
Aqilla menghela napas panjang. Ternyata situasi di Paraguay jauh dari perkiraannya.
Para profesor berhasil diringkus. Namun, sebagian kloning telah tersebar ke berbagai negara. Tentu itu akan menjadi kesulitan tersendiri bagi anggota IAF untuk menangkap mereka.
“Pulang aja, deh. Kepalaku pusing,” gumam Aqilla memijati pelipisnya yang pening.
Aqilla baru pulang dari markas ketika jam menunjukkan pukul 11 lebih. Jalanan saja sudah sangat sepi.
Sayangnya, perjalanan Aqilla tidak semulus keinginan. Mobilnya dihadang oleh tiga orang asing. Aqilla berdecak kesal. Ia turun, lalu menghampiri mereka. “Hei, kalia—”
Deg!
Aqilla terkejut melihat penampilan mengerikan ketiga orang itu. Wajah mereka tidak karuan, posisi mata ada yang di bawah, hidung dengan satu lubang, dan macam-macam yang sangat aneh.
Sumpah, Aqilla hampir muntah melihat ketiganya.
Jangan bilang ini kloning yang disebar itu? Jadi, mereka udah sampe ke Indonesia?
Karena tidak tahan, Aqilla menyerang mereka duluan. Pokoknya ingin segera diakhiri agar tidak ada hambatan lagi. Pertarungan pun tak dapat dielakkan.
Jika diperhatikan, pergerakan para kloning itu sebebas manusia asli. Namun, satu pukulan mereka sangat kuat. Beberapa bagian tubuh Aqilla sampai memiliki memar. Untung saja ketiganya tidak mengenakan senjata apa pun.
Butuh lebih dari 30 menit bagi Aqilla menumbangkan mereka. Pasalnya, ketiga kloning itu harus ditikam 3 kali baru mati. Ini nyawa mereka ada 3 gitu?! Woi, nggak jelas banget, heh!
Aqilla terengah-engah hebat. Wajahnya babak belur di beberapa sudut. Yakin, deh, si kembar pasti mengomel di mansion nanti. Ditambah lagi, kondisi tubuh Aqilla memang tidak sepenuhnya baik.
Kayaknya, wanita itu mendapat karma karena sudah membohongi banyak insan di IAF pagi tadi. Ingat, kan, kalau Aqilla beralasan sakit agar tidak ikut turun ke lapangan?
Senjata makan tuan ini namanya;)
Perjalanan kembali dilanjut. Aqilla sampai di mansion hampir pukul 12 malam. Wanita itu berjalan sempoyongan. Suasana mansion sangat sepi, namun lampu di ruang tamu masih menyala. Itu artinya, masih ada yang terjaga di sana.
Aqilla masuk perlahan. Di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga ini suasananya terang benderang. Di sana, di meja, ada sosok lelaki yang fokus menghadap laptop, mengetik dan membaca sesuatu.
Ray belum tidur...
Aqilla masuk lebih dalam.
“Kok baru pulang, Q—QILLA?!!” pekik Rayhan terkejut. Buru-buru ia menopang tubuh Aqilla yang hampir ambruk. “Kamu kenapa? Muka kamu kenapa lebam semua?” Terlihat jelas binar kekhawatiran di mata Rayhan. Lelaki itu kian panik merasakan tubuh wanitanya lebih tinggi dari biasanya. “Kamu demam, Qill?”
Tanpa menunggu jawaban, Rayhan membopong Aqilla menuju kamar wanita itu. Dia menurunkannya di kamar mandi, meminta Aqilla untuk berganti pakaian agar lebih nyaman beristirahat.
Untungnya, kesadaran Aqilla tidak sepenuhnya hilang. Wanita itu masih sanggup melepas jubah, dan pernak-pernik lainnya yang melekat di tubuh. Kemudian mengenakan piyama yang Rayhan siapkan.
__ADS_1
Rayhan membantu Aqilla berbaring. Sewaktu Aqilla berganti pakaian, ia sudah menyiapkan roti, obat, air minus, dan sebaskom air untuk mengompres wanita itu. “Udah makan?” tanya Rayhan.
“Belum,” jawab Aqilla lirih.
Rayhan tentu sudah menduga. Jika menyangkut pekerjaan, Aqilla sering sekali lupa dengan dirinya sendiri. Setidaknya itu yang dikatakan si kembar padanya. “Makan roti, terus minum obat, ya.”
Aqilla menurut. Ia memakan roti sodoran Rayhan dengan tidak berselera. Lanjut meminum obat yang disediakan.
Sepanjang malam, Rayhan duduk di sebelah Aqilla, menjaga wanita itu yang suhu tubuhnya kian bertambah, bukan berkurang. Ia mengompres dahi Aqilla dengan air agar suhunya lebih cepat normal.
Kenapa kamu bisa sakit gini, sih, Qill? Aku beneran khawatir, lho, ini..
Aqilla terlelap dengan mudah. Parasnya lebih pucat dari sebelumnya. Bibirnya cenderung berwarna putih, kantung matanya pun menghitam, lengkap dengan lebam di sana sini. Astaga, bagaimana bisa Rayhan tidak memerhatikan calon istrinya ini?
Tidak, tidak, tidak, aku itu sayang sama Aqilla. Aku perhatian, kok, sama dia.
“Get well soon, My Queen,” bisik Rayhan tepat di depan wajah Aqilla. Lalu...
Cup!
Satu kecupan mendarat di kening. Rayhan tersenyum tipis. Kalo lagi tidur, keliatan lucu, ya.
Pandangan Rayhan turun ke bibir. Birai yang biasanya berwarna pink itu mendadak hilang digantikan warna pucat. Rayhan menipiskan jarak dan—
Cup!
Rayhan terkekeh pelan. Aah, bibirnya kenapa manis sekali, sih?
...👑👑👑...
Mentari terbit di ufuk timur. Pagi menjelang dengan cerahnya. Cahaya terang dari luar masuk ke dalam ruangan melalui celah tirai transparan.
Sepasang mata Aqilla mengerjap beberapa kali. Kemudian terbuka secara perlahan. Hal pertama yang Aqilla rasakan adalah rasa sakit di kepalanya. Entah mungkin dirinya terlalu bekerja keras atau karena tekanan darahnya turun, Aqilla tidak tahu. Yang pasti, kepalanya sakit sekali.
Pandangan Aqilla teralihkan pada sosok di sebelahnya. Rayhan tertidur bertopang pada tangannya. Apa Ray ngurusin aku semalem?
Aqilla ingat betul jika Rayhan-lah yang membantunya semalam. Jadi, spekulasi kalau Rayhan pula yang merawatnya sepanjang malam terdengar masuk akal.
“Ray?” panggil Aqilla pelan seraya menggerakkan tangan pelan.
“Hm?” Rayhan terbangun dengan wajah bantal. Lelaki itu menatap Aqilla sayu. “Ada yang sakit?” tanyanya seraya menempelkan punggung tangannya di kening Aqilla. Hm, udah agak turun.
“Pusing, Ray,” jawab Aqilla jujur.
__ADS_1
Rayhan manggut-manggut. “Istirahat aja.” Ia tersenyum manis.
Aqilla berdeham. Senyum Rayhan sukses membuat jantungnya berdegup tidak biasanya. “Kamu jagain aku semaleman?”
“Iya, emang siapa lagi?”
“Makasih, ya.”
“Nggak gratis, Qilla.”
Aqilla menaikkan sebelah alisnya. Ia duduk bersandar menggunakan bantal yang ditumpuk. “Kamu minta bayaran?”
“Iya,” sahut Rayhan tenang.
Aqilla mendesis. Hilang sudah penilaian tambahan untuk Rayhan. Ternyata lelaki itu mengharapkan pamrih darinya. “Ya udah, kamu mau apa?”
Rayhan menunjuk ke satu arah. “Aku mau ini.”
Cup..
Aqilla terbelalak ketika Rayhan tiba-tiba mencium bibirnya. Kedua tangannya dikunci di samping kepala. Tidak hanya sekadar mengecup, lelaki itu bahkan me**mat bibirnya. Hei!
Sementara itu, di ruang makan...
“Mommy sama daddy mana, sih?” gerutu Jovin kesal karena kedua orang tuanya belum hadir. Tangannya dilipat di depan dada dengan bibir mengerucut.
“Mommy udah pulang belum, ya?” tanya Jovan entah pada siapa.
“Udah, Sayang. Mommy kamu kayaknya kecapekan, deh. Kalo daddy... mungkin udah berangkat,” sahut Reva menduga-duga.
“Kalo gitu, biar Jovan anterin makanan buat mommy, ya, Grandma,” pinta Jovan hendak meraih piring baru untuk Aqilla.
Reva mencegah Jovan dengan cepat. “Biar Grandma aja, Sayang. Kamu makan aja, nanti terlambat sekolah, lho.”
Selepas si kembar berangkat sekolah, Reva mendatangi kamar Aqilla, ingin memastikan apakah wanita itu tengah tidur atau tidak. Jika sedang tidur, kan, kasihan kalau dibangunin. Reva membuka pintu begitu saja tanpa mengetuk. Sepasang matanya terbelalak melihat pemandangan di depan.
Rayhan tengah mengukung Aqilla di ranjang. Refleks Reva membekap mulutnya ketika mendengar suara aneh Aqilla.
“Aaah.. Ray, jangan di situ, enghh.. shh..”
Cup! Cup! Cup!
Suara-suara kecupan basah terdengar jelas. Buru-buru Reva keluar dari sana sebelum kehadirannya diketahui. Ya ampun, apa itu artinya, bentar lagi aku punya cucu lagi?
__ADS_1
Reva bersorak senang. “Yes! Cucu baru! Hihihi.. Mami dukung kamu, Ray. Langsung tusuk aja! Habis itu tinggal nikah, hehe..”
^^^To be continue...^^^