
“Jovin mau ikut, boleh?”
Rayhan menaikkan kedua alisnya, sedikit tidak menyangka sang putri akan meminta hal tersebut. Ini pertama kalinya Jovin mengutarakan keinginan semacam itu. Sebelumnya, Jovin akan memilih di mansion, bermain dengan Reva juga Robert dengan mainan yang dibelikan oleh sepasang suami-istri itu.
Tahu tidak bagian kerennya apa?
Kerennya tuh, Jovan yang katanya tidak suka mainan jadi ikut-ikutan happy bermain pesawat remote kontrol jarak jauh. Jovan bersorak kencang setiap melihat mainan pesawatnya terbang ke langit sesuai arahan.
Lucu, sumpah.
“Yakin mau ikut? Daddy ada meeting hari ini, nanti kamu bosan.” Rayhan sengaja mengatakannya. Bukan karena tidak ingin mengajak Jovin ke perusahaan, ia hanya tidak mau putri tercintanya jenuh di sana.
Jovin buru-buru menggeleng cepat. “Jovin nggak bosan, Daddy. Nanti Jovin bawa mainan biar nggak bosan.”
Kalau sudah begini, bagaimana bisa Rayhan menolak? Alhasil, ia pun mengizinkan.
Jovin memekik antusias. Gadis kecil itu pamit untuk berganti pakaian dan mempersiapkan beberapa barang untuk dibawa. Beberapa daftar mainan plus jajanan sudah terderet di otak genius gadis kecil itu.
“Jovan gimana, Daddy?” Jovan mengukir senyum manis dengan mata mengerjap-ngerjap—gaya puppy eyes andalan yang biasa ia lakukan untuk meluluhkan sang mommy. Hati kecilnya berharap bahwa tindakan sedikit memalukan ini juga bisa memikat hati sang daddy.
Rayhan terkekeh menilik cara membujuk putranya yang unik dengan aksen super menggemaskan. Bahkan, Robert dan Reva pun tidak kuasa menahan tawa. Pada akhirnya, kedua anak itu ikut ke perusahaan selepas mendapat izin dari Reva.
Walaupun sebenarnya Reva tidak rela, namun ia membiarkannya saja. Jovan dan Jovin terlihat bahagia sekali. Sepertinya, mereka berhasil sedikit melupakan kesedihan pasal Aqilla. Makanya, Reva tidak tega menghancurkan senyum sejuta watt itu.
“Grandma, Grandpa, kami ke kantor daddy dulu, ya,” pinta Jovin meminta izin. Ia juga mencium punggung tangan Reva dengan takzim, kebiasaan kecil yang Aqilla tanamkan sejak lama.
Reva berlutut. “Iya, Sayang. Tapi, nanti kalau bosan, hubungi Grandma, ya? Grandma pasti langsung jemput kalian.”
Jovin menaruh tangannya di dahi, berlagak hormat ala prajurit. “Siap, Komandan!”
Reva tergelak. Pun sang suami yang sedari tadi memperhatikan.
__ADS_1
Jovan bergantian pamit. Lelaki kecil memberi kecupan di pipi Reva sebelum benar-benar pergi. Wanita itu sampai tersenyum senang. Hanya saja, ketika Jovan ingin mencium pipi Robert, lelaki kecil itu tampak ragu besar.
“Kok, Grandpa nggak dicium?” protes Robert tidak terima.
“Em..” Jovan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaan sewaktu gugup atau bingung. “Kalo laki-laki cium laki-laki, keliatan lucu, Grandpa. Jadi.. nggak usah aja, ya, hehe.” Jovan nyengir. Kemudian lari menyusul Rayhan ke dalam mobil, kabur dari Robert yang masih melongo di tempat.
Lamunan Robert buyar ketika Rayhan membunyikan klakson mobil. Pria paruh baya itu menghela napas panjang memirsa mobil itu telah keluar dari pekarangan. Tidak salah juga, sih, penuturan cucunya. Tapi, kan, konsepnya tidak begitu juga.
“Kamu emang nggak salah, Jovan. Tapi, kamu ini masih kecil. Masa cium grandpa aja harus liat gender?” gerutu Robert kesal karena tidak mendapat kecupan dari cucu tampannya.
...👑👑👑...
Mobil yang dikendarai Rayhan berhenti tepat di depan pintu utama perusahaan RH Group. Alvin yang sudah bersiap di sana segera membukakan pintu pengemudi. Rayhan pun keluar dari mobil. Lelaki itu berlari kecil mengitari mobil guna membukakan pintu untuk princess cantiknya.
“Pelan-pelan, Girl.” Rayhan benar-benar menjaga Jovin dengan baik.
Walaupun awalnya dia sulit percaya karena statusnya tiba-tiba berubah menjadi seorang ayah, sekarang Rayhan menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati. Ternyata anak adalah hadiah terindah yang Allah berikan padanya.
Situasinya benar-benar berubah 180° hanya dalam sekejap mata.
Jovan keluar dari mobil. Aura kepemimpinan terkuar dari tubuh kecilnya. Sontak para karyawan yang berjejer hendak menyambut sang presdir menundukkan kepala, tidak berani menatap Jovan yang wibawanya hampir sama seperti Rayhan.
“Selamat datang, Tuan Muda, Tuan Kecil, Nona Kecil,” sambut Alvin.
Jovin menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “No, no, no, nggak boleh nona kecil! Tuan putri, Om Alvin...” ralat Jovin gereget karena Alvin sering sekali melupakan panggilan itu.
“Maaf, Tuan Putri.” Alvin menundukkan kepalanya hormat penuh rasa sesal. Padahal, sebenarnya dia tersenyum dalam hati. Nona kecilnya memang sangat menggemaskan sejak pertemuan pertama perdana.
“Karena Putri Jovin baik hati dan tidak pendendam, maka kamu Putri maafkan,” ucap Jovin dengan gaya ala kerajaan yang sering ditontonnya di film princess.
Para karyawan yang mendengar sampai mengulum bibir, menahan senyum yang ingin terukir. Benar ternyata, putri bos mereka terlampau lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
Rayhan masuk ke dalam perusahaan dengan menggandeng tangan mungil Jovan dan Jovin di kedua sisi. Lelaki itu bahkan memperlambat langkah kakinya demi menyamai ayunan kaki kecil kedua anaknya. Soalnya, Rayhan terbiasa berjalan cepat dan tegap jika di kantor.
“Halo, Tante, Om.” Pokoknya semua disapa. Jovan dan Jovin tersenyum ramah kepada seluruh karyawan yang ditemuinya. Sesekali keduanya melambai untuk menambah kesan supel pada diri sendiri. Sangat-sangat sukses menarik simpatik.
Tiba di ruangan CEO, Jovan dan Jovin berdecak kagum. Interior bilik tersebut sangat keren di mata keduanya. Didominasikan warna hitam putih dan abu-abu membuat ruangan itu terkesan elegan.
Rayhan pun membawa si kembar ke ruang pribadi yang ada di. Di sana tersedia satu ranjang king size, televisi layar lebar, lemari pakaian, kulkas, dapur mini, dan kamar mandi. Sangat lengkap bukan?
Biasanya, Rayhan menggunakan tempat ini untuk beristirahat jika sedang muak menatapi berkas.
“Kalian di sini aja, ya. Daddy mau meeting dulu,” kata Rayhan lembut.
“Iya, Daddy,” jawab si kembar bersamaan.
“Kalau ada apa-apa, kalian langsung temuin Daddy di ruang rapat, oke? Nanti minta tolong sama pegawai Daddy di luar buat tunjukin ruangannya.”
“Iya, Daddy, kami mengerti.”
...👑👑👑...
Satu jam kemudian...
“Daddy, kok, lama banget, ya, Kak?” heran Jovin selepas melirik jam. Satu jam lebih Rayhan meeting, namun lelaki itu masih belum kembali. Jovin mulai suntuk.
“Ada masalah yang harus dibahas kali, makanya lama,” jawab Jovan asal. Lelaki kecil itu sibuk mengunyah snack seraya menonton televisi, tidak memedulikan sang adik yang mengerucutkan bibir hingga beberapa senti ke depan.
Jovin berdecak. Ia merebut bungkus keripik milik kakaknya dengan paksa. “Kakak!” seru Jovin kesal.
Jovan menghela napas berat. Ingat kata mommy, harus sabar. “Apa, Dek?” sahut Jovan ogah-ogahan.
Jovin tersenyum lebar. “Ayo kita susul daddy!”
__ADS_1
^^^To be continue...^^^