I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 23 | Siap Bertemu


__ADS_3

“Sa–saya dipecat, Nona?” beo Blessy dengan sorot tak percaya. Ia menatap bergantian sosok Aqilla, Jovan, dan Jovin yang duduk di depannya, keputusan yang baru saja mereka lontarkan membuat hatinya sedih.


Bekerja dengan Jovin begitu menyenangkan bagi Blessy. Gadis itu sukses dibuat gemas dengan tingkah ajaib Jovin yang selalu mengundang tawa. Ditambah lagi, perlakuan Jovin maupun Jovan, sang kembaran, yang sangat menghormati dirinya membuat Blessy semakin menyayangi mereka.


Tak jarang pula, Aqilla, sebagai mommy mereka, ikut membantu Blessy acap kali ia merasa kesulitan. Wanita yang 7 tahun lebih tua darinya itu selalu memberi dukungan positif lewat kata-kata penuh makna yang berhasil merasuk ke dalam hati.


Itulah mengapa Blessy betah sekali bekerja dengan Jovin. Selama ini ia memberikan usaha terbaiknya untuk gadis kecil menggemaskan itu.


Namun, apa yang terjadi? Dia dipecat?


Ia tidak menyangka undangan makan siang yang Aqilla kirimkan bermaksud untuk memecatnya.


“Ta–tapi, kenapa, Nona? Apa kinerja saya kurang bagus?” tanya Blessy menuntut jawaban. Ia tidak mau kehilangan pekerjaan ini. Ia terlanjur jatuh cinta dengan sosok si kembar.


Aqilla menepuk bahu Jovin, kode agar putrinya saja yang memberi penjelasan. Jovin yang mengerti bergegas menghampiri manajernya yang duduk di sofa lain. “Tidak, kok, Aunty. Pekerjaan Aunty bagus sekali,” kata Jovin menenangkan.


“Lalu.. kenapa saya dipecat?” Blessy jadi tidak mengerti. Kalau kinerjanya bagus, kenapa ada deklarasi pemberhentian kerja begini?


“Aunty, Jovin akan pindah ke Indonesia dalam waktu yang lama,” tutur Jovin mulai menerangkan kesalahpahaman. “Jovin ingin bertemu daddy Jovin di sana. Jadi, Jovin terpaksa memberhentikan Aunty karena Jovin tidak butuh manajer lagi.”


Blessy dibuat bungkam. Entah kenapa, alasan yang baru Jovin berikan benar-benar meluruhkan segala pikiran Blessy. Dia tahu betul bagaimana si kecil ini sangat ingin bertemu dengan sang daddy. Blessy tidak setega itu mencegah Jovin.


“Jadi, Daddy Jovin ada di Indonesia?” tanya Blessy memastikan.


“Iya, Aunty.”


Aqilla yang sedari tadi diam, mulai angkat suara. “Kami tidak bermaksud memecatmu, Blessy. Hanya saja, kami akan pergi ke Indonesia dalam kurun waktu yang lama. Bahkan, ada kemungkinan kami akan menetap di sana. Maka dari itu, sepertinya kamu tidak bisa menjadi manajer Jovin lagi. Dia bilang, dia tidak mau memisahkanmu dari keluargamu yang ada di sini.”


Blessy dibuat terharu. Ia beralih menatap Jovin yang tersenyum manis padanya. Atasannya ini sangat memperhatikan dirinya sejak dulu. Memang, sih, Blessy pernah mengatakan kalau dia tidak ingin jauh terlalu lama dari keluarganya. Makanya, jika Jovin sedang dapat job di luar dalam waktu yang lama, Blessy akan selalu pulang lebih awal. Aqilla-lah yang akan menggantikan pekerjaannya.


“Sebagai gantinya, Jovin sudah mendaftarkan nama Aunty di universitas yang bagus di sini.”


Kalimat Jovin barusan membuat sepasang mata Blessy membulat tak percaya. “A–apa?”


Aqilla terkekeh pelan. “Kuliah, Blessy, Jovin ingin kamu kuliah. Bulan depan kamu bisa kuliah di Universitas Calgary. Untuk jurusannya, kamu bisa mengonfirmasi lusa nanti.”


Mata Blessy berkaca-kaca. “Sa–saya b–bisa kuliah d–di sana, Nona? Ta–tapi, biayanya—”

__ADS_1


“Sudah kami tanggung,” potong Aqilla dengan senyumnya.


Tangis Blessy pecah. Gadis itu tidak percaya ia bisa berkuliah di universitas impiannya. Sejak dulu, Blessy sangat ingin melanjutkan pendidikannya di sana. Umurnya yang baru menginjak angka 21 juga sangat mendukung situasinya. Namun, perekonomian keluarga tidak mendukung sama sekali.


Alhasil, Blessy memilih untuk bekerja dan Jovin menerimanya. Dan, sangat tidak disangka, atasannya ini dengan berbaik hati membiayai kuliahnya di sana.


“Thank you, Miss. I’m very grateful to you guys. You are very good to me.” Blessy terisak. Jovin yang duduk di sebelahnya memeluk mantan manajernya dengan kedua tangan pendeknya.


“You’re welcome, Blessy. Think of it as your reward for all your hard work while working with my daughter,” ucap Aqilla dengan fasihnya.


“Hm, adikku sangat menyukaimu dari dulu,” timpal Jovan yang hanya diam sejak tadi.


“Jovin akan berangkat besok. Jadi, ini pertemuan terakhir kita, Aunty,” ucap Jovin sedih.


“I hope Aunty is always happy.”


...👑👑👑...


Keesokan harinya...


“Kamu udah urus cuti kita di markas, Qill?” tanya Ely kepada Aqilla yang sibuk mengecek barang-barang, takut ada yang tertinggal katanya.


“Berapa lama?”


Aqilla menyeringai. “Coba tebak.”


“Dua minggu?” terka Ely. Aqilla menggeleng. “Sebulan? Lima minggu?”


Aqilla terus menggelengkan kepalanya di setiap tebakan Ely. Sahabatnya itu sampai lelah sendiri menebak. Pada akhirnya, Ely bertanya berapa lama waktu cuti mereka.


“Enam bulan.”


Tercengang!


Ely melongo di posisi. “ENAM BULAN?! KITA CUTI ENAM BULAN?!!!” pekiknya heboh.


Detik berikutnya, Ely tersenyum cerah. Gadis itu langsung memikirkan berbagai destinasi untuk mengisi liburannya selama enam bulan ke depan. Ternyata kemampuan negosiasi Aqilla sangat bisa diandalkan.

__ADS_1


Aqilla terkekeh. Sudah bisa ditebak apa yang ada di benak Ely. “Dari kita kerja, kita nggak pernah minta cuti. Makanya, kita dapet waktu cuti lumayan lama,” jelas Aqilla yang turut senang.


“Waktu kamu hamil, kan, kamu cuti. Itu nggak dihitung?” tanya Ely bingung.


“Nggak, lah. Emang kodratnya begitu.”


Ely tidak peduli lagi. Yang berputar di kepalanya cuma nama-nama tempat lokasi liburan terbaik di Indonesia ataupun belahan bumi lainnya. Ah, ini pasti sangat menyenangkan.


“Mommy? Aunty? Kalian ngomongin apa?”


Suara itu menarik atensi Aqilla juga Ely. Keduanya menoleh ke arah Jovin dan Jovan yang sudah siap dengan setelan santainya untuk bepergian. Hari ini, kan, keduanya akan terbang ke Indonesia.


“Wah, keponakan Aunty cantik sama ganteng banget, sih,” puji Ely.


Jovan dan Jovin sama-sama memasang senyum bangga. Jovan mengenakan kaus biru santai dengan celana panjang yang dipadukan dengan jaket biru laut. Sementara Jovin mengenakan dress kuning kecil cantik dengan bando bunga di kepala.


Dijamin, menggemaskannya poll sekali!


“Udah siap ke Indonesia, nih?” goda Aqilla dengan alis naik-turun.


Jovin mengangguk kuat. “Udah dong, Mom. Jovin siap ketemu daddy.”


Aqilla terdiam sejenak, lanjut mengukir senyum maklum. “No, Girl. Kita nggak akan langsung ketemu daddy.”


Perkataan itu tentu mengejutkan sekali untuk pribadi Jovan maupun Jovin. Pikir mereka, setelah tiba di Indonesia nanti, keduanya bisa langsung berkumpul dengan daddy mereka. Namun, apa ini? Kenapa mommy mereka mengultimatum kalimat lain?


“Kok, gitu, Mom?” protes Jovin yang mengutarakan ketidaksukaan secara blak-blakan. Berbeda dengan sang kakak yang malah memasang wajah kesal yang jatuhnya imut nan lucu.


Aqilla menghela napas sejenak. “Kayaknya emang harus Mommy ceritain, deh,” katanya entah pada siapa. Lantas tubuhnya direndahkan hingga setara dengan sang buah hati. Tangan Aqilla mengusap kepala kedua anaknya lembut layaknya seorang ibu sungguhan.


Woi, aku emang emak mereka!—Aqilla tidak terima, nih.


“Sebelum kita berangkat, ada yang harus Mommy ceritain ke kalian,” ucap Aqilla serius.


Jovan dan Jovin jadi ikut-ikutan serius kalau begini. Mereka mengangguk menurut dan memasang telinga baik-baik.


“Ini cerita soal tujuh tahun yang lalu, waktu Mommy sama daddy ketemu, Boy, Girl. Ini alasan Mommy kenapa Mommy nggak pernah kasih tau kalian soal daddy dan daddy nggak pernah datang ke sini...”

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2