
Wajah Aqilla memerah seluruhnya. Ternyata suara laknat miliknya membuat Robert dan Reva salah sangka di seberang sana. Padahal, niat hati, dirinya ingin memberi kabar kepada si kembar kalau semua sudah baik-baik saja.
Kacau balau tanpa diduga! Malu bukan main dirasa! Ini semua gara-gara Rayhan!
“Sayang, are you okay?” tanya Rayhan sok bersimpati. Padahal, lelaki itu senang dengan teramat atas kesalahpahaman yang terjadi. Pikirnya, dia jadi lebih punya alasan untuk mengikat Aqilla dalam hubungan suci.
Aqilla melotot. “Sayang?! Kamu manggil aku ‘sayang’?!!” pekiknya.
Rayhan mengangguk dengan polosnya. “Kan, kamu bilang sendiri kalo aku calon suami kamu. Emangnya salah, ya, kalo aku panggil calon istriku ‘sayang’?”
Aqilla mendengkus. “Ray, aku cuma akting! Itu nggak beneran!” bantahnya tidak ingin masalah ini diperpanjang. “Udahlah, Ray, lupain aja.” Usai mengatakan kalimat menyakitkan tersebut, Aqilla meninggalkan Rayhan sendirian di ruang tamu dengan kaki sedikit pincang.
Hei, sebentar! Kalian tidak salah paham juga, kan, dengan suara-suara itu?
Suara di telepon bukan karena Aqilla dan Rayhan sedang main kuda-kudaan di atas kasur, lho. Kala itu, Rayhan tengah membantu Aqilla memijat kakinya yang keseleo akibat terpeleset di kamar mandi.
Sial banget, kan, si Aqilla? Udah jatuh, malu pula, hadehh..
Kembali ke suasana ruang tamu. Rayhan termenung di sana. Lelaki itu menghela napas berat. Faktanya, Aqilla masih belum sepenuhnya menerima kehadirannya. Rayhan masih bukan menjadi prioritas di kehidupan wanita itu.
“Sebenernya aku kurang apaan, sih? Ganteng, udah. Tajir, udah juga. Baik, apalagi. Tapi, kok, ditolak mulu,” dumel Rayhan kesal. Lagian kami udah punya anak. Apa salahnya kalo menikah, kan? Mempererat tali silaturahmi gitu.
Cih, mempererat apaan, Ray😒—Ay lagi lewat.
“Ikut-ikutan aja, sih, lo! Minggir, ah! Lo ngeselin, Thor! Sampe kapan gue berjuang? Kan, mau enak-enak juga,” gerutu Rayhan bersungut-sungut.
Nah, kan, kelihatan banget modusnya.
...👑👑👑...
Keesokan harinya...
Mansion Refalino, Indonesia...
__ADS_1
Jovan dan Jovin menanti dengan tidak sabaran. Kedua bocah itu mondar-mandir bak setrikaan. Menurut kabar yang Rayhan kirim kemarin, ia sudah dalam perjalanan pulang ke Indonesia bersama Aqilla. Namun, hingga detik ini, keduanya masih belum menampakkan batang hidungnya dengan benar.
Padahal, menurut perhitungan si kembar, penerbangan Rayhan dan Aqilla telah mendarat sempurna sekitar satu jam yang lalu.
“Sayang, waktunya makan siang.” Reva berseru seraya mendekati kedua cucunya. Hingga detik ini, Jovan dan Jovin masih menunggu kedatangan orang tuanya di kursi dekat pintu utama.
Jovin menoleh dengan bibir mengerucut. “Grandma, kenapa mommy sama daddy belum pulang?”
“Em.. mungkin ada sedikit kendala di jalan, Sayang, makanya mereka agak telat,” jawab Reva dengan senyum lembutnya. Tangannya bergerak mengusap kepala Jovin yang bertambah halus surainya.
Oh, jelas! Merek shampo yang Reva belikan untuk cucunya bukan main namanya! Harganya aja melejit tinggi ke langit!
“Kita makan dulu, ya,” pinta Reva memelas. Sejak ditinggal Rayhan hari itu, Jovan dan Jovin memang sedikit sulit diajak makan. Katanya, mereka tidak berselera.
Reva paham kalau si kembar tengah dilanda kekhawatiran. Namun, bukan berarti mereka sampai tidak mengonsumsi apa pun begini. Yang ada, si kembar sakit dan membuat situasi jauh lebih panas dengan level yang berbeda.
“Jovan tunggu mommy saja, Grandma,” sahut Jovan tanpa mengalihkan pandangan dari pintu utama. Lelaki kecil itu tampak resah dilihat dari postur tubuhnya yang bergerak gelisah. Jovin mengangguk setuju walaupun perutnya sudah berdemo ingin diisi.
“Nak, mommy—”
Jovan dan Jovin memutar kepala dengan cepat. Senyum keduanya merekah. Tanpa basa-basi, mereka turun dari kursi dan berlari dengan tergesa-gesa ke arah Aqilla yang sudah merentangkan tangan. “MOMMY..!” seru Jovan dan Jovin senang.
Grep!
Ketiganya berpelukan. Rasa khawatir, gelisah, dan gundah hilang dalam sekejap dalam pelukan Aqilla, seolah hati mereka telah menemukan penawar atas rasa tidak nyaman yang mendera. Wanita itu tertawa bahagia merasakan kehangatan yang ia rindukan selama seminggu ini. Seluruh kecamuk di hatinya lenyap dalam hitungan detik.
“Assalamualaikum,” ucap Aqilla usai merenggangkan pelukan.
“Wa‘alaikumsalam, Mommy,” sahut si kembar kompak.
“Wa‘alaikumsalam,” jawab Reva turut mendekat. Aqilla pun menyalami wanita paruh baya itu dengan takzim, kebiasaannya sejak lama terhadap orang tua. “Kamu baik-baik aja, Nak?”
“Baik, Nyonya. Putra Nyonya menyelamatkan saya di sana,” tutur Aqilla sopan.
__ADS_1
“Syukurlah kalo semua baik-baik aja sekarang.” Reva menghembuskan napas lega. Belenggu kecemasan di relung hatinya berangsur memudar. “Ray mana, Nak?” Ia celingukan mencari sang putra yang belum menampakkan diri.
“Ray di sini, Mi.” Tiba-tiba yang dibicarakan muncul. Rayhan segera menyalami Reva, kebiasaan yang ia tiru dari Aqilla.
“Daddy nggak pa pa, kan?” tanya Jovin seraya memutari tubuh Rayhan, memeriksa jika ada goresan luka ataupun memar akibat perkelahian. Gadis kecil itu mengelus dada lega usai memastikan tidak ada luka pada tubuh sang daddy. “Gendong,” pintanya manja dengan tangan terulur.
Lantas Rayhan meraih tubuh mungil putrinya, menggendongnya dengan kegemasan meningkat. Jovin kian bertambah lucu saja di matanya. Rayhan mengecup pipi Jovin berulang kali di kedua sisi hingga gadis itu terkikik geli.
Sementara Jovan tidak peduli. Ia fokus menyorot mommy-nya, mencari something yang disembunyikan dari binar mata Aqilla. “Mommy luka-luka nggak?”
“No, Boy. Mommy nggak luka, cuma.. terkilir aja,” jawab Aqilla jujur. Toh, untuk apa berdusta, iya, kan? Pada akhirnya nanti pun akan ketahuan pula. Cara jalan Aqilla, kan, terlihat sedikit pincang.
“Terkilir? Kok, bisa?” seru Jovan tak percaya.
“Mommy-mu, Son, dia nggak hati-hati di kamar mandi, terus kepeleset, deh. Kakinya terkilir jadinya.” Bukan Aqilla yang menjawab. Tetapi, Rayhan. Lelaki itu menatap Aqilla penuh arti. Di otaknya ada satu rencana terakhir untuk dirinya melancarkan niat mempersunting Aqilla.
Huh, kayaknya Aqilla nggak mempan dikasih banyak kode sekalipun. Semoga rencana ini bisa berhasil..
“Terus, udah diobatin, Mom?” tanya Jovin yang masih setia di gendongan Rayhan.
“Udah, daddy kalian bantu Mommy pijit kaki Mommy.”
Jovan memiringkan kepalanya. “Oh, yang Mommy lagi ‘aahh.. ah ah..’ di telepon, kan?”
Aqilla tersenyum malu-malu dengan pipi bersemu mendengar pertanyaan tersebut. Reva dan Rayhan sampai ikut merasa gemas dengan tingkah wanita beranak dua ini. Beruntung si kembar masih sangat polos, otak mereka belum tercemari dengan kasus-kasus berbau dewasa semacam ini.
“Lupain aja suara Mommy yang itu, Boy,” kata Aqilla serius.
“Lho? Kenapa, Mom?” tanya Jovan bingung.
“Waktu itu mulut Mommy lagi khilaf, makanya jadi kayak gitu. Mulut Mommy bersoda banget, kan?”
“Bikin capek aja bisanya,” gerutu Aqilla sebal.
__ADS_1
^^^To be continue...^^^