I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 63 | Diculik


__ADS_3

Pyaaarrr...


Bruukkk!


Brakk!


“Aaaarrgghh...!!” teriak Keyla tak terima. Apa pun bentuk benda di sekitarnya dilempar hingga berserakan. Banyak pecahan kaca yang bertebaran di lantai di setiap penjuru kamar Keyla.


Ya, gadis itu kalap. Ia tidak bisa menerima fakta bahwa Rayhan telah memiliki wanitanya sendiri. Dan, itu bukan dirinya!


Padahal, kan, dirinya hanya pergi sekitar tiga tahun untuk membantu keluarganya mengurus perusahaan di Jerman. Sebelumnya, gadis itu sudah berjanji pada Reva akan kembali usai menyelesaikan perkara dan mengembangkan perusahaan.


Lalu, apa ini?


“Bangsad! Apa bagusnya, sih, cewek itu?!!” teriak Keyla bagaikan orang kesurupan. “Gue nggak terima! Rayhan punya gue! Tante Reva udah kasih restu ke gue, jadi Rayhan milik gue!! Cuma milik Keyla!”


Tatapan Keyla mengarah pada refleksi dirinya di cermin. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas, tersenyum sinis. “Lo liat aja, Aqilla Sialan, lo bakalan dapet ganjarannya karena udah ngambil Rayhan dari gue,” gumam Keyla emosi.


...👑👑👑...


Hari telah berganti. Akhir pekan usai. Si kembar pun harus kembali ke dunia persekolahan mereka.


“Hari ini kalian mau diantar siapa, Twins?” tanya Robert kala mereka tengah sarapan bersama. Kali ini personil yang hadir benar-benar lengkap. Ada Aqilla, Ely, plus Alvin yang memberi kesan kekeluargaan lebih kental.


“Mommy!” jawab si kembar bersemangat seraya menunjuk ke arah Aqilla.


Jruuuussshhh...


Aqilla yang sebelumnya tengah minum mendadak menyemburkan air di dalam mulutnya hingga mengenai Ely yang duduk di sebelahnya. Jovan dan Jovin sontak menutup mulut, terkejut sekaligus menahan tawa.


“Qilla!” pekik Ely geram. “Liat-liat dong! Aah! Jadi basah, kan?” Ia mengipas-ngipas pakaiannya yang terkena cipratan tak bermoral itu.


Aqilla cuma bisa memamerkan senyum tak berdosanya. “Iyalah jadi basah, ya kali jadi mermaid,” celetuknya semakin menambah kobaran api di hati Ely.


“AQILLA!!” teriak Ely menggema. Aqilla refleks berlari menghindari kejaran Ely. Kedua perempuan itu mengitari sofa hingga beberapa kali. Pokoknya saling kejar sampai Aqilla tertangkap atau salah satu kelelahan.

__ADS_1


Jovan dan Jovin tersenyum misterius. Bukannya berniat untuk melerai, keduanya malah bersorak di atas kursi makan. Tubuh bocah-bocah itu bergoyang ke kanan dan ke kiri. “Kejar mommy, Aunty! Ayoo..!! Aunty!!”


Robert, Reva, Rayhan, Jessie, dan Alvin cukup jadi pengamat setia. Kelimanya cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah kekanakan keempat manusia itu. Jovan dan Jovin, sih, masih dibilang wajar. Kalau Aqilla dan Ely itu.. em, kurang cocok aja.


Dasar nggak ingat umur!


“Udah, Qill, capek aku.” Napas Ely megap-megap. Gadis itu terkulai di ubin dingin dengan dada kembang-kempis selepas berlari selama 16 menit.


Aqilla tersenyum mengejek. “Cih, gitu aja ngeluh,” cibirnya.


Ely melotot. Ia sangat ingin membalas, tapi tenaganya udah terkuras duluan. Alhasil, gadis itu hanya bisa melayangkan sorot sinis kepada sang sahabat.


“Come on, Twins! Kita go to school!” seru Aqilla antusias meraih tas milik si kembar yang tergeletak di sofa.


“Ayo, Mommy!”


...👑👑👑...


Sepanjang perjalanan, si kembar berteriak heboh. Lagi dan lagi, Aqilla kebut-kebutan di jalanan walaupun jam masuk masih terbilang lama. Benar-benar bukan contoh yang baik. Jangan dicontoh, ya.


Naik kendaraan itu cukup pelan-pelan, asalkan selamat sampai tujuan.


Dahi Jovan berlipat-lipat, menandakan bahwa sang empunya tengah berpikir atau bingung. “Kok, gitu? Emang Mommy mau ke mana?”


Aqilla tersenyum lebar. “Mau bobo’ ciang di rumah.”


Seketika tatapan si kembar berubah datar. Keduanya tidak menyangka dengan jawaban yang Aqilla lontarkan. Nada bicaranya itu, lho, lugu sekali.


“Lebih penting mana, tidur atau kami?” tanya Jovin menuntut.


“Ya jelas tidur, lah!” jawab Aqilla cepat. Sedetik kemudian, wanita itu tergelak kencang ketika si kembar menyerang pinggangnya dengan gelitikan maut. “Iya, iya, ampun.. Mommy kalah. Kalian itu dunianya Mommy, puas?”


Si kembar tersenyum lebar. Mata ungu keduanya berbinar-binar.


“Sekarang kalian masuk ke dalam. Yang semangat belajarnya,” sambung Aqilla mengusap kepala si kembar lembut.

__ADS_1


“Iya, Mommy,” jawab Jovan dan Jovin bersamaan. Usai mencium tangan Aqilla, keduanya berlari kecil memasuki pekarangan sekolah dengan tangan bergandengan.


Walaupun Jovan dan Jovin memiliki keunggulan dan kekurangan yang berbeda, itu tidak membuat mereka sering bertengkar. Seringkali kedua bocah itu bekerja sama di berbagai situasi. Aqilla selalu menanamkan sejak kecil kalau keluarga itu saling mendukung dan melengkapi, bukan mendominasi dan menjunjung status.


Kalau yang ini diingat! Ajaran Aqilla emang bikin hati berdendang.


Selepas memastikan si kembar masuk, Aqilla masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya hingga berbelok di pertigaan. Sayangnya, wanita itu tak sungguh-sungguh pergi. Ia memarkirkan mobilnya di daerah tak banyak orang, lanjut melompat ke atas gedung yang berada di seberang sekolah dan bersembunyi di sana.


Sejak awal, Aqilla bisa merasakan ada sesuatu yang aneh. Insting kepolisiannya aktif dalam sekejap. Ada yang mengintai putra-putrinya dari kejauhan.


Cih, mencari masalah dengan keluargaku? Aku jamin, kalian pasti dapat balasannya.


Detik berganti menit. Menit berganti jam. Aqilla menanti dari gedung seberang sekolah anak-anaknya, mengamati setiap adegan yang terpampang. Bahkan, hingga dua jam berlalu, wanita itu masih bertahan di posisi.


Bedanya, kali ini Aqilla ditemani dengan beberapa makanan sebagai penghilang kebosanan.


“Apa cuma perasaanku aja, ya?” gumam Aqilla mulai merasa ragu.


Tak berselang lama, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang sekolah si kembar. Anak-anak sekolah yang tengah istirahat berteriak ketakutan kala orang-orang di dalam mobil keluar membawa pistol di tangan.


Sesuai firasat Aqilla, orang-orang itu menculik si kembar. Jovan dan Jovin menyerahkan diri secara sukarela. Keduanya tidak mau jika guru ataupun teman-temannya terluka nantinya. Maka dari itu, ikut tanpa protes adalah solusi sementara terbaik.


“Ckckck.. nyulik, kok, anak-anak? Kalo nantang, ya, langsung temuin aku, lah!” dumel Aqilla geleng-geleng. Ia berdiri dari duduknya, meraih semua sampah makanannya dan memasukkannya ke dalam tong sampah terdekat. “Oke, sekarang waktunya main.”


...👑👑👑...


Ruang Presdir, RH Group...


Brakk!!


“Tuan Muda! Ini gawat!” seru Alvin panik. Saking tidak sabarnya, lelaki itu langsung menerobos pintu ruang rapat, tidak mengindahkan tatapan aneh dari klien Rayhan saat ini. “Tuan kecil dan nona kecil diculik!”


Rayhan bangkit dari duduknya, tangannya mengepal di atas meja, maniknya memancarkan kemarahan yang hebat. “Apa..?” lirih Rayhan geram.


Alvin mengangguk, membenarkan informasi yang barusan ia lontarkan.

__ADS_1


“SIAPKAN ANGGOTA THE REFYLS TERBAIK KITA SEKARANG JUGA!! AKU AKAN BUNUH MEREKA SEMUA YANG INGIN MELUKAI ANAK-ANAKKU!!!”


^^^To be continue...^^^


__ADS_2