkan sebelah alisnya melihat maksud Ely. “Ngapain kamu ke toko mainan?” heran Aqilla.


Ely nyengir. “Liat-liat aja, sih, hehe. Aku ke sana, ya, bye.” Gadis yang berstatus jomblo itu melangkah riang menuju toko mainan. Entah apa yang ada di otak Ely, Aqilla agak merinding memikirkannya. Untuk apa gadis seumuran Ely masuk ke sana?


Perlu dicurigai.


Drrtt.. drrtt...


Aqilla merogoh tas selempangnya. Ada telepon dari Tuan Ronald, atasannya di markas pusat IAF. “Hello, Sir,” sapa Aqilla.


“...”


“Yes, Sir. Why?”


“...”


“Yes, Sir. I will take care of it,” jawab Aqilla tenang. Setelah berbasa-basi sebentar menanyai keadaan markas, Aqilla memutus sambungan telepon. Tubuh wanita itu berbalik, ingin menyusul kedua anaknya di dalam toko.


“Aaahh!” pekik Aqilla terkejut menyadari ada orang di belakangnya. Ia mengusap dadanya yang berdebar. “Nyonya Besar, Tuan Besar, Anda mengagetkan saya.”


Reva dan Robert, sepasang suami-istri yang tiba-tiba nongol di belakang Aqilla, cuma bisa tersenyum kikuk. Sedikit merasa bersalah karena sudah mengejutkan Aqilla. Tapi, mereka tidak mau mengganggu Aqilla menelepon tadi.


“Assalamualaikum, Nyonya, Tuan.” Aqilla menyalami keduanya dengan sopan, seperti biasa. Dibalas salam yang sama oleh mereka.


“Kamu di sini, Nak? Sedang apa?” tanya Reva meraih tangan kanan Aqilla, lalu menggenggamnya.


“Saya—”


“Mommy!”


Aqilla, Reva, dan Robert menoleh bersamaan. Jovan datang sendirian. Manik ungu lelaki kecil itu membulat dibalik topengnya. Jantungnya berdebar melihat dua sosok yang selama ini dirindukannya berdiri di depan dengan tatapan mengarah pada dirinya.


Grandpa.. Grandma...

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2