
Beberapa bulan kemudian...
Suasana terasa tegang sejak beberapa jam lalu. Saat ini, Aqilla tengah berada dalam ruang persalinan untuk melahirkan—jauh dari HPL yang ditentukan dokter. Namun, janin dalam kandungan dinyatakan kuat karena memang Aqilla dan keluarga menjaga dengan baik.
Sepanjang penantian masa pembukaan, Rayhan terus menemani sang istri. Lelaki itu membisikkan nama-nama baik Allah di telinga Aqilla—persis seperti permintaan Aqilla.
“Dokter, apa masih belum?” tanya Rayhan berusaha tetap tenang. Padahal, hatinya ketar-ketir. Ia panik dan takut melihat istrinya terus meringis kesakitan.
Dokter Rina—dokter yang selama ini menangani Aqilla termasuk dalam pemeriksaan—memeriksa bagian bawah Aqilla. Entah apa yang wanita berjas putih itu lakukan, Rayhan tidak masalah. Asalkan bisa mengurangi rasa sakit Aqilla, Rayhan akan memaklumi. Dan, asalkan yang melakukan seorang wanita, bukan pria, Rayhan memperbolehkan.
“Sudah pembukaan sembilan. Mohon tunggu sebentar lagi.” Dokter Rina berucap tenang. “Suster, tolong bersiap-siap. Kita akan mulai persalinannya sebentar lagi.”
“Baik, Dokter.”
“Nyonya Muda, apa kehamilan sebelumnya Anda melahirkan normal?” tanya Dokter Rina yang lupa menanyakan hal tersebut. Jika diperhatikan lamat-lamat, pasiennya kali ini tampak tenang walaupun sesekali meringis. Seolah-olah sudah pernah mengalami kejadian serupa.
Aqilla mengangguk lemah. “Iya, Dok.”
“Kalau begitu, proses kali ini akan lebih mudah.”
Aqilla meringis seraya mencengkeram tangan Rayhan. Kedua tangan pasangan ini memang saling bertautan sejak awal, sama sekali tidak mau dilepas. Ketika Aqilla merasakan sakit, ia akan menggenggam lebih erat, menyalurkan rasa sakit yang diderita.
“Semangat, Sayang. Kamu pasti bisa,” ucap Rayhan usai mengecup kening Aqilla. “Baby kita mau ketemu mommy-nya.”
“Dan, daddy-nya,” tambah Aqilla pelan.
Rayhan tertawa bersamaan dengan sebulir air mata yang jatuh. Lelaki itu tidak sanggup menyaksikan wanita yang dicintai menderita. Seandainya ada teknik khusus untuk memindahkan rasa sakit ini, Rayhan rela, kok, melakukannya.
“Sudah pembukaan akhir. Kita mulai persalinannya.” Dokter Rina menyiapkan perlengkapan. “Nyonya, tolong mengejan sesuai instruksi saya, ya.”
“I..ya, Dok.”
Seperti yang dikatakan, Aqilla mulai mengejan setiap diminta. Rasa sakit menyeruak, menjalar dari perut lalu turun ke bawah. Teriakan ketiga, satu bayi berhasil dikeluarkan.
“Bayi pertama perempuan. Catat hari, tanggal, dan jamnya. Berat dan panjangnya juga,” titah Dokter Rina menyerahkan bayi merah yang berhasil dilahirkan dengan selamat kepada suster.
Melihat bayinya lahir, Rayhan menangis haru tanpa suara. Tangisan putri ketiganya benar-benar menggelegar, menunjukkan atensinya kepada seluruh dunia.
“Aakh..” rintih Aqilla merasakan desakan lain dari area bawah.
“Nyonya masih kuat, kan?” tanya Dokter Rina.
“Masih, Dok,” lirih Aqilla menggenggam erat tangan Rayhan.
__ADS_1
“Ini akan lebih cepat, Nyonya. Ikuti instruksi saya, ya.” Dokter Rina memberi aba-aba supaya Aqilla mengejan kuat.
Hanya dalam satu kali dorongan, bayi perempuan lain terlahir ke dunia. Suaranya sama kencang seperti bayi pertama. Anak dengan kulit merah itu meraung-raung.
“Sayang, baby kita udah lahir,” bisik Rayhan terharu.
“Aakhh.. Dok, sakit,” rintih Aqilla merasakan desakan lain. Rayhan yang mendengar panik. Lantas dirinya berteriak memanggil dokter yang nampak berleha-leha karena berpikir semua sudah selesai.
Dokter Rina turut panik. Ia fokus memeriksa Aqilla dan berkata, “Sepertinya ada satu bayi lagi.”
Seperti sebelumnya, Dokter Rina meminta Aqilla untuk mengejan. Dalam dua kali dorongan, bayi laki-laki terlahir. Ukurannya lebih kecil dibandingkan kedua bayi perempuan yang lain. Karena tidak menduga adanya kehadiran bayi tambahan, para dokter yang bertugas memeriksa dengan detail bayi laki-laki tersebut.
Suara tangisan bayi laki-laki menggelegar, tidak kalah kencang dengan kakak-kakak perempuannya. Selepas diperiksa, bayi tersebut dinyatakan sehat. Hanya ukurannya saja yang sedikit lebih kecil, namun semuanya normal.
Aqilla tersenyum tipis memandangi siluet putra bungsunya yang dibawa pergi untuk dibersihkan. Tidak jauh berbeda dengan Rayhan. Lelaki itu benar-benar tidak menyangka akan memiliki 5 anak di usianya yang sekarang. Ini adalah anugerah dari Tuhan.
Terima kasih, Ya Allah, atas segala pemberian-Mu. Terima kasih banyak...
...👑👑👑...
Aqilla telah dipindahkan ke ruang inap VVIP. Seluruh keluarga Refalino maupun Jonesa nampak berkumpul untuk melihat baby triplets.
Pertama kali diberitahu, Robert dan Reva sempat syok mengetahui jika ada 3 bayi dalam kandungan Aqilla. Namun, mereka sangat bahagia mendengar semuanya baik-baik saja, Aqilla dan ketiga anaknya sehat.
“Daddy, kenapa mommy nggak bangun-bangun?” tanya Jovan yang khawatir dengan kondisi Aqilla. Pasalnya, wanita itu belum sadarkan diri semenjak dipindahkan. Jadi, kan, Jovan cemas.
“Jadi, mommy cuma kelelahan, Daddy?” tanya Jovan memastikan.
Rayhan mengiyakan. Jovan menghembuskan napas lega. Lelaki kecil itu tidak mau pindah dari sisi Aqilla. Katanya, sih, mau nungguin mommy-nya.
“Terus dede’ mana, Daddy? Kok nggak dibawa ke sini?” tanya Jovin antusias.
“Dede’-nya, kan, harus dibersihin dulu, Sayang, terus diperiksa. Nah, baru, deh, dibawa ke sini,” papar Kalina.
“Lama, ya, Oma?”
“Kan, dede’-nya ada tiga. Ya agak lama dong.”
Walaupun tidak sabar, Jovin tetap mengangguk. Gadis kecil itu benar-benar ingin segera melihat paras adik-adiknya.
“Ssh..” Aqilla melenguh. Perlahan, maniknya mengerjap. Hal pertama yang ia lihat adalah seluruh keluarganya yang hadir di ruang rawat, menyambutnya dengan senyuman.
“Mommy? Ada yang sakit, Mom?” tanya Jovan cemas.
__ADS_1
Aqilla menoleh ke samping dan tersenyum. “Mommy fine, Boy. Cuma lemes karena capek.”
“Beneran?”
“Iya.”
Tok tok tokk..
Ceklekk..
“Permisi.” Dua orang suster datang sembari mendorong tiga box kaca berisikan bayi. “Ini bayinya, Nyonya, Tuan. Selamat atas kelahiran putra-putri sekalian.”
Dalam sekejap, ketiga bayi itu menjadi objek pandangan. Jovin hampir memekik melihat paras rupawan adiknya yang terlelap. Kedua bayi perempuan itu nampak sangat mirip, benar-benar identik. Beruntung di pergelangan tangan dan box bayi sudah diberi angka sesuai nomor kelahiran. Sementara bayi laki-lakinya....
“Wah, baby boy-nya mirip banget sama Aqilla,” celetuk Kenzie.
Aqilla yang mendengar seketika tersenyum cerah. “Alhamdulillah.. akhirnya, aku hamil 9 bulan dan anakku mirip sama aku. Nggak sia-sia aku hamil sekarang.”
Jovan melotot. “Maksud Mommy, Mommy sia-sia udah hamil kami?”
“Eh?” Aqilla gelagapan. Ia menggeleng cepat. “Mana ada, Boy. Mommy cuma protes karena dulu waktu ngelahirin kalian, wajah kalian fotokopian daddy. Ya Mommy nggak terima dong. Kan, Mommy yang hamil.”
Jovan melirik sinis. “Hilih..”
“Ish, udah, Kak! Jangan ribut di sini. Nanti dede’ bangun gimana?” sungut Jovin mengerucutkan bibir.
“Karena Jovin udah punya adek, Jovin mau dipanggil ‘kakak’ juga!” seru Jovin kemudian.
“Lho? Kalo kamu ‘kakak’, terus Kakak apa dong?” protes Jovan.
“Abang,” sahut Aqilla nyengir.
Jovan menghela napas berat melihat muka memelas Jovin. “Iya, iya, kamu dipanggil ‘kakak’ sekarang! Puas?”
“Puas dong,” sahut Jovin senang.
Dengan hati-hati, Rayhan belajar menggendong putri ketiganya. Sementara keempat dan kelima berada dalam rengkuhan Reva dan Kalina. Kedua ibu itu heboh sendiri dengan suami masing-masing.
“Sayang, lihat, anak kita cantik sekali,” kata Rayhan menunjukkan paras anak di gendongannya kepada Aqilla.
Aqilla mengangguk setuju. Wanita ini sangat bahagia menyaksikan raut cerah sang suami juga keluarganya. Tidak peduli waktu sudah menunjukkan malam hari, kesenangan hari ini tidak akan surut.
“Oh, ya, siapa nama baby triplets-nya, Ray?” tanya Kenzie.
__ADS_1
Rayhan tersenyum. Ia melirik sang istri yang menggangguk pelan. “Kami udah pikirin nama yang bagus, Kak. Nama mereka....”
^^^– Bonus Chapter 4 Finish –^^^