
“Aunty, mommy di mana?” tanya Jovan seraya celingukan, mencari atensi Aqilla. Namun, tidak terlihat siapa pun di rumah ini selain Alysa. Bahkan, Jovan tidak menemukan pelayan satu pun di mansion sebesar ini.
Alysa tersenyum kecil. “Mommy kamu ada di kamarnya, Sayang.”
“Mommy nggak terluka, kan, Aunty?” sahut Jovin.
Alysa menggeleng. “Nggak dong. Mommy kalian baik-baik aja.”
“Uncle.. nggak ngapa-ngapain mommy, kan, Aunty?” tanya Jovan lirih. Kepalanya menunduk ke bawah, jemarinya saling meremat di pangkuan. Jujur, dia tidak enak bertanya semacam itu kepada aunty-nya ini.
Kesannya seperti dirinya menuduh Kenzie yang merupakan suami dari Alysa.
Sebisa mungkin Alysa tidak menyemburkan tawanya yang tertahan sejak tadi. Walaupun mengerti maksud kata-kata Jovan, Alysa tetap merasa lucu. Secara tidak langsung, kedua anak itu mengira Kenzie melakukan sesuatu yang tidak-tidak, kan, pada Aqilla?
“Ya ampun, Sayang.” Alysa berlutut di hadapan Jovan dan Jovin yang menyorotnya penuh harap. “Uncle Kenzie itu kakaknya mommy kalian. Gimana pun situasinya, uncle nggak akan ngelakuin kekerasan sama mommy kalian, Twins,” jelas Alysa dengan nada lembutnya.
Meskipun sudah diberi sedikit penerangan, si kembar tetaplah merasa resah. Sebelum melihat Aqilla secara langsung, kedua bocah itu akan tetap berprasangka buruk terhadap Kenzie.
Dan, Alysa melihat dengan kentara binar gelisah dari mata kedua keponakannya. “Kamu tenang aja, Twins. Nanti kalo sampe uncle pukul Mommy Qilla, Aunty Sasa bakalan langsung jewer telinganya. Aunty, kan, ada di pihak kalian. Gimana, setuju?”
Lengkungan di bibir si kembar kian bertambah. Satu lagi persona yang berada di pihak mereka. “Setuju, Aunty!” seru keduanya kompak.
Bukan hanya si kembar yang merasa baikan, tapi juga Rayhan yang sedari awal duduk di sebelah anak-anak. Hati lelaki itu jauh lebih lega mendengar Aqilla baik-baik saja. Meskipun dirinya terlihat biasa-biasa saja sejak kemarin, sejujurnya Rayhan memikirkan kondisi Aqilla. Ia tidak mau calon istrinya itu tergores walaupun hanya seinci.
“Suamimu di mana, Nak? Kami datang ke sini untuk bertemu dengannya,” cetus Reva yang tak melihat sosok Kenzie semenjak kedatangan mereka.
“Mas Kenzie masih di kantor, Tante. Belum pulang,” jawab Alysa seraya duduk di sofa tunggal yang tersedia.
“Kapan pulangnya, em... Kak?” tanya Rayhan yang sedikit canggung memanggil Alysa dengan sebutan kakak.
Alysa bertepuk tangan heboh. “Wah, adik iparku canggung sekali, ya,” sindir wanita itu seraya terkikik geli. Rayhan sampai malu-malu karena merasa tersindir. “Mas Kenzie biasanya pulang jam 7, Tuan Muda Rayhan.”
Si kembar terkekeh melihat daddy mereka tersipu malu.
“Oh, ya, Sayang, mau ketemu sepupu kalian tidak?” tawar Alysa pada anak-anak seraya menegakkan punggungnya dengan senyum sumringah.
__ADS_1
“Sepupu? Kami punya sepupu, Aunty?” Jovin menyahut antusias.
“Iya dong! Aunty sama uncle, kan, punya dua anak.”
“Apa kembar juga, Aunty?” tanya Jovan penasaran.
“Sayangnya, nggak. Mereka lahirnya beda, tapi wajahnya hampir mirip, kok.”
“Kok, bisa gitu?” heran Jovin.
Alysa tergelak singkat. “Iyalah, Sayang. Kan, mereka satu pabrik.”
“Hah?” Jovan dan Jovin cengo.
Robert, Reva, Rayhan, Jessie, dan Alysa tertawa bersama menyaksikan raut si kembar. Sangat menggemaskan di mata mereka.
“Aunty panggilin, ya.” Alysa bangkit dari duduknya, lanjut berlari kecil menuju tangga. “ARVEN! KIA!!!” teriak Alysa melupakan keanggunannya.
Bukan hanya si kembar yang cengo sekarang. Tetapi, keempat anggota keluarga Refalino. Wanita yang disangka kalem dan elegan mendadak menjadi bar-bar. Bahkan, tak tanggung-tanggung, Alysa berteriak begitu keras hingga suaranya menyebar ke segala penjuru.
Dua buah pintu di lantai dua terbuka tiba-tiba. Dua orang anak kecil keluar dari sana. Laki-laki dan perempuan.
“Siapa, Ma?” tanya Arven menuruni tangga perlahan.
Alysa menunjuk ke ruang tamu dengan lirikan matanya. “Sepupu kamu, Arven. Anaknya Aunty Qilla.”
“Appaahh iyaahh??” seru Kia semangat. Gadis kecil itu mempercepat ayunan kakinya menuju ruang tamu mansion. Binar manik Kia bertambah cerah kala dirinya bertemu pandang dengan Jovan dan Jovin. Bocah usia 5 tahun itu nampak girang. “Wah, ada kakak sepupu!”
Jovan dan Jovin ternganga melihat paras Kia. Sumpah, ya, kedua bocah itu bingung bukan main dengan situasi sekarang. Figur wajah Kia sangat-sangat mirip dengan sang mommy. Begitupun dengan sosok lelaki kecil yang berdiri di samping Kia.
Alysa tertawa melihat si kembar yang melongo di tempat. “Kalian kaget, ya, karna anak Aunty mirip mommy kalian?” tebak Alysa yang diangguki Jovan dan Jovin. “Sebenarnya, mereka ini mirip sama papanya, Sayang. Uncle Kenzie, kan, kembarannya mommy kalian, jadi wajar kalo wajah mereka agak mirip.”
Kia maju mendekati Jovan dan Jovin yang mulai bisa mencerna maksud Alysa. Kia menyodorkan tangannya, meminta jabatan tangan. “Aku Zhakia, panggilnya Kia. Nama Kakak siapa?”
Jovin membalas uluran tangan Kia. “Aku Jovinka, Jovin aja.”
__ADS_1
“Aku Jovan.”
“Arven.” Lelaki yang menjabat sebagai kakak Kia itu turut mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.
Setelah saling berkenalan, Kia mengajak Jovin bermain bersama. Karena harus menjaga sang adik, Jovan mengikuti mereka. Ini pertemuan pertama, tapi keempat bocah itu langsung saja akrab. Apalagi Arven dan Jovan. Keduanya benar-benar satu frekuensi.
“Aqilla di mana, Kak?” tanya Rayhan sepeninggalan anak-anak.
Alysa menunjuk salah satu ruangan. “Itu kamar Aqilla. Dia dikurung sama Mas Ken di sana.”
“Dikurung?” beo Jessie.
Alysa menghela napas berat. “Iya. Aqilla dikurung sebagai hukuman. Tapi, Mas Kenzie tetap kasih perhatian, kok, walaupun gengsi.” Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mereka itu dari dulu selalu begitu.”
“Dari dulu?” ulang Reva tak mengerti.
“Iya. Sasa sama Mas Kenzie, kan, udah saling kenal sejak SMA, Tante. Dulu kami itu bersahabat,” papar Alysa memberitahukan sebuah fakta. “Sasa juga kenal Aqilla dari lama banget. Mereka memang kalo lagi beda pendapat selalu gini. Keras kepala.”
Rayhan mengangguk. Ia mengakui jika kadang sifat Aqilla begitu keras kepala.
“Untuk apa kalian di sini?”
Sontak Rayhan, Reva, Robert, dan Jessie menoleh ke ambang pintu utama mansion. Di sana, sosok Kenzie dengan setelan kantornya berdiri. Maniknya menghunus tajam ke arah Rayhan sekeluarga.
“Kenzie...” lirih Rayhan.
^^^To be continue...^^^
...👑👑👑...
Gimana chapter kali ini? Semoga bisa menghibur kalian, ya.
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jangan tiru perbuatan-perbuatan jelek di novel ini. Ambil sisi positifnya aja.
Ay berterima kasih karena ada banyak pembaca yang mau mendukung karya ini. Ay bahagia banget waktu dapet tips, hadiah, like, atau semacamnya. Gimana pun cara kalian menunjukkan rasa suka kalian, Ay terima, kok.
__ADS_1
See you di chapter selanjutnya:)