
Aqilla berdecak usai mendengar keseluruhan cerita Kenzie mengenai orang tua mereka yang ternyata masih bernapas di belahan bumi lain. Bahkan, Kenzie tahu lokasi akurat orang tua mereka. Tapi, lelaki itu malah tidak mengatakan apa pun kepada Aqilla.
“Kenapa Kakak baru bilang sekarang? Lala mau ketemu ayah sama bunda, Lala harus tau kenapa kita dibuang dulu,” protes Aqilla dengan perasaan tak menentu. Di satu sisi, wanita itu bahagia mengetahui jika predikat yatim piatu selama ini tidaklah benar. Namun, mengingat kehidupannya di panti asuhan membuatnya kesal mati-matian.
Kenapa Aqilla dan Kenzie bisa berada di panti asuhan Indonesia, sementara orang tua mereka ada di Seoul, Korea Selatan?
“La, jangan nyimpulin sesuatu tanpa tau kebenaran. Orang tua kita kehilangan kita, bukan ngebuang kita.” Kenzie berusaha menjelaskan dengan baik. Ia tidak mau menanamkan kebencian di hati adiknya itu.
Rayhan mengangguk setuju. Begitupun dengan Robert, Reva, Jessie, juga yang lain.
Aqilla menghembuskan napas panjang. “So, rencananya?”
Kenzie mengedikkan bahu santai. “Apa lagi emang? Ya kita susul ke sana, lah!”
“Setuju!” pekik Ely antusias. “Kita ke Korea, hahaha...”
“Kami ikut!” seru si kembar yang tiba-tiba nongol dari balik sofa. Manik Jovan dan Jovin berbinar cerah, antusias untuk menghadapi tantangan baru.
Aqilla tersenyum gemas. Ia mengacak-acak rambut putrinya dan mencubit pipi sang putra. “Oke, kita ke Korea!”
...👑👑👑...
Seoul, Korea...
Jonathan Richard Jonesa, pria paruh baya itu masih terlihat tampan sekalipun usianya hampir menginjak kepala lima. Di umurnya yang sekarang, Richard tetap menjalani tugasnya sebagai pemimpin perusahaan ** Group.
Alasannya karena pria itu tidak memiliki keturunan untuk meneruskan perusahaan yang ia dirikan.
Tidak, sebenarnya ia punya.
Dari pernikahan Richard dengan Kalina Anjani Jonesa mereka memiliki dua anak. Pria dengan ciri khas bola mata ungu itu mempunyai sepasang anak kembar bertahun-tahun dahulu. Sayangnya, karena sebuah insiden, anak mereka menghilang dan tidak pernah ditemukan.
__ADS_1
Kalina yang biasa dipanggil Lina itu sempat depresi. Butuh hampir tiga tahun bagi wanita itu untuk mengikhlaskan kedua anaknya.
Tepat lima tahun sejak peristiwa hilangnya sang anak, pihak kepolisian yang mengampu kasus mereka menemukan dua jenazah tak berbentuk di tepi sungai. Hari itu, seluruh keluarga Jonesa berduka cita atas berita tersebut. Menurut hasil otopsi, kedua jenazah itu memiliki DNA yang cocok dengan Richard maupun Lina.
Richard dan Kalina sangat terpukul mendengar hal tersebut. Mereka merasa tidak becus sebagai orang tua karena gagal menjaga anak sendiri.
“Selamat datang, Tuan,” sambut Soo-Kyun, asisten sekaligus sekretaris Richard. Soo-Kyun merupakan lelaki asli asal Korea Selatan, masih muda, kok.
“Bagaimana keadaan perusahaan, Kyun?” tanya Richard dalam bahasa Korea yang fasih. Tinggal bertahun-tahun di negara tersebut membuat pria itu paham betul budaya dan bahasa mereka.
Posisi keduanya saat ini berada di ruang Presdir milik Richard. Tubuh rapuhnya duduk bersandar di kursi kebesaran, menunjukkan wibawa yang tidak akan pernah hilang dimakan usia.
Soo-Kyun menggelengkan kepalanya. “Menurun, Tuan.”
Sontak Richard memijat pelipisnya yang berdenyut. Ini semua salahnya karena terlampau memaksakan diri. Ia sadar, dirinya sudah tidak bisa beraktivitas layaknya anak muda. Tenaga yang Richard miliki tidak sebesar itu.
“Apa pendapatmu jika aku memberi akses perusahaan ini kepada Vivian, keponakanku?” tanya Richard meminta pendapat.
“Tuan, mungkin lebih baik tidak. Saya sarankan, Anda mencari cara lain. Jika perusahaan ini jatuh ke tangan Nona Vivian, saya takut kalau...” Soo-Kyun menggigit bibir bawah ragu. Memikirkan sosok angkuh seperti Yuni memiliki akses ke dalam perusahaan sebesar ini membuat kepala Soo-Kyun pecah.
Soo-Kyun tidak mau perusahaan ini sampai hancur.
** Group merupakan perusahaan terbesar di benua Asia. Pihak mereka bergerak di berbagai bidang; industri, perhotelan, produksi kosmetik, dan macam-macam lagi. Sayangnya, akhir-akhir ini keuntungan perusahaan berangsur menurun karena kesehatan Richard sedang kurang baik.
Richard menghela napas berat. “Itu masalahnya, Kyun. Kamu tahu bukan, aku tidak memiliki anak. Umurku tidak lagi muda. Aku sudah tidak sanggup menanggung perusahaan ini lagi.” Menatap asistennya sendu. “Aku tidak tahu cara lainnya seperti apa.”
Mau tak mau, Soo-Kyun dibuat prihatin dengan kondisi majikannya ini. Ia sudah mendengar kisah masa lalu Richard melalui ayahnya. Ya, orang yang menjadi asisten Richard sebenarnya adalah ayah Soo-Kyun. Tetapi, ayah Soo-Kyun memilih mengundurkan diri karena pertambahan usia. Jadi, Soo-Kyun menggantikan beliau.
“Aku akan membicarakan ini dengan mereka,” putus Richard tidak punya pilihan lain. Ada banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya kepada perusahaan ini. Jika sampai gulung tikar, ribuan manusia akan kehilangan pekerjaan.
...👑👑👑...
__ADS_1
Malamnya...
Richard dan Kalina sepakat untuk memberi Vivian akses ke dalam ** Group. Jika itu terjadi, otomatis Yuni dan Aquino turut memiliki hak di sana.
Malam ini, seluruh keluarga Jonesa berkumpul untuk menyaksikan penandatanganan berkas kuasa. Diawali dengan makan malam bersama, mereka berusaha mencairkan suasana.
Hubungan Richard dengan Aquino sebenarnya baik-baik saja. Hanya saja, Richard kurang menyukai perangai Yuni, istri adiknya itu. Yuni sangat angkuh, selalu iri dengan apa yang Richard dan Kalina miliki. Wanita itu acap kali menyindir Kalina yang tidak memiliki anak—karena memang sejak melahirkan anak, rahim Kalina bermasalah.
“Jadi, Vivi, kamu siap buat ambil tanggung jawab ini?” tanya Richard lugas.
Vivian mengangguk dengan senyum lembutnya. Vivian Jonesa merupakan sosok gadis manis yang periang. Ia sangat polos dan sering dimanfaatkan oleh Yuni, ibunya sendiri.
“Kalau begitu, tanda tangan di sini, Sayang,” pinta Kalina menunjuk ke atas materai.
Vivian menoleh ke arah mamanya yang mengangguk senang. Gadis berusia 25 tahun itu menurut, membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Terakhir, hanya butuh tanda tangan Richard, maka semua proses selesai.
Richard hendak meraih bolpoin. Ia mengucapkan bismillah, berharap jika ini adalah keputusan terbaik untuk perusahaan. Walaupun keraguan dan ketakutan melingkupi hatinya, Richard sadar kalau dirinya tidak lagi sanggup.
Tangan Richard hampir saja menari di atas dokumen, tapi—
“TUNGGU!”
Semua orang terkejut. Mereka berdiri secara refleks, menatap bingung sosok wanita yang baru saja hadir dengan baju perwiranya.
Wanita yang baru tiba itu mengenakan jubah dengan logo IAF. Warna putihnya mengilat diterpa cahaya lampu. Keseluruhan parasnya tertutupi oleh topeng. Dengan lugas, sosok itu berkata,
“Nyonya Yuni Tamara, saya membawa surat perintah untuk menangkap Anda.”
Yuni membelalakkan matanya. “APA?!”
^^^To be continue...^^^
__ADS_1