I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 74 | Aqilla Setuju


__ADS_3

Pukul 23.19


Si kembar mengendap-endap mendekati kamar mommy mereka. Keduanya mengedarkan tatapan ke sekitar, takut jika ada yang memergoki. Tiba di depan kamar Aqilla, Jovan siap memutar kenop pintu.


“Ayo, Kak, cepet!” pinta Jovin berbisik.


Jovan mengangguk. Dengan perlahan, ia mendorong pintu hingga membuka celah.


Si kembar terkejut melihat apa yang terjadi di dalam. “Mommy? Daddy?” gumam keduanya.


Jovan dan Jovin celingukan, mencari sesuatu yang menarik dari pemandangan di depan. Nihil. Semua biasa-biasa saja. Kecuali bagian Aqilla dan Rayhan yang tengah tidur di ranjang yang sama, selimut yang sama, dalam keadaan berpelukan.


“Sejak kapan mommy sama daddy jadi lengket gini, Dek?” heran Jovan.


Jovin mengedikkan bahu, pertanda bahwa dirinya pun tak tahu. “Bobo’ sini yuk, Kak,” ajaknya antusias.


Senyum kedua bocah itu merekah sempurna. Tanpa menunggu lagi, Jovan mendorong pintu hingga tertutup tanpa celah. Sementara Jovin mulai merangkak naik ke ranjang orang tuanya.


“Mommy, Daddy,” panggil Jovin pelan seraya mengguncang tubuh Aqilla dan Rayhan bergantian.


Rayhan dan Aqilla yang merasa terganggu segera membuka mata. Sepasang manik mereka mengerjap-ngerjap, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.


“Jovin?” lirih Aqilla terkejut. Ia semakin dibuat kaget dengan kedatangan Jovan yang turut menyusul. “Kalian di sini?” tanyanya dengan suara serak.


“Mommy sama Daddy tidur bareng, kok, nggak ajak-ajak, sih,” sungut Jovin pura-pura marah. Padahal, hati gadis kecil itu bersorak senang melihat sang mommy yang sepertinya sudah luluh dengan daddy-nya.


Aqilla cuma bisa tersenyum kikuk, sulit ingin mengatakan apa.


“Mommy-mu lagi sakit, Sayang,” sahut Rayhan mengusap kepala putrinya pelan.


“Mommy sakit?” Jovan seketika cemas.


“Sedikit, Boy,” jawab Aqilla dengan senyum tipisnya.


Si kembar baru menyadari jika paras mommy mereka tidak secerah biasanya. Bibir wanita itu agak memutih, sorot matanya pun sayu. Jika diperiksa lamat-lamat, tubuh Aqilla sedikit hangat.


“Mau ke rumah sakit aja, Mom? Atau Jovan panggilkan dokter, ya, biar Mommy diperiksa,” tutur Jovan.

__ADS_1


Aqilla terkekeh. Putranya itu sangat posesif memang. “Mommy udah baik-baik aja, Boy. Daddy kalian rawat Mommy dari pagi.”


Sontak tatapan si kembar beralih pada sosok daddy mereka. Rayhan tengah tersenyum lembut di samping Aqilla. “Makasih, Daddy,” ucap si kembar kompak.


“Ini tugas Daddy, kalian nggak usah bilang makasih,” balas Rayhan tulus. Sorot matanya begitu teduh kepada Aqilla.


Dan, pergerakan malu-malu dari wanita itu mengundang ribuan kecurigaan di benak si kembar. Sepertinya memang sudah terjadi sesuatu antara Aqilla dan Rayhan. Sesuatu yang sukses membuat hubungan mereka lebih dekat dan terasa hangat.


Tidak peduli apa yang terjadi, Jovan dan Jovin senang melihat orang tuanya menjadi dekat begini. Kayaknya.. angan-angan untuk memiliki keluarga lengkap akan segera terwujudkan.


“Jovin bobo’ sini, boleh?” pinta Jovin dengan gaya imutnya.


“Boleh dong. Sini..”


Aqilla dan Rayhan bergeser menjauh sehingga si kembar muat berada di tengah-tengah keduanya. Jovin di dekat Rayhan, lalu Jovan di dekat Aqilla.


“Good night, Mommy, Daddy,” kata si kembar bersamaan.


“Good night too, Twins. Have a nice dream,” balas Aqilla dan Rayhan berbisik.


Malam itu, untuk pertama kalinya, keluarga kecil itu merasakan momen tidur bersama. Hangatnya pelukan seorang ayah dan ibu di kala dinginnya malam benar-benar menentramkan jiwa juga raga. Lihat saja, Jovan dan Jovin langsung pulas di pelukan orang tua mereka.


Rasanya, Rayhan ingin menghentikan waktu dan tetap di posisi yang sama. Memeluk kedua anaknya sambil menggenggam tangan istrinya. Itu akan menjadi impian yang menakjubkan bukan?


Ini akan menjadi awal hubungan kita, Qilla. Kisah kamu dan aku akan dimulai sekarang...


...👑👑👑...


Keesokan harinya...


Aqilla merasa jauh lebih bugar dari sebelumnya. Wanita itu sudah bisa meledek, mengejek, bahkan menyindir si kembar yang kompak membalas karena tidak mau kalah. Ketiga orang itu tengah berlatih di taman belakang.


Berlatih beladiri maksudnya. Selama ini, kan, Aqilla selalu mengajari putra-putrinya beladiri agar bisa melindungi diri sendiri.


Robert dan Reva duduk di kursi taman, mengamati tingkah cucu mereka yang selalu berhasil mengundang tawa. Tak lama, Rayhan bergabung bersama orang tuanya. Lelaki itu duduk di sebelah Reva.


“Kamu ngapain seharian kemarin sama Aqilla, Ray?” tanya Reva to the point. Sudah dari kemarin dirinya dibuat penasaran. Makanya, pagi-pagi sekali langsung ditanyakan.

__ADS_1


Rayhan tersenyum sok misterius. “Menurut Mami?”


Reva melirik sinis. “Kamu main kuda-kudaan sama menantu Mami, ya?” tuduhnya tanpa disaring.


Rayhan tergelak kencang. “Mungkin, bisa iya, bisa tidak,” balasnya ambigu. Sulit sekali diartikan.


Reva berdecak kesal. Rayhan terkekeh melihat raut tak bersahabat dari mami yang melahirkannya itu.


“Ray punya kabar gembira, Mi,” kata Rayhan tiba-tiba.


“Apa?” ketus Reva tidak mau menatap sang anak.


“Aqilla setuju menikah sama Ray.”


Terdiam sesaat. Lalu...


Braakk!!


“APA?!! SETUJU?!!” pekik Reva dengan mata berbinar-binar. Bahkan, wanita paruh baya itu langsung berdiri dari duduknya. “Beneran kamu, Ray?”


Rayhan mengangguk dengan akses meyakinkan. “Iya, Mi. Qilla bilang mau semalam.”


Reva berteriak heboh sambil melompat-lompat di tempat. Robert yang merupakan suami Reva saja sampai dibuat takjub. Istrinya itu sudah lama tidak segembira ini.


“Mami akan siapin semuanya! Ijab kabul, resepsi, semua harus istimewa untuk menanti istimewaku! Hahaha...” Reva berseru antusias. Lantas dirinya berlari kecil menghampiri Aqilla yang tengah bersembunyi karena sedang bermain petak umpet dengan anak-anak.


Reva memeluk Aqilla senang hingga wanita berusia 28 tahun itu dibuat pening. Mendengar alasan Reva begitu senang, sontak Aqilla menatap ke arah Rayhan. Ternyata lelaki itu sudah memberitahukan mengenai persetujuannya untuk menikah.


Aqilla tersenyum tipis. Ya, dia setuju ketika semalam Rayhan mengulang lamarannya. Tidak ada kejutan, bunga, ataupun cokelat. Hanya mengandalkan suasana ‘panas’ yang sempat terjadi dan cincin khusus yang Rayhan pesan jauh-jauh hari.


Aqilla sudah memperingatkan, jika mereka menikah akan ada banyak cobaan di kehidupan rumah tangga mereka nanti. Namun, Rayhan menyanggupi. Lelaki itu berjanji dengan kalimat manisnya akan selalu mendampingi Aqilla di masa sulit maupun senang.


Kalau sudah begitu, wanita mana yang tidak luluh?


Pada akhirnya, cincin itu disematkan di jemarinya ketika Aqilla berkata, “aku mau.”


Walaupun wanita itu tahu, ‘dia’ pasti akan menentang keras pernikahan ini, tapi Aqilla tidak peduli. Dia ingin bahagia juga. Egois sesekali... bukan dosa besar, kan?

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2