I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 30 | Bertemu Jessie


__ADS_3

“Kenapa kamu diem aja, sih? Aku jatuh, lho, kok, nggak diban—” Gadis itu terdiam ketika melihat paras Aqilla, paras yang ia rindukan selama tujuh tahun ini.


“Kak Qilla!” pekik gadis itu sumringah.


Aqilla memaksakan senyumnya mengembang, padahal ia sedang berteriak kesal di dalam hati. Kenapa, sih, harus ketemu Nona Jessie di sini, woy?!


Yap, itu Jessie, adiknya Tuan Muda Rayhan. Gadis itu segera berdiri tanpa bantuan. Lalu, memeluk Aqilla kencang sambil bersorak antusias. Dia rindu sekali dengan sosok di depannya ini. Lebih tepatnya, merindukan sosok calon kakak iparnya.


“Kak Qilla ada di Indonesia? Bukannya ada di Kanada, ya?” tanya Jessie. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Aqilla di Indonesia. Hanya saja, gadis itu tak enak hati dengan Aqilla jika sampai wanita itu tahu kalau keluarganya berusaha mencari pribadinya selama ini.


“Iya, udah dari beberapa hari yang lalu, kok,” jawab Aqilla seadanya.


Tatapan Jessie menurun, bergantian menyorot lima kantung plastik besar yang ada di tangan Aqilla. Diintip saja, ia bisa tahu kalau isinya adalah kebutuhan sehari-hari. “Ini banyak banget, Kak. Pasti berat, ya?” cetus Jessie iba.


Tanpa menanti balasan lagi, gadis itu memanggil pengawal pribadinya. Dua orang pria berbadan tegap hadir entah dari mana, mereka membungkuk sopan kepada Jessie. Dua orang itu merupakan utusan papi Jessie untuk menjaganya, ke mana pun dia pergi pasti kedua pria itu diwajibkan ikut serta.


Mereka juga termasuk ke dalam jajaran orang hebat di Pasukan The Refyls, pasukan khusus yang dilatih untuk melindungi anggota keluarga Refalino.


“Biar mereka yang bawakan, Kak. Kasian Kakak susah-susah ngangkatnya,” pinta Jessie memelas.


Aqilla awalnya menolak. Namun, di akhir perdebatan, wanita itu memilih mengalah. Jessie terlihat sangat tidak suka dibantah. Jadi, ia pun menyerahkan belanjaannya pada kedua pria itu sambil mengucapkan, “Terima kasih, ya.”


Aqilla memimpin jalan menuju mobilnya. Setelah memasukkan semua belanjaannya ke dalam mobil, Jessie langsung menarik Aqilla untuk pergi bersamanya. Pasrah, itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasi Aqilla saat ini.


Wanita dengan dua anak itu dibawa ke salah satu food court yang tersedia di mall. Sepanjang detik berlalu, Jessie terus berceloteh ria, membicarakan banyak hal hingga Aqilla jengah lama-lama. Tiba di satu topik, barulah Aqilla merasa tertarik.


“Tuan muda mencari saya sampai seperti itu, Nona?” ucap Aqilla tak percaya.


Jessie mengangguk. Ia menjelaskan bagaimana upaya Rayhan untuk menemukan Aqilla yang hilang bak ditelan bumi. Walaupun Rayhan melakukannya diam-diam, itu sama sekali tidak menghalangi Robert untuk mengetahui segalanya.


Aku tau kalo tuan muda cari aku, tapi aku nggak nyangka kalo sampai sekeras ini. Padahal, aku udah bilang untuk nggak nyari, eh, tetep dicari.


Entah siapa yang harus disalahkan, keduanya memiliki porsi keluputan masing-masing. Aqilla yang tidak ingin membuat Rayhan tercebur masalah, memilih untuk menghindar. Sedangkan Rayhan yang hanyut dalam rasa bersalah juga tanggung jawabnya, memilih untuk mendekat.


Jika terus begini, titik temu keduanya sepertinya masih butuh beberapa proses.


“Oh, ya, Kak, Kak Qilla udah nikah belum?” tanya Jessie penuh harap. Iya, dia berharap Aqilla ini janda. Nggak masalah, kok, janda punya anak, Jessie tetap ingin Aqilla jadi kakak iparnya.


Aqilla tersenyum penuh arti. “Saya tidak punya suami, Nona,” jawabnya.


Yang Aqilla maksud, ia tidak pernah menikah sehingga tidak memiliki suami. Sayangnya, yang otak Jessie tangkap malah sebaliknya. Gadis itu mengira bahwa suami Aqilla sudah tiada. Mati-matian Jessie menahan senyumnya agar tidak merekah, masa iya dia kelihatan bahagia di atas penderitaan orang lain? Nanti calon kakak iparnya ini ilfeel sama dia gimana?


Yes! Kak Qilla beneran janda! Doa mami terkabul, hahaha..


“Ah, maaf, ya, Kak. Jessie udah ngingetin Kakak. Turut berduka cita, ya,” balas Jessie sendu dengan raut sesedih mungkin.


Aqilla mengernyitkan dahinya. Hah? Ngingetin apa? Kok, pake duka cita segala?


Drrtt drrtt...


Aqilla mengambil ponselnya dari tas selempang, menilik siapa si penelepon. Senyum wanita itu sedikit mengembang mengetahui bahwa putranya yang menghubungi. “Sebentar, ya, Nona, saya angkat telepon dulu.”


“Dari siapa, Kak?”

__ADS_1


“E.. anak saya.” Aqilla sedikit menjauh tanpa ingin melihat reaksi Jessie. “Assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam. Mommy, Mommy di mana?” tanya Jovan dari seberang.


“Mommy lagi belanja, kenapa?”


“Kami udah mau pulang, Mom.”


“He? Cepet banget?” heran Aqilla.


“Gurunya ada acara mendadak, katanya, sih, mau rapat,” jelas Jovan.


Aqilla manggut-manggut. “Oke, Mommy otw ke sana, Ganteng,” godanya.


Jovan terkekeh. “Terima kasih pujiannya, Yang Mulia. Pangeran sangat sadar diri kalau ananda memang tampan.”


Tawa Aqilla pecah. Jessie yang memperhatikan jadi penasaran sendiri. Kenapa kakak iparnya tertawa ketika menelepon anaknya?


“Tungguin Mommy, oke.” Aqilla berjalan balik ke mejanya, ia tersenyum sekilas pada Jessie. “Inget, jangan ikut siapa pun, tungguin Mommy. Jaga adikmu.”


“Iya, Bawel. Assalamualaikum!”


Tut tut...


Aqilla berdecak. Ia menaruh balik ponselnya ke dalam tas. Maniknya menyorot penuh sesal ke arah Jessie. “Maaf, Nona, saya harus menjemput anak saya. Jadi, saya harus permisi.”


Jessie mengangguk mengerti. “Anak Kakak.. cowok?”


“Ah..” Akhirnya, pertanyaan memuyengkan beberapa hari lalu terjawab. Anak Aqilla memang benar ada dua karena mereka kembar. “Kak, minta nomor teleponnya dong.” Jessie menyodorkan ponselnya pada Aqilla.


Aqilla pun menuliskan nomornya di ponsel Jessie. Gadis itu sumringah melihat rangkaian angka yang tertera di layarnya.


“Hati-hati, ya, Kak,” pinta Jessie sebelum Aqilla benar-benar pergi.


“Iya, Nona, terima kasih. Anda juga hati-hati. Saya permisi, assalamualaikum.”


Jessie tertegun sejenak. Telinganya sangat jarang mendengar kata salam seperti itu. Namun, tak lama, bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


Wa’alaikumsalam, Kakak Ipar.


...👑👑👑...


Aqilla sampai di sekolah internasional percabangan Indonesia, tempat anaknya menimba ilmu. Ia bisa melihat kedua anaknya sudah menanti di dekat pot satpam. Perangai mereka yang ceria tentu saja membuat orang-orang di sekitar mereka jadi cepat suka. Kedua bocah itu tampak asyik berceloteh dengan satpam yang ada.


“Hei, Twins,” panggil Aqilla yang mengalihkan atensi Jovan dan Jovin.


Jovin tersenyum lebar. “Mommy!” Ia berlari dan menerjang kaki Aqilla sampai wanita itu sedikit terhuyung karena tidak siap. Jovan yang tidak mau kalah ikut memeluk sebelah kaki Aqilla yang lain.


“Udah lama nunggunya?” tanya Aqilla seraya menyamakan tingginya dengan si kembar.


“Sekitar lima menitan, kok, Mom,” jawab Jovan jujur.


Aqilla manggut-manggut. Ia berdiri dan menatap satpam yang tadinya berbicara dengan anak-anaknya. “Terima kasih, ya, Pak, sudah mau menemani anak saya,” katanya berbasa-basi.

__ADS_1


Pak satpam itu mengangguk dengan raut ramahnya. “Tidak apa-apa, Mbak. Anak Mbak lucu banget, makanya saya juga suka.”


“Lihat, kan, Mom, pesona kegemasan Jovin emang sekuat itu.” Jovin membusungkan dada dengan bangga.


Aqilla dan Jovan saling bersitatap, lalu sama-sama menghela napas berat.


Biarin aja, Mom, yang penting dia seneng—batin Jovan.


Ya, ya, ya, walaupun agak kesel dengernya, ya udah, deh—batin Aqilla.


...👑👑👑...


Sementara itu, di Mansion Refalino, Jessie pulang ketika hari menjelang malam. Selepas pertemuannya dengan Aqilla, gadis itu pergi ke rumah temannya untuk berkumpul lebih dulu.


“Mami!” teriak Jessie riang. Ia berlari ke arah ruang tamu, di sana ada Robert, Reva, dan Rayhan yang berkumpul.


“Jessie, ngapain pake teriak-teriak segala, sih? Kayak jaraknya jauh aja,” heran Reva.


Jessie cengengesan. Ia beralih menatap kakaknya yang duduk manis di sofa dengan laptop di pangkuan. “Tumben, Kak, udah pulang?”


“Lagi males di kantor,” jawab Rayhan asal.


Jessie tidak peduli lagi. Dia cuma mau memberitahukan berita yang didapat saja. “Mi, tadi Jessie ketemu Kak Aqilla, lho,” katanya.


“Oh, ya?” Reva langsung berbinar. “Di mana?”


“Di mall. Tadi Jessie nggak sengaja tabrakan sama Kak Qilla,” cerita Jessie mendudukkan dirinya di samping maminya. “Terus Jessie juga ngajak Kak Qilla ngobrol.”


Dua pria yang bertugas menemani Jessie hari itu terlihat saling melempar pandangan. Bukannya tadi Nona Jessie yang maksa buat ngobrol, ya?


“Terus?” desak Rayhan ingin tahu.


“Kak Aqilla punya dua anak, Kak, katanya kembar identik.”


Rayhan tersenyum kecil. “Terus apa lagi?”


“Kak Aqilla udah menikah, tapi...” Jessie menggantung kalimatnya, sengaja agar keluarganya penasaran. “Suaminya udah meninggal!” sambungnya girang.


Mata Reva membulat, senyum wanita itu mengembang lebar sekali. “Beneran?” pekiknya tak percaya.


“Serius kamu, Dek?” Rayhan ikutan sumringah.


Hei, ini anak orang meninggal, lho, kenapa mereka malah seneng?


“Iya, Kak, Mami! Tadi Kak Aqilla sendiri yang ngaku!” kata Jessie meyakinkan.


“ALHAMDULILLAH, YA ALLAH. CALON MENANTUKU UDAH DATANG DARI SAMUDRA SEBERANG!”


“Terima kasih sudah mengabulkan permintaan saya untuk mematikan suami Aqilla, Ya Allah..”


Robert melotot kaget. “Mi! Itu anak orang, heh!”


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2