I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 35 | Makan Bersama


__ADS_3

Wihh.. ada yang minta double up, kan?


Tadaaa.. Ay turutin! Sorry malem, padahal ngetiknya dari pagi. Siangnya ketiduran, wkwkwk..


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Hari esok pun tiba. Hari yang benar-benar Reva tunggu sejak kemarin. Saking tidak sabarnya, wanita beranak dua itu sudah mempersiapkan menu sarapan terbaik menggunakan kedua tangannya sendiri.


Para koki dan pelayan yang melihat dibuat takjub. Biasanya nyonya mereka ini sangat dilarang ke dapur oleh tuan besar karena Reva pernah tergores pisau. Namun, hanya demi menyambut kedatangan Aqilla—yang katanya merupakan calon menantu Robert juga Reva—sepasang suami-istri itu sampai rela turun tangan sendiri.


“Nyonya Besar,” panggil salah satu pelayan dengan napas terengah-engah.


Reva menoleh. “Kenapa?”


“Nyonya muda sudah tiba di depan.”


Tersenyum cerah. Reva bergegas keluar mansion, menghampiri Aqilla yang sudah sampai. Panggilan nyonya muda itu Jessie yang menyematkan karena ia yakin cepat atau lambat Aqilla akan menjadi kakak iparnya.


“Ada apa ini?” tanya Robert keheranan melihat para pelayan mansion berbondong-bondong keluar. Jessie dan Rayhan yang berada di sebelah Robert ikut dibuat tak paham.


“Nyonya muda—maksud saya, Nona Aqilla sudah tiba di depan, Tuan Besar. Nyonya besar sekarang sedang menyambutnya,” jawab salah satu pelayan dengan kepala tertunduk.


Senyum tipis Robert terbit seketika. Begitupun dengan Rayhan. Berbeda dengan Jessie yang sumringah. Ketiganya pun menyusul keluar mansion, ingin menyapa Aqilla pula.


“Selamat datang di mansion Mami, Sayang,” ucap Reva menyambut hadirnya sang tamu. Robert, Rayhan, dan Jessie ikut mengangguk di samping Reva.


Aqilla berdiri canggung dengan setelan santainya. Ini di luar ekspektasi. Pikirnya, ini hanya makan bersama yang tidak resmi. Tapi, kenapa penyambutannya udah kayak nerima pejabat saja?


“Anda salah, Nyonya,” kata Aqilla serius.


“Eh, salah?” beo Reva tak mengerti.


“Seharusnya seperti ini.” Aqilla mendekat, lanjut meraih tangan Reva dan menyalaminya. “Assalamualaikum, Nyonya.”


Jika Reva sudah tahu menahu, Robert, Rayhan, dan Jessie malah tertegun. Mereka tersenyum haru melihat perlakuan kecil Aqilla yang sukses menyentuh hati mereka. Hanya sekadar salim, sih, tapi percaya, deh, Robert dan Reva sangat jarang diperlakukan seperti itu.


Agama seluruh keluarga Refalino memang Islam. Tapi, iman mereka melemah semenjak insiden bertahun-tahun silam. Hari di mana keluarga Refalino mengalami perubahan begitu besar, terutama bagi Rayhan.


Aqilla bergantian menyalami Robert. Untuk Rayhan dan Jessie, wanita itu hanya saling menjabat tangan.


“Ayo masuk, Nak,” ajak Reva merangkul bahu Aqilla.


Mata Aqilla berpendar meneliti interior mansion, tidak banyak perubahan ternyata. Terakhir dia ke sini waktu mengantar Rayhan yang mabuk bukan?

__ADS_1


Manik Aqilla berbinar bahagia menonton deretan makanan di meja makan. Ia sampai bertepuk tangan heboh, senang bukan main karena perjuangannya tidak sarapan pagi tadi membuahkan hasil. Aqilla makan besar!!


Reva terkikik geli. Cukup mudah membuat Aqilla senang rupanya. Bukan dengan tumpukan perhiasan ataupun lembaran uang, hanya dengan sajian berbagai menu makanan, itu lebih dari cukup.


“Duduk sini.” Reva menarikkan kursi untuk Aqilla, tepat di sebelah Rayhan.


Aqilla yang diberi servis seperti ini malah jadi kikuk. Apalagi yang melayani Nyonya Besar Refalino sendiri. Jelas Aqilla tidak nyaman, lah! Reva lebih tua, lho.


“Astagfirullah, Nyonya. Harusnya saya yang melayani Anda, kenapa jadi kebalik begini?” protes Aqilla dengan sisa rasa malunya.


Sayangnya, Reva tetap tidak peduli. Ibu dari Rayhan itu tetap bersikukuh memberi jamuan yang terbaik untuk Aqilla. Bahkan, Reva tanpa ragu mengambilkan Aqilla makanan.


Setelah percekcokan yang lumayan menguras otak, acara sarapan dimulai. Percayalah, keluarga Refalino sampai rela menahan lapar demi bisa menyantap makanan bersama calon anggota keluarga baru mereka.


Hadehh.. mereka percaya diri sekali, sih, dengan asumsi sendiri.


Usai sarapan, Aqilla diajak ke ruang tamu. Mereka mengobrol santai di sana. Sesekali Aqilla melirik ke arah Rayhan yang menatapnya terang-terangan. Entah apa maksudnya, yang pasti sorot mata lelaki itu benar-benar menghanyutkan.


“Anak-anakmu sekolah di mana, Sayang?” tanya Reva.


“Em.. di International School Tren, Nyonya.”


Robert membelalakkan matanya. “Wah, benarkah? Bukannya itu sekolah internasional?”


Aqilla mengiyakan. “Saya mendaftarkan mereka di sana karena anak-anak saya tidak mau masuk TK, Tuan Besar.”


“Lho? Kenapa, Kak?” heran Jessie.


Rayhan berdecak kagum. “Memangnya mereka kelas berapa sekarang?”


“Kelas 6 sekolah dasar, umur mereka 6 tahun juga, sih.”


Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie melongo di tempat. Sulit dipercaya sekali. Umur 6 tahun, tapi kelas 6 pula? Wah, seberapa banyak digit angka IQ si kembar, sih? Kenapa bisa sepintar itu?


Topik selanjutnya membahas kehidupan Aqilla dan si kembar. Walaupun agak tidak nyaman ditanyai hal pribadi begitu, Aqilla tetap menjawab. Takutnya malah tidak sopan kalau mengelak.


“Permisi, Nyonya, Tuan, saya membawa—akh!”


Pelayan yang datang dengan nampan minuman memekik kaget ketika kakinya terjerat karpet. Nampan yang dibawa oleng, dan gelas berisi jus di atasnya ikut tumpah.


Jatuh tepat mengenai tubuh Aqilla di bagian kaki.


“Aqilla!” pekik Rayhan melihat Aqilla sedikit tersiram jus.


Aqilla berdiri dengan cepat, melirik pasrah ke arah pakaiannya yang basah penuh dengan noda. “Yahh.. bajuku,” keluh Aqilla.


Pelayan tadi langsung bersimpuh—semakin menambah kepanikan Aqilla. “Maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja, ampuni saya.”


Aqilla bisa melihat tubuh pelayan wanita itu bergetar karena takut. Sepertinya dia merasa profesinya terancam punah. Padahal, kan, Aqilla hanya diam.

__ADS_1


“Kamu! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu tidak hati-hati, hah?!!” seru Reva marah. Urat wajahnya sampai terlihat. Dia tidak mau gara-gara kelakuan pelayan ini, usahanya untuk menarik perhatian Aqilla jadi terhambat.


Rayhan berlari masuk ke dalam kamar tamu—karena kamar itu berada di lantai bawah paling dekat dengan ruang tamu. Ia membawakan handuk untuk menghapus noda jus yang berada di pakaian Aqilla, namun langsung dicegah. Masa iya Aqilla membiarkan tuan muda meraba-raba tubuhnya?


Emang udah pernah, sih, sampe jadi bocil. Tapi, kan, bukan berarti diulangi juga.


“Tuan Muda, biar saya saja.” Aqilla mencoba untuk mengambil alih handuk dari tangan Rayhan. Beruntung lelaki itu menurut dan membiarkan Aqilla membersihkan dirinya sendiri.


“Bibi! Kenapa Bibi ceroboh sekali, sih?” sahut Rayhan murka. Kalimat selanjutnya hendak dicetuskan. Namun, usapan di lengan Rayhan membuat lelaki itu menoleh dan terdiam.


“Sudah, Tuan Muda, saya baik-baik saja,” kata Aqilla menenangkan Rayhan.


Sorot mata Rayhan berubah drastis. Lelaki itu menyorot penuh makna tangan Aqilla yang bertengger di lengannya. Serius, nih! Jantung Rayhan berdebar-debar!


Aqilla berdeham canggung menyadari keberadaan tangannya. Ia menariknya perlahan, lanjut mengalihkan pandangan.


Reva dan Robert tersenyum bahagia melihat itu. Sikap malu-malu Aqilla benar-benar menarik perhatian.


“Ampuni saya, Tuan Muda. Saya tidak sengaja,” kata pelayan itu dengan wajah berlinangan air mata. Ia sungguh takut sekarang. Hanya pekerjaan ini yang bisa ia lakukan karena tidak punya ijazah SMA. Jika sampai kehilangan, pelayan itu tidak tahu harus melakukan apa demi anaknya di rumah.


“Iya, tidak apa-apa, Bi. Pergilah,” suruh Aqilla.


Buru-buru pelayan tadi membungkuk hormat, kemudian melenggang pergi ke dapur untuk mengambil alat kebersihan. Dia beruntung karena calon nyonya mudanya berhati besar, mau memaafkan kesalahan ini—yang terbilang lumayan fatal.


“Kamu memaafkannya, Sayang?” tanya Reva.


Aqilla tersenyum. “Iya, Nyonya. Pelayan itu tidak sengaja. Sebagai sesama manusia, saya tahu bahwa setiap manusia tidak akan luput dari kesalahan. Biarkan saja, Nyonya. Saya tidak masalah.”


Aih! Kalau begini, aku makin setuju wanita ini menikah dengan putraku.


Robert sampai membatin senang. Benar-benar menantu idaman, pikirnya.


“Terus pakaian Kakak gimana?” tanya Jessie yang menyaksikan noda besar di pakaian Aqilla.


“Ya tinggal ganti baju, terus dicuci, Nona,” jawab Aqilla polos.


Jessie malah tergelak mendengar nada selugu itu. Begitupun Rayhan yang terkekeh. Lelaki itu sampai menekan kepala Aqilla gemas. Si empunya kepala melotot kesal, menepis tangan Rayhan dari kepalanya.


Drrtt... drrtt...


Aqilla melirik ponselnya yang berkedip. Tangannya meraih benda pipih tersebut. Bibirnya melengkung melihat siapa si penelepon. “Assalamualaikum, Boy.”


“Wa‘alaikumsalam, Mom. Mommy di mana?”


Aqilla melirik ke arah Rayhan yang menatapnya dengan alis terangkat sebelah. “Mommy di rumah teman, Boy. Kenapa?”


“Jovin kecelakaan—”


“APA?!!” pekik Aqilla terkejut. Matanya membulat. “JOVIN KECELAKAAN?!!”

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2