I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 71 | Misi Penyergapan


__ADS_3

Keputusan sudah dibuat.


Aqilla benar-benar tidak diizinkan mengikuti misi. Ditambah lagi, Robert dan Reva ikut mendukung dekrit yang si kembar buat bersama sang daddy. Tentu saja Aqilla kalah suara bukan?


Yang bisa wanita itu lakukan hanyalah.. ya, pasrah! Emang apa lagi? Nggak ada, woy!


Keputusan yang dibuat itu mutlak sekali!


Malam itu, Aqilla berdiam di kamar yang disediakan oleh Reva di mansion selepas makan malam. Di depan wanita itu terbentang peta laboratorium ilegal di Paraguay yang berhasil didapatkan oleh anggota IAF dalam bentuk hologram. Sebelum rapat kemarin, sang kepala memang sudah menugaskan beberapa orang untuk menyelidiki.


Salah satu hasil dari pengamatan langsung laboratorium adalah denah ruangan dari tempat ilegal itu.


Tidak bisa turun ke lapangan bukan berarti Aqilla tidak akan membantu. Wanita itu akan menyumbangkan strategi dalam misi pemberantasan ini. Lagipula, dalam misi apa pun, Aqilla juga yang mengatur strategi.


Kali ini, Aqilla akan berperan sebagai kendali utama pasukan. Ia akan bekerja dibalik layar.


Di tangan wanita itu ada buku bersampul biru yang digunakan untuk mencatat. Aqilla menghubungkan segala informasi dengan kenyataan lokasi. Ini bisa dijadikan salah satu trik untuk membuat strategi yang baik.


Karena motto Aqilla ketika membuat strategi adalah...


“Kenali dulu medan pertarungan, baru kita cari celah untuk menang.”


“Kenali kemampuan diri dan kemampuan pasukan, baru kita membuat keputusan.”


Berjam-jam Aqilla membuat banyak kemungkinan, tugasnya selesai ketika jam menunjukkan pukul 1 malam. Satu rencana utama dan dua rencana cadangan siap disetorkan. Aqilla tersenyum puas melihat hasil kinerjanya.


Huh, kalo di saat genting begini, otakku emang bisa diandelin dengan baik, hehe..


...👑👑👑...


Keesokan paginya...


Rayhan, Robert, Reva, Jessie, Jovan, dan Jovin sudah siap di meja makan untuk sarapan bersama. Mereka menanti Aqilla yang katanya sedang bersiap-siap di kamar. Si kembar juga telah rapi dengan seragam sekolah mereka.


Ini bukan akhir pekan, teman-teman.


“Mommy mana, sih?” gerutu Jovan mulai kesal. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja tak sabar.

__ADS_1


“Mommy nggak akan kabur, kan?” Jovin panik. Ia takut jika ternyata Aqilla kabur dari mansion dan nekat menjalani misi berbahaya itu.


“Kata siapa Mommy kabur?”


Semua pasang mata menoleh bersamaan, termasuk Alvin dan para pelayan yang berada di ruang makan. Mulut mereka menganga seketika melihat penampilan Aqilla yang jauh dari kata biasanya—kecuali si kembar yang terbiasa melihat jubah kebesaran sang mommy.


Ya, Aqilla tengah mengenakan seragam IAF lengkap dengan jubah di lengan kirinya. Aura yang wanita itu keluarkan bukan lagi kehangatan, tetapi ketegasan.


Aura kepemimpinan yang hebat.



(Abaikan wajahnya, guys. Ay sedang berusaha menunjukkan jubah yang selama ini Ay maksud. Bedanya tuh, kemeja atau baju yang dipake Aqilla tuh panjang sampe sepaha, terus di bahu sebelah kiri ada jubah kayak gitu. Paham, kan, kalian?)


“Mommy kenapa pake baju itu? Mommy mau ikut misi?” tanya Jovan memicing curiga ke arah Aqilla.


“Nggak, Boy, kan, semalem nggak diijinin. Mommy mau ikut rapat buat ngerencanain strategi. Mommy nggak akan turun ke lapangan, kok,” bantah Aqilla tidak ingin perdebatan kembali berlangsung pagi ini. Energi otaknya harus disimpan baik-baik untuk adu argumen nanti.


“Cuma rapat, kan? Nggak ikut beneran?” tanya Jovin agak sangsi.


Jika kedua bocah itu diladeni, sudah pasti cekcok akan terjadi dan tidak dapat dihindari.


“Kenapa diam?” heran Aqilla melihat Robert, Reva, Jessie, dan Rayhan menatapnya berbinar-binar. Sepertinya ada yang masih larut dalam ruam kekaguman, nih.


“Kak Qilla keren kalo pake baju itu,” puji Jessie setulus hati. Reva dan Rayhan mengangguk setuju, sedangkan Robert cukup tersenyum tipis.


“Hm, terima kasih.” Aqilla tersenyum manis. Ia menoleh ke arah Jovan. “Pimpin doa, Boy.”


Jovan mengangguk. Kedua tangannya menengadah. “Bismillahirrahmanirrahim...”


...👑👑👑...


Di markas IAF Indonesia, Aqilla sendirian di sana. Ely dan beberapa orang lainnya yang sebelumnya berada di sana telah pergi ke Calgary untuk berkumpul secara langsung.


Sewaktu ditanya alasan Aqilla tidak bisa turun tangan, wanita itu beralasan tengah sakit sehingga tubuhnya tidak fit. Hebatnya, sih, si kepala IAF percaya-percaya saja dan tidak menginterogasi lebih lanjut. Berulang kali Aqilla menghembuskan napas lega karena ternyata alibi tak masuk akalnya diterima tanpa ditanyai lama-lama.


Oh, ya, jelas tidak masuk akal. Orang kemarin dia ikut rapat biasa-biasa aja tuh. Kenapa sekarang mendadak sakit? Aneh banget.

__ADS_1


Rapat dimulai. Aqilla menyuarakan strategi yang ia rancang semalaman. Semua orang yang hadir berdecak kagum mendengar sumbangan ide dari master strategi mereka ini. Sangat hebat dan rinci sekali.


Aqilla selalu memberikan setiap kemungkinan yang terjadi dan menyiapkan rencana cadangan jika situasi yang terjadi jauh dari bayangan.


Setelah perundingan, strategi Aqilla diterima dengan sedikit tambahan masukan. Rapat selesai. Sambungan diputus.


Tak berselang lama, muncul tujuh hologram baru yang menampilkan paras-paras menawan. Ketujuh insan itu adalah pasukan khusus di IAF yang berada di bawah naungan Aqilla secara langsung. Mereka hasil didikan Aqilla.


“Saya memiliki tugas baru untuk kalian,” ucap Aqilla memperhatikan paras ketujuh anak buahnya. “Untuk misi ini, saya tidak bisa turun tangan secara langsung. Jadi, saya ingin kalian yang menggantikan saya di sana. Apa perintah diterima?”


“Siap, perintah diterima!” jawab ketujuhnya tegas.


Aqilla tersenyum puas. “Saya akan memonitor semuanya dari sini. Setiap langkah yang kalian ambil harus menanti perintah dari saya, jangan bertindak tanpa titah saya. Pelajari dan jalani, paham?”


“Siap, paham!” jawab ketujuhnya lagi.


“Baik, pergilah!”


...👑👑👑...


Misi dimulai kala hari menjelang malam di Indonesia.


Aqilla duduk dengan tenang di kursinya, menonton aksi rekannya sekaligus pasukan miliknya yang terjun ke lapangan. Sebelumnya, ia sudah meminta anggota pasukannya memasang Smartbee agar ia bisa menyaksikan secara langsung. Mereka juga bisa berkomunikasi melalui alat yang berbentuk seperti earphone di telinga.


“Rafael, Thalia, retas sistem di laboratorium dan cek kondisi di dalam melalui CCTV.,” perintah Aqilla melalui earphone.


“Baik, Nona,” jawab keduanya serempak.


Satu per satu intruksi dikeluarkan. Dimulai dari cara masuk ke dalam laboratorium hingga pemberantasan selesai, Aqilla-lah yang mengendalikan setiap langkah pasukannya. Di bibir wanita dua anak itu terukir senyum tipis, ia puas sekali melihat Raniya yang tanpa ampun menghajar para bodyguard profesor yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar darinya.


Raniya adalah bibit andalan Aqilla. Gadis muda itu memiliki potensi besar dalam dirinya. Aqilla yakin, Raniya bisa masuk ke dalam jajaran anggota High-Pro setelah latihan yang cukup.


“Nona, gawat!” kata Zahra tiba-tiba. “Ternyata tiga hari yang lalu, 31 kloning telah dilepas ke seluruh dunia!”


“Apa?!” pekik Aqilla terkejut. Kloning sudah dilepaskan? Bukannya seharusnya besok?


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2