I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 32 | Calon Menantu?!


__ADS_3

“Lho? Aunty mau ke mana? Kok, rapi banget?” heran Jovin yang melihat Ely sudah siap dengan setelan khas IAF-nya di pagi hari. Jovan yang duduk tepat di sebelah Jovin ikut merasa pelik.


Walaupun begitu, kedua bocah itu diam-diam mengagumi setelan milik Ely. Pakaian perwira khas berwarna putih itu benar-benar memukau. Hanya saja, Ely tidak memakai jubah seperti Aqilla.


Bukannya menjawab, Ely malah menatap Aqilla sinis, si biang kerok penghancur hari liburnya. “Tanya aja sama mommy kalian tuh,” kesalnya.


Merasa disebut, Aqilla memasang raut sepolos mungkin, menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah dalam kasus pertuduhan ini. Si kembar yang melihat pertengkaran setengah serius setengah santai ini dibuat bingung, mereka berusaha menerka-nerka pemikiran Aqilla yang kadang tidak termasuk ke dalam daftar logika.


Otak Aqilla itu memang genius bukan main. Sayangnya aja, kejailan yang wanita itu punya seolah menutupi seluruh kepintaran yang bersemayam. Percayalah, benak Aqilla adalah something yang paling sulit ditebak.


“Ada apa, sih, Mom?” tanya Jovan ingin tahu.


“Mommy cuma minta aunty kalian kerja, Boy. Mommy dapat kabar kalo ada masalah di perbatasan Jawa. Jadi, sebagai warga negara yang baik dan berbudi pekerti luhur, kita harus bantu-bantu, kan? Makanya, Mommy kirim aunty kalian!” jelas Aqilla.


Jika Ely mendengkus tak terima, si kembar malah manggut-manggut setuju. Anggap saja sekeluarga itu sedang membalas dendam. Salahnya sendiri liburan tidak ajak-ajak, kan? Udah gitu lama banget lagi.


“Biarin aja aunty kalian, Twins. Dia udah gede, bisa jaga diri. Kita berangkat?” kata Aqilla santai.


Jovan dan Jovin mengangguk kuat. “Let’s go, Mommy!”


“AQILLA!! TERUS AKU GIMANA?!” teriak Ely dari ruang makan.


“AKU NGGAK MAU PERGI KE PERBATASAN, HUAA!!”


...👑👑👑...


Aqilla melambaikan tangannya, mengantar kepergian si kembar dengan ceria. Kedua bocah itu ikut melambai-lambai sebelum masuk ke dalam pekarangan sekolah. Bukan hanya Aqilla yang berada di sana, kok, ada banyak orang tua yang mengantar anak mereka.


Dan, sialnya, hampir semuanya adalah lelaki.


Aqilla menghela napas singkat, mengurangi rasa bersalah yang kembali menyelusup ke sudut hatinya. “Oke, rileks..” Mengembangkan senyum. “Kita ke mall sekarang,” gumam Aqilla yang kembali ke posisi di balik kemudi.


Hei, sebentar!


Kalau kalian berpikir Aqilla ingin bersenang-senang, maka buang jauh-jauh spekulasi itu. Aqilla ini bukan tipe wanita yang suka menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang kurang berguna. Lagian uang yang dia punya itu terlampau banyak, susah kalau dihabiskan dalam sekejap.


Tiba di mall, Aqilla langsung masuk ke dalam bangunan usai memarkirkan mobilnya.


Hm, bicara soal mall, ini adalah mall yang selalu Aqilla kunjungi—entah untuk bermain atau berbelanja bahan makanan. Dan, faktanya, bangunan tinggi nan elok ini adalah salah satu properti milik RH Group.


Wah, ternyata si kembar itu udah sekaya ini, ya. Sepertinya, Aqilla tidak perlu merisaukan masa depan Jovan dan Jovin kelak, deh. Semua kekayaan ini pasti diwariskan untuk si kembar bermata ungu itu, kan?

__ADS_1


Iya dong, mereka, kan, keturunan terakhir keluarga Refalino.


Aqilla bergegas menuju bagian tecno mall, stan khusus berisikan alat-alat berbau teknologi, seperti laptop, komputer, ponsel, ataupun pernak-pernik lainnya. Niat wanita itu ke sana untuk membeli laptop keluaran terbaru—yang katanya memiliki fitur keren yang belum pernah ada.


“Selamat datang di stan tecno, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” sambut pekerja stan ramah.


Aqilla balas tersenyum. “Saya dengar ada laptop keluaran terbaru dari perusahaan AK Tech. Saya ingin melihatnya, Mbak,” pintanya sopan.


“Ah, laptop itu. Mari, Nona, ikuti saya.” Pekerja itu menuntun Aqilla ke etalase kaca lainnya, tempat laptop yang Aqilla maksud dipajang. “Apa benar laptop ini?” Menunjuk laptop silver yang dipajang.


Aqilla mengangguk. Adegan tanya jawab pun berlangsung. Aqilla menanyakan semua rasa penasaran yang hinggap di kepalanya. Dengan begitu sabar, si pekerja itu menjawab satu per satu. Bahkan, menjelaskan keunggulan laptop yang diminati pelanggannya ini.


“Baiklah, saya ingin beli dua,” kata Aqilla pada akhirnya.


“D–dua, Nona?”


“Iya. Yang satu untuk saya, satunya untuk anak saya.”


“Baik, Nona. Mari kita urus dulu pembayarannya.” Lagi-lagi Aqilla dibawa ke kasir. Untungnya Aqilla menurut saja, tidak membantah karena tidak mau memperpanjang prosedur.


Selepas mendengar nominal harga yang tercetus, Aqilla memilih untuk mengeluarkan kartu kreditnya—walaupun sebenarnya ia sangat terpaksa. Pasalnya, uang cash yang dia siapkan kurang beberapa lembar. Jadi.. ya sudahlah.


Mata para pekerja yang melihat kartu kredit Aqilla melotot seketika. Itu bukan black card, guys! Tapi, gold card! Kartu dengan uang tanpa batas yang katanya berlaku di semua negara!


Begitulah isi otak para pekerja yang ada.


“Mbak? Kok, diam aja? Apa di sini nggak bisa pake kartu ini?” tanya Aqilla menyadarkan petugas kasir yang sedari tadi melongo.


“A–ah, tidak, Nona. Maksud saya, bisa, kok. Maafkan saya.” Penjaga kasir itu segera melakukan proses transaksi. Satu kali gesek, semua nota terbayar lunas!


“Apa bisa saya minta diantar ke alamat ini, Mbak?” Aqilla mengulurkan secarik kertas kecil berisikan alamat rumahnya. Pekerja tadi segera mengiyakan dengan senyum lebarnya.


Wah, pasti dapet bonus dari bos, nih!


...👑👑👑...


Membeli laptop baru, check!


Aqilla melirik arlojinya, jam pulang si kembar masih lumayan lama. “Makan dulu kali, ya?” lirihnya.


Merasa itu keputusan yang terbaik, Aqilla membelokkan arah ayunan kakinya ke salah satu food court yang ada di dalam mall. Ia terlalu malas untuk menyetir keluar mall.

__ADS_1


See? Wanita ini sebenarnya males banget. Dia cuma beruntung karena dapet otak yang cemerlang.


Mungkin dulu waktu pembagian otak, Aqilla udah ngantre subuh-subuh. Makanya, dia dapet yang paling gede, wkwkwk.


Pilihan Aqilla jatuh pada cafe yang menjual makanan dan minuman kekinian. Ketika ia masuk, dahinya mengernyit melihat sosok yang familiar. “Nyonya besar?” gumam Aqilla.


Di meja sana, beberapa wanita dan anak kecil berkumpul bersama. Salah satunya adalah Reva yang jika diperhatikan lebih lanjut, wanita paruh baya itu terus bungkam. Padahal, wanita yang lain terus mengoceh.


Nyonya Besar kenapa, ya?


Karena penasaran, Aqilla duduk di kursi yang jaraknya lumayan dekat. Jadi, dia bisa dengar semuanya.


Ini, nih, sifat Aqilla yang selalu membuat wanita itu terjun ke dalam masalah. Kepoan.


“Iya, Jeng. Menantuku lagi hamil,” ucap wanita 1 seraya mengusap perut wanita yang duduk di sampingnya—kayaknya, sih, dia itu menantunya.


“Ya ampun, selamat, Jeng. Ini anak pertama, ya?”


“Iya, anak pertama, cucu pertama saya,” jawab wanita 1 bangga. Lantas ia beralih menatap Reva. “Jeng Reva tidak bawa menantu?” tanyanya. Nada suaranya memang biasa saja, tapi sorot matanya tampak sekali tengah mengejek.


Gila, ini perkumpulan macam apa?—batin Aqilla.


Reva mengukir senyum paksa. “Ah, itu.. mungkin nanti saya ajak ke sini,” katanya berdusta. Padahal, calonnya saja tidak ada.


“Wah, tuan muda sudah mau menikah? Kapan?”


“Em..” Reva bingung ingin menjawab apa.


Aqilla yang dari tadi mendengar jadi kasihan. Nyonya besar pasti sering diejek begini. Ini salahku karena misahin mereka dari Twins.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Aqilla bangkit dan menghampiri Reva. “Wah, Nyonya Besar? Anda di sini?” ucap Aqilla dengan senyum cerahnya.


Reva terkejut melihat kedatangan Aqilla yang tiba-tiba. Namun, tak lama, wanita itu tersenyum. Ia berdiri menghadap Aqilla. “Kamu.. Aqilla?”


Aqilla mengangguk. Ia meraih tangan Reva dan menyalaminya dengan hormat. “Assalamualaikum, Nyonya.”


Entah kenapa, mendengar pelafalan salam yang begitu indah di telinga membuat Reva terharu. Ia mengusap pipi Aqilla dan menatap mata violetnya yang berbinar tenang.


Reva berbalik menghadap teman-temannya. “Kenalkan, Jeng, ini Aqilla, calon menantuku,” ucapnya bangga.


Bukan cuma teman-teman Reva yang terkejut, tapi Aqilla juga. Ia sampai melotot tak percaya.

__ADS_1


Lho?? Kok gini, sih? Kenapa jadi calon menantu?!!


^^^To be continue...^^^


__ADS_2