I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 90 | Kebenaran


__ADS_3

“Walaupun terlambat, saya ke sini untuk melamar Aqilla, untuk bertanggung jawab, Kak,” ucap Rayhan dengan keyakinan penuh.


Kenzie terdiam. Sepasang matanya memandang Rayhan lekat. Sedetik kemudian, lelaki itu tersenyum miring. “Bertanggung jawab kamu bilang?” sinisnya.


Rayhan mengangguk tegap. “Iya, Kak.”


“Kamu pikir saya percaya dengan ceritamu?” cibir Kenzie seraya menaikkan sebelah kakinya ke atas. “Setelah semua yang kamu lakuin, kamu mau bertanggung jawab sekarang? Kenapa tidak dulu?”


“Karena saya baru tahu sekarang,” jawab Rayhan telak yang sukses membungkam Kenzie. “Dari awal kami ‘berhubungan’, sekalipun Aqilla tidak hamil, saya ingin bertanggung jawab, Kak. Tapi, Aqilla menghilang dan saya tidak tahu di mana dia karena semua informasinya hilang tanpa jejak. Seandainya saya tahu Aqilla hamil, saya akan lebih keras mencarinya untuk bertanggung jawab. Sayangnya, posisi saya waktu itu tidak tahu, Kak.”


“Saya tetap tidak akan mengizinkan! Kamu—”


BRAAKK!!


BRUUKK!!


Semua orang terlonjak kaget mendengar suara keras yang asalnya dari lantai dua. Kenzie berdiri dari duduknya, menatap Aqilla yang juga menyorotnya tajam dari lantai dua.


Ya, suara tadi berasal dari Aqilla. Lebih tepatnya pintu kamar Aqilla yang didobrak kencang dari dalam hingga terlepas dari engselnya. Bingkai cokelat itu menabrak railing besi yang membatasi lantai dua. Kekuatan adiknya memang sekuat itu sejak dahulu—lebih tepatnya sewaktu Aqilla belajar beladiri dengan kesungguhan kuat.


Rayhan, Robert, Reva, dan Jessie ikut berdiri. Keempatnya menatap Kenzie dan Aqilla bergantian. Apa sebentar lagi akan ada perang saudara di mansion itu?


Tak lama, Alysa datang dari arah dapur dengan tergopoh-gopoh. Bahkan, di tangan wanita itu masih ada spatula dan di lehernya menggantung celemek. Ia panik karena pikirnya suaminya telah berbuat sesuatu dengan tamunya.


Disusul kedatangan anak-anak yang juga kaget dengan suara dobrakan tadi. Jovan dan Jovin berbinar antusias melihat mommy mereka ada di lantai dua.


“Mommy!” seru si kembar semangat seraya melambaikan tangan.


Ketika sorot pandang Aqilla berjumpa dengan manik si kembar, wanita itu mengubah air mukanya dalam sekejap. Ia menatap kedua anaknya dengan teduh dan penuh kerinduan. Padahal, mereka hanya berpisah satu hari saja.

__ADS_1


Aqilla menuruni tangga dengan cepat, lanjut menghampiri putra-putrinya. “Mommy kangen...” ucap Aqilla manja sambil memeluk si kembar.


Si kembar balas merengkuh lebih erat. “Kami juga kangen Mommy..”


Ketiga insan itu melepas rindu sejenak. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Aqilla seperti ini sejak dirinya belajar apa arti keluarga dari keluarga Refalino. Satu hal yang pasti, hadirnya si kembar ke dunia adalah anugerah terindah dari Allah yang harus dijaga dan disyukuri.


Selepasnya, Aqilla meminta Arven dan Kia untuk mengajak Jovan dan Jovin bermain di tempat lain karena ia mau berbicara dengan Papa Kenzie. Kedua anak dari pasangan Kenzie-Alysa itu mengangguk patuh.


Sepeninggalan anak-anak, Aqilla mendekati kakaknya yang kembali duduk dengan raut super datar. Paras keduanya yang 85% mirip membuat Aqilla dan Kenzie nampak sama—karena kakak-beradik ini tengah memasang ekspresi yang tidak jauh berbeda.


“Kakak mau apa sekarang? See, kan? Anak-anak Aqilla butuh daddy mereka. Nggak bisa gitu kalo Kakak kasih restu?” ucap Aqilla serius.


Kenzie tersenyum miring. Semakin ke sini, Aqilla kian berubah, itu yang Kenzie pikirkan. Adik yang biasanya menurut dan patuh dengan segala permintaan juga perintahnya, kini terus membangkang. Dahulu, Aqilla hanya sesekali menolak permintaannya jika wanita itu memiliki alibi yang kuat. Namun, kali ini, kondisinya berubah total.


“Kenapa emangnya, La? Kamu mau sama laki-laki yang nodain kamu?” sinis Kenzie.


“Kak! Yang namanya nodain itu kalo cowoknya maksa ceweknya buat ‘berhubungan’! Tapi, Lala sama Ray nggak! Kami berdua sadar! Nggak mabuk! Dari segi mananya dia nodain Lala, Kak?” Sumpah, ya, Aqilla capek menjelaskan hal yang sama berulang-ulang kepada kakak lelakinya ini. Bawaannya mau nyemprot nih laki orang.


“La, dia—”


“Kakak mau bilang ‘kalo bukan laki-laki yang mulai, ceweknya nggak akan terangsang’, iya?” ucap Aqilla mulai jengah. Sejak dahulu, Kenzie hanya peduli dengan persepsinya. Tidak tahu saja kalau kesimpulan yang lelaki itu buat tidak sepenuhnya benar.


“La!” seru Kenzie emosi.


“AQILLA ANGGOTA IAF, KAK, KALO KAKAK LUPA!” teriak Aqilla tak mau kalah. “Bertahun-tahun Lala belajar ilmu beladiri, biar apa? Biar Lala bisa jaga diri! Lala nggak mungkin ngandelin Kakak terus ke mana-mana.”


“Seandainya tujuh tahun lalu Lala nggak mau, Lala dipaksa, nih cowok udah mati, Kak! Lala cabut jantungnya pake tangan!” seru Aqilla sadis.


Rayhan refleks menyentuh dada kirinya dengan raut melongo. Membayangkan tangan Aqilla menembus dadanya kemudian mencabut jantungnya membuat lelaki itu merasa ngeri. Sebentar! Ia tidak salah pilih calon istri, kan?

__ADS_1


Kenapa calon istriku seperti monster haus darah, sih?


“La, Kakak cuma mau yang terbaik buat kamu! Kamu satu-satunya keluarga yang Kakak punya. Kita hidup bareng-bareng dari kecil. Selama ini, Kakak selalu pastiin semua keinginan, semua kebutuhan kamu terpenuhi. Kakak nggak rela kalo kamu bersanding sama laki-laki yang nggak baik,” papar Kenzie mengutarakan keresahannya.


Aqilla meraih tangan Kenzie dan menggenggamnya. “Ray laki-laki yang baik, Kak. Buktinya, dia mau cari Lala. Padahal, waktu itu, Lala udah minta dia buat nggak cari. Kakak ingat, kan, waktu itu Lala minta tolong sama Kakak buat nyembunyiin keberadaan Lala? Lala lakuin itu biar Ray nggak nemuin Lala. Dia baik, Kak, dia sosok daddy yang baik, Ray berusaha kasih yang terbaik buat anak-anak, dia rela ubah rutinitasnya demi anak-anak. Apa itu kurang di mata Kakak?” tutur Aqilla.


Terpecahkan sudah teka-teki masa lalu. Alasan mengapa Rayhan tidak bisa menemukan apa pun tujuh tahun silam karena Kenzie-lah yang menyembunyikan data Aqilla. Lelaki yang berhasil mendirikan perusahaan di bidang IT itu tentu tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam meretas.


Kenzie membisu.


Diamnya lelaki itu membuat sang istri merasakan iba. Alysa menghela napas berat melihat kebimbangan besar di binar mata suaminya.


“Kakak capek.” Usai mengatakan itu, Kenzie menaiki tangga tanpa berucap apa pun lagi. Ia menenggelamkan diri di balik pintu kamar.


Aqilla terduduk lemas di sofa. Ia meraup wajahnya dengan tangan kanan. Entah harus dengan cara apa ia mengubah pemikiran kakaknya. Jika dengan kata-kata tidak tersampaikan, lalu Aqilla harus menggunakan metode seperti apa?


Aqilla tidak mungkin memakai kekerasan hanya demi mengubah persepsi. Ia tidak mau menjadi contoh yang buruk untuk kedua anaknya.


“Yang sabar, ya.”


Ucapan dan usapan penuh afeksi itu mendarat di tubuh Aqilla. Ketika ia mendongak, Aqilla mendapati kakak iparnya tengah mengulas senyum lembut.


“Kakakmu itu sayang sama kamu, makanya dia kayak gitu,” ucap Alysa membenahi anak rambut Aqilla yang berantakan. “Mas Kenzie itu lagi bimbang sama hati dan otaknya. Dia tenggelam sama kekalutannya sendiri sampe ngebuat hatinya salah paham.”


Aqilla mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti maksud Alysa. “Maksud Kakak? Salah paham sama apa?”


Alysa tersenyum. “Sebenarnya, Mas Kenzie itu...”


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2