
“Ekhem.. Rayhan?”
Rayhan, Jovan, dan Jovin menoleh bersamaan. Ketiganya menatap ke satu arah, kepada seorang wanita yang baru saja memanggil nama daddy si kembar.
Rayhan terkejut melihat sosok wanita yang dikenalnya. “Chelsea?” pekiknya tak menyangka.
Chelsea tersenyum mengetahui Rayhan tidak melupakannya. Ia melangkah ke depan dua kali hingga berada tepat di hadapan lelaki itu. “Lama nggak ketemu, ya, Ray,” sapanya ramah.
Rayhan tidak membalas. Tujuh tahun lebih berpisah, lalu tiba-tiba dipertemukan seperti ini membuat dirinya agak syok. Terlebih lagi otaknya secara otomatis memutar kenangannya bersama Chelsea di masa silam—yang berakhir tidak baik tentunya.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Rayhan penuh selidik. Dia tidak lupa jika posisinya saat ini berada di pekarangan sekolah kedua anaknya. Lalu untuk apa Chelsea berada di sini? Apa jangan-jangan...
Chelsea tersenyum kecil. “Menjemput putriku,” jawabnya tenang.
Rayhan terkejut, tidak menyangka jika ternyata Chelsea sudah berkeluarga. Namun, tak urung, itu membuatnya lebih tenang. Maknanya, kehadiran Chelsea yang mendadak ini tidak akan mengganggu hubungannya dengan Aqilla di masa depan, kan?
“Mama...!” teriak seorang gadis kecil yang berlari menuju Chelsea. Dilihat dari parasnya saja semua orang pasti percaya jika Chelsea adalah ibunya. Mereka memiliki pahatan wajah yang hampir mirip.
“Oh, jadi Aunty ibunya Angel?” tanya Jovin dengan lugunya.
Chelsea tersenyum dan mengangguk. “Iya, Aunty mamanya Angel. Nama kamu siapa, Cantik?”
Jovin tersenyum lebar, dia selalu suka jika dipuji cantik begitu. “Nama aku Jovinka, Aunty.”
“Nama yang bagus,” puji Chelsea. Ia beralih memfokuskan diri kepada Angel yang telah tiba di hadapannya. Gadis kecil yang tahun ini masuk kelas 1 sekolah dasar itu berceloteh panjang lebar, menceritakan semua pengalaman barunya di sekolah. Ini memang hari pertamanya masuk di sini.
Sementara Jovan hanya memperhatikan. Melihat interaksi Rayhan dan Chelsea, sepertinya ada sesuatu di antara mereka. Jadi, sebelum memastikan bahwa wanita di depannya ini ‘bersih’, Jovan akan tetap bersiap siaga.
“Daddy, ayo pergi. Jovan lapar.” Jovan menepuk perutnya dengan bibir mengerucut. Hei, percayalah, itu bukan alasan yang dibuat-buat. Cacing di perut Jovan memang sudah bergemuruh sejak tadi.
Rayhan tertawa. Ia pun mengiyakan permintaan sang putra. “Aku duluan, Chel,” pamit Rayhan beramah-tamah. Selama Chelsea tidak mengusik ketenangannya, lelaki itu pun akan bersikap baik dan sewajarnya. Namun, jika sebaliknya, jangan salahkan Rayhan akan bertindak di luar nalar.
Chelsea mengangguk. “Iya, hati-hati di jalan. Em.. salam untuk istrimu.”
Rayhan tertegun sejenak. Lanjut mengiyakan perkataan Chelsea. Ia menggandeng tangan Jovan dan Jovin menuju mobilnya yang terparkir.
Di posisinya, Chelsea memandang Rayhan sendu. “Dia sudah bahagia ternyata,” gumamnya.
__ADS_1
Angel menarik-narik tangan Chelsea beberapa kali. “Mama, ayo pulang. Angel lapar,” rengek gadis kecil itu.
Chelsea tertawa pelan. “Iya, Sayang. Kita pulang, ya.”
...👑👑👑...
“Siapa perempuan tadi, Dad?” tanya Jovan ketika mereka tengah dalam perjalanan.
Rayhan hanya bisa melirik sekilas karena dirinya sedang berkonsentrasi menyetir. “Em.. itu...” Lelaki itu ragu untuk berkata yang sejujurnya. Jika kedua anaknya mengadu pada Aqilla, bagaimana? Hubungan dirinya dengan mommy si kembar itu baru membaik akhir-akhir ini.
Kalau Aqilla mendadak membatalkan rancangan pernikahan mereka gimana dong? Masa iya Rayhan jomblo lagi?
“Mantannya Daddy, ya?” tanya Jovin dengan gaya tenangnya.
Rayhan melotot kaget. “Kamu tau dari mana, Sayang?”
“Mommy,” jawab Jovin jujur.
“Kapan mommy kasih tau, Sayang?”
Mengalirlah cerita dari mulut Jovin. Gadis kecil itu mengatakan bahwa sebelum mereka ke Indonesia, Aqilla sudah mengatakan segalanya mengenai Rayhan, termasuk mengenai siapa saja yang tengah dan pernah berhubungan dengan Rayhan. Nama Chelsea adalah satu dari sekian banyak nama yang Aqilla sebutkan.
Mendengar penuturan adiknya, Jovan akhirnya mengingat kalimat mommy-nya dulu. Sebelumnya, dirinya fokus mengamati interaksi antara Rayhan dan Chelsea sampai tidak mendengar nama wanita itu dengan jelas.
Rayhan menghela napas berat. “Apa kalian akan ceritain ini ke mommy?”
Jovin dan Jovan kompak mengangguk. “Iya, mommy, kan, berhak tau.”
“Kalo mommy nggak dikasih tau, mommy pasti sakit hati,” tambah Jovin sendu.
“Iya, Daddy. Mommy bilang, kalo mau jalin hubungan, yang pertama itu harus saling percaya. Kalo Daddy aja nggak percaya sama mommy, gimana mommy mau percaya sama Daddy?” sambung Jovan.
Jleb!
Kata-kata Jovanka sukses menikam hati Rayhan hingga ke relung terdalam. Kalimat itu benar-benar menamparnya. Rayhan tersenyum kikuk. “Biar Daddy aja yang ngomong, Twins. Daddy yang akan jelasin sendiri, oke?”
“Oke, Daddy.”
__ADS_1
...👑👑👑...
“Kabar apa yang kamu bawa, Arjun?”
Sang asisten dengan panggilan Arjun itu menundukkan kepala terhadap majikannya. “Tuan Muda, Tuan Rayhan baru saja menjemput Tuan Jovan dan Nona Jovin dari sekolah. Lalu, mereka makan siang bersama di restoran steak,” lapor Arjun sesuai informasi yang didapatnya hari ini.
Lelaki itu terdiam. Pikirannya berkecamuk. Sesaat kemudian, ia menghela napas berat. “Di mana Aqilla?”
“Nona Aqilla sedang menjalani misi penangkapan para kloning yang telah disebar di beberapa negara. Menurut informasi, saat ini Nona Aqilla berada di salah satu kota di London.”
“Apa lagi?”
“Dari apa yang anak buah saya sampaikan, Tuan Rayhan telah melamar Nona Aqilla, Tuan Muda,” lapor Arjun hati-hati.
Seketika kedua tangan lelaki itu mengepal di penyangga kursi kebesarannya. Wajahnya tampak geram, tidak terima lebih tepatnya. “Apa Aqilla menerima lamaran itu?” tanyanya dingin.
Arjun mengangguk. “Benar, Tuan Muda. Nona Aqilla menerima Tuan Rayhan dua hari yang lalu.”
BRAAK!!
“BRENGSEK!” maki lelaki itu murka. Parasnya memerah karena menahan amarah. Rasa-rasanya kepalanya akan berasap jika amukan ini tidak dilampiaskan.
Teriakan sang majikan menggelegar di penjuru ruangan. Namun, Arjun bergeming di posisi. Ia sudah terbiasa menghadapi emosi tuannya ini. Arjun tahu, lelaki di hadapannya ini tidak akan bisa marah lebih dari sepuluh menit. Cukup ditunggu saja.
“Tuan butuh air? Akan saya ambilkan,” tanya Arjun berinisiatif.
Sosok yang dipanggil tuan itu tampak memijat kepalanya yang mendadak pening. “Tidak perlu, pergilah. Maaf, aku marah-marah di depanmu.”
“Tidak apa, Tuan Kenzie. Saya mengerti bahwa Anda emosi mendengar laporan saya,” kata Arjun dengan hormat.
Lelaki itu bernama Kenzie. Ia mendesis sejenak, berpikir cara terbaik untuknya memberi pelajaran kepada Aqilla, wanita yang sudah mempermainkan kata-katanya sendiri. “Katakan padaku jika Aqilla sudah kembali nanti. Untuk saat ini, kita tidak akan melakukan apa pun sampai Aqilla kembali.”
“Baik, Tuan Muda.”
“Cukup awasi si brengsek itu saja.”
“Baik, Tuan Muda. Perintah Anda saya terima.”
__ADS_1
^^^To be continue...^^^