I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 94 | Meminta Izin


__ADS_3

Ini hari H. Ulang tahun si kembar siap dirayakan dengan meriah. Pekarangan mansion Refalino telah dihias sedemikian rupa untuk menyambut tamu undangan—yang kebanyakan terdiri dari kolega bisnis Rayhan, Robert, dan teman Jovan Jovin di sekolah.


Pagi-pagi sekali, Rayhan siap untuk pergi ke mansion Jonesa. Lelaki itu akan menepati janjinya kepada kedua anaknya untuk membawa Aqilla ke perayaan ulang tahun ke-7 si kembar. Walaupun tidak tahu bagaimana akhirnya nanti, Rayhan akan mencoba sekuat tenaga.


“Daddy mau ke mana?” tanya Jovan melihat Rayhan sudah rapi pagi-pagi buta. “Bukannya Daddy bilang hari ini cuti buat ngerayain ulang tahun Jovan sama adek?”


Rayhan berjongkok di depan sang putra. Bibirnya melengkung tipis seraya mengusap kepala Jovan. “Daddy mau jemput mommy. Jovan tunggu, ya, di sini,” pinta Rayhan.


Manik Jovan berbinar. “Beneran, Dad? Emangnya uncle udah kasih restu sama Daddy?”


Rayhan tidak menjawab. Ia hanya mengulas senyum penuh arti kepada putranya itu. Mengatakan kalimat kebohongan tidak akan membuat Jovan percaya. Lelaki kecil itu memiliki kemampuan analisis di atas rata-rata. Maka dari itu, Rayhan memilih untuk bungkam.


“Acaranya habis Maghrib, kan? Nanti Daddy datang sama mommy sebelum Maghrib, ya.”


Jovan mengangguk semangat. “Iya, Daddy. Nanti Jovan tunggu, kok. Semangat!” Ia mengepalkan kedua tangannya ke atas.


Rayhan tergelak. Ia turut mengikuti pergerakan anaknya dan berseru, “Semangat!”


...👑👑👑...


“Tuan Muda, kita sudah sampai,” lapor Alvin yang bertugas sebagai supir Rayhan.


Rayhan melirik keluar, tepat di hadapannya adalah bangunan megah milik Kenzie—mansion Jonesa. Selepas menghela napas beberapa kali, lelaki itu turun dari kendaraan dan berjalan penuh wibawa mendekati gerbang. Kali ini ia tidak boleh gugup. Bisa-bisa aura yang sudah disiapkan hilang diterpa angin.


“Permisi, Pak, saya Rayhan ingin bertemu dengan Kak Kenzie. Apa dia ada di dalam?” tanya Rayhan sopan.


Satpam yang ditegur menebar senyum ramah. “Iya, Tuan. Tuan Kenzie ada di dalem. Masuk aja gih.”


Ditemani oleh sang asisten, Rayhan menghampiri pintu utama mansion. Sebelum dirinya bisa mengetuk, kedua bingkai besar itu bergeser hingga membuat celah di tengah. Lagi dan lagi, sosok Alysa yang menyambut keduanya.


“Assalamualaikum, Kak,” ucap Rayhan seraya mengulas senyum lembut.

__ADS_1


“Wa‘alaikumsalam. Wah, Adik Ipar dateng lagi, kah? Mau cari Lala?” balas Alysa ceria, seperti biasa.


Rayhan mengiyakan. “Oh, ya, Kak, ini Alvin, asisten Ray.”


Alvin membungkuk sopan, menyapa Alysa dengan gaya formal. Wanita itu sampai tertawa karena merasa geli. Ia jarang diperlakukan seperti itu sebab identitasnya sebagai istri pemilik AK Tech masih belum terekspos. Untuk saat ini, Alysa bisa merasakan kebebasan—ia dapat pergi ke mana pun tanpa takut dikejar-kejar.


“Halo, Alvin. Senang bertemu denganmu. Ayo masuk dulu.” Alysa menggeser tubuhnya ke samping, memberi ruang agar kedua lelaki itu bisa masuk ke dalam hunian.


Tiba di ruang tamu, pemandangan Kenzie yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus santai membuat Rayhan hampir tersedak saliva. Bukan karena pakaian, melainkan cara Kenzie yang berteriak heboh sembari melihat televisi.


Ternyata lelaki itu tengah menyaksikan siaran pertandingan basket. Rayhan dan Alvin sangat tidak menyangka melihat pemilik AK Tech bisa bertingkah semacam ini.


“Tolong dimaklumi, ya,” ucap Alysa tiba-tiba. “Kalo lagi libur begini, Mas Kenzie emang sering begitu. Teriak-teriak nggak jelas waktu nonton basket.”


Demi menyembunyikan kegugupan yang melanda, Rayhan mengukir senyum dan mengangguk, pertanda bahwa dirinya tidak masalah dengan aktivitas Kenzie yang satu ini. Lagipula ini masih terbilang wajar, kan?


“Tapi, Nyonya, ini bukan akhir pekan ataupun tanggal merah,” celetuk Alvin yang sedari tadi memperhatikan.


Rayhan dan Alvin melongo. Lho, lho, lho? Yang namanya kerja, ya, capek, kan? Kok ini beda, sih?


Enak sekali jadi Kenzie. Lelaki itu bisa memilih kapan saja dirinya pergi bekerja. Seandainya Rayhan dapat mengalami situasi yang sama, lelaki itu akan memanfaatkan waktunya untuk quality time bersama keluarga kecilnya.


“Sapa aja. Kakak ambilkan minum, ya.” Usai mengatakan itu, Alysa pergi menuju dapur, mengabaikan Rayhan yang berkeringat dingin.


Mental daddy si kembar langsung down ke titik terbawah kalau gini caranya.


“Tuan Muda, Anda baik-baik saja?” tegur Alvin menyadari ada yang tidak beres dengan majikannya.


Rayhan memasang raut memelas. “Dia nggak akan marah, kan?” bisiknya.


“Tidak, Tuan. Anda sampaikan niat Anda, saya yakin Tuan Kenzie tidak akan marah.” Alvin berucap untuk menenangkan kekhawatiran tuan mudanya. Seperti apa pun Rayhan, dia tetap manusia biasa yang mencoba kuat demi orang-orang tersayang.

__ADS_1


Rayhan menghirup napas dalam-dalam. Lantas dirinya melangkah mendekati Kenzie yang fokus dengan ponsel sembari mengunyah keripik singkong. “Kak?” panggilnya.


Kenzie mendongak, dahinya mengerut melihat sosok Rayhan ada di hadapan. Lelaki itu melengos. Dengan ogah-ogahan, ia menyahut, “Ngapain kamu di sini?”


Walaupun tidak dipersilakan, Rayhan duduk di sofa tunggal yang ada. Ia pun menyampaikan tujuannya untuk membawa Aqilla karena hari ini ada pesta ulang tahun si kembar. Rayhan juga memberi tahu jika Jovan dan Jovin sangat merindukan Aqilla, dan berharap agar wanita itu bisa hadir dalam acara.


Kenzie manggut-manggut. Tidak ada raut benci seperti sebelumnya meskipun masih tetap datar. Namun, Rayhan mengartikannya sebagai suatu kemajuan. Itu artinya, dirinya bisa memulai perjuangan untuk meraih Aqilla seutuhnya.


Mulai besok, aku akan sering ke sini buat dapetin calon istriku lagi!—tekad Rayhan dalam hati.


Hening menerpa. Rayhan menanti Kenzie berkomentar mengenai maksud kedatangannya. Namun, hingga dua puluh menit berlalu, kakak dari Aqilla itu tetap bergeming. Alvin yang berdiri di samping Rayhan sampai dibuat penasaran dengan isi kepala Kenzie.


“Kenapa kamu mau nikahin Aqilla?” tanya Kenzie tiba-tiba dan tanpa diduga.


Topik utama diungkit. Entah mengapa, Rayhan seperti mendapat angin segar di tengah kemarau panjang. “Ray ingin tanggung jawab, Kak!” jawabnya semangat.


“Hanya itu?”


Rayhan terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah mengingat masa-masa silam. “Awalnya.. ya. Pertama kali ketemu tujuh tahun dulu, Ray udah tertarik sama Aqilla. Tapi, perasaan itu hilang setelah kami pisah, Kak. Waktu itu, Ray sadar kalo perasaan yang Ray punya karena Ray ngerasa bersalah. Ray udah hancurin masa depan perempuan.”


“Setelah tau kami punya anak, Ray langsung lamar Aqilla. Waktu itu yang Ray pikirin cuma satu, gimana caranya agar anak-anak Ray tetep ada di sekitar Ray. Udah gitu aja,” sambung Rayhan mengingat masa lampau.


Kenzie diam, mendengarkan dengan serius.


“Tapi, makin ke sini, setelah kami akrab, setelah kami saling kenal, Ray sadar, perasaan Ray ke Aqilla makin kuat, Kak.” Senyum Rayhan mengembang, menunjukkan betapa dirinya sangat menyukai Aqilla. “Ray mencintai adik Kakak.”


Kenzie terdiam. Beberapa menit berlalu, lelaki itu tidak bergerak sama sekali. Hanya bola mata Kenzie saya yang mengedar, menatap penampilan Rayhan dari atas sampai bawah.


Dan, itu sukses membuat Rayhan kelimpungan, serasa menghadapi sidang di depan hakim resmi milik pemerintah.


Kenzie tiba-tiba menarik sebelah sudut bibirnya. “Pergilah...”

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2