I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 81 | Selamat Ulang Tahun, Aqilla


__ADS_3

“Tuan Muda, Nona Aqilla saat ini sedang berada di sekolah tuan kecil. Lalu, Tuan Rayhan sedang menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Nona Aqilla bersama nona kecil,” lapor Arjun kepada majikannya.


Kenzie menarik sebelas sudut bibirnya. “Pergilah, Arjun. Aku ingin sendiri.”


“Baik, Tuan Muda.”


Sepeninggalan Arjun, Kenzie meraih ponselnya. Ia menekan deretan nomor yang dihafalnya di luar kepala, lanjut menempelkan benda pipih itu di telinga. Beberapa menit nada tersambung berbunyi, suara dari seberang pun terdengar.


“Assalamualaikum, halo?”


Kenzie tersenyum tipis. Aku merindukanmu, La..


“Halo? Siapa, ya?” ulang Aqilla.


Dasar bodoh! Apa kamu menghapus nomorku, Lala?!


“Saya anggap salah sambung. Saya tu—”


“Selamat siang, Aqilla...” ucap Kenzie sebelum Aqilla memutus sambungan.


Tidak ada sahutan lagi dari seberang. Kenzie tertawa tanpa suara. Entah mengapa, ia bisa membayangkan ekspresi Aqilla saat ini. Wanita itu pasti sangat tegang sekarang. “Lama, ya, aku nggak nyapa kamu,” ucap Kenzie seraya menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran. “Kita udah lama nggak ketemu juga. Are you miss me?”


Aqilla tidak menjawab.


Kenzie terkekeh pelan. “I miss you, My Princess,” bisiknya dengan suara berat.


Detik itu juga, Aqilla memutuskan sambungan secara sepihak. Bukannya marah, Kenzie malah terbahak. Ia yakin 100% kalau Aqilla saat ini sedang ketakutan. Wanita itu pasti panik bukan main karena telepon darinya.


Kita akan segera bertemu, Sayang...


...👑👑👑...


“Mommy!” pekik Jovan kala Aqilla ambruk di tanah, lebih tepatnya tubuh wanita itu merosot. “Mommy? Mommy kenapa? Siapa yang telepon, Mom? Mommy baik-baik aja, kan?” tanya Jovan bertubi-tubi karena khawatir.


Tidak ada jawaban dari Aqilla. Yang ia lakukan hanyalah merengkuh Jovan kelewat erat.


Jovan tidak menolak. Ia balas menepuk punggung Aqilla, menenangkan mommy-nya yang sepertinya sedang dirundung masalah pelik. Lihatlah wanita yang selalu tegar itu. Sekarang menjadi lesu tidak berdaya.


“Everything is gonna be okay, Mom,” bisik Jovan mendamaikan hati Aqilla.


Sorot mata Aqilla mendadak berubah tajam. Kedua tangannya terkepal di belakang tubuh Jovan. Tekad Aqilla membulat, ia tidak akan goyah dengan keputusannya. Pun tidak menyesali ketetapan yang telah dibuatnya sebelumnya.


Ya, semua harus baik-baik saja. Aku harus memastikan itu demi anak-anakku!

__ADS_1


...👑👑👑...


Pulang sekolah, Jovan melanjutkan aksinya. Sekalian ia ingin menenteramkan hati mommy-nya yang dilanda kerisauan. Alhasil, lelaki kecil itu mengajak Aqilla untuk mampir ke mall untuk bermain-main.


Quality time antara anak dan ibu.


“Nanti Jovin marah nggak, ya, kalo nggak diajak?” tanya Aqilla entah pada siapa. Mungkin lebih tepatnya kepada dirinya sendiri. Aqilla sedikit merasa bersalah karena tidak mengajak Jovin bersama.


Seharusnya, wanita itu berada di sisi sang putri saat ini, menemaninya di kala sakit. Pasalnya, Jovin berubah sangat manja jika sedang tidak enak badan. Apa-apa minta dibantu, padahal bisa sendiri.


Namun, mengingat umur mereka masih 6 tahun, mohon dimaklumi.


“Nggak lama-lama, Mom. Biar Mommy lebih tenang juga,” kata Jovan yang terus menarik tangan Aqilla memasuki kawasan mall milik RH Group.


Aqilla tersenyum kecil. Putranya ini memang so sweet sekali. Seandainya Jovan adalah sosok lelaki yang seumuran dengannya dan keduanya tidak ada hubungan darah, sudah pasti Aqilla akan jatuh cinta dengan pribadi Jovanka ini. Walaupun sering kekanakan, namun Jovan selalu bisa mengondisikan sifat dan sikapnya di segala situasi.


Lelaki kecil itu bisa mendadak dewasa kalau dibutuhkan.


“Kita mau ngapain?” tanya Aqilla bingung.


“Makan,” jawab Jovan enteng. “Sebelum beraktivitas, harus isi tenaga dulu dong.”


Aqilla manggut-manggut. “Mau makan apa emang?”


“Hah? Tteokbokki?”


...👑👑👑...


Menu makan siang Jovan dan Aqilla hari ini adalah hidangan ala Korea. Entah sejak kapan Jovan menyukai makanan asal para KPop itu, Aqilla juga dibuat keheranan. Biasanya, kan, Jovan lebih suka fast food atau makanan Indonesia.


Sepanjang siang itu pula, Jovan dan Aqilla menghabiskan waktu di mall. Keduanya bermain bersama, tawa ibu dan anak itu pun menggelegar di mana-mana. Aqilla bahkan berhasil melupakan kerisauan akibat telepon Kenzie siang tadi.


Wanita itu sangat menikmati waktunya bersama sang putra.


“Boy, ini udah mau malem. Kita pulang, ya. Kasian Jovin di mansion,” pinta Aqilla sewaktu Jovan sibuk dengan ponsel.


Jovan menyimpan ponselnya di tas dan mengangguk. “Iya, Mom. Ayo pulang!”


Kesenangan keduanya masih berlanjut. Aqilla dan Jovan berceloteh riang di dalam mobil selama perjalanan pulang. Jika Jovan menceritakan momen-momen lucunya di sekolah, Aqilla mengisahkan momen-momen berharganya di IAF. Termasuk cerita-cerita lucu yang dirinya simpan selama ini.


Bukan hanya Aqilla yang merasa senang dengan perjalanan ini. Jovan pun sama. Lelaki kecil itu tidak menyangka bahwa sang mommy bisa begitu menyenangkan. Tidak ada sosok menyebalkan yang sering menjailinya, hanya ada sosok hangat yang cocok sekali dijadikan tempat curhat.


Jika diperhatikan lebih teliti, Jovan bisa merasakan hubungannya dengan sang mommy jauh lebih nyaman. Seperti dengan teman sendiri. Jadi, Jovan bisa bercerita tanpa canggung sama sekali.

__ADS_1


“Oke, kita sampai.” Aqilla melepas seatbelt-nya, lalu turun. Ia memutari mobil untuk membukakan pintu samping pengemudi. “Silakan turun, Pangeran.” Aqilla berlagak layaknya prajurit yang menghormati junjungannya.


Jovan tertawa. Raut serius mommy-nya terlihat lucu.


Tiba di pekarangan mansion, Aqilla dibuat bingung karena suasananya sangat gelap. Tidak ada pencahayaan sama sekali di halaman mansion yang biasanya terang benderan.


“Ada apa ini?” gumam Aqilla bingung.


Tanpa ba-bi-bu, Aqilla meraih tubuh Jovan dan menggendongnya. “Pegang Mommy erat-erat, Boy. Mommy takut di sini ada bahaya.”


Jovan yang mengerti situasi menurut walaupun ia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Lelaki kecil itu merangkul leher Aqilla dan menyandarkan pipinya di bahu Aqilla. Nyaman, itu yang dirasakannya. Nggak buruk juga.. Jovan mau kayak gini terus..


Baru selangkah Aqilla berjalan, lampu mansion bersahutan menyala. Silaunya memaksa sepasang netra Aqilla mengerjap beberapa kali. Wanita itu dibuat terperangah dengan suasana mansion yang begitu meriah.




“HAPPY BIRTHDAY, MOMMY QILLA!” seru Jovin dan Rayhan yang datang sembari mendorong troli berisi kue.


Aqilla tersenyum lebar, tidak menyangka bahwa hari ini dirinya akan mendapat kejutan.


“Happy birthday, Mommy,” bisik Jovan tepat di samping telinga Aqilla.


“Boy, jadi kamu sengaja ajak Mommy keluar?” Aqilla baru sadar. Jovan tersenyum, mengiyakan tanpa berkata apa pun.


Malam itu, Aqilla merayakan ulang tahunnya yang ke-29 ditemani Robert, Reva, Rayhan, Jovan, Jovin, Jessie, Ely, Alvin, dan seluruh pelayan mansion. Hanya pihak keluarga yang hadir, namun begini saja sudah sangat berkesan di hati Aqilla.


“Potongan kue yang pertama buat siapa, Mom?” tanya Jovin antusias.


Aqilla tertawa. Ia mengambil dua potong sekaligus dan memberikannya kepada kedua anaknya. “Makasih kejutannya, Twins,” kata Aqilla tulus.


“Buat Daddy mana? Kan, ini idenya Daddy juga, Mom,” protes Jovin karena Rayhan tidak diberi apa pun.


Aqilla tersenyum kecil. Ia pun mengambil satu potong lagi dan hendak diberikan kepada Rayhan.


Ddooorr!


Tanpa sadar, sepotong kue tadi jatuh ke bawah. Aqilla menyorot ke asal suara. Tubuhnya menegang ketika matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya berdiri di hadapan.


“Kenzie..?” lirih Aqilla mulai ketakutan.


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2