
“Mommy kapan pulang?” tanya Jovan sendu. Ia menggenggam erat tangan Aqilla, tidak ingin mommy-nya pergi ke medan pertempuran.
Namun, terus menerus melarang Aqilla menjalani misi juga bukan hal yang baik. Menjadi anggota IAF adalah pilihan Aqilla, kesenangan Aqilla, dan keinginan Aqilla. Si kembar tidak bisa menahan mommy mereka setiap saat.
Hari ini, Aqilla mendapat panggilan misi lagi. Dan, kali ini, si kembar terpaksa merelakan Aqilla pergi walaupun hati mereka gundah gulana.
Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 6 pagi, beberapa anggota IAF datang menjemput Aqilla secara khusus di depan mansion keluarga Refalino. Totalnya ada 20 orang, 7 di antaranya merupakan pasukan khusus milik Aqilla. Atas perintah sang atasan, mereka akan bekerja di bawah kepemimpinan Aqilla selama misi tingkat S ini.
Aqilla berlutut menghadap kedua anaknya. Tubuh wanita itu telah dibalut dengan seragam perwira beserta jubah putih miliknya. Tangan Aqilla bergerak mengusap pipi Jovan dan Jovin. “Secepatnya, ya.”
“Jangan lama-lama, ya, Mom,” pinta Jovin dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan terluka, ya,” pesan Jovan dengan sorot ketakutan. Lelaki kecil itu tidak bisa membayangkan jika sang mommy harus berakhir di rumah sakit lagi nanti.
“Mommy nggak bisa janjiin sesuatu yang nggak pasti, Boy, tapi Mommy akan berusaha untuk nggak terluka parah, oke?” balas Aqilla sesuai realita. Memangnya siapa yang bisa menjamin dirinya akan tetap mulus sekembalinya dari pertempuran? Pasti akan ada luka nantinya.
“Hati-hati, Qill. Aku tunggu kamu di sini,” ucap Rayhan kala Aqilla telah berdiri.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. “Iya, tunggu aku, ya, Ray.”
Kedua insan itu saling melempar senyum penuh makna. Rayhan percaya Aqilla akan baik-baik saja karena dirinya tahu bahwa calon istrinya sangat kuat, jauh dari bayangan kalian.
Reva maju ke depan. Tangannya mengusap pipi Aqilla lembut. “Cepatlah pulang, Sayang. Kami semua mendoakan kamu di sini.”
“Iya, Mi.”
Ah! Setiap Aqilla menyebut dirinya mami, Reva selalu merasa gembira. Hatinya berdebar kuat. Beginikah rasanya memiliki menantu? Haishh.. menakjubkan sekali.
Aqilla berbalik. Ia memasang topi kebanggaan di kepala, lalu berjalan tegap di antara para pasukan yang berjejer di kanan dan kiri. “Untuk seluruh pasukan, SIAAAAPP.. GERAK!” seru Aqilla lantang.
Semua orang memasang tubuh tegak.
“Mulai saat ini, saya pemimpin kalian. APA KALIAN PAHAM?” seru Aqilla lagi.
“SIAP, PAHAM!”
“Ingat! Apa pun yang terjadi, lapor kepada saya! Jangan bertindak sendirian! Kita di sini bersama, maka harus kembali bersama! APA DIMENGERTI?”
“SIAP, MENGERTI!”
__ADS_1
“Bagus. Ayo pergi.” Aqilla berjalan lebih dulu. Seluruh pasukan bergerak dengan kompak hingga suara langkah mereka terdengar serentak.
Aqilla naik mobil lebih dahulu, disusul yang lain. Lantas mobil yang membawa pasukan IAF itu pergi berurutan.
“Wah, Kakak Ipar emang keren,” decak Jessie kagum.
Robert berjongkok di dekat kedua cucunya yang terus memandang ke depan. “Kita masuk, ya, Twins,” ucap Robert yang tidak ingin Jovan dan Jovin larut dengan perasaan mereka.
Walaupun enggan, kedua bocah itu mengangguk patuh. Robert dan Reva menggandeng tangan si kembar masuk ke dalam mansion. Jessie turut mengekor. Tersisa Rayhan saja yang berdiri di ambang pintu. Entah apa yang lelaki itu pikirkan, tetapi itu membuat senyum di bibirnya terbit.
Pulanglah dengan selamat, Qilla. Dan, setelah kamu pulang, kita menikah..
...👑👑👑...
Bandar Udara Soekarno-Hatta...
Sosok lelaki dengan kacamata hitam bertengger di hidung keluar dari pesawat. Senyum di bibirnya terukir tipis, dilihatnya pemandangan bandara yang sama sekali tidak berubah di benaknya.
Aku datang, Aqilla...
“Papa..”
Gadis kecil dengan panggilan Kia itu tersenyum lebar. “Kia lapar, Papa, mau makan,” kata bocah itu dengan aksen menggemaskan.
Lelaki yang disebut papa oleh Kia itu tertawa pelan. “Iya, Sayang. Habis ini kita mampir di restoran, ya. Kamu mau makan apa?”
“Em.. mau—”
“Sate!”
Pandangan lelaki juga Kia beralih ke sosok lain yang baru saja berteriak antusias. Kia melipat kedua tangannya dengan tatapan sengit. “Kakak! Kia yang pilih menu makanannya! Kenapa Kakak ikut-ikutan, sih?” gerutu gadis kecil itu.
Sang kakak cengengesan. “Kakak cuma lagi pengen sate. Mumpung kita di Indonesia, kan?”
Lelaki itu mengusap kepala putranya pelan. “Jam segini belum ada tukang sate yang buka, Arven,” tutur sang papa menjelaskan.
Arven manggut-manggut. “Kalo gitu, makan siang?” tawarnya.
“Boleh,” jawab sang papa.
__ADS_1
“Kia mau bubur ayam, Papa,” sahut Kia menyuarakan pendapatnya.
“Mama setuju!” seru seorang wanita yang baru tiba. Ia merangkul lengan sang suami dengan manja. “Aku juga mau bubur ayam, Mas,” rengeknya.
Sang lelaki terkekeh melihat istri tercintanya merengek dengan puppy eyes andalan. “Oke, permintaan diterima.”
Tak lama, sang asisten datang sembari membawa koper dibantu beberapa bodyguard. “Mari, Tuan Muda, mobil Anda sudah siap.”
...👑👑👑...
Hari menjelang siang. Sebelum jam makan siang dimulai, Rayhan izin untuk menjemput si kembar di sekolah. Sebelumnya, lelaki itu berjanji akan mengajak putra-putrinya makan siang bersama.
Untungnya, sih, Alvin dengan patuh mengiyakan perkataan majikannya itu. Padahal, hati lelaki itu menjerit. Kalau begini terus, kapan aku ketemu jodohnya?
Sepanjang perjalanan, Rayhan bertingkah biasa. Namun, insting lelaki itu aktif hingga tahap waspada. Ia merasakan ada seseorang atau mungkin lebih tengah mengintai dirinya. Tidak ingin menimbulkan kecurigaan, lelaki itu tetap tenang.
Setelah Aqilla pergi, bahaya datang. Entah ini kebetulan atau memang disengaja?
Rayhan tiba tepat waktu di sekolah si kembar. Bel sekolah baru saja berbunyi. Anak-anak dari berbagai kalangan umur dan kelas berlarian mencari orang tua mereka. Omong-omong, si kembar hampir lulus SD, lho. Mereka meminta loncat kelas dan Aqilla mengiyakan dengan syarat si kembar harus mengikuti ujian kelulusan dengan jujur.
Dan, ujian kelulusan itu akan dimulai minggu depan. Setelah ujian berakhir, Aqilla akan mengatur anaknya hiatus sekolah hingga umur mereka 8 atau 9 tahun. Umur mereka terlampau kecil untuk masuk dunia SMP.
“Daddy!” seru Jovin riang. Gadis kecil itu berlari menghampiri Rayhan, sementara Jovan tetap berjalan santai.
Rayhan berlutut dan merentangkan tangan, menyambut pelukan dari putri cantiknya. Jovin menerjang Rayhan hingga lelaki itu terdorong dan terduduk di tanah. Keduanya tertawa bersama.
“Daddy,” panggil Jovan tiba di depan Rayhan. Lelaki kecil itu mencium punggung tangan sang daddy dengan khidmat, lalu diikuti oleh Jovin. Dirinya itu kakak, harus bisa menjadi contoh yang baik bukan?
“Kita jadi makan siang bareng, kan?” tanya Jovin antusias.
“Jadi dong!” balas Rayhan tak kalah semangat.
“Oke, let’s go!” seru Jovin dengan gelora membara.
“Ekhem.. Rayhan?”
Rayhan, Jovan, dan Jovin menoleh bersamaan. Ketiganya menatap ke satu arah, kepada seorang wanita yang baru saja memanggil nama daddy si kembar.
^^^To be continue...^^^
__ADS_1