
“Uncle?” lirih Jovan melihat Kenzie berdiri di ambang gerbang. Tatapan Jovan langsung mengarah pada Aqilla. Buru-buru ia berlari menerjang sang mommy, memeluk kaki wanita itu erat.
Aqilla terkejut mendapat serangan rengkuhan di kakinya. Ia menunduk, menyorot Jovan yang gemetar tubuhnya. “Hei, Boy, kamu kenapa?” tanya Aqilla bingung.
Jovan menggeleng dengan kepala menempel. Sesekali ia melirik ke arah gerbang, di mana posisi Kenzie berdiri.
Menyadari ada yang tidak beres, Aqilla mencoba mengedarkan pandangan. Ketika ia melihat sang kakak hadir di tengah acara, wanita itu tersenyum. Sepertinya, Jovan ketakutan melihat Kenzie di sini.
“Uncle ke sini buat ucapin selamat sama kamu, Boy,” tutur Aqilla memberi pengertian.
Jovan mendongak. Sekali lagi ia menggeleng, menolak penjelasan mommy-nya. “Uncle ke sini pasti buat bawa Mommy, kan? Jovan nggak mau! Mommy harus di sini, sama adek, sama daddy. Jovan nggak mau dipisah lagi, Mom.”
Ribuan kali Aqilla menjelaskan, lelaki kecil itu tidak mau menerima dengan lapang dada. Bagaimanapun, apa yang dilakukan Kenzie sebelumnya sangat membekas di benak dan hati Jovan. Putra Rayhan dan Aqilla itu sedikit trauma mengingat perpisahan yang selama ini menghantuinya.
Jovan tidak mau impian besarnya untuk memiliki keluarga lengkap hancur begitu saja.
Bukan hanya Jovan yang menyadari atensi Kenzie. Jovin pun sama. Gadis kecil itu menghambur ke pelukan Rayhan sembari menunjuk ke arah gerbang.
Rayhan menoleh ke gerbang. Lelaki itu mengembangkan senyum, tangannya tak berhenti mengusap punggung putrinya yang ketakutan. Kaki Rayhan berayun menuju Kenzie. Sontak menarik perhatian setiap pengunjung untuk memperhatikan apa yang terjadi selanjutnya.
“Assalamualaikum,” ucap Kenzie kala Rayhan telah tiba di hadapan.
“Wa‘alaikumsalam, Kak. Kenapa di sini aja? Ayo masuk ke dalam. Acaranya udah dimulai dari tadi,” ajak Rayhan sopan.
Kenzie tersenyum. Ia melirik ke arah Jovin yang mencuri pandang ke arahnya. Kenzie tertawa. “Apa dia belum tau?” tanyanya.
Rayhan menggeleng, agak menyesal karena telat memberitahukan. Pasalnya, kondisinya sewaktu datang sangat mepet dengan jadwal. Jadi, yang Rayhan prioritaskan adalah acara ulang tahun putra-putrinya dahulu. “Belum, Kak. Maaf, tadi acara udah dimulai. Ray nggak sempet buat cerita.”
Kenzie manggut-manggut, paham dengan situasi Rayhan.
Tak lama, Alysa, Arven, dan Kia menyusul. Keempatnya memakai sandang yang serasi, menunjukkan seberapa harmonisnya keluarga kecil itu. “Assalamualaikum, Adik Ipar,” ucap Alysa.
“Assalamualaikum, Uncle,” ucap Arven dan Kia bersamaan.
Rayhan tersenyum. “Wa‘alaikumsalam, Kakak Ipar, Arven, Kia.”
Kia memandang Jovin yang telungkup di dekapan Rayhan bingung. “Uncle, Kak Jovin kenapa? Apa dia sakit?” tanyanya sedikit khawatir. Apa acara bermainnya malam ini akan dibatalkan karena pemeran utamanya tengah sakit? Wah, itu bahaya sekali.
__ADS_1
“Nggak, kok. Kak Jovin-nya nggak sakit, Kia.” Rayhan nampak membisikkan sesuatu hingga membuat Jovin berbinar senang.
“Beneran, Dad??” pekik Jovin tak percaya.
Rayhan mengangguk yakin dengan senyum tak kalah bahagia.
Jovin bersorak heboh. Gadis kecil itu melompat-lompat selepas diturunkan, mengundang gelak tawa bagi setiap insan yang melihat. Tiba-tiba Jovin berhenti, sorot matanya menatap Kenzie girang. “Terima kasih, Uncle.”
Kenzie mengusap kepala Jovin pelan. “Sama-sama, Cantik.”
Aqilla datang menyusul bersama Jovan. Berbeda dengan kondisi sebelumnya, kali ini Jovan nampak lebih tenang. Lelaki kecil itu juga sudah diberitahu perihal sebenarnya. Hatinya meletup-letup karena buncahan kebahagiaan. Namun, sebisa mungkin Jovan menahan diri. Bisa-bisa image-nya yang cool mendadak hilang.
“Happy birthday, Twins,” ucap Kenzie, Alysa, Arven, dan Kia bersama-sama.
“Terima kasih, Uncle, Aunty, Arven, Kia,” balas si kembar tidak kalah kompak.
Arven dan Kia kembali ke mobil. Keduanya kembali dengan empat kotak kado. Masing-masing dari Jovan dan Jovin mendapat dua kotak.
Selepas berbasa-basi sebentar, Jovin mengajak Kia bermain. Sedangkan Jovan membawa Arven menuju stand makanan karena putra Kenzie dan Alysa itu ingin mencicipi hidangan yang tersedia.
Jika Alvin membungkuk hormat menyambut kedatangan Kenzie, Robert, Reva, Jessie, dan Ely tercengang dengan kehadiran kakak Aqilla tersebut. Apalagi melihat keakraban yang terjalin antara Rayhan dan Kenzie membuat beberapa spekulasi tumbuh di otak masing-masing.
Mengerti kebingungan yang terjadi, Alvin mengatakan, “Tuan Besar, Nyonya Besar, Tuan Kenzie sudah memberikan restunya untuk Tuan Muda dan Nona Muda.”
Semakin terkejut saja keluarga Refalino itu. “APA?!!”
...👑👑👑...
Beberapa jam sebelumnya...
Kenzie tiba-tiba menarik sebelah sudut bibirnya. “Pergilah...”
Rayhan panik. Pikirnya, kata pergi itu bermaksud untuk mengusir. Ia hendak bicara, menjelaskan maksud kedatangan lebih jelas dan makna kisahnya barusan. Namun, kalimatnya dipotong oleh Kenzie.
“Pergilah, bawa Aqilla sekalian,” tambah Kenzie dengan senyumnya.
Rayhan melongo. Sedetik kemudian, parasnya berubah cerah. “Apa barusan.. Kakak kasih kami restu?” tanyanya memastikan.
__ADS_1
Kenzie terdiam. “Entahlah. Aku juga tidak tau. Mungkin iya, mungkin tidak.”
Rayhan dan Alvin saling berpandangan sesaat, keduanya sama-sama bingung dengan arti kalimat Kenzie. ‘Mungkin iya, mungkin tidak’ itu berarti bagaimana? Kenzie memberi restu atau tidak, sih?
“Aqilla di kamarnya, naik aja,” pinta Kenzie yang kembali fokus dengan acara televisi. Pertandingan basket kembali disiarkan.
“Eh, beneran, Kak?” seru Rayhan tak percaya.
“Hm.”
Rayhan berdiri dan pamit naik ke atas—sebelum Kenzie berubah pikiran. Sedangkan Alvin memilih tetap di ruang tamu menanti tuan mudanya. Jika ikut ke atas, yang ada Alvin jadi nyamuk.
Kenzie melirik Alvin sekilas. Alvin menyadari itu dan sukses membuat tubuhnya merinding. Sosok yang berada di hadapannya sekarang adalah Bryan Kenzie Jonesa, pemilik AK Tech yang misterius, pribadi yang Alvin kagumi sejak lama.
“Santai aja, saya nggak makan daging manusia,” celetuk Kenzie yang tahu kalau asisten Rayhan tengah gugup dan tegang di posisinya.
Alvin tersenyum kikuk. Sumpah, sih, otaknya benar-benar nge-blank.
“Duduk,” suruh Kenzie melirik sofa tunggal yang lain.
Walaupun canggung, Alvin duduk di tempat yang Kenzie tunjuk. Seandainya dirinya diminta membuat pilihan, Alvin akan memilih untuk presentasi di depan presiden daripada berada di situasi semacam ini. Sangat meruntuhkan jiwa dan raga.
Beruntung, Rayhan dan Aqilla segera kembali. Disusul Alysa yang membawakan nampan berisi minuman segar.
“Kakak beneran ngrestuin kita?” tanya Aqilla antusias.
Kenzie melengos. “Giliran beginian kamu langsung semangat, La,” ketusnya.
Aqilla terkekeh. Ia duduk di samping sang kakak, bergelayut manja di lengan lelaki itu. “Beneran nggak, nih?” tuntutnya.
“Iya, Lala,” jawab Kenzie pasrah.
Aqilla seketika berdiri. “OKE, RAY, AYO NIKAH BESOK!”
Kenzie melongo. “HEH! NGGAK GITU JUGA KONSEPNYA, ADEK!!”
^^^To be continue...^^^
__ADS_1