
“Ekhemm...”
“Bagian kami kapan, sih, sebenarnya?”
Si kembar masuk dengan tangan berkacak pinggang. Bibir keduanya mengerucut ke depan, namun sepasang mata mereka berpendar bahagia. Ckckck, Aqilla sampai gemas sendiri atas tingkah anaknya ini.
“Bunda, Ayah, kenalin, ini Jovan sama Jovin, anak-anakku,” kata Aqilla memperkenalkan si kembar. Senyum Jovan dan Jovin mengembang. Keduanya berlari bersamaan menuju Aqilla.
Richard dan Kalina menatap tak percaya. Namun, menyaksikan bola mata ungu si kembar yang berbinar menggemaskan membuat sepasang suami-istri itu mengulum bibir.
Kalina berlutut di depan si kembar. “Halo, Cucu Oma yang cantik,” sapanya seraya mengusap pipi Jovin.
Jovin tersenyum malu-malu. Ia mengedip-ngedipkan mata berulang kali, lanjut menyembunyikan parasnya ke kaki Aqilla. Sangat berbeda dengan Jovan yang langsung akrab dengan Richard. Bahkan, saat ini, Jovan sudah berada dalam dekapan Richard.
Tidak lama, Alysa masuk ke dalam mansion bersama Arven dan Kia. “Papa!” seru kedua bocah tersebut menghampiri Kenzie yang berjongkok. “Udah selesai belum?” tanya Arven.
“Udah, Ar.” Kenzie mengusap kepala putranya. Sementara Kia menempel di punggung Kenzie, merangkul leher Kenzie erat.
Disusul Rayhan yang turut masuk ke dalam. Lelaki itu tersenyum kikuk seraya memperkenalkan diri sebagai calon suami Aqilla. Sebelum melangkahkan kaki ke mansion Richard ini, Rayhan menelusuri silsilah keluarga Aqilla dengan benar. Lelaki itu dibuat terperangah mengetahui identitas asli Aqilla selama ini.
Jonathan Richard Jonesa merupakan pengusaha terhebat se-Asia pada zamannya. Namanya dikenal oleh banyak pemilik perusahaan. Lalu Kalina Anjani Jonesa, ternyata wanita itu mantan anggota IAF!
Wah, tanpa disadari, ternyata Aqilla dan Kalina terhubung satu sama lain, ya. Sama-sama anggota IAF.
Selain anggota IAF, Kalina dikenal sebagai salah satu dokter genius. Ia memiliki beberapa rumah sakit yang tersebar di berbagai negara. Prestasi Kalina di bidang kesehatan banyak menuai penghargaan.
Sumpah, sih, waktu tahu ini semua, Rayhan sempat insecure. Keluarga calon mertuanya kenapa hebat-hebat, sih?
“Kamu.. calon suami Aqilla?” tanya Richard memicing curiga. “Kalian belum menikah, tapi udah punya anak. Maksudnya.. gimana?”
Glek!
Rayhan menegang di posisi. Lelaki itu duduk tegap di sofa dengan gaya kaku. Demi apa pun, situasi saat ini jauh lebih menyeramkan dibanding ketika Rayhan menghadap Kenzie untuk meminta restu. Tubuh lelaki yang menjabat sebagai daddy si kembar itu benar-benar membeku menerima sorot tajam dari Richard.
“Ayah, si kembar itu anak Lala sama Ray. Ayah bisa nebak maksudnya, kan?” sahut Aqilla santai. “Ray baik, kok. Lala sayang sama dia, jangan marah, ya.” Aqilla nampak bersandar manja di lengan Richard, berbanding terbalik dengan aura yang jubah kebanggaan keluarkan.
Richard menghela napas. Ia tersenyum dan mengangguk. Tangannya terulur mengusap kepala putrinya.
__ADS_1
Detik itu juga, Rayhan menghembuskan napas lega. Ia tersenyum senang melihat Aqilla menautkan ibu jari dengan jari telunjuk, kode kalau wanita itu memang tengah membantunya. Calon istrinya pengertian sekali, sih.
Richard, Aqilla, Kenzie, dan Rayhan duduk di ruang tamu. Sementara Kalina, Alysa, dan anak-anak pergi ke dapur, menyiapkan beberapa camilan yang diinginkan si kecil. Kepribadian Alysa yang supel dan mudah beradaptasi membuat keduanya akrab dalam sekejap.
“Jadi, kamu ke sini mau Ayah jadi wali nikah kamu?” tanya Richard usai mendengarkan keseluruhan cerita dan niat anak-anaknya. Pria itu mengulas senyum kecut. Di umur Aqilla yang ke-29, tentu sangat wajar jika wanita itu ingin menikah. Apalagi Aqilla sudah memiliki tambatan hati, pasti ingin disegerakan.
Namun, bagi Richard, entah kenapa semua terasa begitu cepat. Ini pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun berpisah. Lalu, tiba-tiba Aqilla hendak direbut darinya oleh lelaki lain. Jujur, Richard belum siap untuk itu.
Menilik paras sang ayah, Aqilla paham jika ada rasa tidak rela di binar mata Richard. Aqilla tersenyum, lantas mengeratkan pelukan dengan meletakkan dagu di bahu. “Yang namanya menikah itu bukan tentang melepas anak perempuan, Yah. Tapi, tentang bersatunya dua keluarga,” kata Aqilla.
“Keluarga Lala sama keluarga Ray akan jadi satu. Lagian, nggak ada yang namanya ‘mantan ayah’ atau ‘mantan bunda’. Lala always akan jadi putri Ayah Richard, forever,” sambung wanita itu.
Richard terkekeh. Apa semudah itu bagi Aqilla membaca air muka seseorang? Cukup satu kali lihat, wanita itu bisa menebak isi pikiran Richard.
“Iya, Ayah tau.” Richard mengecup kepala Aqilla sayang.
“Nanti kalo sampe Ray halangin Lala ketemu Ayah, biar Lala hajar!” tambah Aqilla menggebu-gebu dengan sorot berapi-api. Kedua tangannya mengepal di depan dada. Hajar di ranjang maksudnya, hehe.
Jika Rayhan merinding, insan lain malah tertawa.
“Ngomongin apa, nih? Kok Jovin nggak diajak.” Jovin datang membawa kue cokelat yang tinggal separuh di tangan. Mulut gadis kecil itu belepotan, sukses menghadirkan rasa gemas yang berlipat.
Richard terkekeh.
Tidak lama, Kia, Arven, dan Jovan datang. Sama seperti Jovin, Kia langsung menghampiri Richard. Bedanya, gadis berusia 5 tahun itu langsung duduk di pangkuan. Kia memang sudah menempel dengan opa-nya sejak pertemuan awal. Sedangkan Jovan dan Arven memilih untuk duduk sendiri. Tak urung, keduanya ikut memakan kue buatan oma mereka.
Alysa dan Kalina datang membawa nampan berisikan minuman. Malam itu, keluarga yang sempat terpisah itu merasakan momen kebersamaan untuk pertama kalinya. Suasana terasa hangat dan bersahabat.
...👑👑👑...
Keesokan paginya...
“Daddy mau pulang?” tanya Jovin cemberut. “Kenapa nggak di sini dulu? Jovin sama mommy pulangnya masih nanti, Dad.”
Rayhan tersenyum lembut. Ia berlutut, menyamakan tingginya dengan si kecil. “Daddy harus kerja, Sayang. Apalagi Daddy masih harus siapin pernikahan mommy sama Daddy juga. Nanti Daddy pesankan gaun yang Jovin mau, gimana?”
Raut kesal Jovin seketika berubah. Gadis kecil itu mengangguk antusias. “Jovin mau yang warna ungu, ya,” pintanya memelas.
__ADS_1
“Siap, Tuan Putri.”
Ya, pagi ini, Rayhan akan kembali ke Indonesia, sendirian. Selain karena ingin memberi waktu untuk Aqilla bersama keluarganya, lelaki itu harus menyiapkan kebutuhan pernikahan yang akan diselenggarakan bulan depan. Konsep dan tema pernikahan sudah dirundingkan sejak awal bersama Aqilla. Jadi, Rayhan tinggal mengurus.
“Daddy pulang dulu, ya,” pamit Rayhan pada Jovan.
Jovan mengangguk. “Hati-hati, Dad. Kalau sudah sampai, telepon kami, ya.”
“Pasti, Son.”
Usai berpamitan dengan anggota keluarga Aqilla yang lain, Rayhan pergi ke bandara seorang diri. Sebenarnya Aqilla ingin mengantar, namun Rayhan menolak. Lelaki itu menyuruh Aqilla untuk tetap di mansion, bersama keluarganya yang lain. Ia tahu, calon istrinya itu pasti ingin menghabiskan lebih banyak waktu.
“Mommy, habis ini kita jalan-jalan, ya,” pinta Jovan semangat. “Jovan mau lihat Korea!”
Aqilla berpikir sejenak. “Boleh,” jawabnya.
“Yes!” Jovan dan Jovin saling bertos ria.
“Nanti Oma ajak kalian keliling, Sayang. Nanti kita jalan-jalan ke tempat-tempat bagus di sini, oke?” sahut Kalina semangat.
Jovan dan Jovin membuat sikap hormat. “Siap, Oma!”
Tawa mereka menggema. Kebanyakan dari mereka merasa gemas dengan tingkah si kembar.
“Kia ikut, Oma,” sahut Kia mengangkat sebelah tangannya.
“Arven juga.” Arven tidak mau kalah.
“Iya, iya, nanti kita semua pergi.” Richard membuka suara.
“Sasa nggak ikut, Yah,” kata Alysa tiba-tiba. “Sasa mau ke rumah sakit habis ini.”
Kenzie menoleh cepat. “Kamu sakit? Mana yang sakit?” Kenzie panik. Lelaki itu meneliti sekujur tubuh sang istri yang geleng-geleng.
“Aku nggak sakit, Mas,” gemas Alysa.
“Lho? Terus kamu ngapain ke rumah sakit?” tanya Kenzie bingung. Rumah sakit, kan, tempat orang-orang berobat. Kalau Kenzie berpikir seperti tadi itu lumrah, kan?
__ADS_1
“Mau....”
^^^To be continue...^^^