
“Gimana soal tuan muda?” tanya Ely menatap Aqilla penuh arti. “Apa kamu cinta sama dia?”
Deg!
Aqilla terhenyak mendengar pertanyaan keramat tersebut. Hingga detik ini, wanita itu masih belum bisa menemukan jawabannya. Hati dan otak Aqilla masih terus bertentangan, sulit untuk menemukan titik tengah.
Di belakang Aqilla dan Ely, Alvin memasang telinga baik-baik, berharap akan mendapat informasi terbaru mengenai calon nyonya mudanya ini. Tuan mudanya pasti senang jika ia berhasil membawakan kabar nantinya.
“Entahlah, El. Aku sendiri juga nggak ngerti mau jawab apa.” Aqilla menghela napas sejenak. “Ray itu baik, dia sosok laki-laki yang baik, dan ayah yang baik pula. Tapi..” Aqilla menggigit bibir bawahnya, bingung ingin meneruskan dengan kalimat seperti apa.
“Tapi apa?” tuntut Ely penasaran.
Aqilla menghembuskan napas berat. “Aku nggak tau, El. Aku sama sekali nggak tau sama apa yang aku rasain ke dia. Intinya, aku nyaman, aku suka, dan aku ngerasa... kayak hidup aku berubah gitu.”
“Berubah gimana?”
“Berubah, El. Maybe.. jadi lebih berwarna? But, aku sendiri kurang ngerti sama apa yang aku rasain. Kamu tau persis, kan, gimana kehidupan aku selama ini?” Aqilla mendongakkan kepala, menerawang ke masa silam. “Hidup dari kecil di panti asuhan. Berjuang sendiri, belajar sendiri, hidup sendiri, semua aku lakuin sendiri. Sampe aku ketemu Stevan dan jatuh cinta sama dia, tapi cowok brengsek itu malah khianatin aku.”
“Sejak hari itu, aku bener-bener susah ngerasain apa pun dengan pasti. Kecuali kalo aku lagi sama si kembar, aku bisa ngerasain something yang beda. Nggak mungkin, kan, aku nyamain perasaan aku antara si kembar sama Rayhan? Mereka itu beda! Konteksnya aja beda!”
Ely manggut-manggut, sedikit-banyak ia paham dengan apa yang Aqilla rasakan. Bagaimanapun, wanita itu terbiasa sendiri dan pernah tersakiti. Pasti sulit sekali untuk membuka diri.
Aqilla hanya butuh waktu, itu solusinya. Dia butuh untuk menyadari perasaannya.
“Udahlah, nggak usah dibahas. Mumet aku ngomonginnya.” Aqilla geleng-geleng. “Ayo susul mereka.” Ia menarik lengan Ely agar lebih cepat melangkah.
Sedangkan Alvin memaku di posisi. Lelaki itu tidak sepenuhnya mengerti dengan maksud pernyataan Aqilla. Yang bisa ia tangkap hanya satu, Aqilla masih ragu dengan perasaannya terhadap tuan mudanya, Rayhan.
“Aku harus memberitahu Tuan Rayhan nanti,” gumam Alvin.
...👑👑👑...
Senang-senang dimulai.
Si kembar heboh sekali. Keduanya pergi ke sana kemari, menaiki segala wahana yang dirasa menarik, memainkan seluruh permainan yang tersedia. Robert dan Reva sampai tidak sanggup lagi menemani cucu mereka yang hiperaktif sekali. Sepasang suami-istri paruh baya itu memilih duduk, menonton Rayhan, Aqilla, Jovan, dan Jovin yang bermain melempar bola.
__ADS_1
Di samping Robert dan Reva, ada Alvin. Lelaki itu lebih memilih mengikuti tuan besarnya dibandingkan tuan mudanya. Bisa jadi nyamuk dia di antara kehangatan keluarga kecil itu.
Ely, sih, keluyuran bersama Jessie. Gadis itu sangat menikmati waktu bermainnya tanpa seorang lelaki. Yah.. walaupun agak kesepian dan haus kasih sayang, namun ia tidak mempermasalahkan itu. Sebagai sahabat, Ely ikut bahagia atas tawa yang Aqilla keluarkan.
“Semoga kamu bisa bersatu dengan laki-laki yang ditakdirkan sama kamu oleh Tuhan, Qill. Semoga ‘dia’ bisa restuin kalian,” gumam Ely penuh harap.
“Alvin,” panggil Reva.
“Iya, Nyonya. Anda memerlukan sesuatu?”
Reva tersenyum. “Dulu kamu berjanji akan mulai memperhatikan dirimu sendiri setelah lihat Rayhan bahagia bukan? Sekarang Rayhan udah bahagia, dia udah nemuin wanitanya dan punya anak. Sekarang giliranmu cari pasangan juga.”
Alvin terdiam. Iya, dia ingat janji itu. Sebuah janji yang khusus ia ucapkan agar bisa mengabdi kepada sosok penyelamatnya. Tidak disangka, hari di mana ia harus menepati janji tersebut akan datang begitu cepat.
“Baik, Nyonya. Saya akan—”
Reva berdecak. “Dari dulu Mami minta kamu buat panggil ‘mami’, kan? Masih aja manggil ’nyonya’ terus.”
Alvin menundukkan kepala. “Maaf, Nyonya. Anda adalah majikan saya, sudah sepatutnya saya—”
Tidak ada sahutan lagi dari lelaki yang menjabat sebagai asisten Rayhan itu. Alvin memang sering mendengar kalimat itu. Dari awal, Rayhan memang menganggapnya sahabat, kemudian berlanjut hingga saudara. Alvin sendirilah yang memilih untuk mengabdi dan menjadi asisten Rayhan. Apa yang ia lakukan tidak akan bisa membayar segala bantuan yang pernah ia terima dahulu.
“Maaf.” Sebatas itu saja. Alvin perlahan mendongakkan kepala, menyorot Rayhan yang tergelak begitu kencang ketika Jovin memeluknya kelewat erat karena tidak mau ditarik oleh sang kakak. Apa Anda sudah bahagia, Tuan Muda?
Apa sekarang.. memang sudah waktunya?
“Kalau kamu butuh bantuan Mami, Mami punya kandidat perempuan yang baik, lho,” celetuk Reva tiba-tiba. Ia menunjuk ke arah Jessie dan Ely yang tertawa bersama, keduanya sibuk bermain capit boneka. “Ada sahabat Aqilla yang masih nganggur di sana.”
Alvin membelalakkan matanya. Maksudnya, Nona Ely?!
...👑👑👑...
“Yaahh.. kalah!” seru Jovin kesal. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, menyalurkan rasa sebalnya. “Kakah, ih, curang!”
Jovan menatap Jovin dengan alis mengerut. “Curang dari mananya, Dek? Kakak main sesuai aturan, kok. Lagian ini tuh lempar bola, gimana mau curang? Kakak retas atau Kakak bobol gitu?”
__ADS_1
Jovin mendesis sinis. “Ngalah kek sama adiknya sendiri,” dumelnya.
Jovan menghela napas panjang. Mana ada orang yang mau mengalah dalam suatu pertandingan. Untung, sih, Jovin itu adiknya, saudari kembarnya. Kalau bukan, udah Jovan picek-picek karena geram.
“Iya, deh, iya, Kakak salah. Kakak ngalah habis ini,” kata Jovan pasrah. Lebih baik begini daripada gadis kecil itu mengamuk nantinya. Bisa-bisa urusannya makin panjang.
Pada akhirnya, di setiap permainan, Jovan selalu mengalah kepada Jovin. Ia membiarkan adiknya itu bersorak bahagia dalam tipu daya. Yang penting Jovin seneng, deh, Jovan mah bisa apa atuh.
Rayhan tersenyum tipis. Kamu bener-bener hebat dalam didik anak kita, Qill..
Sikap Jovan yang sederhana begini sudah menunjukkan kalau lelaki kecil itu memiliki jiwa yang besar, pemaaf dan bertanggung jawab. Jovan selalu bisa menyesuaikan diri dengan sikon yang terjadi.
Walaupun sebenarnya Jovan melakukan itu demi mempertahankan ketenangan dalam hidup, lelaki kecil itu tanpa sadar sudah berbuat sesuatu yang membanggakan. Ah, Rayhan bersyukur kedua anaknya lahir dari rahim wanita yang tepat.
Yang dipuji sedang sibuk dengan dunianya. Aqilla fokus bermain tembak-tembakan, mengalahkan para zombie yang bermunculan di monitor. Wanita itu ketagihan acap mendapat skor tinggi.
Drrtt... drrtt...
Aqilla berdecak merasakan ponselnya bergetar di tas selempang. Mau tak mau, ia segera menyelesaikan permainannya dan mengangkat telepon. “Assalamualaikum. Halo?”
Hening. Tidak ada jawaban dari seberang.
Aqilla melirik ke arah layar. Tidak ada nama karena tidak terdaftar dalam kontak, hanya berupa rangkaian angka saja. Diam-diam wanita itu merutuki dirinya sendiri yang asal mengangkat tanpa menilik siapa yang menghubungi.
“Halo? Siapa, sih? Saya tut—”
“Halo, Lala...”
Deg!
Tubuh Aqilla mematung di tempat. Suara berat yang khas itu sukses membekukan dirinya. Seluruh aliran darah dalam tubuhnya berdesir hebat, setiap selnya berdendang, rasa takut mulai membuncah di hati Aqilla. Tangan wanita itu sampai gemetaran.
“K–kamu...” Aqilla tidak sanggup berucap. Lidahnya mendadak kelu.
Orang di seberang terkekeh pelan. “Tunggu kedatanganku, La. Kamu harus dihukum karena melanggar perintahku!”
__ADS_1
^^^To be continue...^^^