I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 68 | Janji Sebelum Tidur


__ADS_3

“Mami ingin bertemu si kembar, Nak. Di mana mereka?” pinta Reva.


Ely mengerutkan dahi. “Si kembar? Tapi, mereka tidak ada di sini, Nyonya.”


Deg!


Jantung Reva seolah berhenti berdetak. Pikiran-pikiran buruk mulai merasuki kepalanya.


“Malahan.. Aqilla juga nggak pulang dari pagi tadi,” tambah Ely.


Rayhan dan Robert membeku di tempat. Kedua pria berbeda generasi itu sama-sama terkejut dengan pernyataan Ely. Jika Aqilla tidak datang sejak pagi, lalu ke mana wanita itu membawa anak-anaknya?


Qilla nggak mungkin, kan, bawa si kembar pergi?


Nggak! Aku yakin, Qilla masih ada di negara ini!—batin Rayhan mulai resah.


“Ray, coba telepon Aqilla sekarang,” saran Robert masih berusaha tetap ber-positif thinking.


Tanpa menjawab lagi, Rayhan mematuhi perkataan papinya. Ia meraih ponsel dan segera menghubungi Aqilla. Nada sambung terdengar.. namun, tidak ada balasan. Ia mencoba berulang kali, tapi nihil.


“Nggak diangkat, Pi,” lirih Rayhan mulai ketakutan. Impian besarnya untuk memiliki keluarga lengkap, apa harus tertunda lagi? Setelah sekian lama menantikan hadirnya sosok anak, kenapa Rayhan dipaksa untuk berpisah kembali?


Menyadari bahwa situasi memanas, Ely membantu dengan menghubungi sahabatnya itu. Percobaan pertama hingga keempat, gagal. Beruntung di percobaan kelima, wanita di seberang sana mengangkat teleponnya. “Assalamualaikum, Qill. Kamu di mana?”


Mengetahui Ely berhasil menghubungi Aqilla, Robert, Reva, dan Rayhan memfokuskan diri pada gadis itu.


“Oh, dalam perjalanan?” Ely tampak manggut-manggut. “Oke, aku tunggu.” Gadis itu menyimpan ponselnya kembali. “Aqilla dalam perjalanan, kok, Nyonya, Tuan,” tuturnya memberitahu.


“Memangnya Aqilla ke mana, Nak?” tanya Reva.


“Dia dari...”


...👑👑👑...


Mobil yang Aqilla kemudikan berhenti di pekarangan rumahnya. Selepas turun, wanita itu bergegas membukakan pintu untuk kedua buah hatinya. “Hati-hati turunnya,” peringat Aqilla.


Jovan dan Jovin mendarat di tanah dengan selamat sentosa. Kedua bocah itu tersenyum lebar, masing-masing kedua tangan mereka memegang balon dan plastik berisikan jajanan. Yap, mereka bertiga baru saja menghabiskan waktu jalan-jalan malam bersama.


Di mana?


Di pasar malam dong.

__ADS_1


“Seneng nggak, nih?” goda Aqilla sengaja.


“Seneng dong, Mom!” seru keduanya riang.


“Ya udah, ayo masuk.”


Ketiganya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Kala si kembar melihat tiga sosok dengan senyum lembut terukir di paras masing-masing tengah berdiri di hadapan, kedua bocah itu berteriak antusias, “DADDY! GRANDMA! GRANDPA!”


Jovan maupun Jovin berlari menerjang ketiga insan yang disebut tadi, memeluk mereka dengan erat, melepaskan rindu yang bersemayam. Aqilla dan Ely yang menonton cuma bisa geleng-geleng. Mereka itu hanya berpisah beberapa jam, bukan bertahun-tahun. Tapi, acara temu-kangen ini udah kayak nggak ketemu selama puluhan tahun gitu.


“Jovin kangen Daddy,” kata Jovin dengan aksen manis. Senyum gadis kecil itu merekah.


“Daddy juga kangen, Sayang,” balas Rayhan yang gemas dengan tingkah putrinya. Ia mengecup pipi gembul Jovin yang terkekeh geli.


“Masalahnya udah selesai, kan, Dad?” tanya Jovan memastikan.


“Udah, Sayang. Makanya, kami ke sini buat ngasih tau kalo semuanya udah selesai,” jawab Reva yang diangguki oleh Robert. Jovan pun tersenyum lega, mommy mereka pasti tidak akan memisahkan mereka lagi.


Lantas kelimanya larut dalam perbincangan yang seru. Si kembar menceritakan pengalaman mereka di pasar malam dengan heboh. Dan, dengan menurutnya, ketiga anggota Refalino itu duduk diam, mendengarkan dengan kelewat serius.


Hadehh.. apakah harus seserius itu menghadapi cerita bocah umur 6 tahun? Si kembar cuma menceritakan mengenai pengalaman pribadi, bukan kisah sejarah yang patut dikenang khalayak ramai.


Saking kesalnya, Aqilla memasuki kamarnya dengan bibir mendumel.


Braak!


Pintu pun jadi korban. Sampai dibanting itu.


“Mommy marah, ya?” tanya Jovan dengan polosnya.


“Nggak, Kak, mommy nggak marah,” bantah Jovin yakin.


“Terus kenapa dong?”


“Mommy lagi cemburu sama daddy, hehe.”


“Oh, jealous toh? Ckckck, kasihan.” Jovan geleng-geleng. Lelaki kecil itu memasang tampang iba, namun hatinya sibuk menggerutu, udah gede, kok, pake cemburu segala. Cih, kayak anak kecil!


Sementara itu, di dalam kamar Aqilla...


Aqilla berbaring telentang di ranjang dengan sorot menerawang. “Kayaknya hidup aku tenang-tenang aja akhir-akhir ini. Hm.. kayaknya harus berbuat sesuatu, deh, besok.”

__ADS_1


‘Dia’ juga nggak bertindak sama sekali. Kenapa, ya?


...👑👑👑...


Pukul 23.02 WIB...


“Sayang, ini udah malam. Tidur yuk,” ajak Robert. Hari menjelang semakin larut, namun kedua cucunya enggan memejamkan mata. Alasannya, sih, menanti mommy mereka.


Pasalnya, Aqilla sudah berjanji akan menyanyikan lagu tidur malam ini. Tapi, wanita itu tidak keluar dari kamar sejak masuk tadi. Kebetulan juga ketiga anggota Refalino itu memutuskan untuk menginap di sana malam ini.


Lagipula, ini bukan kejadian pertama kalinya, kok. Keluarga Refalino sering menginap di kediaman Aqilla demi bisa bersama si kembar.


“Mommy kalian lelah, Twins. Kita tidur, ya,” bujuk Rayhan.


Wajah Jovin yang sayu berubah murung. “Mommy ingkar janji, ya, Daddy?” katanya lesu.


“Mommy, kan, udah janji mau nyanyi malam ini,” sungut Jovan yang matanya benar-benar sudah seperti diberi lem.


Braakk!


Kaget. Mereka semua terlonjak di sofa karena mendadak ada seseorang yang membuka pintu dengan keras. Dan, si pelaku adalah Aqilla sendiri.


“Aduh, Mommy lupa!” Wanita itu bergegas menghampiri putra-putrinya. “Maaf, Twins, Mommy lupa kalo malam ini ada jatah lagu tidur buat kalian. Mommy tadi ketiduran,” kata Aqilla penuh sesal.


“Mommy capek, ya?” Jovan jadi merasa bersalah. Paras sang mommy tampak lebih pucat dari sebelumnya.


“Hm, sedikit. Sini, Mommy nyanyikan.” Aqilla menepuk pahanya. Walaupun kadar kantuk di kelopak matanya sudah menumpuk hingga berton-ton beratnya, Aqilla tetap mengusahakan untuk tetap terjaga. Ia tidak boleh memberi contoh untuk menjadi pribadi yang ingkar janji di masa depan.


Si kembar menurut. Jovin berbaring dengan kepala beralaskan paha Aqilla, sementara Jovan bersandar di tubuh Aqilla. Pokoknya, mereka mencari posisi ternyaman agar tidur mereka pulas.


“Baca doa dulu,” bisik Aqilla.


Si kembar menengadahkan tangan, berdoa sebelum tidur dengan suara lirih. Selepas itu, Aqilla mulai menyuarakan nada emasnya. Wanita itu bersenandung lembut seraya mengusap kepala kedua anaknya.


Lama kelamaan, mata sayu kedua anaknya mulai terpejam. Tidak butuh waktu lama, Jovan dan Jovin telah terlelap di dunia mimpi mereka.


Rayhan yang melihat terharu. Ia baru saja ingin memanggil Aqilla, tapi wanita itu menjatuhkan kepala di sandaran sofa dan tertidur.


Rayhan terkekeh melihatnya. Kamu memang ibu terbaik yang aku tahu, Qill.


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2