I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 89 | Maksud Kedatangan


__ADS_3

“Untuk apa kalian di sini?”


Sontak Rayhan, Reva, Robert, dan Jessie menoleh ke ambang pintu utama mansion. Di sana, sosok Kenzie dengan setelan kantornya berdiri. Maniknya menghunus tajam ke arah Rayhan sekeluarga.


“Kenzie...” lirih Rayhan.


Kenzie berjalan tegap mendekati keluarga Refalino. Otaknya yang lelah sehabis bekerja ditambah kehadiran mereka membuat pikirannya berkecamuk. Rasanya Kenzie bisa meledakkan seluruh rasa kesalnya saat ini juga.


Baru saja Kenzie ingin mengeluarkan suara, anak-anak keluar dari sebuah ruangan. Tentu secara spontan Kenzie menghentikan niatnya. Lelaki itu tidak mau jika anak-anak itu melihat sesuatu yang seharusnya tidak ditonton.


“Papa!” teriak Kia girang. Gadis kecil itu berlarian menuju Kenzie dengan kedua tangan merentang, kode ingin memeluk.


Kenzie yang semula memasang raut kebencian mendalam mendadak mengubah raut wajahnya. Ia berlutut menyambut pelukan dari putri kecilnya. Kia menerjang Kenzie hingga tubuh lelaki itu terhuyung ke belakang. Keduanya tertawa bersama.


“Papa udah pulang? Capek tidak kerjanya?” tanya Kia usai mengecup kedua pipi Kenzie bergantian. Anak kedua dari pasangan Kenzie-Alysa itu memang sangat dekat dengan sang papa. Kia memang seperhatian itu jika bersama Kenzie.


Juga yang paling posesif ketimbang dengan Alysa, istri Kenzie.


“Em.. tadi capek, sih. Tapi, habis ketemu Kia langsung hilang capeknya,” tutur Kenzie mengecup kening putri kesayangannya.


Zhakia tersenyum cerah. Ia memeluk Kenzie erat hingga lelaki itu berulah dengan menggelitiki pinggang Kia. Tawa keduanya mengudara dengan keras. Tidak ada unsur paksa, semua adegan terlaksana dengan ketulusan penuh.


Melihat interaksi antara ayah dan anak itu membuat Robert dan Reva bisa menyimpulkan sesuatu. Kenzie adalah pribadi yang lembut, mereka sangat yakin. Hanya saja, mungkin semua itu tertutupi karena rasa kecewa di hati.


Ini adalah kepribadian Kenzie yang lain. Sosok yang penyayang dan perhatian. Lembut dan cinta keluarga.


“Mas.” Alysa mendekati suaminya. Ia meraih punggung tangan Kenzie dan menciumnya. “Mau aku siapin air hangat buat mandi?”


Kenzie melirik sekilas ke arah Rayhan yang menatapnya dalam. Ia menghela napas berat. Senyumnya mengembang ketika sorot pandangnya bertemu dengan manik sang istri. “Iya, tolong, ya.”


Alysa tersenyum. Sengaja memang menawarkan untuk bersih-bersih lebih dulu. Ia ingin agar pembicaraan mereka lebih santai sekaligus ingin mendinginkan kepala Kenzie, suaminya. Alysa pun pamit ke kamar mereka dulu.

__ADS_1


Kenzie kembali berjongkok. “Kia main dulu, ya. Papa mau mandi sebentar.”


“Iya, Papa.” Kia menatap ke arah lain sejenak. “Papa, lihat! Itu Kak Jovan sama Kak Jovin, sepupu Kia!” ucap Kia antusias.


Kenzie beralih menatap si kembar yang mendadak tegang di posisi. Keduanya masih mengingat dengan jelas cerita Ely bahwa Kenzie ada niatan untuk membawa mereka pergi. Jovan maupun Jovin mana mau disuruh memilih. Keduanya ingin bersama daddy juga mommy di waktu yang sama.


“Mas, airnya udah siap. Mandi dulu sana,” pinta Alysa yang baru turun dari lantai dua.


“Iya, Sayang.” Kenzie menatap Kia. “Kamu main dulu, ya, sama sepupu kamu. Papa mandi dulu.”


“Siap, Pak Bos!” seru Kia seraya memberi hormat.


Kenzie tergelak. Setelah itu, dirinya naik ke lantai atas sendirian. Kia dan Arven mengajak si kembar bermain di ruang permainan mereka. Alhasil, hanya ada orang dewasa yang berada di ruang tamu.


“Si kembar umur berapa, sih? Udah besar banget kayaknya,” celetuk Alysa seraya duduk di sofa seperti sebelumnya.


“Em.. harusnya tahun ini 7, ya. Dua minggu lagi mereka ulang tahun, Nak,” jawab Reva dengan senyum teduhnya.


“Jarang?” ulang Robert.


Alysa mengangguk. “Aqilla, kan, jarang ngerayain ulang tahun di kembar dengan meriah. Biasanya cuma pake kue, tiup lilin, terus kado dari Aqilla sendiri. Aqilla nggak mau kalo musuh-musuhnya ngincar si kembar kalo mereka tau soal dia yang udah punya anak.”


Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie termenung. Sebenarnya, sih, mereka memang berencana menyiapkan pesta ulang tahun kejutan untuk Jovan dan Jovin. Sekalian juga mereka ingin mengenalkan si kembar sebagai pewaris keluarga Refalino.


Mereka berempat hanya syok karena baru tahu soal fakta ini.


Aku pastiin cucuku dapet pesta yang meriah tahun ini dan tahun-tahun berikutnya!—tekad Robert dalam hati.


Sembari menunggu Kenzie, mereka terlibat obrolan hangat. Saling membicarakan keluarga satu sama lain. Sesekali Jessie dan Alysa menceriakan suasana karena sifat keduanya yang periang.


Ternyata, Alysa merupakan sosok yang ceria, namun tetap anggun dan elegan jika diperhatikan lebih jauh. Wanita itu merupakan dokter psikologi. Jadi, pandangan Alysa mengenai pemikiran manusia begitu luas dari personal lainnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Kenzie turun dari lantai dua dengan raut lebih fresh. Otaknya sudah di-refresh, kembali dingin dan siap meladeni maksud kedatangan keluarga Refalino ke mansion-nya. Pakaian yang dikenakan pun nampak santai.


“Kalau begitu, kalian bicara dulu, ya. Sasa mau masak buat makan malam dulu,” pamit Alysa sewaktu Kenzie sudah tiba di ruang tamu. Sebelum pergi, wanita itu mencium pipi Kenzie cepat.


Kenzie sendiri cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah istrinya yang kadang tak terduga. Ia duduk di sofa yang sebelumnya diduduki oleh Alysa. “Ada apa kalian kemari?” tanya Kenzie to the point.


Rayhan menghirup napas dalam-dalam, mempersiapkan diri sebelum mengutarakan maksud kedatangan mereka yang tanpa konfirmasi ini. “Saya ingin bertemu dengan Anda, Tuan Kenzie.”


Ah, sial! Rayhan, kan, sudah merancang kalimat yang akan diucapkan. Seharusnya, lelaki itu menggunakan bahasa non formal agar terasa lebih santai. Namun, bibirnya malah berucap dengan formal begini.


“Ada apa?” tanya Kenzie.


“Say—”


“Kami ingin melamar Aqilla, Nak Kenzie,” potong Reva yang gemas dengan sikap putranya. Ke mana wibawa dan aura kepemimpinan Rayhan sekarang? Putranya itu malah terlihat sangat gugup dan kaku.


Kenzie tersenyum sinis. “Tidak boleh!”


Rayhan menghela napas berat. Ia tahu pada awalnya akan seperti ini. “Em.. Kak Kenzie, saya akui, saya salah. Tidak seharusnya saya melakukan tindakan tidak senonoh di luar nikah dengan adik Kak Kenzie tujuh tahun yang lalu. Tapi, jujur, Kak, waktu itu saya sudah bilang ingin bertanggung jawab. Tapi, Aqilla hilang di pagi hari.”


Rayhan menghembuskan napas panjang. “Saya mencari Aqilla ke mana-mana, tapi tidak ada hasil. Percayalah, Kak, saya sama seperti Aqilla, saya juga merasa bersalah karena, ekhem.. saya sudah merebut keperawanan wanita lain.”


“Walaupun terlambat, saya ke sini untuk melamar Aqilla, untuk bertanggung jawab, Kak,” ucap Rayhan dengan keyakinan penuh.


Kenzie terdiam. Sepasang matanya memandang Rayhan lekat. Sedetik kemudian, lelaki itu tersenyum miring. “Bertanggung jawab kamu bilang?” sinisnya.


Rayhan mengangguk tegap. “Iya, Kak.”


“Kamu....”


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2